Nippon: Kecil-Kecil si Cabe Rawit

Sedikit menilai sendiri esai ini. Judulnya saja tidak fokus. Isinya juga semacam parade data dan informasi tanpa diolah menjadi satu kesatuan yang utuh. Tidak niche alias tidak spesifik. Jadi ya… pantaslah!

Esai ini saya ikutkan dalam lomba bertema “Jepang di Mata Orang Indonesia” yang diadakan oleh The Japan Foundation. Pemenangnya sudah diumumkan di sini, tapi saya belum beruntung. It’s not a big problem. Yang penting, saya sudah mencoba dan bisa berkaca dari karya para pemenang. Minimal mereka-reka dari judul yang mereka pakai. Well, daripada meringkuk basi di kolong folder, mendingan saya poskan di blog ini. Happy reading!

———————————————————————————————————

Kecil-kecil si cabe rawit adalah julukan yang biasa diberikan pada sesuatu atau seseorang yang dianggap atau secara kasat mata ‘kecil’, namun punya potensi dan kemampuan yang besar. Jika merujuk pada sebuah negara, maka Jepang yang oleh penduduknya sendiri disebut Nippon atau Nihon, cocok mendapat julukan itu. Mengapa demikian?

Secara geografis, Jepang memiliki luas daratan 377.781 km2 atau seperlima dari luas daratan Indonesia. Tiga perempat kontur Jepang juga bergunung-gunung. Logikanya, area yang bisa dijadikan sebagai pusat kegiatan perekonomian menjadi lebih sedikit. Fakta juga menunjukkan bahwa potensi sumber daya alam Jepang termasuk ‘miskin’ dibandingkan Indonesia. Ditambah kondisi alamnya yang labil dengan sering terjadinya gempa bumi, letusan gunung berapi, dan taifun sehingga memunculkan pertanyaan, “Mengapa Jepang bisa lebih maju dibandingkan Indonesia?”

Potensi untuk maju tidaknya suatu negara tidak cukup hanya dilihat dari aspek yang bersifat ‘taken for granted’ alias aspek-aspek yang memang telah ada dan melekat pada diri negara tersebut sejak awalnya berdiri. Namun, perlu juga dikaji bagaimana faktor historis, karakter masyarakat, dan background budaya mampu menjadi pemicu suatu negara untuk berhasil dan mengungguli negara-negara lain yang sejak awal ada memang ‘ditakdirkan’ kaya dan potensi majunya lebih besar.

Jepang alias Si Cabe Rawit ini termasuk negara yang sukses bercermin dari pengalaman masa lalunya untuk membentuk masa depannya yang lebih gemilang. Tentu masih melekat kuat di ingatan kita peristiwa pemboman Hiroshima dan Nagasaki oleh tentara sekutu pada tahun 1945. Jepang luluh lantak. Korban jiwa berjatuhan. Ekonominya berantakan. Kerusakan alam tak terhindarkan. Jepang diduduki sekutu. Industri-industri berat penunjang militer (zaibatsu) dibongkar. Kedewaan kaisar pun diingkari. Namun, sebagai bangsa yang kenyang oleh pengalaman menang dan kalah, Jepang tidak ingin berlama-lama dalam ‘kubangan’ keterpurukan. Jepang segera bangkit, merehebalitasi dirinya usai Perang Dunia II. Dibantu sekutu, pada tahun 1960-an sampai 1970-an, akhirnya perekonomian Jepang maju dengan pesat. Jepang pun kembali membuktikan dirinya sebagai negara besar melalui Olimpiade pada 1964 yang diadakan di Tokyo.

Karakter masyarakat Jepang juga patut diacungi jempol. Mereka sangat menjunjung tingi harga diri. Salah satu cara agar bangsa lain tetap mengapresiasi positif adalah dengan terus berprestasi. Jika gagal berprestasi dalam bidang yang ditekuninya, lebih baik melakukan harakiri daripada menanggung malu. Oleh sebab itu, etos kerja keras dan disiplin yang tinggi benar-benar melekat pada diri orang-orang Jepang. Bukan rahasia lagi kalau orang Jepang dikenal gila kerja (workaholic). Sehingga kening kita tidak perlu berkerut, mengherankan Jepang yang maju dalam berbagai bidang. Sumber daya alam mereka memang terbatas. Namun, ada kekuatan lain yang sifatnya tidak terbatas dan bisa dioptimalkan untuk membuat mereka lebih maju dan terpandang, yakni sumber daya manusianya.

Perlu juga dicatat oleh Indonesia, di tengah gempuran modernisasi dan globalisasi, Jepang adalah negara yang mampu mempertahankan jati diri kebudayaan tradisionalnya. Rahasianya terletak pada ketahanan kebudayaan yang dimiliki orang Jepang. Seorang guru besar madya dalam Antropologi di Universitas Stanford bernama Harumi Befu (Befu, 1981: 32-33) menguak rahasia ini dengan mengatakan bahwa walaupun Jepang bangsa peminjam, namun mereka pandai mengolah hasil pinjamannya sehingga menjadi lebih sempurna. Kemampuan ini oleh Kroeber disebut sebagai the ability to work out “stylistic refinements of borrowed elements” alias kemampuan untuk melakukan penghalusan stilistik dari unsur-unsur pinjaman (Kroeber, 1948:745).

Kesimpulan ini berdasar sebab meskipun Jepang terletak di pinggiran dari pusat-pusat kebudayaan yang besar seperti Cina, India, dan sebagainya, namun orang Jepang pandai meminjam hasil kebudayaan yang besar ini dan mengolahnya kembali menjadi kebudayaan yang khas milik mereka sendiri. Orang Jepang telah meminjam kebudayaan dari Dinasti T’ang. Bukan untuk mereka tiru mentah-mentah. Namun, mereka mensintesiskan dan mengkristalisasikannya sehingga menjadi kebudayaan khas Jepang. Proses yang sama juga sedang berlangsung hingga sekarang seiring dengan masuknya kebudayaan Amerika (Befu, 1981: 32-33).

Jepang yang unik, khas, dan bermartabat, sudah barang tentu tidak hanya menikmati sendiri hasil dari sintesis kebudayaan yang mereka peroleh dari luar. Namun, Jepang juga bervisi outward. Atensi dari negara lain juga termasuk prioritas mereka. Salah satu jalan yang ditempuh adalah dengan memanfaatkan globalisasi. Pemerintah Jepang pun mulai mengglobalisasikan masyarakatnya lewat jalur impor, memberikan kesempatan produk-produk Barat masuk ke negaranya. Sebaliknya, seiring dengan kemajuan teknologi dan informasi, masyarakat Jepang pun makin leluasa melebarkan sayapnya ke negara-negara lain.

Salah satu soft-power yang mengglobal made in Japan adalah budayanya. Indonesia bisa menjadi salah satu contoh kongkret bagaimana budaya Jepang telah mewarnai kehidupan masyarakat di bumi khatulistiwa itu. Urusan fashion, misalnya. Jika berjalan-jalan ke mal, tidak sulit menemukan anak-anak muda Indonesia yang nongkrong dengan dandanan a la Jepang. Beragam gaya mereka tampilkan, seperti Harajuku Style, Gothic Lolita,dan Cosplay. Penampilan yang eyecatching itu terkesan berbeda, unik, bahkan mungkin nyentrik. Untuk memenuhi hasrat konsumen fashion a la Jepang ini, maka outlets atau distro-distro yang menjual pernak-pernik Negeri Matahari Terbit ini pun mulai banyak bermunculan. Gonzo, distro di Bandung, adalah salah satu yang terbesar di Indonesia. Produk-produk mereka juga diimpor langsung dari Jepang.

Begitu pula halnya den
gan musik. Band-band dan penyanyi dari Jepang termasuk yang memiliki penggemar banyak di Indonesia. Nama-nama tenar seperti Ajikan (Asiang Kung-Fu Generation), Home Made Kazoku, Orange Range, Laruku, Do As Infinity, L’arc en Ciel, Back ON, Utada Hiraku, Ayumi Hamasaki, dan sebagainya. Salah seorang teman penulis yang menggemari lagu-lagu Jepang berkomentar, “Komposisi antara musik dan lirik lagu-lagu Jepang itu sangat unik dan nikmat didengar.”


Contoh lain hasil budaya Jepang yang masuk ke Indonesia, antara lain berupa games, film, buku, komik, kartun (animasi), juga makanan. Kehadiran hasil-hasil budaya Jepang ini tidak bisa dielakkan karena seiring dengan perkembangan teknologi, komunikasi, dan transportasi, maka hubungan kedua negara yang berbasis ekonomi dan perdagangan juga meningkat. Jepang memandang Indonesia sebagai pemasok bahan mentah sekaligus pangsa pasar produk jadi yang cukup menjanjikan. Sebaliknya, Indonesia melihat Jepang sebagai role-model dalam pencapaian kesuksesan di bidang ICT, pendonor dana, sekaligus partner yang mutualistik di bidang perdagangan, industri, tourism, dan pendidikan.

Jepang yang notabene negara ‘kecil’, ternyata mampu bersaing dengan negara-negara yang notabene besar, seperti Indonesia. Tentu masih terekam dengan baik bagaimana hubungan Jepang dan Indonesia yang terjalin di masa lalu, yakni hubungan antara kolonial dengan koloninya. Meski demikian, setelah melepaskan tajinya dari Indonesia pada tahun 1945, Jepang tidak bersombong hati. Nippon masih melirik Indonesia sebagai ‘adik’nya. Indonesia pun demikian. Jepang adalah ‘saudara tua’ yang tidak perlu dijauhi. Hubungan yang terjalin antara Jepang dan Indonesia adalah mutualisme, saling menguntungkan.

Nah, jikalau Jepang saja bisa semaju sekarang, mengapa Indonesia tidak?

Iklan

8 thoughts on “Nippon: Kecil-Kecil si Cabe Rawit

  1. masfathin said: Salut deh sama Fatah… Udah berani berjuang, terlepas apapun hasilnya ya Tah 🙂

    Terima kasih, Cek Yan.Betul sekali, tak ada salahnya mencoba.Semakin dicoba, semakin terasah, begitu yang saya tanamkan pada diri ini 🙂

  2. nitacandra said: wah, biarpun belum fokus, tapi menuliskan esai kayak begini udah langkah besar, fatah :)teruslah berlatih :))

    It means a lot for me, Mbak.Saya hanya menjajal kemampuan diri.Dulu, ketika saya masih SMA, saya lebih condong ke fiksi dan merasa tidak mampu menulis non-fiksi seperti ini.Alhamdulillah, saya bisa kuliah di jurusan yang mewajibkan mahasiswa membuat tulisan-tulisan ilmiah tiap minggunya. Saya pun banyak belajar menulis artikel dan esai.Tapi, fiksi tetap menjadi favorit 🙂

  3. niwanda said: Jadi malu karena aku sering patah semangat duluan buat nulis yang kayak gini dengan alasan kurang referensi…

    Saya pun awalnya begitu, Mbak.Bagaimana mencari referensi dan tidak sekadar tempel-tempel infonya.Sebagaimana asdos saya pernah bilang, “Cuma parade referensi saja!” Saya jadi tertohok. Sebab, merupakan tantangan tersendiri menjalin sekian referensi, menganalisisnya, dan membuatnya enak dibaca serta mengalir 🙂

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s