FRASE GENIT “TIKET HANGUS”

“Kereta Sembrani? Sudah berangkat, Mas.”

“Hah?”


Wajah saya mulai pucat. Gusar dan mengepiting rebus jadi satu. Saya menengok jam di stasiun. 18.35. Waktu seakan-akan menelan saya.


“Terus gimana, Pak?”


“Coba tanya petugasnya!” Lantas menunjukkan saya pada loket antrean tempat saya membeli tiket pada pagi harinya.


Hanya satu yang saya inginkan. Solusi. Terbayang Jakarta yang jauh di pelupuk mata.


Tak ada harapan. Titik!


“Mbak, Sembrani sudah berangkat?” Saya mengulang tanya dengan suara lemas meski sudah tahu jawabannya. Tentu saja, wajah masih sesedap kepiting rebus dicocol sambal balado.


“Iya, Mas…” Mbak yang saya tanya juga ikutan berwajah pasrah.


“Terus, bagaimana, Mbak? Bisa diganti?”


Diganti dalam artian, duit saya dikembalikan atau saya dioper ke kereta yang lain.


“Waduh, Mas. Tiketnya hangus. Aturan perusahaan bilang begitu,” ujar Mbak itu iba sambil memperhatikan sesuatu di layar komputernya.


Begitukah perasaan Prita Mulyasari di pengadilan?


Begitukah perasaan Nenek Minah yang dimejahijaukan hanya gara-gara
mengambil 3 buah kakao jatuh?


Saya mulai berkeringat. Hampa. Saya segera mengambil keputusan. Menelepon Domi (teman kontrakan yang juga mengantarkan saya ke Stasiun Pasar Turi). Dia memang masih belum terlalu jauh dari stasiun. Tapi, tidak diangkat. Saya membalikkan badan. Berlalu dari hadapan mbak petugas loket.


“Loh, Domi di sini?” tanya saya dalam hati. Dia tengah berbincang dengan petugas pencoret tiket. Tadi memang, saya cuma meminta dia mengantarkan saya sampai di luar stasiun. Akan memakan menit kalau harus ke parkiran dulu. Waktu saya sudah benar-benar limit. Bahkan, saya mesti lari-lari ke dalam stasiun. Tapi, ternyata terlambat. Terlambat lima menit. Lima menit!


Domi yang memang sudah sering bepergian dengan kereta sepertinya sudah bisa membaca situasi. Dia juga tidak bisa berkata apa-apa pada saya.


“Ayo, Dom, keluar!” ajak saya. “Duduk dulu di sini! Aku mau merenungi nasib sebentar…” Saya menunjuk ke teras stasiun yang agak tinggi. Kami duduk. Para calo dan penumpang berseliweran di depan saya.


“Ketinggalan kereta ya?”


Berkali-kali para calo tiket berkata begitu pada saya. “Ayo, pakai Agro Anggrek. Potongan 50 ribu.”


Saya abai pada mereka. Pikiran saya tidak ke sana. Kereta Eksekutif Sembrani telah berangkat meninggalkan saya. Menuju Jakarta. Jakarta yang jauh sekali jika ditempuh dengan jalan kaki. Kosong. Mata saya menatap lurus ke depan, pikiran saya terbang ke Sembrani. Domi saya kambingcongekkan di samping kanan saya.


“Kalau pakai bis, berapa Pak?” Saya sendiri tidak yakin dengan pertanyaan saya itu. Sekadar pelepas kekagetan saja. Intensi tidak ada sama sekali naik bis. Di kepala saya, masih terngiang frase genit “T-I-K-E-T H-A-N-G-U-S”.


“Bis Tiara blablabla cuma 175 ribu!”


“Mas, naik Agro Anggrek saja. Jam delapan berangkat”


Sudah dua kali saya bilang, “Saya nggak ada duit, Pak!” sambil menggelengkan kepala dan menggoyangkan tangan. Ya, duit di kantong saya kurang dari seratus ribu memang. Itu sekiranya cukup untuk transportasi dari Gambir – Blok M – Gedung Arsip Nasional. ATM? Tidak bisa diharapkan.


“Dom, aku pengin naik kereta bisnis saja besok. Gumarang, kan? 150
ribu.”


“Kalau besok, berarti Selasa pagi kamu nyampenya.”


“Untung acaranya Selasa siang…”


Duduk-duduk di serambi stasiun tanpa kepastian ternyata tidak membuahkan apa-apa.


“Pulang, yuk! Anterin aku ke rumah mbak-ku, ya? Mau pinjam duit…”


Kami pun mulai keluar dari hingar-bingar calo dan para penumpang. Dengan gontai, saya kembali menggelengkan kepala saat ada calo yang menawarkan jasanya. Di atas motor, saya bertanya lagi pada Domi. “Kok, kamu bisa sampai masuk ke dalam? Nge-feeling kalau keretanya sudah berangkat?”


Lalu, kami membahas ponselnya yang ketinggalan di kontrakan. Jam dinding di musholla dekat kontrakan yang sempat saya tengok sebelum berangkat dan berkata, “Ah, masih 15 menit lagi. Bisa dikejar kok.” Alternatif kendaraan yang bisa saya gunakan ke Jakarta. Tiket murah, minimal bisnis. Terlintas di pikiran mengenai dosa termanis yang telah saya perbuat pada Tuhan. Mengkritikpedasi diri saya yang memang punya penyakit menunda-nunda waktu (yeah, pecinta deadline). Merutuki diri saya yang membawa tiga alat berwaktu: dua ponsel dan sebuah jam tangan (tidak berguna sedikit pun bagi penunda-waktu akut! Bahkan jam yang melingkar di pergelangan tangan kiri saya seolah-olah mengolok-olok: UDIK BANGET SIH! NGGAK BISA BACA WAKTU, YA?). Menatap pantofel (pinjaman) saya. Menertawakan ransel (pinjaman juga) saya yang montok berisi. Menghujat diri sendiri yang telah menukar waktu 5 menit dengan duit 320 ribu!


“Untung biaya PP ditanggung panitia…” hibur Domi.


Tapi, maukah panitia membayar tiket hangus akibat ketel
edoran saya? Ini bukan kesalahan kereta lho, Dom? Debat saya dalam hati. Tapi, semoga sih apa yang dia bilang memang benar. hehehe…


Saya selama ini memang lebih akrab dengan kereta ekonomi. Rute yang paling sering saya tempuh adalah Surabaya – Malang. Karena saya sudah tahu tipikal kereta ekonomi yang terkadang molor berangkatnya, makanya saya santai saja. Kalau pun kereta ekonominya tepat waktu dan saya, misalnya, telat datang, maka saya tidak perlu khawatir berlebihan. Masih ada kereta ekonominya berikutnya. Pun Surabaya – Malang jaraknya dekat. Harga tiketnya murah. Tidak perlu sepucat ini menghadapinya.


Ya Allah… Aku telah menghamburkan duit panitia…


Kalau misalnya panitia tidak bersedia mengganti, ya kerugian telak ada pada diri saya. Gara-gara telat! Sekali lagi, gara-gara telat! Gimana ya rasanya kalau di akhirat nanti telat masuk pintu surga? Yang tersedia cuma pintu neraka? Oho…


Sampailah saya di rumah mbak sepupu. Kembali saya mencemooh penampilan saya yang keren. Namun, kepercayaan diri saya seketika itu juga langsung runtuh tatkala frase genit “T-I-K-E-T H-A-N-G-U-S” menggoda saya.

Mbak sepupu dan suaminya juga babby sitter menyambut saya dengan tatapan iba. Duduk-duduk di ruang tamu, saya kembali mengadakan konferensi pers. Membeberkan peristiwa satu per satu secara detil dan tidak ada tendensi membela diri. I blammed myself.

“Mending pakai pesawat saja,” tawar Kak Miftah, suaminya mbak sepupu saya.

“Iya, Dek. Coba cek dulu di Linda Jaya harga tiket Surabaya – Jakarta untuk penerbangan besok (hari ini, red),” lanjut Kak Ida.

Tak ada salahnya, gumam saya dalam hati.


Lantas, saya pun diberikan ponsel dan berbicara langsung dengan Linda Jaya, agen tiket langganan kami.


Batavia Air kena 500-an ribu. Citilink jauh lebih mahal lagi, yakni 700-an ribu. Kalau Lion Air?


“Yang paling murah apa ya, Mbak?” Insting anak kos macam saya masih menomorsatukan murah – bila perlu gratis. Hehehe…


Saya pun dicarikan Lion Air. Ketemu! Harganya 310 ribu. Berangkat jam 12.10.

“Oke, deh! Saya booking.”

Kami makan malam dulu. Saat itulah, hujan turun. “Mudahan cepat, biar bisa mengejar ­time limitation-nya.” Jam 9 malam menjadi batas waktunya.

Sembari menunggu hujan agak reda, Kak Ida dan Kak Miftah memberikan saya kuliah tambahan gratis. Bukan menghakimi. Justru, menenangkan saya. Tips dan trik kendaraan yang harus saya gunakan ketika sudah sampai di Soekarno-Hatta nanti.

“Di bandara, langsung saja ke pool Damri. Bayar 20 ribu. Damri-nya ke Blok M, kok. Terus, dari sana Adek pilih bis atau angkutan ke lokasi acara.”


Karena hujan belum mau diajak kompromi sementara waktu sudah menunjukkan pukul 8 lebih, saya pun minta izin untuk segera menebus tiketnya. Berjas hujan. Ke ATM dulu. ATM mbak saya, pastinya.


Hujan masih konser. Ramai. Saya telah merelakan jeans saya basah. Apalagi jalan yang saya lalui agak banjir. Melambatlah laju motor saya. Tak lupa berdoa, mohon ampun pada Yang Mahakuasa. Semoga malam itu bukan akhir dari segalanya…

Iklan

9 thoughts on “FRASE GENIT “TIKET HANGUS”

  1. Aku sebetulnya rada sebel kalo ada yang bilang, “Pasti ada hikmahnya,” tapi emang Tah, semuanya udah diaturNya. 🙂 Semoga acara penyerahan hadiahnya lancar ya 🙂 dan… jangan menunda-nunda waktu lagi hehe *senitilan pagi hari yang maknyusss dari Fatah*

  2. Aku sebetulnya rada sebel kalo ada yang bilang, “Pasti ada hikmahnya,” tapi emang Tah, semuanya udah diaturNya. 🙂 Semoga acara penyerahan hadiahnya lancar ya 🙂 dan… jangan menunda-nunda waktu lagi hehe *senitilan pagi hari yang maknyusss dari Fatah*

  3. #Pak Nono: Iya. Cobaan sekaligus pelajaran… #Cek Yan: Betul. Semua telah diatur oleh Dia. Tapi, kalo dari diri kita sendiri nggak ada keinginan untuk maju, ya Tuhan juga ogahlah… Iya, ini tamparan terkeras yang saya alami gara-gara hobi prokrastinasi… Untung nggak jadi ke US. Mungkin saya bakal jadi bulan-bulanan di sana. hahaha

  4. Hmmm, urusan transportasi antarkota begini memang bikin gemes ya, apalagi kalau justru ada andil kita sendiri yang bikin kepikiran “Seandainya….”Ah, tapi jadi pelajaran berharga juga kan.

  5. #Mas Iqbal: hehehe… iya nih, kalo kereta ekonomi maaah…bisa ditolerir. :)#Mas Syamsul: hehehe… hope for the best, prepare for the worst :)#Harimow: Yup! Pelajaran iki, caaaak :)#Mbak Leila: Iya, Mbak. Saya langsung nulis ini begitu sampai kontrakan. Mungkin sialnya buat saya, tapi bisa jadi pelajaran buat yang lain. Tentu saja buat saya juga :))

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s