Iluminasi, Budi Darma, dan Buku Rp 10 Ribu-an


Ini adalah versi yang lebih komplit dari tulisan sebelumnya

Ki-ka: istri, Budi Darma, Pak Walikota


Oke, saya harus langsung ke pokok pembicaraan.

Pak Budi Darma, Pak Walikota Surabaya, Mbak Diana AV Sasha, dan Mbak Lisa Febriyanti adalah orang-orang yang selama ini saya kenal hanya melalui media, baik koran, majalah, buku, terlebih lagi internet. Bertatap muka dengan mereka untuk pertama kalinya… ya, pada bedah buku “ILUMINASI” itu.

Dari awal berangkat, saya memang meniatkan dan berharap agar dapat buah tangan dari sang penulis. Namun, bedah buku kali ini, saya hanya bisa tersihir oleh aura-aura para penulis juga audiens yang ternyata banyak di antaranya adalah narablog, penulis, penggiat sastra, ibu rumah tangga, dan sebagainya. Keterlambatan membuat saya berpikir sekali lagi untuk mengajukan pertanyaan. Jangan-jangan pertanyaan yang akan saya ajukan telah ditanyakan oleh audiens sebelumnya. Ah, nikmati sajalah ritme diskusi buku ini.

Saya tak urung mencari duduk. Meski ada beberapa kursi kosong. Namun, karena posisinya ada di tengah-tengah audiens, jadi agak sungkan rasanya harus menerabas. Berdiri sajalah, kan, sekalian bisa jepret-jepret para penulis keren. Hehehe…

Saya keluarkan handycam, hidupkan mode kamera. Baterai tinggal seupil persen. Hanya dua foto yang saya dapatkan sebelum si handycam akhirnya menemui ajalnya. Pfiuuuh!!!

Pinjam kamera hape-nya Yani, tak berhasil. Bukan karena ia tidak mau meminjamkan, namun kamera hapenya itu memang tidak bisa berfungsi. Lalu? Ya, cukup rekam di kepala, melalui telinga, mata, juga rasa. Bisa saja saya melewatkan ilmu penting dari sang penulis jika disibukkan dengan kegiatan menjepret.

Saya baru nyadar setelah memerhatikan backdrop bahwa Mbak Lisa Febriyanti adalah arek Suroboyo. “Wah, pantes saja dia bedah buku di sini!” bisik saja ke Yani. Penampilan Mbak Lisa kasual a la anak muda. Mengenakan blus hitam dan jeans serta sepatu kets hitam. Berapa ya umur Mbak Lisa? Tanya saya dalam hati. Lalu, kembali saya membisiki Yani. “Eh, Yan… Menurutmu, dari penampilannya, gaya bicaranya, Mbak Lisa ini orangnya seperti apa?” Kalau sih, kesan pertama adalah serius! Hehehe… Soalnya Mbak Lisa berkacamata dengan frame tebal, suka warna-warna gelap (nampak dari pakaian yang dipakai saat talkshow, sampul buku, juga sinopsis ceritanya), juga dari gaya bicaranya. Namun, di balik itu semua, beliau nampak memiliki kepribadian yang hangat, bersahabat, dan pasti cerdas!

Bukti kalau beliau cerdas? Hehehe… Lagi-lagi saya membuat deduksi, semoga tidak picik Novel Iluminasi bertebal 444 halaman dibuat HANYA dalam waktu 1 bulan. Ini memang kesepakatan antara Mbak Lisa dengan penerbit Kakilangit. Tema novelnya pun tidak main-main. Superhero. Namun, Mbak Lisa lebih senang menyebut novelnya bergenre: Pencerahan alias new age. Bagaimana tidak? Unsur-unsur filsafat dan pertanda-pertanda dimasukkan ke dalam ceritanya. Ada audiens yang mengatakan novel ini agak rumit. Bahasanya berat? Tidak juga. Karena menurut penuturan Mbak Lisa, “Dalam novel ini, saya mencoba membumikan tema-tema yang berat dengan bahasa yang ringan dan lincah!” Dan, memang, pengakuan para anggota Deteksi Book Club milik Jawa Pos yang membahas novel ini pada Senin (4/01) lalu, juga begitu. “Apa yang ingin saya sampaikan ke pembaca ternyata memang bisa tertangkap baik. Apalagi Deteksi Book Club anggotanya rata-rata masih remaja.” Jadi, hal ini dilontarkan Mbak Lisa untuk menepis anggapan bahwa novelnya berat secara isi. Bahasa yang ringan dan renyah tentu saja akan mampu membidik pasar yang lebih luas.

Saya juga mendapatkan tips menulis yang cukup unik dari Mbak Lisa. Beliau, saat menuliskan adegan-adegan heroik berupa pertarungan dalam novel Iluminasi, akan menjauhkan naskahnya sejenak. Lalu, beliau berdiri dan mencoba sendiri gerakan-gerakan tarung a la tokoh-tokohnya. Dengan begitu, beliau bisa mendetilkan suasana, latar, gerak, irama, dan rasa dari masing-masing tokoh. Tips ini pun sebenarnya pemberian dari teman komikus Mbak Lisa.

Budi Darma, sastrawan penulis “Olenka”, pada gilirannya menyampaikan beberapa masukan buat Mbak Lisa. Pembawaan beliau yang super-tenang semakin membuat adem suasana.

Di akhir acara, Mbak Lisa membagikan Iluminasi bagi para penanya. Juga beberapa buku terbitan Kakilangit lainnya, seperti Elle Eleanor dan Laksmi. Oya, saya juga mencari-cari sosok Mas Ferry Zanzad, penulis Elle Eleanor, di acara tersebut. Tapi, tidak ketemu. Karena, sebelumnya, saya membaca komentar Mas Ferry di facebook kalau dia akan datang.

Btw, saya yang tidak bertanya dalam sesi tanya jawab banyak termin itu hanya bisa merapikan senyum dan harapan dalam decak-kagum. Hahaha… Sungguh, tepat sekali ketika krisis finansial temporer sedang menghampiri saya. Sehingga, buku seharga Rp 67 ribu itu pun tidak sanggup saya tebus

Saya menghibur diri dengan berkata, “Alhamdulillah… sing penting iso ketemu karo penulis-penulis keren iki!”

Saat Taufik Monyong (yang nyentrik), seniman art street, memainkan aksi teatrikal mereka, sementara Mbak Lisa sibuk book-signing dan melayani foto bersama, saya dan Yani pun menyelinap ke area buku-buku seharga 5 ribu – 15 ribu. Bikin saya lapar mata dan haus intelejensia *halah*. The Interpreter of Maladies seharga Rp 15 ribu saja. Man and Wife-nya Tony Parson juga segitu. Agonia-nya Remy Sylado yang tebal itu juga sama. Saya ingin membeli Flash Fiction-nya Primadona Angela yang seharga Rp 10 ribu dan The Interpreter of Maladies, namun akhirnya berdamai dengan kantong dan nyawa untuk hidup keesokan harinya. Hehehe… so, finally, I’ve just bought ‘When Tomorrow Comes’ by Peter O’Connor. I love its cover so much! Dan saat saya buka halaman pertama, bertemu dengan kutipan dari Thoreau yang juga menginspirasi tokoh utama dalam film INTO THE WILD yang tadi malam saya tonton.

Pulang. Puas. Makan. Hujan pun berdebam dari langit.

Oya, Mpers bisa bertandang ke rumah maya Mbak Lisa Febriyanti di lifevolution.multiply.com.

Iklan

17 thoughts on “Iluminasi, Budi Darma, dan Buku Rp 10 Ribu-an

  1. interpreter of maladies 15 ribu???waaa, ini buku favoritku. sampai nyaris ngelotok baca cerpen “seksi”, hehehe.ayo ayo, ceritakan lebih banyak ttg pak budi darma *ya, saya ngefans berat, sampai nyaris norak 🙂

  2. rasanya mata masih sempat melirik ke arah kanan, ketika sebuah handi cam diarahkan ke depan..benarkah itu dirimu? hehehehhehmakasihhhhh banget sudah datang dan membuat sebuah review yang menggugah kembali memoriku di hari yang menyenangkan kemarin. sayang kemarin kita ga saling sapa langsung ya….

  3. lifevolution said: rasanya mata masih sempat melirik ke arah kanan, ketika sebuah handi cam diarahkan ke depan..benarkah itu dirimu?

    Heheh… ya, sama cewek ndut n cubby. saya yang pake baju dan jeans biru… berdiri di dekat mas2 dari kakilangit yang bagi buku… *hahaha… penting nggak sih* :Dsaya sebenarnya pengen nyapa Mbak dengan bilang, “Saya Fatah multiply yang beberapa hari lalu nge-add Mbak lho…” Tapi, saya khawatir Mbak akan mengerutkan dahi dan berkata, “Yang mana ya? Hmmm…” Saya tidak menginginkan itu terjadi. hahahaha….

  4. lifevolution said: oya, aku minta izin copas tulisanmu ke blog ku di ladangkata.com ya…matur suwunnnnn 🙂

    Oya, monggo atuh, Mbak. dengan senang hati… *bangganya teman-teman MP banyak yang jadi penulis* :))

  5. retnadi said: interpreter of maladies 15 ribu???waaa, ini buku favoritku. sampai nyaris ngelotok baca cerpen “seksi”, hehehe.ayo ayo, ceritakan lebih banyak ttg pak budi darma *ya, saya ngefans berat, sampai nyaris norak 🙂

    Iya, cuma 15 ribu saja. tapi, saya ragu-ragu untuk beli. soalnya sempat baca komentar orang-orang di GR tentang buku ini. Beberapa yang bilang ‘OK’, tapi ada juga yang nggak sreg. Saya sih, lebih kuat keinginan beli soalnya embel2 pemenang sastra (apa gitu, namanya? lupaaa…) Nah, kelihatannya mantap!Karena Pak Budi Darma hanya berbicara sebentar saja, jadi saya tidak bisa menangkap banyak. Yang pasti, saya memerhatikan beliau dan menemukan aura ketenangan di sana :))

  6. pondokkata said: ah..ada budi darma??!!!iriiiii pengen ketemu juga…saya jatuh cinta dengan buku Kritikus Adinannya 🙂

    Yuhuuuu…Mantep yoooo….Bukannya beliau juga sering datang ke Jakarta ya?Dipantengin atuh beliau… hehehe… Saya aja pengen bisa bertandang ke rumah beliau. Semoga ada kesempatan itu kelak :))Saya sendiri belum pernah baca buku beliau sampai tuntas. Hmmm… Nanti deh cari tahu :))

  7. lafatah said: Iya, cuma 15 ribu saja. tapi, saya ragu-ragu untuk beli. soalnya sempat baca komentar orang-orang di GR tentang buku ini. Beberapa yang bilang ‘OK’, tapi ada juga yang nggak sreg. Saya sih, lebih kuat keinginan beli soalnya embel2 pemenang sastra (apa gitu, namanya? lupaaa…) Nah, kelihatannya mantap!Karena Pak Budi Darma hanya berbicara sebentar saja, jadi saya tidak bisa menangkap banyak. Yang pasti, saya memerhatikan beliau dan menemukan aura ketenangan di sana :))

    interpreter of maladies karya jhumpa lahiri pemenang pulitzer mas 🙂

  8. Kenapa tidak menyapa? Kok kayaknya berjarak sekali. Saya sempat borong di buku-buku obral itu juga kok. Lumayan buat menuhin rak koleksi (jarang dibaca sih). Kalau tinggal di Surabaya, datang saja di acara Halte Sastra, biasanya teman-teman penulis dan penikmat sastra ngumpul disana. Kalau lagi beruntung suka ada yang senior-senior hadir, macam Bu Sirikit, Kang Mashuri, Pak Bonari, Timor, dll. Gabung di Facebooknya agar dapat up date info acara. Kalau suka film, setiap sabtu jam 4 sore kami mutar film di C2O, Jl Dr Cipto No 20 (depan konjen AS) Datang aja, gratis kok

  9. retnadi said: interpreter of maladies karya jhumpa lahiri pemenang pulitzer mas 🙂

    Oiaaaa… tadi ragu-ragu juga menuliskan “Pulitzer” karena saya asosiasikannya dengan wartawan atau jurnalis :))

  10. dianasasa said: Kenapa tidak menyapa? Kok kayaknya berjarak sekali. Saya sempat borong di buku-buku obral itu juga kok. Lumayan buat menuhin rak koleksi (jarang dibaca sih). Kalau tinggal di Surabaya, datang saja di acara Halte Sastra, biasanya teman-teman penulis dan penikmat sastra ngumpul disana. Kalau lagi beruntung suka ada yang senior-senior hadir, macam Bu Sirikit, Kang Mashuri, Pak Bonari, Timor, dll. Gabung di Facebooknya agar dapat up date info acara. Kalau suka film, setiap sabtu jam 4 sore kami mutar film di C2O, Jl Dr Cipto No 20 (depan konjen AS) Datang aja, gratis kok

    Hehehe… Kesannya berjarak karena saya belum kenal betul, Mbak. Apalagi nggak ada kamera buat narsis2an bersama para penulis di sana. Hehehe… Saya pengen ketemu juga sama Bu Sikrit dan Kang Mashuri. Hehehe… Nanti saya cari FB mereka. Makasih infonya, Mbak. Saya juga tertarik ke C20 setelah Mbak ulas di Indonesiabuku.com. Tapi, so far kendala saya adalah kendaraan :))Insya Allah akan ada masanya nanti saya maen ke sana :))

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s