‘Meledak’ di MP Book Point

Sudah saya sematkan niat di hati bahwa saat berada di Jakarta nanti (21-24 Desember), saya akan mengunjungi toko buku dan sebisa mungkin menonton Sang Pemimpi. Alhamdulillah…kedua-duanya tercapai!

Pada malam Rabu (22/12), sepulang penyerahan hadiah di Gedung ANRI, saya ke penginapan dulu. Mandi dan shalat. Rezeki sudah dalam genggaman, siap belanja buku. Pilihan saya: MP Book Point. Toko buku yang selama ini hanya santer di dunia maya. Karena malam sebelumnya saya bertaksi ke daerah Blok M dan secara tak sengaja menemukan toko buku ini di sebelah kiri jalan dari arah Gedung ANRI, maka saya pikir jaraknya pasti tidak begitu jauh. Namun, pada kenyataannya?

Hampir 1,5 km!


Saya berjalan kaki. Dengan tas kain menggantung di pundak. Sepatu pantofel. Saya merasa diri laksana turis kesasar. Hehehe…


Tapi, tak mengapa. Jalanan aspal yang di beberapa titik agak sepi dan gelap, turun dan naik, saya jajali. Sempat pula berlari-lari kecil di tanjakan, merasa bahwa MP Book Point ada di balik tanjakan yang kemudian menurun tersebut. Di kepala saya hanya terngiang buku, buku, dan buku! Saya ingin pesta buku. Saya ingin memanjakan mata saya. Saya ingin membasuh kepala saya dengan pemandangan indah bernama… B-U-K-U.


Dari kejauhan sudah terlihat perempatan Cipete. Oh, sebentar lagi saya akan bersua dengan MP Book Point! Teringat sms Mbak Gita yang bilang kalau bedah buku ’30 Hari Menjadi Murid Anakku’ akan digeber di situ.

Voila! Sampailah saya.

Segera saya mengeluarkan handycam (pinjaman) dan mengatur mode camera dan mulai jepret-jepret. Di luar depan toko buku cozy ini, terhampar empat meja besar berisi buku-buku impor yang dilabeli harga lokal. Penerangan dari lampu neon cukup menonjolkan judul-judul buku tersebut. Saya tengok sebentar saja lalu masuk ke dalam.

Saya seperti tiba di rumah kedua!


Melegakan rasanya bertemu dengan buku-buku. Kalau mereka hidup, ingin rasanya saya berteriak, “I MISS YOU, BOOKS! I DON’T WANNA FAR AWAY FROM YOU…” Hahaha…


Saya titipkan tas kain saya pada mbak kasir. Sepertinya boleh jepret-jepret di dalam toko. Hal itu saya simpulkan dengan tidak adanya warning dari mbak kasir.

Saya pun mulai bergerilya.

Pertama, ke rak BOOKS OF THE WEEK – DISCOUNT 20%. Ada Giganto di sana. Tertarik mengambil satu, tapi urung. Belum minat sama topiknya. Ada juga Happy Bunda (Meidya Derni), Sheila, Jermal (Yokie Adityo), Miracle of Cell Healing, dan beberapa lagi tidak saya hapal judulnya.


Lalu, masuklah saya di KIDS AREA. Tertarik dengan komposisi warna raknya yang menarik. Juga peletakan buku dan meja kursi kecil untuk anak-anak. Sempat menjemput Bocah-Bocah Galaksi-nya Mbak Dedew dan Sepeda Ontel Kinanti-nya Kang Iwok. Namun, ternyata di akhir sesi nanti dengan terpaksa saya meletakkannya kembali. Pertimbangannya apa? Nanti di Togamas Petra Surabaya, saya masih bisa membelinya.


Pokoknya selama satu jam saya berpesta mata di situ. Terpikirkan juga membeli Curhat Setan dan A Cat in My Eyes-nya Fahd Djibran. Namun, lagi-lagi duo buku keren ini saya letakkan. Alasannya sama. Di Petra Togamas saja.


Jika ada sudut yang menarik, saya tak lupa memotretnya. Pengin sebenarnya rehat di café Saqi yang terletak berdampingan dengan MP Book Point. Apalagi ada akses internetnya juga. Namun, mengingat sudah pukul 9 lebih sedikit, saya pun segera ke kasir dan membayar dua buku keren pilihan. Apa itu? Galaksi Kinanthi (Tasaro) dan The World Without Us (Alan Weisman). Mengapa dua buku tersebut? Galaksi Kinanthi, karena beberapa teman MPers sudah membaca buku itu dan menyukainya. Saya juga menantikan novel Muhammad sedang digarap oleh beliau. Lalu, The World Without Us saya beli karena label “Buku Nonfiksi Terbaik Pilihan Majalah Time”. Begitu pula saat melihat subjudulnya, “Penjelasan mencengangkan tentang apa yang terjadi pada Bumi bila manusia tak ada lagi,” saya pun tak berpikir panjang untuk segera menyabetnya. Sudah saya baca hingga halaman 26 dan isinya memang benar-benar menarik. Apalagi menilik profesi Alan Weisman yang seorang wartawan!


Sebelum benar-benar hengkang dari dalam toko, saya sempatkan diri menjepret rak TOP 10. Sang Pemimpi, Perahu Kertas, dan Negeri 5 Menara di situ.


Dan, saya baru ngeh ketika telah berada di luar dan menemukan grafiti timbul di dinding sebelum pintu masuk. “Where Books are Your Good Friends”.


Saya pulang ke penginapan dengan senang hati. Meski kembali berjalan kaki.


Iklan

32 thoughts on “‘Meledak’ di MP Book Point

  1. iwok said: Senangnya bisa menemukan ‘surga’ buku ya Tah.Jadi kangen kemballi ke MP Book Point.

    Ehehehe… sangat!!!Saya sih pengennya kalo dikasih kesempatan jalan-jalan ke daerah, entah mana pun itu, pengen mengunjungi toko bukunya 🙂

  2. bayusutu said: barokallohulaka fii ‘ilmi…

    Amiiiin… Insya Allah, Mas Yuan :)Btw, kopdar blogger ngalam, sepertinya saya tidak bisa ikutan…Salam ya buat teman-teman di sana 🙂

  3. Hehehe… Rumahnya Mas Ari, di mana?Beberapa teman MPers sudah saya ajak kopdaran, eh justru kopdarnya ke Bekasi :)Dalam rangka penyerahan hadiah lomba karya tulis :)Infonya ada di beberapa jurnal saya sebelumnya 🙂

  4. #Mas Ari: Hahaha… Lubang Buaya itu Jakarta Selatan ya? Kalo saya di Kemang. Jalan Ampera Raya… 🙂 Ketinggalan info karena sibuk kerja yak, Mas?#Mbak Dwi: Hehehe… Semoga saya bisa menularkan apa yang saya dapatkan… Tidak sekadar membaca untuk memperkaya diri sendiri. Semoga! 🙂

  5. Pantes nanya mp book point tutup jam berapa 😀 hehe.Tapi knp ga nanya naek angkot apa dr gd.arsip. Pasti aq akn bilang s11 😀 lumayan jauh itu,lho. Jalan kaki? Wuih. Lewat kuburan, d0nk :-PGmana? Nyaman,ya? Kalo abis dr sebelah, aq suka mampir, pernah ngajak ponakan juga n dia betah bgt d t4 anak :-D.

  6. hehehe, kemaren juga abis dari sana. cha langsung serasa di rumah sendiri gitu. teriak2, bolak balik ambil buku dan duduk di kursi kecil. toko bukunya emang nyaman banget ya.. rapih.

  7. Lumayan deket dari rumahku Lu. Kenapa nggak bilang? Aku anter sekalian jalan ke sana. Hehe… Sok baik mode on. Btw, musholanya juga nyaman lho. Anakku kalau kesana suka lihat ikan2 di kolam samping.

  8. hehe kang iwok jadi inget wktu loncing oks yaa..kangen kumpul2 lagii, di mp bibit menyemai, ktmu tmn2 jd jalan pembuka nerbitin buku *ribet bgt tulisanku xixi..wahh fatah asik ey..aku suka di bagian anaknya..jgn lupa bbg yak hoho..

  9. imazahra said: Waaaaaaaaaaaaaaaah, gak ketemu Lalu dehhhhhhhh, hiks…*ima yg masih di Bandung*

    Yeaaaah… Mbak, boleh minta nomernya???Yea, siapatahu kalo berkesempatan lagi maen ke Jakarta atau Mbak ke Surabaya, bisa kopdaran gitu??? 🙂

  10. akunovi said: Pantes nanya mp book point tutup jam berapa 😀 hehe.Tapi knp ga nanya naek angkot apa dr gd.arsip. Pasti aq akn bilang s11 😀 lumayan jauh itu,lho. Jalan kaki? Wuih. Lewat kuburan, d0nk :-PGmana? Nyaman,ya? Kalo abis dr sebelah, aq suka mampir, pernah ngajak ponakan juga n dia betah bgt d t4 anak :-D.

    Heheh… Saya sebenarnya tahu ada angkot yang ke sana. Tapi, pengen aja jalan kaki. Nah, tapi prediksi saya kurang tepat. Mikirnya deket, eh ternyata…lumayanlah, bikin betis berbuah :))Lewat kuburan? Mmmm…iya deh sepertinya! Oya, yang deket abang2 pembuat nisan itu, bukan? Ouch!Nyaman euy MP BP. Bikin betah… Saingan berat nih sama Petra Togamas 🙂

  11. lovusa said: toko bukunya emang nyaman banget ya.. rapih.

    Oh…betul sekali, Mbak.Apalagi tersedia pula sofa-sofa nan empuk dan nyaman…Betah deh…Sayang,,,saya cuma bisa sejam di sana.Ya, next time aja deh kalo ada kesempatan ke Jakarta, maen lagi ke MP BP :)Btw, sukses yak buat acara bedah bukunya besok 🙂

  12. lembarkertas said: Lumayan deket dari rumahku Lu. Kenapa nggak bilang? Aku anter sekalian jalan ke sana. Hehe… Sok baik mode on. Btw, musholanya juga nyaman lho. Anakku kalau kesana suka lihat ikan2 di kolam samping.

    Saya kan nggak tahu, Mbak…Teman-teman MPers Jakarta yang saya kontak pun banyak yang nggak bisa.Nggak apa-apa deh…Sekalian saya bisa mengeksplorasi dengan lebih dekat. Dan itu mengasyikkan :)Musholla-nya di belakang ya? Belum sempat saya intip :))

  13. dedew80 said: hehe kang iwok jadi inget wktu loncing oks yaa..kangen kumpul2 lagii, di mp bibit menyemai, ktmu tmn2 jd jalan pembuka nerbitin buku *ribet bgt tulisanku xixi..wahh fatah asik ey..aku suka di bagian anaknya..jgn lupa bbg yak hoho..

    oks itu apa? bbg???hehehe… makanya nggak mengherankan jika jejak wangi para penulis, terasa sekali auranya di sana.itulah yang menyenangkan saya, Mbak Dew 🙂

  14. rinurbad said: Ikut senang membaca catatan yang ceria ini:) selamat menikmati bacaan baru, ya.

    Yeah, terinfeksi oleh Teh Rini juga… :)Ini masih melanjutkan The World Without Us 🙂

  15. Waaah, tampaknya seruuu… *belum pernah kesampaian ke sono*Demi buku sih ya, jalan berkilo-kilo juga gak masalah, hehehe. Ingat waktu aku ke Palembang mau ke Gramed aja disasarin tukang ojek, padahal petunjuk adik kelas udah cukup jelas tinggal naik angkot, dasar…

  16. #Mbak Leila: Iya, Mbak! Seruuuuuuuuuu…. *hehehe* sensasinya dapet! ya, saya sih nggak nyesel2 amat sih soale saya bisa sekalian jalan-jalan… bisa melihat kehidupan dan orang2 jakarta dari jarak sepelemparan napas :)) Btw, di mana-mana ongkos ojek selalu lebih mahal yak ketimbang angkot :))#Mas Wahyu: Kapan nih buku keduanya keluar??? Saya menunggu euy 🙂 saya belum sempat ngopi-ngopi sambil baca di sana. yeah, maklum cuma sejam, itu pun tokonya udah mau tutup :)) tapi, kalo ada kesempatan lagi maen ke sana, Insya Allah akan berlama-lama. So far, rekor terlama saya di toko buku adalah 12 jam. Petra Togamas, tempat bedah buku NVO dulu :))

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s