Novel Sebiji, Snack Segenggam

Aku berjalan,
mengikuti arus malam,
di pundak tersampir jaket hitam,
tertenteng di tangan kanan,
sebuah helm berisi
novel sebiji,
snack segenggam.

Di bentara elit perumahan,
kuputuskan menyesatkan diri,
membiarkan langkahku menyusuri,
hingga dua anjing tertarik menggonggongku,
merengsek ingin merobek pagar.

Aku takut galaknya anjing.
Bukan anjing galak.

Keringat mulai terbubuh di punggung,
kaosku basah,
padahal sepoi angin menerpa,
ingin halau gerah.
Takkan bisa, pikirku.
Sebab, pentol-pentol bakso kepala sapi,
yang kumakan setengah jam yang lalu,
sedang terolah menjadi energi,
oleh gerakku.

Kuberjalan di sisi sungai, kini.
Jika ke kontrakanku,
tinggal seberangi jembatan itu!
Namun, aku memilih melewatinya.
Terus mengukur jalanan kampung
(bukan elit perumahan lagi).

Aku menuju warung.
Warung internet.
Mengeposkan ketikanku di ponsel ini
ke blog-ku.


Minggu, 21 Februari
Malam nan biru…

Iklan

2 thoughts on “Novel Sebiji, Snack Segenggam

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s