Kaos Perahu Kertas

Alhamdulillah, harapan saya di sail hope pertama, mentok di paket buku sebagai hadiahnya. Dan, Alhamdulillah lagi ketika sail hope 2 diadakan, saya mengharuskan diri ikut dan hasilnya… mendapat kaos Perahu Kertas.

Pengumumannya di sini. Diberitahu oleh Teh Rini. Selamat juga buat Mbak Nunik.

Terima kasih buat Tabloid Nova dan Bentang Pustaka yang telah menyelenggarakan lomba ini.

Berikut, bisa saya bagikan sedikit harapan yang saya ikutkan dalam lomba ini.

————————————————————————————————————-

Menjadi Penulis Fiksi Anak

Saya ingin menjadi penulis fiksi anak karena saya senang mencuri.

Kilas balik saja. Di keluarga, saya dikenal sebagai Fatah kecil yang gemar membaca. Apapun saya baca, terutama majalah anak-anak yang dilangganankan oleh ayah saya: Aku Anak Saleh.

Saat memasuki bangku madrasah ibtidaiyah (setingkat SD), hobi membaca saya semakin terpuaskan dengan adanya perpustakaan. Setiap ada jam kosong atau waktu istirahat, saya seringkali menyempatkan diri mampir ke perpustakaan. Ada beberapa lemari dan rak yang memajang beragam jenis buku. Mulai dari ensiklopedi, buku-buku teknik (tentunya ditujukan untuk anak-anak), buku-buku pelajaran, dan yang paling saya sukai adalah buku cerita. Bagi saya, buku-buku cerita itu sangat menarik. Kisah demi kisah tertuliskan layaknya saya menonton film. Saya selalu membayangkan jika tokoh utama dalam cerita yang saya baca adalah diri saya sendiri. Alangkah menyenangkannya!

Namun, satu hal yang amat saya sayangkan adalah, siswa tidak diperbolehkan meminjam buku. Saya bisa memaklumi karena sistem administrasi perpustakaan yang belum fixed. Di sisi lain, saya juga tidak mampu mengerem hasrat membaca saya yang meluap-luap. Langkah nekad saya tempuh. Mencuri!

Jika ada yang bertanya, kenapa mesti mencuri? Kenapa tidak pinjam secara baik-baik pada guru? Karena, guru saya benar-benar tidak membolehkan siswa untuk meminjam. Saya juga tidak melihat tanda-tanda keinginan dari guru untuk memperbaiki sistem peminjaman dan pengembalian buku perpustakaan. Kalau pun saya pinjam dengan memberitahu sebelumnya, saya pesimis. β€œKalau mau baca, di sini saja!” Kira-kira jawaban itulah yang akan keluar dari bibir guru saya.

Tak kehilangan akal (atau karena saya terpengaruh oleh kecerdikan si kancil?), saya pun mencuri buku, terutama buku-buku cerita. Saya katakan mencuri karena saya tidak akan mengembalikan buku-buku tersebut. Kalau pun saya kembalikan, biasanya di akhir caturwulan. Itu pun tidak semuanya.

Saya sadar, itu bukanlah kebiasaan yang baik. Sangat tidak patut ditiru. Tapi, jika pihak sekolah tidak memberikan respon yang baik terhadap minat baca siswanya dengan mengizinkan meminjam buku, lantas bagaimana? Di sini, saya tidak sedang membela diri. Justru setelah besar dan makin dewasa, saya menyesal dengan tindakan pencurian properti intelektual yang saya lakukan semasa kecil itu.

Dan, semakin intens saya membaca dan menulis, mulailah timbul kesadaran. Bukan sekadar rasa penyesalan, namun lebih dari itu. Saya harus menulis fiksi untuk anak. Kenapa menulis? Karena tulisan lebih bersifat abadi dan bisa disebarluaskan ke seluruh penjuru dunia, paling tidak di Indonesia. Kenapa fiksi? Karena genre ini yang saya gemari hingga detik ini. Saya juga yakin anak-anak menyukai hal-hal yang imajinatif atau fantasi (dalam ranah fiksi). Kenapa untuk anak? Karena saya merasa memiliki tanggung jawab moral dan edukasi pada anak-anak. Anak-anak adalah aset masa depan bangsa yang sangat berharga yang perlu dipersiapkan mental, moral, dan akhlaknya sejak dini.

Meskipun harapan saya untuk membuat buku fiksi anak belum tercapai, namun paling tidak saya telah memulainya. Sebuah cerita anak saya dimuat di majalah anak-anak. Saya senang bukan main, apalagi jika membayangkan ekspresi anak-anak yang membaca cerita saya. Dari sanalah timbul keyakinan bahwa saya mampu. Saya mampu memenuhi harapan terbesar saya: menjadi penulis fiksi anak.

Iklan

30 thoughts on “Kaos Perahu Kertas

  1. rinurbad said: Hehehe, panjang juga harapanmu..aku menilik gayamu di SYH pertama lho, untuk menebak selera juri. Selamat:)

    Iya, Teh…Saya juga menilik pemenang yang dapat bukunya Perahu Kertas di SYH lho πŸ™‚

  2. waw, menang ya…selamat yabtw kalimat pembukanya bagus tuh : Saya ingin menjadi penulis fiksi anak karena saya senang mencuri…jadi ingin baca sampai selesai…pantas menang πŸ™‚

  3. ikkens said: Alhamdulillah, selamat yaa tah. Smg makin bersemangath!

    Makasih Mbak Eka…..Insya Allah akan terus istiqomah di jalur kepenulisan πŸ™‚

  4. starvingspica said: waw, menang ya…selamat yabtw kalimat pembukanya bagus tuh : Saya ingin menjadi penulis fiksi anak karena saya senang mencuri…jadi ingin baca sampai selesai…pantas menang πŸ™‚

    Hehehehe…Belajar tentang ‘kalimat pertama’ dari buku :)Silakan dibaca, Mbak πŸ™‚

  5. @Cek Yan: Terima kasih… Iya, dan hebatnya sampai sekarang masih bertahan, meski dengan format yang lebih bagus, baik dari ilustrasi juga cover. Mantap!@Mbak Feby: Lomba yang pertama, cuma diadakan oleh Bentang Pustaka. Lalu, lomba yang kedua, Bentang Pustaka dengan Tabloid Nova. Saya nggak tau apakah lombanya ada lagi atau nggak… Kalo dari LN, boleh biasanya. Tapi, tentu saja pengiriman hadiahnya untuk wilayah Indonesia saja… *sotoy nih* hahaha@Mbak Ita: Terima kasih :)@Mas Fauzi: Hehehe… kalo saya karena nggak TK, jadi bisa lebih intens bacanya di rumah.@Mbak Indar: Iya nih… Saya juga ngincer bukunya sih. Tapi, karena sudah ada peningkatan menangnya, jadi ya… Alhamdulillah saja. Hehehe… bisa dipake kaosnya ke kampus πŸ˜€ Terima kasih juga atas doanya, Mbak.@Mbak Nunik: Iyaaaa… horrrrrrrrrrrreeeeeeeeeeee…. πŸ˜€

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s