Sang Pemimpi – Saya Tidak Sedang Bermimpi

Saya menuliskan ini sambil mendengarkan Pahlawan Mimpi – Nidji, salah satu lagu dari album soundtrack Sang Pemimpi.

Saya tidak akan menulis resensi dengan alasan film ini sudah banyak diresensi serta jalan ceritanya sendiri cukup ‘patuh’ pada novel. Daripada mengulang apa yang sudah diceritakan orang, mendingan saya menulis lewat sudut pandang pribadi saja.

Film besutan sutradara Riri Riza ini sudah dua kali saya tonton. Dua kali pula saya menangis!

Pertama, tanggal 23 Desember di 21 Blok M, Jakarta. Kedua, tanggal 28 Desember di Delta Plaza, Surabaya, bersama enam orang kawan saya.

Di Blok M, saya sendirian saja tanpa teman yang bisa diajak ngobrol atau diskusi lebih lanjut mengenai film ini. Namun, sebelum masuk ke studio, di bangku tunggu, saya sempat mengobrol dengan seorang perempuan lajang (dia mengaku begitu). Awalnya dia menanyakan pigura persegi panjang yang saya bungkus dengan koran. Itu adalah piagam yang saya tenteng ke mana-mana sejak keluar dari penginapan di Kemang. Maklum, tidak cukup masuk ke dalam ransel saya. Saya membayangkan diri sebagai penjual kaligrafi door to door yang tersesat di kota besar. Tapi, ya begitu. Pe-de saja.

Perempuan itu sedang mengantarkan anak asuhnya yang akan menonton Avatar. Agak menyenangkan saat beliau bercerita kalau gandrung dengan buku. Dia menyukai buku-buku detektif. “Kalau tetraloginya Andrea Hirata?” Dia bilang, “Lumayan suka! Saya paling suka buku yang kedua, Sang Pemimpi.”

Obrolan kami yang hanya 15 menit itu dan lebih banyak tentang buku itu cukup berkesan bagi saya. Sebenarnya, saya ingin bertanya lebih lanjut mengenai keputusannya melajang dan mengasuh dua anak laki-laki yang kakak beradik. Tapi, saya pikir itu pertanyaan yang terlalu sensitif. Saya pun meminta izin berpisah ketika penayangan Sang Pemimpi sudah dimulai.

Di dalam studio, posisi duduk saya diapit oleh tiga cewek ABG di sebelah kiri serta cewek SMP bersama ibunya di sebelah kanan.

Sejak awal film, saya sudah merasakan kegetiran dan sisi melankolis saya akan menghambur keluar. Benar! Nuansa hati saya mirip sekali saat menonton Laskar Pelangi. Saya iba pada karakter Arai kecil yang ditinggal mati sama orang tuanya. Si ‘Simpai Keramat’ yang saya favoritkan dalam kuis yang diadakan oleh Bentang Pustaka dan saya menang. Arai yang karakter remajanya mengingatkan saya pada Vino G. Bastian yang rada tengil dan slenge’an.

Saya pikir Ikal remaja agak kurusan. Saya membandingkannya dengan sosok Andrea Hirata dewasa – sang penulis. Sebab, pengamatan tidak logis saya, kalau pas muda agak kurus, biasanya dewasanya akan lebih berisi. Apalagi jika sudah menikah. Nah, Andrea Hirata dalam sosok aslinya kan lebih subur. *Hmmm… Nanti deh tanya langsung sama Andrea*

Bagian melankolis yang membuat saya berderai-derai dan mengusap ingus itu pun tiba! Yakni ketika Ikal mengecewakan ayah juara satu sedunianya gara-gara nilai semesternya turun drastis. Lalu, adegan Ikal mengejar sang ayah untuk minta maaf itu… Ikal memeluk ayahnya… dan, membonceng ayahnya pulang…

Pada bagian itu, saya teringat pada bapak yang meski belum pernah saya kecewakan gara-gara prestasi akademik, namun hubungan kami pernah merenggang. Saya tidak pernah sampai memeluk beliau untuk meminta maaf. Saya memaafkan dan mengerti beliau, cukup lewat perubahan sikap saja. Bapak pun mengerti akan hal itu. Jika mengingat kekakuan hubungan kami tersebut, saya sering tersenyum. Bahkan, tertawa.

Seperti apa?

Mungkin di kesempatan lain saja saya tuliskan hal itu.

Adegan kedua yang membuat saya tersedak oleh air mata dan ingus sendiri adalah ketika Arai dan Ikal berada di pelabuhan, siap berangkat ke Jakarta untuk mengejar impian mereka kuliah di perguruan tinggi terfavorit se-Indonesia. Ikal dengan jaketnya, sisiran rambutnya, membawa koper butut (ke Jakarta!), dan diantar kepergiannya oleh orang-orang terkasihnya dengan iringan air mata…

Saya tidak malu mengeluarkan air mata. Saya melihat diri saya di situ. Teringat tiga tahun yang lalu. 2006. Ketika saya untuk pertama kalinya ke luar pulau. Pertama kali menaiki bis. Pertama kali menyeberang laut dengan kapal. Dengan membawa koper butut cokelat pinjaman kakak ipar saya, berisi baju-baju dan buku-buku. Juga jaket cokelat muda pemberian kakak perempuan saya. Saya dilepas oleh bapak, bibi, dan saudara-saudara saya di depan rumah. Dari balik jendela mobil, saya melihat mata bibi saya yang sembab. Beliau yang paling terpukul karena saya tidak tembus UI. Tidak bisa kuliah di Jakarta seperti ekspektasi tingginya.

Cewek yang duduk di sebelah kiri menengok ke arah saya. Saya berusaha menangis dengan elegan. Dalam artian, saya membiarkan air mata saya mengucur tanpa perlu saya usap dengan tangan. Ya, itu menurut saya cukup elegan! Yang mungkin agak menyebalkan adalah saya tidak bisa mengerem suara sesenggukan . Itulah yang menarik perhatian cewek di samping kiri juga cewek SMP di sebelah kanan saya. Bahkan, si cewek SMP yang berjilbab itu menggamit tangan ibunya agar menoleh pada saya. Saya cuek saja. Jikalau mereka terusik, saya siap kok melakukan konferensi pers untuk membeberkan alasan saya menangis. Hehe…

Pokoknya, Sang Pemimpi sangat TOP buat saya. Bahkan, ego saya mengatakan, “Ini film gue banget!” Saya dibuat sesenggukan, saya dibuat tertawa, saya dibuat bersemangat, dan saya dibuat jatuh cinta pada dunia menulis!

Saya terkesan sekali saat Pak Balia memuji tulisan Ikal. Ikal hanya tersipu dan mengucapkan terima kasih setelah berlalu beberapa langkah. Saya tersengat pula oleh kata-kata membangkitkan semangat yang diucapkan oleh Ikal dan teman-temannya. Panggilan “Sang Pelopor” dari Pak Balia untuk anak-anak muridnya, sontak membuat saya berteriak dalam hati, “Guru-guru di Indonesia harus seperti ini!” Ya, Pak Balia bagi saya tidak jauh-jauh dari sosok Pak Suazrin, wali
kelas sekaligus guru bahasa Indonesia saya di SMA. Mirip!

Secara keseluruhan, saya jatuh cinta dan sepertinya akan berkali-kali jatuh cinta pada film ini. Kalau boleh mengatakan sekali lagi, “INI FILM GUE BANGET!”

Salam Sang Pemimpi!

Iklan

13 thoughts on “Sang Pemimpi – Saya Tidak Sedang Bermimpi

  1. huwaaaah…jadi kepengen banget nonton Sang Pemimpi T.Thiks…sampe sekarang belum kesampean juga nonton film itu (keinget jg pas nonton LP yg sampe gagal 3x gara2 ga kebagian tiket)

  2. tinggalbaca said: huwaaaah…jadi kepengen banget nonton Sang Pemimpi T.Thiks…sampe sekarang belum kesampean juga nonton film itu (keinget jg pas nonton LP yg sampe gagal 3x gara2 ga kebagian tiket)

    Hehehe… Hayuklah ditonton! Tapi, bisa atuh nunggu DVD-nya keluar…Saya aja nonton LP versi bajakan… file-nya dikasih temen :)highly recommended! hehehe

  3. Mungkin karena ekspektasi yang terlalu beyond, sehingga bukan sekadar fun saja Sang Pemimpi ini bagi saya.Karena adanya beberapa similaritas yang saya temukan dalam diri saya dengan karya-karya Andrea Hirata, makanya benar-benar menghayati 🙂

  4. Coba mas fatah lbh dulu nulis kisahnya. . Bs jd itu yg difilmin, hehe. .Aku ga ngitung nangis di bagian mana aja. . Yg penting teman2ku (yg nonton bareng aku) jd tau knp aku suka sekali sm arai. . Secara mereka blm baca novelnya, hehe

  5. sy nunggu dvd aja. maklum, di tempat sy gk da bioskop :)tp sy dah baca bukunya, dan itupun GW BANGET!!! beli tetralogi LP adalah pjuangan sndiri buat sy. saking lamanya msk toko buku di tempat sy, sy mesan lwt kakak sy yg di yogya

  6. duniauchi said: waha! lum nonton aq!kalo di novel, adegan yg bkin mewek tu waktu jimbron ngasih celengannya. hiks hiks. tulus bgt.

    Iya!!! Itu juga! Aku lupa memasukkan ke dalam daftar tangisanku di film ini. hahahaha… Tapi, emang adegannya berdekatan banget kok sama keberangkatan Arai dan Ikal ke Jakarta 🙂

  7. #Niza: Hehehe…Tapi aku bersyukur bisa membaca karya2nya Andrea Hirata. At least, aku bisa belajar cara menulis memoar yang baik dengan bumbu2 sastra… Love it so… Eh, kenapa nggak ngajakin Arai sekalian kopdar di Royal??? Hehhee..#Bang Dirman: Hehehe… Di Mataram juga nggak ada, Bang. Tapi, senang juga sewaktu Gubernur NTB menghelat layar tancap Laskar Pelangi di halaman gubernuran…. Itu salah satu kendala kita jauh dari Jawa ya? Beberapa kenalan saya yang di Lombok juga suka nitip beli buku pada saya… Senang membantu mereka 🙂 Yeah, pokoke tidak jauh2 dari buku…#Mbak Febi: Boleh! Kenapa tidak? Cuma ada salah satu adegan yang perlu di’gunting’ untuk anak seusia SD :)#Mbak Uchi: Sudah lebih cooooolllll 😛

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s