(Jakarta #1) Politransportasi

Sehari sebelum Hari Ibu…

Untuk pertama kalinya, saya menginjakkan kaki di Cengkareng. Saya tengok waktu yang tertera di Nokia 6020 berkelupas saya. 13.20 WIB.

Sebelum Singa Udara benar-benar mendarat, saya sempatkan diri menengok melalui jendela. Ada pulau-pulau kecil bertebaran di laut utara Sunda Kelapa. Teringat saya pada buku cerita yang pernah saya baca sewaktu SD. Oh… Inikah Kepulauan Seribu itu? Mantap!

Seperti wejangan yang puluhan kali saya dengar, “Kalau berada di tempat asing, berlakulah seolah-olah kamu bukan orang asing.” Ya, saya paham sekali maksudnya. Oleh sebab itu, setiap saya menginjakkan kaki pertama kali di manapun itu, saya berlagak orang biasa yang tidak mencurigakan dan tidak memancing perhatian. Meskipun saat ke Jakarta kemarin, penampilan saya sedikit keren. Berpantofel hitam, kemeja biru, jeans biru, dan ransel empuk kombinasi warna hitam dan biru. Jangan heran. Saya pecinta warna biru. Hohoho…

Saya shalat zuhur dulu di musholla bandara. Ah, Damri kan masih banyak. Apalagi masih siang begini. Saya berputar-putar dulu di bandara juga tidak akan ketinggalan Damri.

Keudikan saya pun dimulai ketika telah berada di dalam Damri. Mengambil posisi di dekat jendela, saya perlahan-lahan mengeluarkan handycam. Hendak berbuat apa saya? Merekam! Udik teunan! Huahahaha…

Jadi, sembari bisnya berjalan, saya merekam kegiatan orang-orang di parkiran bandara. Saya mencoba meragakan kemampuan saya bermain handycam. Apalagi sindrom HI 27th dimana saya didaulat menjadi PJ Pubdok mengharuskan saya ta’aruf lebih dekat dengan kamera, DSLR, juga handycam.

Patung Soekarno-Hatta saya rekam. Jalan-jalan layang, pusat perbelanjaan, Sultan Hotel, Balai Sarbini, Menara BRI, dan suasana jalanan Jakarta yang ramai juga tak luput dari bidikan saya. Tak peduli saya pada penumpang di samping kiri. Prinsip saya: “Lakukanlah selama tidak menyakiti dan mengganggu orang lain!”

Jalan di Jakarta itu banyak muter-muternya ya, ternyata. Tidak seribet Surabaya. Yang memusingkan saya adalah banyaknya jalan layang. Tak terbayang jika saya menerbangkan layang-layang, kemungkinan besar nyangkut di truk yang melintasi jalan layang itu. *serasa melayang menuliskan kalimat tersebut*

Blok M pun terpijaki. Lagi-lagi saya berusaha menerapkan wejangan “don’t be looked stranger”. Daripada bingung tanya sama orang-orang di jalanan, sebelum keluar dari Damri, saya bertanya dulu pada pak supir. “Pak, naik kopaja di mana ya?” Lantas, beliau menunjukkan ke suatu arah. Saya mengangguk dan tak lupa bersedekah senyum dan ucapan terima kasih

Semoga saya tidak mengundang perhatian. Oh…Tuhan. Jadikanlah saya manusia yang terlihat biasa saja dari luar.

Melalui jembatan penyeberangan, barulah apa yang saya lihat di TV terbukti. Apa itu? Jembatan penyeberangan beralih fungsi sebagai arena jual beli. Jam tangan, dompet, pernak-pernik, dan beragam lainnya dijual di situ. Berbeda dengan Surabaya. Apa karena Satpol PP Pemkot Surabaya rajin mengadakan sapu bersih ya? Pemkot Jakarta?

Kembali saya membuka kotak masuk ponsel saya. Membaca sms Mbak Yuni, humas ANRI. “Dari Blok M, naik kopaja 605. Turun di depan Kantor ANRI.” Bagi yang belum tahu, ANRI adalah singkatan dari Arsip Nasional Republik Indonesia.

Dengan harap-harap cemas dan berkali-kali menengok arah datangnya kopaja, akhirnya 605 muncullah. Saya pun naik, memilih duduk di belakangan supir. Bisa leluasa bertanya dan kalau terjadi apa-apa dia bisa sigap membantu, begitu pikir saya.

Supirnya agak bandel juga ternyata. Mengetahui beberapa ruas jalan yang agak macet, dia seringkali memotong jalur dengan mencari alternatif. Saya paham sekali karena merasa itu bukan jalur kopaja. Jalur yang dilalui agak sempit dan ketika berbelok, sang supir benar-benar memperlihatkan kelihaiannya berkelit. Terbayang saya beberapa ruas jalan di Kota Malang yang rapi dan selebar yang dilalui oleh kopaja berbadan bongsor dan bersuara jelek itu. Sungguh tidak mungkin diberikan izin trayek.

Pukul 16.20 WIB sampai pula saya di depan gedung ANRI. Tidak jauh berbeda dengan foto yang saya lihat di situs badan pemerintah tersebut. Gedungnya didominasi warna putih. Terlihat cukup menawan.

“Mbak, saya sudah sampai di depan Gedung A.” Pesan pendek saya terkirim pada Mbak Yuni.

Masuklah saya dan bertemu dengan petugas keamanan yang sedang duduk di meja resepsionis. Kepala Mbak Yuni nongol dari lantai dua dan tersenyum. Serta-merta saya dipersilakan naik ke atas sebab dua jawara lainnya telah tiba beberapa saat sebelum saya.
Kami berkenalan. Yang satu Icha, lainnya Shelly. Saya sedikit heran mengapa mereka berdua bisa berangkat bareng dengan satu pesawat dari Malang.

“Shelly kan adikku.”

“Hah? Jadi… kalian kakak beradik? Dan, sama-sama juara satu? Ckckck… Hebat!”

Icha, anak Fakultas Hukum semester 3 di Universitas Brawijaya, Malang. Dia juara satu untuk kategori mahasiswa. Sementara Shelly, adiknya yang juara satu kategori pelajar SMA, masih duduk di kelas XI SMA 2 Jombang. Saya tidak bisa menyembunyikan rasa kagum.
Selesai shalat ashar, kami bertiga diantar ke penginapan yang sebenarnya bisa ditempuh dengan lima menit berjalan kaki. Kemang Corner 18, nama penginapannya. Nampak bersih dari luar. Begitu kami masuk ke kamar masing-masing di lantai dua, terlihatlah kamar yang rapi, bersih, dan luas. Fasilitasnya terbilang lengkap. AC, TV, lemari, kamar mandi, ranjang empuk, dan tetek-bengek lainnya.

Sehabis maghrib, saya, Icha, dan Shelly pun keluar mencari makan. Berjalan kaki hingga melewati Gedung ANRI dan menemukan warung makanan laut aka seafood. Yeah, agak gaya sedikit. Maklum, uang makan pemberian panitia telah diberikan. Jumlahnya yang lebih dari cukup bagi anak kos macam saya, memungkinkan untuk memasuki warung seafood.
Dari sana, melajulah kami dengan taksi menuju Blok M. Sekadar jalan-jalan, namun dengan misi utama mencari agen tiket. Duo bersaudari itu berencana pulang pada malam berikutnya.

Mungkin karena kami agak larut juga mencarinya. Sementara orang-orang yang kami tanyai di sana, agak kurang tahu letak agen tiket. Begitu pula dengan supir taksi berikutnya yang kami naiki hingga berputar-putar tapi hasilnya nihil. Saya sendiri agak kesal juga karena si supir yang taksinya sudah sangat kami percayai reputasinya itu, rada-rada SKSD. Membawa kami melalui jalan-jalan yang…well, dia sepertinya sengaja menggemukkan argometernya.

Saya pun merasa tidak ikhlas saat mengucapkan terima kasih telah diantar mencari agen tiket yang hasilnya NOL itu! Tidak tahu dengan Icha dan Shelly…

Iklan

3 thoughts on “(Jakarta #1) Politransportasi

  1. Begitu di Jakarta memang rasanya jenis transportasi jadi banyaaaak… jauh sama Pangkalpinang. Hampir kemarin mau nulis ngitungin naik bajaj, KRL, taksi, transbintaro, XTrans, becak, transjakarta dst sekalian nostalgia, tapi nggak jadi :D.

  2. #Hariyono: Yup! Sure, dude. walking? waiting for the next journal. now, i’m concerning on my abundant papers… huuuuuuuuuuuh :((#Mbak Leila: hahahhaa… coba deh Mbak hitung. Saya juga pengen tau. Jadi, saya benar-benar bisa membuktikan beragam laporan mengenai membludaknya jumlah kendaraan di Jakarta. Padet. Polusi.

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s