My Beloved Ones…

Jika saya merindukan suara bapak, saya sms beliau. Basa-basi saya, sekadar menanyakan kabar. Namun, tidak perlu menunggu lama, sms saya dibalas dengan panggilan melalui telepon.

Dan… saya menjadi pihak yang lebih banyak mendengarkan. Ya, saya hanya ingin mendengarkan suara beliau. Berbicara banyak dan banyak. Selalu ada saja kabar terbaru mengenai keluarga, urusan kantor, dan hal-hal kecil lainnya yang akan diceritakan bapak pada saya. Saya hanya menyela beberapa patah kata saja.

Saya hanya ingin mendengarkan beliau bercerita. Biar tumpukan emosi beliau bisa melumer. Biar uneg-uneg beliau tidak berkerak di hati. Bukankah ini terapi? Apalagi saya tidak bisa berada sering-sering di dekat beliau. Keinginan saya cuma satu: berbakti. Bisa kan cara saya ini disebut berbakti?

Sepertinya, ada hikmahnya ibu saya dipanggil duluan oleh Sang Maha Pemilik. Terjadi revolusi di keluarga saya. Bisa saya bilang begitu. Tatanan baru, suasana baru, adaptasi baru, dan hal-hal baru lainnya. Misalnya: adik saya yang paling bengal, Syauqi aka Oki, akhirnya tersadar dari kenakalannya. Dia yang paling malas belajar karena berhobi seperti Pak Belalang (makan-tidur-makan-tidur), berevolusi sikap.

Saya masih ingat ketika ibu meninggal, dia masih kelas 2 MTs. Naik kelas tiga, ujian kelulusan di depan mata. Dia sungguh bingung dan linglung. Sangat! Kerjaannya hanyalah menangis. Kami minta dia untuk belajar, dia menatap kami balik dengan wajah memelas. Lalu, menangis. Kami tak henti-hentinya menyuruh dia membuka buku, membaca. Dia lebih sering menggeleng-gelengkan kepala. Menyedihkan. Ya, apa lagi kalau bukan karena telah kehilangan sosok yang selama ini paling rajin ‘menyiramkan’ petuah-petuah bagi dia.

Entah siapa yang mengusulkan waktu itu, Oki diminta untuk rajin shalat malam. Tahajud. Memohon pada Allah SWT. agar diberikan keringanan dan kemudahan. Efeknya, luar biasa! Dia, tanpa perlu kami bangunkan, bertahajud. Sehabis tahajud, belajar. Menghadapi UAS/UAN. Hasilnya? Kami bisa berlega.

Kebiasaannya itu masih berlanjut hingga sekarang. Dan, syukur Alhamdulillah… SPMB tahun kemarin, dia diterima di Fakultas Ekonomi Universitas Mataram. Oki yang benar-benar berubah. Sungguh jauh berbeda dengan sikap tengil, bengal, nakal, dan malasnya semasa MI hingga MTs kelas 2.

Ofah, adik perempuan saya juga begitu. Memang, selama ini banyak keluarga kami yang welas asih pada dia. Ofah yang menggemaskan. Sehingga, ketika ibu tiada, dia tidak terlalu kehilangan. Itu yang nampak dari luar, dari penglihatan saya. Siapa tahu justru di dalam hati, dia juga menghadapi kekosongan. Tapi, Alhamdulillah… Dia tetap menjadi anak yang baik, rajin, taat, dan bakti pada orang tua. Otaknya yang cemerlang, bagi saya merupakan aset yang perlu dipupuk dan dibina. Tanpa saya suruh, bahkan saat saya sudah berada di tanah seberang, dia masih sering berkirim sms pada saya minta diajarkan PR (sebenarnya sih…minta jawaban. Hehehe…). Yang patut saya syukuri adalah keinginan kuatnya untuk belajar. Tinggal saya saja yang mengontrol diri agar tidak marah-marah selalu saat mengajar dia

Arif bagaimana? Nah, si bungsu ini yang paling pesat perubahan perilakunya. Dulu, awal-awal ibu tiada, saya pernah dibuat terisak hebat oleh sosok adik saya yang agak keras kepala ini. Dia pernah berontak-berontak, menangis, tidak jelas apa maunya. Pintu ditendang, meraung-raung di lantai. Seisi rumah senyap, tiada yang berani menghentikan, menyuruh diam, atau memarahinya. Sebab, kami paham, ini pasti karena dia telah kehilangan…

Lalu, atas inisiatif kakak perempuan, saya pun mengajak Arif ke pasar malam. Istilah kami, rona-rona. Sebab, ada komidi putarnya. Arif, si banteng kecil, mulai tenang. Saya, Ofah, dan Arif pun akhirnya berangkat dengan sepeda motor. Sepanjang perjalanan menuju Lapangan Umum Selong, sekitar 10 menit dengan berkendaraan, saya tak kuasa menahan isak. Begini ternyata rasanya ditinggal sosok paling penting dalam hidup kita…

Saya pun membebaskan dia bermain-main. Dia mau mencoba wahana permainan apa saja, saya iyakan. Pulangnya, kami membeli bakso. Inginnya beli tiga mangkok. Namun, ketika melihat isi kantong saya, saya pun berdamai dengan membeli dua mangkok saja.

Saat itu, yang terpikirkan oleh saya adalah… menghibur adik saya. Membuatnya lupa sejenak pada sosok ibu. Ya, sejenak saja.

Kini, mereka makin bertumbuh. 4,5 tahun sudah ibu telah berada di ‘rumah baru’nya. Selama kurun waktu tersebut pula saya menemukan hal-hal tidak menyenangkan. Sesuatu yang selama ibu masih hidup, bukan suatu masalah, tiba-tiba muncul begitu saja bak cendawan di musim hujan. Sesuatu yang laten, menurut saya karena keasyikan dipendam. Ya, itu tantangan. Itu resiko. Bukan untuk dihindari, tapi dihadapi.

Untung saya masih punya bapak. Untung saya masih punya kakak-kakak dan adik-adik. Kami tak pernah henti saling menguatkan. Saling minta agar didoakan satu sama lain. Saling dukung, saling hibur, dan saling welas asih. Sebab, apalagi yang bisa diharapkan jika perpecahan terjadi? Kami masih bertumbuh, membutuhkan kasih sayang, dan pelukan berupa doa-doa…

Untung kami punya Allah Yang Mahabesar! Pada Dia-lah semua bersandar…


Iklan

17 thoughts on “My Beloved Ones…

  1. Saya tipe anak rumahan dan sangat bergantung kpd orang tua. Saat awal ngekos rasanya berat banget, tapi lama kemudian terasa enteng karena teman-teman kos yang saling welas asih, jadi seperti keluarga kedua.

  2. Hehehe… Saya pun tipikal begitu, kok.Tapi, setelah jadi anak kos, menyenangkan juga ternyata. Saya berpikir begitu awalnya. Kenapa? Sebab, bisa lebih bebas tanpa perlu kontrol dari orang tua. Namun, ada kala-kala tertentu terasa banget butuh kasih sayang… Makanya, komunikasi jadi jalurnya :)Udah berapa lama ngekos?

  3. #Bang Dirman: Yup! Show must go on… Selalu ada hikmah di balik kisah :)#Mbak Ita: Alhamdulillah… Saya juga sudah punya ibu baru, juga punya adik cewek lagi 🙂 Alhamdulillah… Allah telah menggariskan semuanya. Tinggal kami berbaik sangka saja atas jalan yang ditentukan-Nya 🙂 Lomba apa, emangnya, Mbak?

  4. Baru setahun lebih si Mas. (kata dosen saya, “baru” berarti betah, “sudah” berarti bosan :D). Komunikasi sama keluarga sih lancar karena saya setiap minggu pulang. Jarak tempuh hanya satu setengah jam naik bus atau sejam naik motor. Haha. Belum hilang anak rumahnya.

  5. selalu ada hikmah di balik semua peristiwa ya Tah…soal ayahnya, kebalikan dng ayah saya. Ayah saya sangat tertutup, ekspresi gembira dan sedihnya hampir tak terlihat. Sebagai orang terdekat saya dan keluarga harus benar2 paham mengeja apa yg dipikirkan dan dirasakannya.

  6. lafatah said: Lomba apa, emangnya, Mbak?

    kirain mas Lalu mau ikut lomba apa gitu hihihi…*payahnih kepala-ku isinya lomba nulis mulu, habis banyak bener lomba2 an* hehehe

  7. ya ampun aku terharu bgt baca ini …do u realized u are such a lucky guy?… klo kangen bapak tiingal sms, hehe aku mah cm bisa doa, tapi alhamdulilah masih punya ibu yang baik bgt… love ur family selagi kamu bisa… ^_^ take care

  8. pondokkata said: soal ayahnya, kebalikan dng ayah saya. Ayah saya sangat tertutup, ekspresi gembira dan sedihnya hampir tak terlihat. Sebagai orang terdekat saya dan keluarga harus benar2 paham mengeja apa yg dipikirkan dan dirasakannya.

    Beda-beda orang ya, Mbak…Tapi, di balik sikap beliau itu, saya yakin, ada kejutan nantinya yang akan dihadiahkan buat keluarga. Mungkin dalam bentuk pelajaran yang hikmahnya bisa dipetik setelah sekian tahun 🙂

  9. capulaga said: love ur family selagi kamu bisa… ^_^ take care

    Insya Allah, Mbak. Akan selalu saya usahakan… Sebab, gimana pun juga, lewat mereka lah, saya bisa terlahir ke dunia 🙂 bisa berada di sini, ngempi 😀

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s