More Video Conferences, Please!


Lagi pengin berkeminggris untuk judul. Tapi, untuk badan tulisannya belum bisa total berbahasa Inggris. Hehehe…

Hari Kamis (19/11), mulai pukul 10.00 – 12.30 WIB, saya dan beberapa mahasiswa mengikuti seminar melalui Digital Video Conference (DVC) di American Corner (Amcor), Perpustakaan Kampus B Unair. Seminar ini dibawakan oleh John Hickok, M.L.I.S/M.A, seorang instruktur sekaligus pustakawan dari California State University. Beliau memaparkan materi mengenai “New Ways of Doing Research & Finding Information (Using Free Internet Libraries)” dari Amcor Universitas Indonesia. Pesertanya dari empat universitas di Indonesia yang memiliki Amcor, yakni USU di Medan, UI di Jakarta, UGM di Yogyakarta, dan Unair di Surabaya. FYI, Amcor merupakan fasilitas berupa ruangan khusus dengan koleksi referensi dari luar negeri, hasil kerjasama universitas dengan Kedubes Amerika Serikat.

Well, saya hanya ingin membagikan ‘sedikit’ pengalaman dan pengetahuan yang saya dapatkan dari seminar tersebut. Jujur, ini konferensi melalui video yang pertama kali saya ikuti. Ini juga pertama kalinya saya mengikuti seminar jarak jauh dengan pembicara dari luar Indonesia. Ini sebuah kemajuan tersendiri bagi saya karena tertarik mengikuti seminar tersebut. Sebelumnya, tiap ada acara yang diselenggarakan oleh Amcor, saya tidak pernah menggubrisnya. Dengan alasan, bahasa Inggris saya belum mumpuni, sementara pembicara yang sering diundang biasanya dari Konsulat Jenderal AS ataupun tamu dari luar yang native-language-nya adalah bahasa Inggris. Saya merasa belum pantas mengikuti acara-acara semacam itu.

Tapi, sejak beberapa mata kuliah saya menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar, mau tidak mau saya menggembleng diri berbahasa Inggris. Paling intens sih, semester lalu, ketika saya mengambil American Political System. Dosennya Pak I Basis Susilo yang sekaligus Dekan Fisip Unair dan rajin menulis di rubrik opini Kompas, terutama kajian politik AS.

Lalu, semester lima ini, beruntun beberapa mata kuliah yang saya ambil mewajibkan bahasa Inggris di kelas (bilingual sebenarnya), antara lain: MBP Australia, Timor Leste, dan Pasifik Barat Daya; Organisasi Internasional; dan MBP Eropa. Yang pertama, kebetulan dosen pemangkuny adalah Ibu Dewi Sartika, doktor lulusan ANU, Australia. Yeah, bisa kami maklumi kalau toh akhirnya kami diharuskan berbahasa Inggris selama di kelasnya. Lantas, dua mata kuliah terakhir dipangku oleh Madamme Anne F. Guttinger, yang sedang menyelesaikan S-3-nya di Paris. Bahasa Inggris beliau yang beraksen Perancis, cukup seksi terdengar di telinga!

Oke, back to topic!

Mr. Hickok ternyata seorang pustakawan yang lucu dan atraktif. Beliau tak segan-segan melontarkan guyonan yang membuat kami tertawa. Bahkan, tingkahnya pun terkadang mengingatkan saya pada Mr. Bean. Menurut saya, pustakawan Indonesia layak mencontoh dia. Pengamatan saya selama ini, para petugas perpustakaan, termasuk pustakawannya masih lebih banyak ‘serius’nya ketimbang enjoy. Jadi, wajah-wajah yang dinginlah yang lebih sering saya temui. Ya, ada beberapa yang ramah dan tak lupa memberi irisan-irisan senyum mereka. Itu sebuah kemajuan yang perlu ditingkatkan!

Selipan praktek langsung di antara deretan power point-nya juga dilakukan oleh Mr. Hickok. Jadi, ada beberapa slide yang mengharuskan beliau untuk membuka halaman-halaman situs dan itu langsung dipraktekkan. Beberapa situs yang beliau rekomendasikan bagi para mahasiswa, baik program sarjana, magister, juga doktoral, terkait dengan perpustakaan internet yang gratis, antara lain: http://www.ipl.org; http://www.libraryspot.com; http://www.refdesk.com; http://www.library.fullerton.edu (situs perpustakaan tempat Mr Hickok bekerja); http://www.clusty.com (saingan Google); http://www.onlinenewspapers.com; http://www.magatopia.com (majalah untuk dibaca gratis); Google.com Directory; Yahoo.com Directory; dan About.com Directory.

Sempat, ketika beliau meng-klik link di salah satu situs tersebut, loading-nya lama sekali. Saya nyeletuk dalam hati, “Jangan-jangan koneksi internet Indonesia diketawain nih sama Mr. Hickok!” Ternyata, dugaan saya tidak meleset. Beberapa detik kemudian, beliau menarik napas, menampakkan raut kesal yang lucu (seperti apa ya?), dan tertawa. Para peserta pun terbahak-bahak. Saya? Termasuk!

Setelah selesai presentasi yang memakan waktu dua jam lebih, sesi tanya jawab pun dibuka. Mahasiswa USU yang diberikan kesempatan pertama. Lalu, UI. Nah, insiden terjadi ketika giliran Unair diberikan. Ibu Ratna, penanggung jawab Amcor yang juga duduk bersama kami, ternyata tidak paham teknis penggunaan mikrofon yang terhubung dengan alat video conference-nya. Moderator dan Mr. Hickok di Jakarta sana tidak bisa mendengar suara kami karena oleh Ibu Ratna, mikrofon-sistem-injak-nya dimatikan. Menurut Ibu Ratna, itu sudah hidup. Tapi, gamblang sekali di layarnya, mode mikrofonnya OFF. Saya dan seorang mahasiswi Ilmu Perpustakaan sempat ngotot pada Ibu Ratna bahwa kenop mikrofonnya TIDAK usah ditekan. Sebab, jika ditekan, justru posisi mik-nya MATI. Tapi, Ibu Ratna ngeyel. Yeah, Unair pun lewat. UGM diberikan kesempatan.

Kami maklum, Ibu Ratna memang sudah berumur gitu. Jadi, wajar saja jika tidak mau kalah sama kami yang cocok menjadi cucu-cucunya J

Setelah berkomunikasi dan mencoba saling memahami, Ibu Ratna pun akhirnya kami kalahkan! Yeaaaaaaaaa!!! Mikrofonnya hidup, kami diberikan kesempatan lagi, akhirnya Ibu Ratna pun berperan sebagai penanya pertama. Setelah dijawab oleh Mr. Hickok, saya pun jadi penanya kedua. Yeah, akhirnya keluar juga bahasa Inggris saya yang selama ini lebih pede saya praktekkan di depan cermin kamar mandi, itu pun dengan kalimat yang sama berulang-ulang. Pada kesempatan seminar jarak jauh itu, saya bertanya pada Mr. Hickok mengenai situs-situs yang menyediakan skripsi, tesis, ataupun disertasi yang berkaitan dengan Ilmu Hubungan Internasional. Yeah, jawabannya sih gampang dan mudah ditebak. “Memang ada beberapa situs yang menyediakn itu, tapi hanya abstraknya saja!” Saya pun sudah bisa menebak, sebenarnya. Tapi, ya… karena tidak ada lagi yang berinisiatif tanya, akhirnya pertanyaan itu juga yang keluar dari bibir saya.

Intinya, saya puas dengan seminar jarak jauh tersebut. Meskipun ini dikhususkan bagi mahasiswa jurusan Ilmu Perpustakaan, tapi karena
pembicaranya dari AS, saya dan Shendy (duo sekawan dalam mengejar beasiswa ke AS) pun mengikutinya dengan antusias. Apalagi dengan tata ruang Amcor yang mencerminkan ruang belajar di luar negeri (seperti yang kami lihat di film-film juga foto di majalah), maka semakin gencarlah semangat kami.


Bahkan, di akhir acara, sempat-sempat pula kami bertanya pada Ibu Ratna mengenai calendar events untuk bulan Desember. “Aku yooo…kesel iki! Wez nggak ono maneh kegiatan e!” ujar Ibu Ratna dengan medhok Jawa-nya.

Kami ikut-ikutan cemberut.

Hehehe…

Iklan

4 thoughts on “More Video Conferences, Please!

  1. Wah keren jg kuliahnya pake bhs inggris, dulu kok aku nggak ada ya 😛 Tah, if u keep these up -your spirit and all- I’m pretty sure you’ll get those scholarships someday!

  2. bruziati said: Wah keren jg kuliahnya pake bhs inggris, dulu kok aku nggak ada ya 😛 Tah, if u keep these up -your spirit and all- I’m pretty sure you’ll get those scholarships someday!

    Tapi, HI UI yang sekarang sepertinya lebih WOW deh perkuliahannya :)Anyway, thanks a lot, Mbak Uci.Ammmmmmmmmmmmiiiiiiiiiiiiinnn… 🙂

  3. masfathin said: Kereeeen… waktu kuliah dulu *ehem* aku juga ada pelajaran full english gitu, tapi ya itu, Maboook. Tapi gak sampe VConference.

    Hehehe…at least, sudah pernah merasakannya ya, Cek Yan 🙂

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s