Berdosakah “Menjual” Kisah Ibu?


Berdosakah saya ‘menjual’ kisah orang yang telah tiada?

Sebab, saya ‘menjual’ kisah orang tersebut untuk mengejar keuntungan materi…

Dan, orang tersebut tak lain tak bukan adalah ibu saya sendiri.

*Maaf, saya tidak sedang berkeluh-kesah, hanya ingin berbagi saja*

Sebulanan belakangan ini, saya sedang mengeluarkan banyak biaya, terutama untuk membayar kontrakan yang sekarang saya tinggali bersama teman-teman. Sebab, ibu kontrakan mewajibkan kami melunasi langsung untuk dua tahun. Saya awalnya berat karena bapak juga merasa tidak sanggup. Tapi, atas bantuan teman-teman, akhirnya bisa kami lunasi. Alhamdulillah…

Masalah belum selesai. Karena biaya yang menjadi tanggungan saya, ditalangi sementara oleh teman-teman – yang mana mereka pun meminjam dari orang lain. Mau tidak mau saya berusaha untuk melunasi beban itu segera. Bahkan, saya dengan terpaksa harus meminjam pada mbak sepupu. (Saya berusaha mungkin untuk tidak main pinjam – ingat perkataan almarhumah ibu saya yang dituturkan lewat bapak, “Mendingan kita hidup agak susah daripada harus meminjam uang dari bank!”).

Di bulan yang sama, saya tidak bisa mencegah pengeluaran yang cukup merogoh kantong untuk ikut tes TOEFL sebagai persyaratan mendapat beasiswa. Sekali lagi, saya dibantu oleh teman untuk membayar uang tes. Terima kasih, Shendy!

Menilik kondisi keuangan, saya mulai khawatir. Belum sampai pertengahan bulan, pengeluaran sudah begitu banyaknya. Oke! Saya harus memangkas biaya ini itu, termasuk pengeluaran untuk makan! Masak sendiri, itu jalan keluar. Akhirnya, saya dan teman-teman satu kontrakan, patungan membeli sekardus mie goreng. Nasi kami tanak sendiri. Galon yang awalnya diisi dengan Aqua, mulai kami isi ulang dengan air isi ulang biasa. Alhamdulillah… Kami sehat-sehat saja sejauh ini! Selalu tersedia tenaga untuk belajar, terutama menjurnal

Nah, berkaitan dengan judul di atas, saya beruntung sekali memiliki teman-teman di MP ini yang rajin memposting lomba-lomba menulis. Saya bahkan berlangganan sebuah blog di blogsome yang rajin meng-update isinya dengan lomba-lomba, terutama lomba menulis. Saya rajin menyimpa infonya di hardisk. Saya harus ikut lomba ini! Saya harus ikut lomba itu!
Dan, bulan Desember yang sebentar lagi akan kita tempuh, identik dengan bulannya kaum ibu. Banyak pihak yang mengadakan lomba menulis tentang ibu. Ya, karena saya menemukan momentumnya – lagi kekurangan duit – serta saya merasa mempunyai kisah-kisah tentang ibu yang cukup ‘menjual’, akhirnya saya pun bersemangat mengikuti lomba-lomba tersebut. Hadiahnya memang tidak semuanya berupa uang, tapi saya berupaya untuk ikut berpartisipasi – tentunya, dengan ekspektasi tinggi, semoga saya menang.

Kini, dua naskah telah siap. Satu sedang dalam masa penjurian. Satunya lagi sedang dalam perjalanan menuju meja redaksi. Beberapa tulisan untuk lomba yang lain juga sedang saya persiapkan.

Dan, tahukah teman-teman, jika dalam naskah-naskah saya tentang ibu itu, kebanyakan saya ‘comot’ dari kehidupan ibu saya?

Apakah saya salah? Menjual ‘kisah’ ibu untuk tujuan materi?

Iklan

24 thoughts on “Berdosakah “Menjual” Kisah Ibu?

  1. Tidak, Fatah. Menurutku kata ‘menjual’ kurang tepat, bukankah memang ada sesuatu yang bisa diambil dari sana..dan yang lebih penting lagi, kisahnya bukan rekaan. InsyaAllah mendiang ibumu ikhlas.

  2. Iya, Teh. Kisahnya memang bukan rekaan. Dan, saya merasa ‘terpetik’ juga membaca komen, Teteh. Bukan materi semata sih. Sebab, jauh di lubuk terdalam, ada semacam keinginan agar ibu selalu menjadi buah bibir yang baik bagi anak cucunya kelak.Itu yang sedang saya tempuh. Tapi, tujuan materi untuk saat ini, juga tak terelakkan.

  3. saya pikir tidak Fatah, beliau pasti ikhlas ketika kenangan hangat tentangnya melekat terus di hati anaknya dan hendak kau bagikan kepada dunia, agar merasakan kehangatan yang pernah kau rasakan.

  4. I’d always love to share stories about my late lovely mom. You’re not selling it, you share it so the memories of her will never fade away. The prize is just a bonus…

  5. Setuju bahwa intinya adalah berbagi. Meskipun sejujurnya pertanyaan yang sama kadang muncul kalau lagi mau nulis soal papa, bahkan ketika tujuannya bukan materi sekalipun. Terima kasih sudah mengungkapkan di sini, Fatah, aku jadi ikut belajar.

  6. duniauchi said: gimana kalau istilahnya diganti dengan ‘berbagi’……………..itu lomba kisah ibu yang diadain penerbit Mizan ya mas?

    Iya, Uchi. Tepatnya seperti itu 🙂 terima kasih yaaaaa….Itu lomba yang diadakan sama Penerbit Serambi. Sudah tahu, kan?

  7. pondokkata said: saya pikir tidak Fatah, beliau pasti ikhlas ketika kenangan hangat tentangnya melekat terus di hati anaknya dan hendak kau bagikan kepada dunia, agar merasakan kehangatan yang pernah kau rasakan.

    Insya Allah, semoga demikian ya, Mbak…Saya berharap begitu.Saya belum sempat mengoreksi tulisan ini. Begitu jadi, langsung posting 🙂 Jadi, belum mempertimbangkan tepat nggaknya penggunaan kata “menjual”.

  8. bruziati said: You’re not selling it, you share it so the memories of her will never fade away.

    Yeah… saya berusaha meng’abadi’kan beliau dalam tulisan-tulisan saya. Dalam potret, sangat kurang sekali. Itu pun hanya satu potret beliau yang saya punya…Terima kasih, Mbak… I know we have same feeling 🙂

  9. itapage said: Wah..soal dosa ato tidk, kurang tau jg ya…blm pernah denger ayat/hadist nya. Coba tanyakan ke MUI. hehheeee…..

    Iya juga sih.Saya salah kalau menanyakan dosa ke manusia. yang berhak ngasih pahala atau dosa, kan, Tuhan? 🙂

  10. masfathin said: Setuju sama Mbak Rini Tah. Gapapa ikut aja. 🙂 eh btw lomba apaan aja sih? di shar dooong 🙂 aku baru tahu satu nih ^^

    Lomba yang pertama diadakan sama Majalah Muhammadiyah Surabaya.Lomba kedua, diadakan oleh MP Keluarga Serambi.Lomba ketiga, oleh Word Smart Center.Lomba keempat, who next??? :)Coba cek di http://www.infolomba.blogsome.com 🙂

  11. niwanda said: Setuju bahwa intinya adalah berbagi. Meskipun sejujurnya pertanyaan yang sama kadang muncul kalau lagi mau nulis soal papa, bahkan ketika tujuannya bukan materi sekalipun. Terima kasih sudah mengungkapkan di sini, Fatah, aku jadi ikut belajar.

    Sama-sama, Mbak.Saya yakin, banyak orang seperti kita di luar sana :)Insya Allah, saya akan terus belajar 🙂

  12. happywithavis said: kalo niatnya gitu…berat dek…mending niatnya….memberikan ibrah dari berbagai kenanganmu bareng ibukaren ibu adalah yang terbaik dalam hidupmu^_^

    Hehehe… Saya akui kalo sikon sangat mempengaruhi niat. Itu buat saya pribadi. Insya Allah, saya akan berusaha untuk selalu berniat baik. Doakan saya, Mbak…Yeah, my mom is the best woman I ever had in this world 🙂

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s