[Episode Beasiswa ke Amerika] Wawancara yang Menyenangkan

Sabtu, 28 November 2009

Jam tiga pagi, saya terbangun. Teringat belum menunaikan shalat Isya. Isya tertuai, saya kepikiran untuk belajar lagi. Banyak pertanyaan yang saya tulis di notes belum terjawab. Karena takut mengganggu tidurnya Iqbal, saya tidak menyalakan lampu kamarnya. Saya belajar dengan bantuan sinar dari layar monitor PC-nya yang dibiarkan menyala. Saya membuka aplikasi microsoft word dan mulai mengetik pertanyaan-pertanyaan sekaligus menjawabnya. Saya berusaha mengeksplorasi kosakata bahasa Inggris yang belum terlalu banyak itu.

Ternyata…mandeg. Kenapa? Sebab, saya lebih tertarik melihat-lihat koleksi film di komputernya Iqbal. Saya menemukan salah satu judul yang membuat saya penasaran, yakni Pintu Terlarang dan The Orphan. Saya pun memilih The Orphan karena sudah lama melihat posternya di bioskop. Saya tersedot dari awal hingga akhir film bergenre thriller psikopat itu. Film yang keren! Berhasil membuat saya bergidik sekaligus geram dan terpesona pada karakter Esther. Karakter yang jahat dan sadis, tapi menawan!

Hampir sampai jam lima. Saya selesai menonton, lalu shalat subuh. Mandi. Fresh! Iqbal sudah bangun, saya lantas meminta dia mengantarkan saya ke lokasi tes wawancara, yakni Gedung D-7 Fak. Sastra UM. Sembari menunggu dia siap-siap, saya sarapan roti dan susu dulu.

Shendy, Agit, Maria, dan Ririn rupanya telah duluan berangkat ke UM. Saya diberitahu lewat SMS. Well, here I go, guys!


Agit memandu saya via sms. Tidak susah menemukan Gedung D-7 itu. Letaknya di belakang masjid UM. Dari kejauhan, saya melihat mahasiswa-mahasiswa seperti saya sedang bergerombol di depan papan pengumuman.


Turun dari motor, saya segera menyeruakkan diri di antara mereka yang berwajah-wajah antusias di depan papan pengumuman. Saya mencari nama sendiri. Ada! Satu kelas dengan Mbak Lea HI ’06.


Saya menoleh sebentar ketika dipanggil oleh Shendy. Mereka rupanya telah berada di dalam gedung. Saya pun bergabung. Ngobrol-ngobrol lagi. Menyatakan ke-dagdigdug-an saya. Kami saling menguatkan satu sama lain. Kami saling menenangkan satu sama lain. Meskipun tetap saja, raut gusar di wajah masing-masing tidak bisa disembunyikan.


Untuk mencairkan perasaan tegang, kami terus-menerus ngobrol diselipi candaan. Saya pun bernyanyi-nyanyi tidak jelas. Tentu saja, berdoa, berdoa, dan berdoa juga tidak pernah luput. Sebab, itu adalah senjata utama selain usaha.


Para panitia kelihatan sibuk di sebuah ruangan. Terlihat, karena pintunya memang dibiarkan terbuka. Sementara itu, para peserta semakin banyak berdatangan. Saya berlatih berbicara dalam bahasa Prancis, dibantu oleh Maria. Dia juga berlatih introduksi dalam bahasa Mandarin, dibantu oleh Ririn yang lebih handal. Sebab, kami belum tahu apakah nanti akan dites pula kemampuan bahasa asing lainnya yang kami tuliskan di formulir aplikasi beasiswa.

Oya, ini adalah seleksi wawancara untuk regional Jawa Timur. Sebab, yang saya lihat di papan pengumumannya, beragam perguruan tinggi di Jawa Timur ada di situ. Ya, ada perasaan kecut juga melihat mereka. Pastinya mereka adalah orang-orang yang memang memiliki ‘sesuatu’. Namun, saya terus-menerus meyakinkan diri. Optimis. Bahwa saya memang layak berada di sini.

Tepat jam delapan, para panitia penguji yang juga dosen-dosen bahasa Inggris itu (saya tahu dari tuturannya Agit) akhirnya keluar. Mereka menuju ruang kelas masing-masing. Di depan pintu kelas telah ditempel kertas yang berisi daftar peserta. Saya sendiri kebagian di lantai dua. Nomor urut 11.


Saya membayangkan sistemnya seperti focus group discussion. Sebab, tatanan kursi di dalam kelas itu berupa satu meja dan satu kursi untuk pewawancara, berhadapan dengan bangku-bangku kosong lainnya. Itu berarti semua peserta akan masuk ke dalam kelas, jadi satu, dan mendiskusikan sesuatu. Atau, jangan-jangan ada tiga orang pewawancara langsung yang bertanya pada satu peserta, secara berganti-ganti.


Tapi, dugaan saya tidak tepat!


Sebab, peserta nomor urut pertama dipersilakan masuk. Pintu kaca itu ditutup. Dia menghadapi satu orang pewawancara, yakni seorang ibu. Dan, rata-rata satu peserta menghabiskan 15-20 menit di dalam ruang wawancara. Begitulah kesimpulan akhir kami.


Kami mengintip-intip dari luar. Bertanya-tanya, apakah wawancara dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Si cewek berjilbab yang menjadi peserta pertama, terlihat dari gerak bibirnya kalau menggunakan bahasa Indonesia. Tapi, masa sih? Ini kan bukan tes wawancara kerja?


Sudahlah! Nanti juga bakal tahu. Disebabkan nomor urut saya, Ririn, dan Maria termasuk pertengahan dan akan kebagian sekitar dua jam berikutnya, kami pun keluar gedung. Ingin mencari makan dan minum dulu. Ya, daripada terus-menerus terpancari aura orang-orang yang gelisah, mendingan menjauh dulu. Apalagi pemandangan sekitar gedung cukup menyegarkan. Udara di UM bertaut dengan hijaunya pemandangan dan pohon-pohon yang rindang, membuat hati ini menjadi lebih lapang, otak lebih terang, dan mata lebih segar. Adrenalin yang menggelegak bisa ternetralisasi.


Kami berjalan hingga keluar dari wilayah kampus, yakni masuk ke perkampungan penduduk. Mencari warung nasi. Menyusuri gang, tidak jua ketemu. Kami pun balik ke kampus. Eh, ada pisang ijo Makassar. Kami pun beli untuk lima orang dan menikmatinya di bangku-bangku taman di bawah kerindangan pohon. Cukup enak dan melegakan lambung.


Setengah sepuluh, kami pun kembali ke Gedung D-7. Saya langsung naik ke lantai dua, ternyata masih peserta kelima. Beuh… lama juga! Saya pun ngobrol-ngobrol dengan Mbak Lea, Mas Robi (pacarnya), dan Mas Dony. Bosan, saya beranjak ke dalam lagi, duduk-duduk di depan kelas dan berbincang-bincang dengan peserta lainnya. Mereka yang sudah kebagian wawancara, bercerita mengenai pengalamannya di dalam ruangan. Paling tidak, saya punya gambaran.


Saat itu pun tiba. Waktu menunjukkan pukul 11.15 WIB. Saya pun masuk dengan baca ‘Bismillah!’. Saya sudah bosan deg-degan. This is my show time! I just hope could give the best of mine!


Saya memberikan senyum, lalu duduk. Saya langsung disapa, “La
lu Abdul Fatah… Lalu, dari Lombok, ya?” sapa beliau dalam bahasa Inggris.


“Yes, right!”


Selanjutnya, saya mulai diberondong dengan pertanyaan-pertanyaan seperti: kenapa kuliah di HI? Saya aktif di organisasi apa saja? Bagaimana menyeimbangkan antara kuliah dengan kegiatan non-akademik? Setelah lulus dari HI, ingin kerja sebagai apa? Pernah mengalami benturan budaya dengan teman-teman berbeda suku? Bagaimana cara saya mengatasi hal tersebut? jika menemukan masalah mengenai lingkungan, bagaimana cara saya mengubahnya? Bagaimana cara saya mendapatkan buku terkait harga buku yang mahal saat ini? Tahun-tahun pertama di Jawa, bagaimana cara saya mendapatkan penghasilan tambahan?


Sambil mengajukan satu pertanyaan berikutnya, beliau menuliskan sesuatu di kertas penilaian. Jika ada jeda kosong, saya berusaha untuk tetap berbicara, menambahkan informasi yang sekiranya relevan dengan pertanyaan beliau. Tentu saja, semuanya saya tuturkan dengan jujur, apa adanya, sesuai dengan kondisi diri saya. Sebab, saya pikir, beliau bisa membaca mimik saya jika berbohong.


Intinya, saya sangat senang dengan wawancara dalam bahasa Inggris tersebut. Itu pertanyaan tentang diri saya. Diri saya yang senang menulis dan membaca. Bahkan saya sempat membaca ekspresi beliau yang mungkin ‘wow’ dengan jawaban saya. Meski demikian, ada beberapa kosakata yang sulit saya temukan di kepala saya, seperti kata ‘sering’ (malahan, di kepala saya muncul ‘seldom’ sama ‘usually’. Hehehe…) Kurang lebih 20 menit saya berada di dalam ruangan dan saya… puas!


Keluar, saya serta-merta bilang ke teman-teman peserta lainnya yang duduk di lantai depan kelas, “It’s very interesting intreview! Yeah, you will like it!”


Mbak Lea yang dapat giliran selanjutnya pun saya motivasi, “Mbak, asyik kok wawancaranya. Tidak semenegangkan yang kita kira!”


Saya turun ke lantai bawah, menemui teman-teman saya yang lain. Dan, tentu saja, menceritakan kembali wawancara saya yang menyenangkan itu.


Semoga pintu itu semakin terbuka lebar. Amiiin…


Iklan

32 thoughts on “[Episode Beasiswa ke Amerika] Wawancara yang Menyenangkan

  1. #Cek Yan: hehehe… sama! nulis ini pun, saya berusaha menjaga ritme deg-degannya :)) Amiiiin… doanya, tetep… :)#Mas Iqbal: Sama! menunggu :)#Mas Friewan: Mohon doanya… Silakan, sesekali boleh dicoba, Mas! #Mbak Leila: hehehe… Seruuuuu… bahkan, kebawa-bawa hingga ke dalam kereta pulang ke Surabaya 🙂 temen saya negur: husshh…hush… Saya cuma senyam-senyum saja 🙂

  2. lafatah said: Seruuuuu… bahkan, kebawa-bawa hingga ke dalam kereta pulang ke Surabaya 🙂 temen saya negur: husshh…hush… Saya cuma senyam-senyum saja 🙂

    kebawa bawa hingga ke dalam kereta, maksudnya apa Fatah? Senyam senyum gitu tah? Ati ati, ntar dikira nggak waras :))AKu bacanya ikut deg2an excited. Moga moga dapet. Ditunggu updatenya ya.

  3. Aku sudah 3 kali wawancara beasiswa, Canada, Australia dan UK, hehehe, semua sama, they ask about you, you and YOU :-)Jadi, dijamin menyenangkan.Dan kalau kamu enjoy menjawabnya, PD dan gak sombong, dijamin lulus, insyaAllah.Kapan pengumumannya, Dek?

  4. meylafarid said: mendetail bgt ceritanya,,ga sabar nunggu postingan nanti klo udah berangkat kesana.selamat ya Tah,,^^

    Iya, Mbak. Saya niatkan juga untuk berbagi pengalaman dengan teman-teman yang mungkin sedang dan tertarik untuk apply beasiswa…Mudahan ada manfaatnya.Amiiiin…. untuk doanya 🙂

  5. enkoos said: kebawa bawa hingga ke dalam kereta, maksudnya apa Fatah? Senyam senyum gitu tah? Ati ati, ntar dikira nggak waras :))AKu bacanya ikut deg2an excited. Moga moga dapet. Ditunggu updatenya ya.

    Bukan sekadar senyam-senyum, Mbak.Cuma saya tiba-tiba ngomong sendiri, berlatih dalam bahasa Inggris, seolah-olah sedang berhadapan dengan interviewer-nya… hehehe…

  6. imazahra said: Aku sudah 3 kali wawancara beasiswa, Canada, Australia dan UK, hehehe, semua sama, they ask about you, you and YOU :-)Jadi, dijamin menyenangkan.Dan kalau kamu enjoy menjawabnya, PD dan gak sombong, dijamin lulus, insyaAllah.Kapan pengumumannya, Dek?

    Yeah, bener-bener yourself-centered gitu deh, Mbak…Pengalaman Mbak pasti jauh lebih seru yak… Secara, udah sering gitu… Hehehe…Pengumumannya sekitar sebulan lagi, Mbak. Kurang tahu sih detilnya… Nanti kabar terbaru, saya posting lagi di MP. Just hope for the best saja 🙂

  7. lafatah said: Bukan sekadar senyam-senyum, Mbak.Cuma saya tiba-tiba ngomong sendiri, berlatih dalam bahasa Inggris, seolah-olah sedang berhadapan dengan interviewer-nya… hehehe…

    wakakakakaka…saking semangate rek ampe segitunya.

  8. lafatah said: Amiiiin…Semoga, Mbak :)Doakan ya… 🙂

    kebayang kok deg2annya nunggu 2 mingguan lagi…tentang hasil adekku ja mpe kbwa mimpi…tpi masih blm brani bilang isi mimpinya…ngliat 2 minggu ke depan dlu…hahahaha bikin dia penasaran ^_^btw…masih byk cara “aboard” yg lain loh…ada event terbaru koh, cm gk tau kualifikasinya. daku urun fwrd info2 aja yah…heheh^_^

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s