Fatah Ingin Naik Haji dan Bereinkarnasi


Pada kamis malam (3/12), saya menerima sms dari Mbak Sinta Yudisia.

“Asswrwb. Ada mb asma nadia di gramedia expo besok, ju
mat, 18.30, bedah buku EINH dan muhasabah cinta. Mb sinta juga diminta bedah buku reinkarnasi. Datang ya…”

Sms berikutnya datang dari Mas Ashril, Ketua FLP Ranting Airlangga. Isinya sama.


Saya segera ngecek jadwal untuk hari Jumat. Pagi jam tujuh, kuliah Organisasi Internasional (OI). Jam sepuluh, rapat Divisi Ilmiah di Ruang Cakra. Sehabis jumatan sampai sore hingga malam? Nah, lho!

Teringat naskah skenario film dokumenter tentang anak-anak yang belum saya selesaikan. Soalnya, pada hari Sabtu (hari ini, red) tim pubdok sudah harus mengambil gambar. Tugas paper OI juga belum kelar. Namun, saya memutuskan tidur!

Subuh sampai menjelang berangkat kuliah, paper saya pun selesailah. Berangkat bersama Nino dan Praja dari kontrakan, saya berniat untu
k tidak menghadiri kelas OI. Dan, terlaksana! Hanya datang ke kelas sebentar dan tanda tangan. Kemudian keluar menuju perpustakaan. Sudah terbayang wajah-wajah teman saya yang terus menagih. “Gimana skenarionya? Sudah jadi? Judulnya apa? Ceritanya gimana? Blablabla…” Laksana zombie yang terus menguntit ke manapun saya pergi.

Sambil buka FB dan MP, skenario itu pun jadi. Konsep lama saya buang. Saya belajar dari skenario Musfar Yasin (penulis skenario “Kiamat Sudah Dekat”) yang ada di note FB beliau. Menjelang pukul sepuluh, jadi
lah skenario a la Fatah berjudul “Mosaic of Children”. Tebaklah jalan ceritanya seperti apa.

Rapat Divisi Ilmiah yang dipimpin oleh Mas Syafril membahas mengenai berbagai media publikasi di HI, seperti CSGS (Cultural Studies and Global Strategies), Cakrawala Kebijakan, News Paper Column, dan IRISH (Intenational Relation in Publish). Saya dan Ratih yang mewakili IRISH,
memberikan usulan-usulan dari IRISH atas wacana untuk dijadikan majalah elektronik saja. Masalah pendanaan dan sebagainya juga kami gelontorkan. Pokoknya, IRISH harus tetap eksis sebab itu lahan kami untuk aktualisasi diri.

Sehabis jumatan, saya dan kawan-kawan menonton film Cin(t)a di Perpustakaan. Film yang membuat saya tertarik untuk berargumen di sini.

The Road to The Gramedia Expo


Hehehe… Ini sih plesetan novelnya Mbak Sinta Yudisia. Jam empat sore, Hp saya bergetar. Saya sudah membuat pengingat di Hp mengenai acara peluncuran buku Emak Ingin Naik Haji (EINH) dan diskusi novel Reinkarnasi. Datang nggak ya? Datang nggak ya? Ah, datang saja! Tapi, besok pagi-pagi kan kudu Road To HI 27th? Apa nggak capek? Kenapa nggak istirahat saja?

Saya terus berperang dengan diri sendiri, antara datang ata
u tidak. Alhamdulillah, berhubung Bapak telah mengirimkan sangu bulan ini, artinya saya ada biaya untuk naik angkot dan mungkin sekadar ‘mencicip’ buku baru di Gramedia Expo juga keinginan kuat untuk penyegaran otak, maka saya pun dengan bulat memutuskan: SAYA HARUS DATANG! Kapan lagi bisa ketemu dengan Mbak Asma Nadia yang pertama kali saya jumpai di acara Munas FLP di Solo bulan Agustus lalu? Kapan saya bisa bertatap muka lagi dengan Mbak Sinta Yudisia yang karyanya “The Road to The Empire” telah berhasil membius saya itu? Kapan lagi kalau bukan sekarang?!

Menunaikan shalat maghrib dulu, saya pun melangkah ke pertigaan Dharmawangsa, menanti angkot E. Pukul 18.45, sampailah saya di Gramedia Expo. Rupanya, diskusinya dilangsungkan di lantai dua. Saya sudah
berdebar-debar bakal ketemu dengan dua penulis kampiun FLP tersebut. Terlebih lagi Mbak Asma Nadia yang sedang gencar promosi film EINH-nya. Di eskalator, terbayang peserta diskusi yang telah hadir dan kursi penuh. Namun, hoopla! Saya hanya melihat Mbak Sinta Yudisia saja di antara akhwat-akhwat lainnya. Kursi-kursi pun belum banyak terisi! Hore!!! Lucky me!

Saya lantas mengambil posisi duduk di belakang sepasang suami istri. Saya melihat-lihat sekeliling, siapa tahu ada wajah-wajah yang saya kenal. Yup! Ada Mbak Ugik dan Mbak Siwi dari Sekolah Kehidupan. Di kejauhan, berdiri di depan rak buku, ada Mas Abimardha, anggota FLP Ranting Airlangga yang puisi-puisinya pernah dipuji oleh Mbak Sinta Yudisia karena mengingatkannya pada tetorehan filsuf Muhammad Iqbal. Ada siapa lagi ya? Oya! Sempat pula saya berkenalan dengan mahasiswa Pens-ITS prodi IT yang katanya menyukai karya-karya penulis FLP.

Mbak Asma Nadia mana ya? Sembari menunggu beliau datang, duo presenter bercuap-cuap mengenai buku-bukunya Mbak Asma dan Mbak Sinta. Saya sendiri lirak-lirik ke peserta diskusi lainnya yang semakin banyak berdatangan. Tentu saja, sambil menyiapkan amunisi berupa pertanyaan. Sebab, insting gratisan saya menyalakan sinyal: PESERTA YANG BERTANYA PASTI MENDAPATKAH HADIAH! Hahaha…

Tepat pukul tujuh, Sang penulis Jilbab Traveler pun akhirnya datang juga. Cipika cipiki dengan Mbak Sinta dan beberapa akhwat lainnya. Acara pun dimulai. Berdua mereka dipersilakan duduk di depan. Mbak moderator pun melakukan warming up pada peserta dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan seputar bukunya Mbak Asma dan Mbak Sinta. Saya ngacung untuk menjawab pertanyaan judul bukunya Mbak Sinta yang tentang Takudar Khan. Tapi, nasib baik belum berpihak pada saya. Hiks… padahal lumayan. Dapat buku.

Well, saya tidak kecewa. Sembari mematangkan pertanyaan yang akan saya ajukan pada sesi tanya jawab, saya pun mengikuti diskusi EINH dan Muhasabah Cinta Seorang Istri-nya Mbak Asma. Beliau menceritakan kisah diangkatnya EINH ke layar lebar dengan rautnya yangtegas, bicaranya yang lugas, aksennya yang jelas, dan agak cerewet (Mbak Asma sendiri mengaku begitu). Beliau berbicara panjang-lebar dan tentu saja, menarik untuk dicermati. Apalagi tentang EINH yang hingga saat ini belum sempat saya tonton. Sudah tidak ditayangkan lagi di bioskop-bioskop di Surabaya. Ya, menunggu DVD-nya saja ntar.


Banyak kisah mengharukan dan membangun jiwa terkait behind the scene film EINH. Mulai ketika Aditya Gumay, sutradara sekaligus produser EINH, iseng membuka Majalah Noor yang dihadiahkan padanya dalam sebuah goody bag dan menemukan cerpen Mbak Asma di situ. Lantas, berlikunya perjuangan Aditya Gumay menemukan kontak Mbak Asma. Lalu, ketika Mbak Asma diminta untuk bertemu pertama kalinya, langsung meneken kontrak sekaligus menyerahkan Down Payment, serta meminta Mbak Asma agar tidak memberikan cerpen itu pada prosuder lain.


Juga yang tak kalah menariknya adalah proses lahirnya cerpen EINH itu sendiri. Mengenai semua hal berkaitan dengan EINH, bisa dibaca langsung di blognya Mbak Asma.


Kemudian, Mbak Sinta Yudisia kebagian untuk menceritakan proses penulisan novel Reinkarnasi. Novel yang telah banyak dibedah dan didiskusikan di mana-mana. Beragam acara diskusi mengenai novel berlatar belakang Jawa ini bisa langsung disimak di blog-nya Mbak Sinta. Yang tidak lepas dari saya adalah pola tutur beliau yang lebih keibuan, lembut dalam berbicara, dan sering mengucapkan kalimat-kalimat thayyibah di sela-sela bicaranya. Saya kagum, tentu saja.


Duh, dua penulis keren yang mungkin agak berbeda karakter (sejauh pengamatan saya), tapi telah melahirkan karya-karya hebat yang menginspirasi, membuka wawasan dan wacana, mencerdaskan, juga mencerahkan. Selipan-selipan nasihat bagi para penulis pemula juga seringkali berkelindan dalam tutur mereka. Saya semakin ‘terbakar’ oleh energi positif mengenai kebaikan dan kepenulisan yang mereka tularkan.


Malam itu, saya banyak mendapatkan ilmu gratis mengenai kepenulisan. Saya belajar juga tentang kesabaran dan keikhlasan dalam berkarya. Saya merasa ‘hidup’. Saya merasa penuh oleh dua penulis produktif yang juga telah menjadi ibu itu.


Sebab salah satu niat saya untuk datang di acara diskusi itu adalah supaya mendapatkan buku gratisan, Alhamdulillah… terwujud juga! Meski saya tidak mendapatkan Reinkarnasi-nya Mbak Sinta, setidaknya pertanyaan yang saya ajukan pada dua penulis, dihargai dengan pemberian stiker, pembatas buku, dan pin yang keren sekali! Dan, di akhir acara, saya diberikan hak oleh Mbak Moderator untuk memilih buku yang diinginkan. Saya memilih “Pengantin Subuh’nya Zelfeni Wimra. Alhamdulillah…


Sebelum benar-benar memutuskan pulang, saya sempatkan diri membeli buku EINH. Ingin membeli yang versi kumpulan cerpennya, tapi melirik harganya yang jika didiskon menjadi Rp 36 ribu, saya mengurungkan niat. Eh, saya justru menemukan EINH: Sebuah Skenario yang ditulis oleh Aditya Gumay dan Adenin Adlan. Saya pun teringat pada skenario ecek-ecek “Mosaic of Children” saya. Aha! Tak ada salahnya beli buku ini. Saya yakin bisa belajar banyak hal, terutama penulisan skenario, dari buku ini. Otodidak itu, menyenangkan!


Dan… tak lupa minta bubuhan tanda tangan Mbak Asma Nadia!


Beliau menulis begini.

To Fatah:
MENULIS ITU BERJUANG…

Jujur, saya sumringah sepanjang acara hingga pulang ke kontrakan. Saya ‘meledak’ oleh ruahan energi positif dari dua penulis pejuang itu. Saya akan rajin menulis. Saya bisa seperti mereka. Saya bisa. Anda juga!

Iklan

29 thoughts on “Fatah Ingin Naik Haji dan Bereinkarnasi

  1. lafatah said: EINH: Sebuah Skenario yang ditulis oleh Aditya Gumay dan Adenin Adlan

    Skenario-nya keren sangat, Dik :-)Gak rugi kamu membelinya :-pHahaha, Mba Asma kamu bilang cerewet, wah wah wah, aku kamu bilang apa ya? Hihihihi :-p

  2. hehehehe….kemarin juga abis ketemuan ama mbak Asma di Gramedia Malang…ntar sore ada Meet & Greet sekalian Nobar di sini…Kamu ga ke Malang aja kah?di Malang EINH baru tayang.. ada kali minggu ini baru mulai..belum telat lho…. :Pkan kata mbak Asma untuk meramaikan EINH kita hrs nonton langsung ke bioskopnya 😛 klo nunggu DVD kan kelamaan dek…dah deh.. ayuk ke malang aja… kita sekalian kopdaran…hehehehehe….*tukang ngomporin nih…*

  3. fatah, saya termasuk yang telat nonton EINH – baru hari ini – ketika tinggal 4 bioskop aja yang nayangin di jakarta. buat saya film ini bener2 beyond ekspektasi saya … inspiratif, menyentuh, baik skenario maupun sinematografinya. ga kebayang bahagianya fatah bisa ketemu sosok2 di balik pencetus ide film itu …

  4. adearin said: Bs membayangkan raut muka fatah malam itu :)pernah sy merasakanya jg…oh…semangat yg membara…Betewe, gratisannya gantian ya 🙂

    Hehehe…ceritakan dunk, Mbak. Sesi ‘membara’ Mbak itu…sepertinya menarik euy!Dengan penulis juga kah???

  5. lovusa said: kok jadi geli baca ini ya? ;pcoba main ke jakarta, tah. ketemu mba ima…

    Nah, kalau boleh saya tanya, kesan Mbak Gita terhadap Mbak Ima, gimana???Apakah seorang orator ulung yang siap membius kita dengan hujan kata-katanya??? Hahaha

  6. dewimarthaindria said: hehehehe….kemarin juga abis ketemuan ama mbak Asma di Gramedia Malang…ntar sore ada Meet & Greet sekalian Nobar di sini…Kamu ga ke Malang aja kah?di Malang EINH baru tayang.. ada kali minggu ini baru mulai..belum telat lho…. :Pkan kata mbak Asma untuk meramaikan EINH kita hrs nonton langsung ke bioskopnya 😛 klo nunggu DVD kan kelamaan dek…dah deh.. ayuk ke malang aja… kita sekalian kopdaran…hehehehehe….*tukang ngomporin nih…*

    Owh… dari Surabaya, beliau langsung ke Malang yak?Nobarnya di mana, Mbak?Matos kah???Saya mah… bukan tipikal orang yang mewajibkan diri nonton film ini film itu. Hehehe… Soalnya, gak begitu fanatik, Mbak:)Kalo buku, mungkin iya! :DKapan yak kopdaran??? Ngalam Blogger masih sering kopdar2 nggak???

  7. masfathin said: iri iri iri, hihihi…dulu waktu ketemu mbak Asma di Palembang, aku masih SMP, dan gak begitu ngeh dengan sosok-nya, lebih kenal sama Mbak Helvy 😛

    Saya belum pernah ketemu Mbak Helvy, justru.Pengen banget euy…Seperti apakah sosok asli beliau :)Mudahan kesempatan itu akan tiba 🙂

  8. lamfaro said: fatah, saya termasuk yang telat nonton EINH – baru hari ini – ketika tinggal 4 bioskop aja yang nayangin di jakarta. buat saya film ini bener2 beyond ekspektasi saya … inspiratif, menyentuh, baik skenario maupun sinematografinya. ga kebayang bahagianya fatah bisa ketemu sosok2 di balik pencetus ide film itu …

    Wow!!!Jadi ngebet euy!!!*bentar..bentar…mau cek di situsnya XXI – apakah masih ada pemutaran di Surabaya*Kalo saya, baru saja menamatkan bukunya. Mantaps!!! Iya, Mbak. Mas Aditya Gumay itu, berdasarkan penuturannya Mbak Asma, sangat sabar ketika men-direct para pemain filmnya…Keren…. 🙂

  9. lembarkertas said: Di detos msh tyang g ya? Keren skali perjalanannya. Tfs ya. Kalo ada gratisan Reinkarnasi mau jg dunk. Hehe.

    heuheuehe… saya juga ngincar Reinkarnasi :)Kalo pun nggak dapet gratisan, ya ntar pinjem aja di rental 🙂

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s