‘Perahu Kertas’ itu Pun Benar-benar Berlayar

Sekadar selingan saja sambil nyuci *ini ngetiknya di hp*

Kaos ‘Perahu Kertas’ saya akhirnya bisa ber’layar’ setelah seminggu
tidak bersentuhan dengan air 😦 Momen yang menyedihkan memang. Kaos
yang masih baru harus mengalami nasib yang tidak bermutu di tangan
saya. Apa itu? Jadi kain pel. Tercebur di lantai kamar saya yang
kebanjiran. Berlayar ke sana ke mari seiring dengan gesekan tangan
saya, bersama baju-baju yang lain…

Kenapa tidak memakai kain pel? Kenapa harus baju-baju? Kenapa harus
kaos ‘Perahu Kertas’? Ya, itu karena saya dalam kepanikan, tidak
berpikir jernih, ngantuk, juga capek…

Lho, kok bisa kebanjiran? Kamar saya kan di lantai dua? Tapi, kalau
misalnya saya mengatakan begini: “tandon plastik di lantai tiga,
kepenuhan air lalu berusaha mencari tempat yang lebih rendah di lantai
dua, terutama”, gimana? Masuk akal kan?

Itu juga gara-gara kelalaian saya. Pulang dari Malang dalam kondisi
capek, ngantuk, dan lapar. Mau mandi, karena air di tandon habis, maka
saya menyalakan mesin airnya. Lalu, saya beranjak ke kamar, membuka
nasi bungkus. Ya, sekalian nunggu tandonnya berisi. Selesai makan
dengan lahapnya, saya pun menguap. Lalu, merebahkan diri di kasur yang
memang tergeletak di lantai (tanpa dipan). Dan, hanyutlah saya bersama
mimpi-mimpi indah…

Satu setengah jam kemudian, saya merasakan kaki saya dingin-dingin
empuk. Ibarat tiduran di pinggir pantai. Ada air? Kok? Saya
menegakkan punggung. Bangun. Oh my God! Ya ALLAH… Bungkus nasi saya
pun telah melayang-layang di atas air setinggi 5 senti. Gubrak! Air
dari mana?

Saya benar-benar terbangun. Memang terjadi hujan deras malam itu, tapi
ini bukan rembesan air hujan. Ibu kontrakan kami juga bilang kalau
atap kamar kami tidak bocor. Dan, satu alibi mengarah pada…tandon
air!

Seketika itu juga, saya bertindak. Tidak mau tidur di genangan air.
Karena kain pel cuma satu dan lambat banget untuk nyerap air, saya pun
mengempaskan baju2 kotor yang tergantung di dinding. Termasuk si
‘Perahu Kertas’!

Iklan

14 thoughts on “‘Perahu Kertas’ itu Pun Benar-benar Berlayar

  1. Bukan dunk! Kalo sampai bukunya yang kebanjiran, mungkin saya bakal nangis darah *alay* hehehe…Btw, karena ini ngontrak, jadi ya istilahnya mau ganti barang ini itu, semuanya kami yang nanggung, Mbak…Yeah…. resiko…

  2. hahahaha, *maap ketawa, bukan berarti bahagia di atas penderitaanmu Tah* cuma, aku pernah pengalaman serupa 😛 walau barang-barangku aman dari hal-hal pelayaran indoor 😛

  3. huahuahauha…saya nyeritain temen, mereka juga pada ngakak-ngakak kok!termasuk novel pinjama dari temen juga jadi korban…dia bilang: it’s not a big problem… Saya pun teriak girang! sengaja memancing dengan bilang: “perlu aku ganti gak dengan yang baru?”dia bilang: nggak usah. tapi pake novel yang lain, gpp…saya: gubrak!!! :))

  4. #Mbak Meyla: Hehehe… Alhamdulillah… ada tiga kamar yang terkontaminasi oleh banjir… Jadi, air di tandon itu ngalir dulu ke kamar tetangga sebelah, terus masuk ke kamar saya (karena tembok pemisah cuma pakai triplek gitu), terus saya kan bersih-bersihin airnya, eh…dudulnya masuk juga ke kamar teman sebelahnya lagi… Hiks… bener-bener trickle down effect! HEHEHE…#Mbak Ima: Alhamdulillah… ini bener-bener murni ‘kesalahan’ si tandon. ALhamdulillah… atap kamar kami dalam kondisi baik, jadi meskipun sempat turun hujan, namun efeknya nggak berat :))

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s