Tulisan Hujan

Ketika saya masih di Malang, saya senang sekali menulis tentang hujan. Tidak hanya karena pada saat itu sedang musim hujan, namun saya merasa punya keterikatan tertentu dengan hujan. Apa yang terikat? Batin dan kenangan. Jiwa saya gampang mengharu-biru, terlebih lagi itu kali pertama saya berada di Tanah Orang. Dan, keharubiruan perasaan itu identik dengan hujan. Saya menyimpulkan demikian setelah cukup intens bergaul dengan teks-teks puisi.

Lantas, apa saja jenis tulisan saya yang berkaitan dengan hujan? Puisi. Lagi-lagi saya menuliskan puisi tentang hujan. Saya mengibaratkan, jiwa saya adalah hujan. Rindu itu seperti hujan. Rindu saya pada ibu ibarat rindu sang musafir di tengah Sahara pada turunnya hujan dari langit. Hujan. Hujan. Hujan. Banyak hal berkelindan menyelinap diam-diam. Ia adalah kenangan yang tak ingin busuk dalam sarang.

Berikut ini saya comotkan beberapa puisi saya yang berkaitan dengan hujan. Silakan dinikmati di saat-saat hujan seperti ini. Sambil mendengarkan ‘Singin in The Rain’-nya Jammie Cullum juga saya rekomendasikan. Menyeruput cokelat hangat? Itu nikmat!

Hujan Satu
KamarGili, 051207
(pernah dimuat di Majalah Sabili)

Aku
Hujan itu
Satu

Gemericiknya deru
Menitis dari lidah-lidah abu
Suram gagak
Semu

Azan kutunggu
Tak menggenang
Mengaliri urat bumi hingga jauh
Jatuh di laut

Hujan itu
Masih Satu



Kenanglah
KamarGili, 051207

Kenanglah langit biru
Gumpalan awan putih
Burung-burung berenang di angkasa
Hujan yang rapi
Kilat yang kasar
Esok kau tak menemuinya lagi

Kenanglah bumi
Letupkan wajah pada debu
Pelan dan resapi kakimu
Tertinggal jejak wudlu
Tanah mencatat

Kenanglah cahaya
Nyala beribu kekunang
Udara melati
Pelukan pelangi
Kenanglah
Kenanglah
Subhanallah…
Alhamdulillah…
Allahu Akbar…
Laa Ilaahaillallah…



Salju di Kamarku
KamarGili, 231107

Seperti biasa
Berhembus angin siang
Panas…
Tak ada uap seiris pun…

Lalu Tuhan tanpa rencana
Menurunkan salju di kamarku
Saat aku sedang ditimpah gerah
Meringkuk seperti krupuk
Salju itu pun membuatku lapuk…

Aku damai
Dalam salju-Nya…


Muara
KamarGili, 121207

bulan
tenggelam dalam pepasiran
yang hampar ditampar perlahan
buih lembut sang gelombang
tiupan matahari

matahari
terguyur hujan
basah kuyup menggigil kedinginan
terperangkap pelukan ranum
selimut pelangi

pelangi
terjaring angin
menggelepar meronta bebas
akhirnya kalah, lelah
hanyut hingga hilir
lalu digilir
buaya-buaya muara

muara
selalu berujung di sana…


Iklan

27 thoughts on “Tulisan Hujan

  1. niwanda said: Hujan berjuta inspirasi, tapi tetap saja kepiawaian mengolah kata menentukan hasil akhirnya… keren, Tah :).

    Benar, Mbak. Hujan itu memang berkah yang luar biasa.Sungguh, ingin menulis banyak hal di saat-saat hujan seperti ini 🙂

  2. imazahra said: Aku pecinta hujan :-)Fatah tau kan jurnal terakhirku? Itu benar2 diciptakan saat hujan turun. Hujan adalah pembangkit ide dan inspirasi 🙂

    Iya, saya sudah membaca jurnal Mbak yang terakhir itu.Dan, terasa sekali aura hujannya bertabur :)Mari kita cintai hujan, biar hujan juga mencintai kita 🙂

  3. lafatah said: AkuHujan ituSatuGemericiknya deruMenitis dari lidah-lidah abuSuram gagakSemuAzan kutungguTak menggenangMengaliri urat bumi hingga jauhJatuh di lautHujan ituMasih Satu

    I love this one very much!Padat kata, tapi meaningful dan liris…

  4. aku juga pecinta hujan :)ada sesuatu yg membuat aku cinta hujan. mendengar bunyinya, melihat percikan2an air, mencium bau yg unik setelah hujantp sayangnya seringkali hujan membuatku flu berkepanjangan 😦

  5. imazahra said: I love this one very much!Padat kata, tapi meaningful dan liris…

    Terima kasih, Mbak Ima…Saya juga suka puisi-puisi Mbak Ima.Ya, kalimat-kalimat di jurnal Mbak saja sudah puitis 🙂

  6. lancangkuning said: tp sayangnya seringkali hujan membuatku flu berkepanjangan 😦

    Waktu kecil, sepertinya kita kebal terhadap hujan.Bermain hujan, sungguh menyenangkan.Tak terkirakan rasanya.Sekarang, setelah besar, kenapa tubuh ini jadi rentan?

  7. lafatah said: Iya, memang di Surabaya kok, sekarang.Saya angkatan 2007. Mira??? Kenal banget… :))Temannya satu SMA ya?

    iyah kak,,Mira Dia Lazubaanak SMA 4 Malang,,hehe3 taun sekelas

  8. kata ayahku”hujan itu perihujan datang melenyapkan dukahujan datang membasahi debu sengatan mataharihujan datang saat hati gersangdan kamuperempuan hujan”:Ddi kamarku terasa turun salju ditambah jogja lg hujanmakin hidup puisinyakerennnnnnlike this dahhh…:)

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s