Bacaan Januari 2010

“Fatah, setoranmu mana?!”
“Setoran apa?”
“Ya, bacaanlah! Memang sejak kapan kamu jadi pengamen?”
“Ini, Bang!”

1. Bocah-Bocah Galaksi – Dewi Rieka

Kisah persahabatan Julian, Bumi, dan Juni yang berbalut pengetahuan astronomi. Gara-gara baca novel anak ini, saya jadi teringat olimpiade astronomi yang pernah saya ikuti pas zaman SMA. Salut buat kreatifitas penulis yang menciptakan model lomba yang mengecoh perkiraan awal saya. Gaya tutur Mbak Dedew kentara sekali di sini. Hiduuuup…Mbak Dodol! Hehehe…

2. Sepeda Ontel Kinanti – Iwok Abqary

Novel anak pertama dari Kang Iwok yang saya baca. Tersentuh dengan perjuangan Kinanti meraih impiannya. Sepeda ontel menjadi ‘nyawa’ cerita buku bertema pendidikan ini. Sekilas, Kinanti mengingatkan saya pada tokoh Lintang dalam Laskar Pelangi. Oya, ada penyu juga lho dalam novel ini! Hah? Penyu?

3. When Tomorrow Comes – Peter O’Connor

Two in One. Dua kisah dalam satu buku. Benang merahnya adalah pelajaran mengenai kehidupan. Kata-kata filosofis penuh spirit bertaburan. Kisah fabelnya yang menangkat tokoh Talan, seekor elang, lumayan menjemukan. Lebih suka kisah Sarah dan kakeknya. Mirip Tuesdays with Morrie!

4. Pelangi di Persia – Dina Y. Sulaeman

“Siapa yang mau traveling ke Iran?” Saya yang pertama kali tunjuk jari. Buku ini menurut saya ‘sangat’ berkarakter. Komplit. Di antara kelezatan kuliner Iran (yang kata penulisnya, “Orang Iran nggak sekreatif orang Indonesia dalam memasak”), keeksotisan situs wisata sejarah, kesucian makam-makam para imam, kebiasaan-kebiasaan unik orang Iran yang terkadang mengundang tawa, hingga masalah politik dan isu nuklir Iran, teramu dalam satu buku dengan ilustrasi yang cantik. Ilustrasi yang paling melekat di kepala saya adalah foto wajah perempuan Iran yang alisnya terawat rapi. Matanya tajam hitam sehitam alisnya yang tebal. Satu lagi, saya mendapat kuliah HI yang keren lewat buku ini.

5. Curhat Setan – Fahd Djibran

“Semacam sekuel” dari buku sebelumnya: A Cat in My Eyes. Buku ‘kedua’ ini yang saya baca terlebih dahulu. Dan, saya terkagum-kagum pada refleksi filosofis (terkadang) puitis dari seorang Fahd Djibran. Beberapa tulisan favorit saya: Dendam Sejarah (memacu saya untuk lebih mencintai dunia menulis – meninggalkan rekaman tertulis untuk anak cucu); Nafsu (Sebab nafsu, seperti “nafs”, memang adalah diri); Curhat Setan (mengonstruksi pikiran kita tentang setan); dan Doa (tuhan/ kalau kau membalas kejahatanku dengan kejahatan lagi/ apa bedanya kau dan aku?/ amin//)

6. Gege Mengejar Cinta – Adhitya Mulya

Gege mengejar cintanya, Caca. Gege dikejar oleh… Tia. Gege dihadapkan pada dua pilihan sulit. Buku dengan kadar humor tinggi. Cerdas, tapi. Termasuk cerdas dalam pembuatan catatan kaki yang bikin keki. Pertanyaan buat Anda, siapa yang akhirnya dipilih Gege? Ending yang melegakan saya!

7. Tuesdays with Morrie – Mitch Albom

They’re Tuesdays Men. Perkuliahan makna hidup yang digelar tiap selasa antara sang dosen, Prof. Morrie dengan sang mahasiswa, Mitch Albom. Perkuliahan di minggu-minggu terakhir sebelum sang dosen meninggal. Topik yang dibahas: dunia, mengasihani diri sendiri, penyesalan diri, kematian, keluarga, emosi, takut menjadi tua, uang, cinta yang tak padam, perkawinan, budaya, maaf, dan hari yang paling baik. Sungguh menyentuh. Mengilhami. Banyak kutipan yang bisa dicomot jadi bahan renungan. Sesekali di bagian-bagian tertentu, saya tergelak juga.

“…Kita tahu bahwa penuaan tidak hanya berarti pelapukan, tetapi juga pertumbuhan. Penuaan tidak hanya bermakna negatif, bahwa kita akan mati, tetapi juga makna positif, bahwa kita mengerti kenyataan bahwa kita akan mati, dan karena itu kita berusaha untuk hidup dengan cara yang lebih baik.” (hal. 126)

8. Aku Senang Bersedekah – Kiky Fitriyanti

Buku anak-anak, pemberian penulisnya. Mendekatkan anak-anak melalui hadis sejak ini, itu misi yang diusung. Aku Senang Bersedekah, semoga!

9. A Cat in My Eyes – Fahd Djibran

Saya lebih menikmati “sekuel”nya. Entah mengapa, saya kurang menikmati buku ini. Beberapa tulisan terlalu panjang, hingga saya baca cepat, seperti “Dendam”. Lebih banyak lagi tulisan yang hanya satu halaman saja dan saya ‘belum’ mendapat apa-
apa. Lho?Segini doang? Beberapa tulisan favorit saya: Pertanyaan untuk J; Skizofrenia; Keberagam(a)an, Pertem(p)u(r)an dengan Tuhan; dan Psikopati. Bagi penyuka kucing, saya yakin mereka akan ‘protes’ dengan dua tulisan: “A Cat My Eyes” dan “A Cat in Your Eyes”.

“Hah? Cuma segini doang?! Payah!”

“Lho, justru bulan ini bacaan saya meningkat drastis. Maklum, masa liburan. Nggak seperti bulan-bulan sebelumnya yang cuma dua-empat buku per bulan. Saya kudu bersyukur atas peningkatan ini. Lha, abang sendiri mana daftarnya?”

Dia garuk-garuk betis pakai gergaji. Saya bergidik. Ngeri.

“Oya, ada beberapa buku lagi yang tersendat-sendat saya baca. Bukan karena isinya nggak bagus, tapi karena saya jadikan selingan. Insya Allah, saya janji akan menuntaskannya. Soale, eman kalo nggak dimoco…”

“Opo ae iku?” Dia saya pancing berbahasa Jawatimuran. Huh, termakan juga kau, sinis saya dalam hati.

“Iki, Bang!”

1. Laki-laki Lain dalam Secarik Kertas – Budi Darma
2. Nikah, Emang Gue Pikirin – Shofwan Al-Banna
3. Bloodline – Sidney Sheldon
4. Blink – Macolm Gladwell

“Tah?”

“Iyo!”

“Ono sing kurang!”

“Opo’o?”

“Lha, ndi resensi ne? Kurang afdol rasane moco buku without reviewing!”

Saya tergelak. Abang imajiner yang satu ini memang ndableg! Baginya, bahasa itu selezat es campur.

“Resensi? Aduh, piye yooo… Nggak ono wektu gawe resensi sing lengkap, Bang!”

“Ealaaah… Koen sa’jane emang males. Dadi wong iku kudu smart, kudu iso mbagi wektu! Koen iku
senengane moco. Book marathoner! Abis moco siji buku, koen lanjut moco sing laen. Di-rem dong! Di-rem! Siji selese, koen gawe resensi ne. Gitu lho cara wong pinter!”

Saya tercenung. Mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk melawan. Tapi, saya menghela napas. Memang penyakit malas meresensi sedang menyergap saya.

“Hayo! Ndang digawe resensi ne! Aku wes kebelet moco!”

Kepala saya ditoyor. Saya balas menoyor si Abang Imajiner. Tidak terima saya.

Iklan

32 thoughts on “Bacaan Januari 2010

  1. Wow, daftar bacaan yg penuh gizi, Dik :-)Aku baru baca yg no 4 dan 7. Yang no 4 kubaca pas baru beberapa hari terbit dan aku sangat2 sepakat! Pelangi Persia is fully recommended from me :-DYang Mitch, kubaca jaman aku kuliah awal2, di tahun 1998 kalo gak salah, sungguh sebuah buku yg ‘membentuk’ku hari ini 😀

  2. moiniknok said: A cat in my eyes, ak gak mudheng tah. Gak bisa menikmatinya.Baru tahu kalo udah ada sekuelnya :p

    Baru tau kalo Curhat Setan hadir???Hehehe… Dijamin, Mbak akan lebih suka yang ini. Yeah, ala Filosofi Kopi. Juga nggak terlalu banyak prosa pendek seperti di buku pertama… Lebih intens pula cara Fahd mendalami tulisannya 🙂

  3. rinurbad said: Kenapa tersendat baca Bloodline, Tah?:) BTW selamat, sudah meningkatkan kuantitas baca bulan ini:)

    Alhamdulillah banget bisa meluangkan banyak waktu untuk membaca. Puas-puasin, mumpung liburan.Ntar kalo udah masuk kuliah lagi, mulai deeeh… satu buku dibaca dua minggu :DSaya sebenarnya menikmati cerita Bloodline, tapi lebih suka ‘menyuruh’ buku-buku lain ‘menyalip’ si Bloodline 😀

  4. siasetia said: saya ga mau kalah…saya lagi ngolah skripsi mahasiswa di sini so baca juga donk ya …meski sekilas aja hehheheheh .. :p

    Jadi, daftar skripsinya mana nih, Mbak?Judul-judul plus penulisnya :DNggak bikin mabok, gitu? heheh

  5. imazahra said: Wow, daftar bacaan yg penuh gizi, Dik :-)Aku baru baca yg no 4 dan 7. Yang no 4 kubaca pas baru beberapa hari terbit dan aku sangat2 sepakat! Pelangi Persia is fully recommended from me :-DYang Mitch, kubaca jaman aku kuliah awal2, di tahun 1998 kalo gak salah, sungguh sebuah buku yg ‘membentuk’ku hari ini 😀

    Ya, Mbak Ima gitu…Kelihatan banget kok dari buku-buku yang Mbak konsumsi. Hehehe…Apalagi udah sering yak mampir ke Uni Dina di Bandung? Duh, andai kampus saya bisa mengundang beliau sebagai pembicara di kampus… Apalagi beliau aktif nulis di jurnal Timur Tengah, yang mana nggak banyak mahasiswi HI seaktif beliau dalam menulis. Dosen saya aja kalah 😀

  6. ugik said: aku ngikik baca postingamu ini.kocak…keren bukunya Teh… bikin ngiler semua 😀

    Huehehehe…Saya yo senyum2 dewe, Mbak :)Udah beberapa hari nggak ngeblog, akhirnya muncul tulisan kayak gini.Mengeram ternyata bagus juga untuk otak 😀

  7. lafatah said: andai kampus saya bisa mengundang beliau sebagai pembicara di kampus… Apalagi beliau aktif nulis di jurnal Timur Tengah, yang mana nggak banyak mahasiswi HI seaktif beliau dalam menulis. Dosen saya aja kalah 😀

    SEPAKAT!Undang aja, Uni Dina asik kok orangnya :-)PM aja gih :-DBawa buku2nya Uni Dina yg kau punya ke dekan-mu, bilang pada beliau, mahasiswa HI kudu jago berdiplomasi via tulisan, krn pada akhirnya itu yg ‘lebih kuat’ ketimbang diplomasi kata2, yg bisa ditelan angin bernama lupa 🙂

  8. rinurbad said: Ah, ic. Mudah-mudahan bisa tahan sampai tuntas dan berjumpa dengan detektif kesayanganku, Max Hornung.

    Insya Allah saya tahan dan mencoba bertahan…Max Hornung? So far, saya belum menemukan nama tokoh ini 🙂

  9. imazahra said: SEPAKAT!Undang aja, Uni Dina asik kok orangnya :-)PM aja gih :-DBawa buku2nya Uni Dina yg kau punya ke dekan-mu, bilang pada beliau, mahasiswa HI kudu jago berdiplomasi via tulisan, krn pada akhirnya itu yg ‘lebih kuat’ ketimbang diplomasi kata2, yg bisa ditelan angin bernama lupa 🙂

    Seeeeeeeeeeeepppp!!! Setuju banget dengan pendapat Mbak. Diplomasi tulisan bisa lebih awet pengaruhnya :))Akan saya usahakan, Mbak.Kebetulan saya menangani Divisi Klub Media di HIMAHI.Ntar saya lontarkan ke ketua Divisi Ilmiah dimana saya bernaung.Saya ngebayangin Uni Dina sebagai orang yang cerdas, tegas.

  10. lafatah said: Saya ngebayangin Uni Dina sebagai orang yang cerdas, tegas.

    Faktanya memang iya :-)Tapi kalo ngomong, lembut khas ibu2 penyayang :-)Senang banget kalo dipeluk Uni Dina 😀

  11. #Mbak Ima: Hehehe… Peluk…Peluuuukkk 😀 Iya, sih, bisa saya bayangkan juga kelembutan beliau saat memboyong Reza dan Kirana buat traveling Iran :)#Bang Baco: Huahahaah… Demen Shaw, yak?! :D#Cek Yan: Amiiiin… Insya Allah! Semangat ya, Cek Yan… 🙂

  12. Dadine bulan Maret, Mbak.Insya Allah…Acara ne diundur, soale…Okeeeh??? Moga bisa dapet buku segambreng yak :))Bulan februari??? Saya ingin kembali mengencangkan pembacaan.Mulai kedodoran lagi nih gara2 backpacking :))

  13. Heheheheeh…Ngeliat beberapa teman MP yang rajin ngeresensi, saya sebenarnya tergerak sangat. Malu, kalau cuma baca doang tapi nggak di-share. Hehhee… Semoga semangat ngeresensi itu tetap menyala…

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s