(Jakarta #2) Full of Joy

Hari Ibu

Selasa, 22 Desember 2009

Saya sudah menyangka, hari tersebut akan menjadi hari yang paling menyenangkan selama saya di Jakarta. Dari pagi hingga malam, kesenangan bertubi-tubi menimpuk saya.

Diawali dengan sarapan soto betawi di Rumah Makan Betawi ‘Ibu Khadijah’. Kuahnya yang gurih dengan campuran emping melinjo terasa lezat di lidah. Plus dua buah gorengan. Sangat menikam lidah di tengah hujan yang mulai berdebum, jatuh dari ladang biru nan mahaluas.

Bersama Pak Heru Kurniawan, Prischa aka Icha, dan adiknya Shelly, kami mengobrolkan banyak hal. Tidak jauh-jauh dari dunia tulis-menulis.

Saya menikmati cerita Icha yang menceritakan pengalamannya dua kali menang lomba karya tulis tingkat nasional. Yang pertama, lomba antarmahasiswa fakultas hukum se-Indonesia yang diadakan oleh UI. Icha meraih juara satu. Lalu, Icha kembali menyabet juara satu pada lomba karya tulis kali ini, yakni bidang kearsipan. Si mungil yang cerdas ini mengingatkan saya pada sosok Huswatun Hasanah, teman saya semasa SMA dulu. Sama-sama mungil, terlihat agak keras kepala, namun di balik kerudung mereka masing-masing tersimpan sebongkah otak yang cerdas.

Sedikit berbeda dengan adiknya, Shelly, yang agak pendiam. Mungkin tidak pendiam. Namun, perasaan sebagai junior masih melingkupi dirinya. Sehingga dia tidak terlalu banyak menyela pembicaraan jika tidak ditanya. Kalau tidak salah, ini adalah lomba yang pertama kali dia ikuti dan langsung menempatkan dirinya sebagai juara satu kategori SMA.

Terus terang, saya hingga saat ini masih belum bisa menghapuskan kekaguman saya pada kakak beradik itu. Saat ditanya, “Orang tua kalian penulis, ya?” Tidak, ternyata. Namun, memang sang kakak telah menularkan semangat menulisnya pada sang adik. Saya tanya juga, “Sebelum ikut lomba karya tulis ini, kalian sempat brain storming bareng, nggak?”

Icha bilang, “Aku sih ngasitahu dia agar ngambil subtema Sumpah Pemuda. Kelihatannya jarang yang ngambil. Dan, Alhamdulillah… terbukti!”

Di SMA-nya, yakni SMAN 2 Jombang, Shelly memang bergabung dengan klub karya ilmiah. Sungguh, saya iri. Masa SMA saya tidak seserius mereka dalam bidang karya tulis ilmiah. Namun, saya juga tidak merasa minder-minder amat karena saya juga suka menulis sejak SMA, meskipun lebih banyak berkutat di bidang fiksi, seperti cerpen dan puisi.

Beralih pada Pak Heru Kurniawan. Saya baru tahu kalau beliau ternyata adalah penulis, dosen, juga penggiat sastra di Banyumas. Saat ini, beliau tinggal di Purwokerto, menjadi Dosen Sastra Indonesia. Lulusan S-2 UGM itu juga telah menulis sejumlah novel dan juga buku non-fiksi tentang sastra. Sekembali dari Jakarta, saya ‘iseng’ bermain di Petra Togamas dan di rak sastra, saya menemukan sebuah buku yang judulnya ‘Sastra Anak’ dengan nama penulis yang mulai familiar di telinga dan mata saya. Tidak menyangka, tentu saja! Sosoknya yang humble dan selalu antusias mendengarkan kami, para junior, bercerita dan bangga dengan prestasi menulis, ternyata beliau jauh lebih hebat.

Malam sebelumnya, saya sempat terperangah dan berbinar ria saat beliau bertandang ke kamar saya dan kami terlibat pembicaraan yang seru tentang kepenulisan. Beliau bercerita kalau cerpennya sering dimuat di Majalah Bobo dan Kompas Anak. Lalu, saya sedikit tersentak saat beliau mengatakan,
“Saya tidak akan mengikuti lomba menulis kalau hadia
hnya sedikit.” Sedikit bagi beliau adalah jika hadiahnya kurang dari 1 juta.

“Mengapa?” tanya saya.

“Menulis itu bukan pekerjaan yang gampang. Menemukan ide adalah kegiatan yang susah. Ide itu harganya mahal.”

Lantas, saya bercerita mengenai kegemaran saya mengikuti lomba yang hadiahnya buku atau merchandise. Juga keasyikan saya menulis di blog. Beliau mengatakan, “Saya tidak akan mengikuti lomba-lomba
seperti itu.”

Tentu saja saya kaget. Untung beliau tidak menyampaikannya dengan nada dan raut wajah yang sombong. Saya pun memaklumi. Ya, ini hanyalah perbedaan kesenangan saja. Mungkin karena beliau telah punya nama dan sering mendapatkan honor juga royalti yang jumlahnya lebih banyak daripada sekadar harga sebuah buku.

Saya pun tersenyum geli di dalam hati ketika beliau mengungkapkan, “Bagaimana caranya membuat blog? Bagaimana caranya bergabun
g di situs jejaring sosial, semacam facebook atau twitter? Soalnya, selama ini, saya berinternet hanya untuk mengirimkan naskah tulisan dan m
encari info lomba menulis.”

Saya pun dengan bangga bercerita sedikit panjang lebar mengenai dunia blogging. Tentang persahabatan yang terjalin dari dunia maya menuju dunia nyata. Dan seabrek kelebihan nge-blog. Bagaimanapun, banggalah menjadi blogger, wahai kawan!

Hujan yang cukup deras mengungkung kami di Rumah Makan Betawi tersebut. Terlalu asyik kami berbincang hingga tak terasa waktu menunjukkan pukul 11 siang. Icha dan Shelly yang belum mendapatkan tiket pesawat berinisiatif untuk mencari agen tiket. Bertaksi mereka pun pergi. Saya dan Pak Heru kembali ke penginapan. Saya ingin tidur lagi sebelum berangkat ke Gedung ANRI untuk acara penyerahan hadiah pada jam setengah dua siang.

Untung saya dibangunkan oleh Icha karena beberapa menit menjelang setengah 2 kami akan dijemput dengan mobil. Wohooo… Wong, jaraknya dekat saja kok pakai jemputan segala *padahal, senang juga euy* Namun, tidak bisa disangkal jika saat itu titik-titik gerimis masih saja
berjatuhan. Sementara kami berpakaian keren dengan batik, jadi lumayan terlindungilah dengan adanya jemputan mobil itu.

Turun dari mobil, kami foto-foto dulu di depan pintu masuk Gedung ANRI. Lalu, oleh Mbak Yuni, humas ANRI, kami pun diantar ke sebuah aula yang cukup lega. Di sana, para staf dan pegawai ANRI sudah pada berkumpul.

Hari itu, seperti yang tertera di backdrop digital, acaranya adalah memperingati Hari Ibu yang ke-81 sekaligus penyerahan penghargaan kepada 13 Perempuan Indonesia yang peduli kearsipan, penyerahan laptop kepada lurah/kepala desa yang peduli arsip, juga acara penyerahan hadiah bagi para pemenang lomba karya tulis bidang kearsipan.

Tiba-tiba dari arah belakang kami, muncul dua sosok perempuan yang cukup familiar bagi saya karena sering melihat sosoknya di media. Mereka berdua adalah Ibu Prof. Meutia Hatta, anaknya Bung Hatta yang juga mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan di Kabinet Indonesia Bersatu 1 dan Gubernur Banten, yakni Ratu Atut Chosiyah. Saya senang sekali. Sungguh! Saya merasa beruntung sekali berada di dalam satu ruangan dengan orang-orang besar. Bahkan, beberapa saat setelahnya, saya pun baru tahu kalau Wakil Gubernur Jateng juga termasuk di antara 13 perempuan yang akan mendapatkan penghargaan. Ada juga peneliti senior dan dosen di UI. Banga. Senang. Mantab!

Acara demi acara bergulir dengan lancar. Pidato sambutan dari Pak Djoko Utomo, Kepala ANRI, tentu saja yang paling panjang. Tapi, aksen, intonasi, dan gaya pidato Pak Djoko cukup membuat semangat. Dan, satu hal *tidak* penting yang saya catat adalah beberapa gerundelan tidak jelas para pegawai ANRI yang berbaris di belakang kami, saat Gubernur Banten yang berpostur aduhai maju untuk memberikan pidatonya. Saya cengengesan saja. Teringat keliaran pas upacara sewaktu SMA dulu. Haha…
Saat yang kami nanti-nantikan itu pun tiba. Nama kami dipanggil satu per satu agar maju ke depan untuk menerima penghargaan. Dimulai dari kategori SMA, mahasiswa, dan umum. Pak Djoko Utama menyalami kami satu per satu. Itu adalah momen yang tidak bisa saya lupakan. Pada saya, Pak Djoko sempat bertanya, “Dari universitas mana?” Saya pun menyebutkan almamater saya dengan senyum terkembang. Para fotografer merengsek maju memotret kami. Kilatan-kilatan blitz membuat alam bawah sadar saya serta-merta meminta saya agar memasang tampang paling oke. Hahaha… narsis!

Acara selesai, kami, para pemenang karya tulis, berfoto-foto dulu. Lalu, keluar menuju ruang umum dan menikmati snack. Sehabis shalat ashar, oleh dua wanita cantik ANRI, kami diajak menjelajahi sejarah perjalanan bangsa Indonesia melalui Diorama – semacam museum atraktif 3D. Sangat keren, pokoknya!

Menjelang maghrib, saya kembali ke penginapan. Minus tiga kawan-kawan saya: Icha, Shelly, dan Pak Heru. Sebab, Icha dan Shelly telah duluan diantar ke bandara untuk bersiap terbang ke Surabaya pada setengah delapan malam. Demikian pula halnya dengan Pak Heru yang akan dijemput oleh mobil travel. Pulang menuju Purwokerto.

Sehabis isya, saya pun menggelandang ke MP Book Point. Khusus mengenai itu, silakan simak di jurnal saya di http://lafatah.multiply.com/journal/item/771

*detik-detik menjelang tahun baru 2010*

Iklan

5 thoughts on “(Jakarta #2) Full of Joy

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s