[Episode Beasiswa ke Amerika] Kejutan Tak Terduga

Kamis, 26 November 2009

Hari Kamis yang cukup menyibukkan saya. Pagi, kuliah Bisnis Internasional. Kelas yang membahas studi kasus Kecap Bango. Hebat! Kecap dipelajari juga di HI. Meski begitu, bukan sekadar obrolan tak bermutu. Namun, segala aspek yang berhubungan dengan Kecap Bango, terutama kisah dan trik suksesnya dalam menjalankan bisnis sehingga mengalahkan pamor Kecap ABC, itulah yang kami bahas di kelas. Menarik! Perspektifnya banyak sekali. Lebih kaya. Meskipun itu ‘cuma’ kecap.

Kelas usai, saya kudu rapat HI 27th. Ketua acara kami, Dyon, memaparkan secara lebih realistik langkah-langkah yang kudu kami tempuh dalam dua minggu ke depan. Acaranya semakin dekat, yakni 17 Desember 2009. Ulang tahun program sudi HI yang mengangkat tema “Bring Children to the Brighter Future” ini, mengharuskan saya juga untuk bertindak segera terkait tugas sebagai PJ Publikasi dan Dokumentasi. Saya merasakan, tidak mudah ternyata menjadi seorang pemimpin itu. Saya perlu belajar banyak, terutama ketika menghadapi beragam karakter orang.


Karena acara kami berhubungan dengan anak-anak, maka di salah satu sesi acara nanti akan ada performansi dari anak-anak. Untuk itu, kami akan mengundang Sangar Alang-Alang, sebuah yayasan sosial yang bergerak pada pemberdayaan anak-anak jalanan. Saya, sebagai orang pubdok pun, diminta untuk membuat skenario cerita untuk pembuatan film dokumenter anak-anak jalanan. Skenarionya masih dua halaman, belum ada kemajuan, sebab saya masih sangat awam dalam penulisan skenario. Rencananya, kami akan melibatkan anak-anak Sanggar Alang-Alang sebagi para pemainnya. So, saya dengan tim pubdok nanti akan membuat film dokumenter tentang itu.


Maka, oleh teman-teman Seksi Acara, saya diajak pula ikut ke Sanggar Alang-Alang yang berada di belakang Terminal Joyoboyo itu. Saya, Ines, Ami, dan Mitha ke sana. Sayang sekali, kami tidak bertemu lagsung dengan Pak Didiet Hape karena beliau sedang membawa anak-anak asuhnya pentas di Balai Pemuda. Namun, kami telah diberikan kontaknya oleh Mbak Nurul, petugas harian yayasan tersebut. Di dalam mobil, dalam perjalanan kembali ke kampus, Mitha pun menghubungi Pak Didiet. Janji pertemuan telah disepakati.


Memasuki areal parkir Fisip, saya mendapat sms dari Maria. “Rek, ada nggak yang sudah dihubungi pihak IIEF?” Kira-kira begitu isi sms-nya. Saya langsung membalas, “Aku belum. Memangnya kenapa?” Maria tidak membalas hingga satu jam kemudian saya menemuinya di Ruang Publik Perpustakaan. Terlebih dahulu saya rapat pertama Divisi Ilmiah HIMAHI. Amal, sang ketua, membagi job dan menunjuk orang-orang sebagai PJ tiap sub-divisi. Kebetulan saya kebagian di Media Club yang tugasnya untuk melaksanakan kegiatan non-akademik yang berhubungan dengan film, musik, dan buku. Intinya, acara-acaranya akan lebih menyenangkan, meskipun sama sekali tidak berhubungan dengan HI. Saya pun setuju saja ditunjuk sebagai PJ. Ini adalah bidang yang saya sukai!


Rapat satu jam itu pun berakhir. Saya segera ke perpustakaan. Berniat untuk online via wifi. Saya bertemu Maria. Menanyakan maksud SMS-nya tadi. Eh, ternyata di ditelpon oleh pihak IIEF (The International Indonesia Education Foundation) dari Jakarta. Maria dinyatakan lulus ke tahap seleksi berikutnya, yakni wawancara yang diadakan di Universitas Negeri Malang, hari Sabtu (28/11).


“Wow! Selamat ya, Mar!” ujar saya.


“Tapi, kalau aku sendirian ke sana, kayaknya aku batal berangkat deh!
Aku sudah menghubungi teman-teman lain yang ikut beasiswa ini, tapi tidak ada yang dapat panggilan serupa. Gimana dong, Fat?”


Dia terbiasa memanggil saya Fat. Panggilan yang sering membuat saya senewen. Fat, biasanya, singkatan buat nama Fatimah. Saya lebih akrab jika dipanggil Tah atau Atah.


Oya, Maria, saya, Ririn, Shendy, Mega, Else, Rani, dan Azel adalah anak-anak HI 2007 yang ikut melamar beasiswa IELSP (Indonesia English Language Study Program), yakni program beasiswa belajar bahasa Inggris di universitas-universitas di Amerika Serikat selama 8 minggu. Maria, sudah pasti lolos ke tahap selanjutnya, yakni tes wawancara. Sementara saya sudah pasrah. Sebab, saya tidak mendapat panggilan hingga siang itu.


Tapi, saya tidak terlalu ambil pusing. Saya pun melanjutkan internetan. Membuka Facebook dan membaca postingan teman-teman di Multiply. Hari Kamis yang cukup sepi di perpustakaan. Mahasiswa-mahasiswa yang kampung halamannya tidak terlalu jauh dari Surabaya, pada mudik karena keesokan harinya adalah Idul Adha.

Lalu, sekitar jam tiga siang itu, Nokia 6020 saya tiba-tiba bergetar. Ya, saya sudah terbiasa membungkam dering hp saya. Saya lihat nomor yang tertera di layar ponsel saya. +6221xxxx. Nomor Jakarta! Langsung saya angkat dan setengah berlari keluar dari Area Publik.

“Halo, ini dengan Lalu Abdul Fatah?”


“Iya, betul. Saya sendiri. Ini siapa?”


“Saya, Pandu, dari IIEF Jakarta. Anda lolos ke tahap seleksi
berikutnya…”


Saya potong, “Beasiswa IELSP?”


“Betul. Bisa Anda sediakan kertas dan alat tulis?”


“Oke.” Saya langsung kembali ke depan laptop. Membuka notepad. Siap mencatat. Sementara saya sudah deg-degan. Kebat-kebit. Masih belum percaya mendapatkan panggilan seperti yang dialami juga oleh Maria.


“Catat ya lokasi tesnya… blablabla…”


Tangan kanan saya mengetik sementara tangan kiri memegang hp. Ketikan saya agak semrawut. Jemari ini bergetar. Hehehe… alay!


Begitu telepon ditutup, saya hanya bisa bersorak dalam hati. “Alhamdulillah!” Segera saya minta mbak yang duduk di sebelah saya untuk menjaga laptop. Saya mau shalat Ashar dulu. Menyampaikan terima kasih pada-Nya lewat sujud.


Di kamar mandi, sebelum wudlu, saya menyampaikan kabar gembira itu pada bapak dan saudara-saudara saya. Sekaligus meminta doa mereka agar tes wawancara saya nanti bisa berjalan lancar. Saya juga tidak lupa meng-sms Maria. “Mar, besok bareng-bareng ya berangkat ke Malang!” Dia girang. Saya apalagi.


Ini adalah mimpi yang ha
rus saya wujudkan. Tes wawancara harus dihadapi. Surabaya – Malang tidak seberapa jauh. Kalau saja tesnya di Jakarta, mungkin akan saya tolak. Begitu juga halnya dengan Maria.


Malamnya, saya mengontak teman-teman yang lain, dapatkah panggilan juga dari IIEF. Ternyata, Ririn juga dapat. Jadi, hingga keesokan harinya kami berangkat, saya mendapatakn info bahwa saya, Maria, dan Ririn dari HI 2007 yang lolos ke seleksi berikutnya. Sementara dari HI 2006, ada Mas Dony, Mbak Pera, dan Mbak Lea.


Saya juga tak lupa menghibur teman saya, Shendy, yang belum beruntung lolos ke seleksi berikutnya. Padahal selama ini dialah yang paling banyak membantu saya dalam beasiswa ini. Mulai dari ngompor-ngomporin saya untuk ikut. Di saat saya menolak karena waktu yang kepepet untuk menyerahkan aplikasi, juga keuangan lagi benar-benar krisis, dia terus-terusan membujuk saya untuk ikut. Bahkan, ancaman pun keluar. Sadis, tapi masih bertoleran. “Awas! Kalau saja kamu nggak ikut, tak bunuh kamu!!!” Dia memang main-main. Tapi, di balik itu semua, dia sungguh-sungguh mendukung saya. We’re partner in hunting scholarships!


Sehari sebelum pengumpulan aplikasi beasiswa, yakni tanggal 12 November, saya mau tidak mau harus punya skor TOEFL ITP. Waktu itu, saya benar-benar tidak ada duit untuk biaya tes TOEFL yang diadakan oleh PINLABS FIB Unair. Saya hampir mengalah. Menyerah pada keadaan. Tapi, dia dengan sigap meminjami saya duit. Saya sebenarnya agak keberatan juga. Tapi, dia terus memaksa. Oke. Saya pun menerima uluran bantuannya.


Well, balik ke topik utama. Biar dia tidak larut dalam kesedihan, saya pun membujuk dia agar ikut dengan kami tes wawancara di Malang. Awalnya dia menolak dengan alasan, “Useless aku ke sana, Fat!” Tapi, saya terus merecoki dia, “Kamu harus merasakan nuansa tes wawancara. Nanti kamu juga bisa tanya-tanya sama orang IIEF di sana mengenai ada tidaknya gelombang kedua. Kalau misalnya ada, berharap saja agar kamu salah satu yang lolos untuk gelombang kedua!”


Dia pun melunak dan memutuskan untuk ikut.


Hore!!!

*still writing the next episode*

Iklan

48 thoughts on “[Episode Beasiswa ke Amerika] Kejutan Tak Terduga

  1. aaaaaaaaaaaaaaaaaa saia iriiiiiiiiiiiii…pengumuman di kampus saia kurang update jadinya pengumuman selain telat dan link untuk IIEF itu nggak bisa dibuka…………………………………………………………….

  2. Waduh, sayang sekali… Saya pun sebenarnya tahu dari blog dan FB kok. Dan kebetulan pihak IIEF pernah datang memberikan seminar tentang beasiswa ini… Keep fight for the next chance yak!

  3. lafatah said: Waduh, sayang sekali… Saya pun sebenarnya tahu dari blog dan FB kok. Dan kebetulan pihak IIEF pernah datang memberikan seminar tentang beasiswa ini… Keep fight for the next chance yak!

    dari blog? blognya IIEF? di FB ada grupnya jg? apa grupnya?

  4. Seeeeeeeee… :-DI’m soooooooo happy for you :-D*Ima senyum LEBAAAAAAARRRRRRRR banget* :-pSudah kuduga :-DKarena kisahnya sudah dibagi ke MPers, berarti kamu sudah lulus dan akan berangkat kan Dik :-)Berarti tahun depan ya, enjoy USA for two months, yak :-DEh, IIEF ini yg ngasih aku beasiswa Master ke UK 🙂

  5. Aku belom baca lengkap, tapi udah tahu intinya. Tuh kan tah apa aku bilang, kalo Fatah mah tinggal nunggu waktu, soalnya kemungkinannya jauh lebih besar. Selamat yaaaa Fataaaaaah, Ikut bahagiaaaaaaaaaaa jangan lupa sampe di Amerika elus-elus bangunan di sana dan sebut namaku ya buahahahahahaha.

  6. masfathin said: jangan lupa sampe di Amerika elus-elus bangunan di sana dan sebut namaku ya buahahahahahaha.

    kalau udah capek nyebut nama Masfathin, sebut nama saya ya. haha.

  7. suararaa said: dari blog? blognya IIEF? di FB ada grupnya jg? apa grupnya?

    Bukan blog. Tapi webnya iief.or.id. Di FB nama grupnya Beasiswa Dalam dan Luar Negeri.Silakan dicoba, dicari, dan dirasakan yak :))

  8. imazahra said: Seeeeeeeee… :-DI’m soooooooo happy for you :-D*Ima senyum LEBAAAAAAARRRRRRRR banget* :-pSudah kuduga :-DKarena kisahnya sudah dibagi ke MPers, berarti kamu sudah lulus dan akan berangkat kan Dik :-)Berarti tahun depan ya, enjoy USA for two months, yak :-DEh, IIEF ini yg ngasih aku beasiswa Master ke UK 🙂

    Seeeee…. lalalalala…Saya belum pasti kok, Mbak. Tapi, optimisme itu tetap ada…Just hope the best…Wew, itu benar2 beasiswa full kan??? Mantaps!:))

  9. iwok said: Alhamdulillah … ikut seneng ya Tah. Semoga tesnya lancar, dan impian untuk mendapatkan beasiswa ini bisa terwujud. Amiin.

    Amiiiiiiiiiiiiinnnn…Makasih doanya, Kang Iwok. Ini memang mimpi saya dan tak ada salahnya untuk mencobanya dari sekarang. Perkara lulus atau tidak nantinya, Allah yang menentukan 🙂

  10. dewimarthaindria said: wah… barakallah ^_^semoga interviewnya sukses ya ^_^

    Seperti yang Mbak perkirakan…Alhamdulillah berjalan lancar.Nanti saya akan posting selengkapnya di jurnal berikutnya 🙂

  11. lovusa said: selamat, selanat, selamat…..semoga semuanya dilancarkan, dimudahkan, diberikan yang terbaik yaaa 🙂

    Semangaaaaaaaaaaat ya, Mbaaaaaaak buat ngejer beasiswanya 🙂

  12. masfathin said: jangan lupa sampe di Amerika elus-elus bangunan di sana dan sebut namaku ya buahahahahahaha.

    Hehehe… untuk sementara ini, saya juga hanya bisa mengelusnya lewat mimpi 😀

  13. siasetia said: ikutttttttt senanggggggggg…alhamdulillah maju terus ya pantang mundur!

    Mantabs jayaaaaaaa…Saya akan berusaha semaksimal mungkin, Mbak Diah. Doakan yak…

  14. retnadi said: alhamdulillaaah, selamat yaaa :)seneng seneng banget baca tulisan ini! :)semoga dimudahkan Allah ya segala urusannya 🙂

    matur nuwun tampiasih, Mbak Retno…dukungan dan doa Mbak dan teman-teman MPers semuanya sangat berharga bagi saya 🙂

  15. nikinput said: Moga sukses ya Tah ^^ btw, rencananya ngambil jurusan apa sih? HI?

    Maksudnya? Kalo beasiswa ini khusus untuk belajar bahasa Inggris saja, Mbak. Jadi, nanti akan berada di kelas internasional 🙂

  16. starvingspica said: Selamat, Fatah…semoga lancar seleksinya. O iya, itu yang bener Sanggar Alang-Alang, kan, bukan Sangar, hehehe 🙂

    Doanya ya Mbak untuk selanjutnya….Iya, yang bener itu Sanggar Alang-Alang. Hehehe… Terima kasih atas koreksinya 🙂

  17. meylafarid said: selamat Fat,,,eh Tah,,,semoga tes wawancaranya lancar ya…aamiin. (ikut bahagia tak terkira bca beritanya)

    Seperti doanya, Mbak. Alhamdulillah… lancar.Bener-bener wawancara yang menyenangkan dan tak terlupakan. Sampai kebawa nuansanya pas di dalam kereta pulang ke Surabaya… Hehee

  18. niwanda said: Selamat ya Tah, moga lancar seterusnya :).Serasa ikut merinding bahagia…. salut untuk berbagi semangatnya dengan teman-teman.

    Makasih banyak, Mbak Lei…Hehehe… merinding… saya juga demikian.Insya Allah akan mencoba untuk terus berbagi semangat… 🙂

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s