Sebelum Berangkat ke Belanda…

Tak ada salahnya saya dan kawan-kawan merasakan aura keberangkatan Jamal. Si peraih beasiswa Erasmus Mundus dari Uni Eropa itu, tadi siang kami antarkan ke Bandara Internasional Djuanda. Saya, Hariyono, Maria, Renitha, Shendy, Robin, Feby, Rommel, Else, Kiki, dan Maya berangkat bareng dari kampus. Sebelumnya, Renitha, Maria, dan Shendy menyempatkan diri ke Mirota, membelikan batik dan hem untuk Jamal. No doubt that you will be proud to wear it in Netherland, Jeje! Ya, kami urunan, tentu saja. 10 bulan lebih akan berpisah dengan kawan kami yang smart itu, setidaknya ada kenangan yang kami tinggalkan.


Ki-ka: Saya, Jamal, dan Mandra (dalam suatu kesempatan di Tunjungan Plaza)

Di bandara, ternyata sudah ada Udin, Sandra, Lala, dan Dhanti. Juga papa serta dua adiknya Jamal. Yuhuuu, buah emang tidak akan pernah jatuh jauh dari pohonnya. Faris, adik si Jamal, mirip sekali dengan Jamal. Tapi, hidung adiknya itu lebih tipis dengan kemancungan yang tak dibuat-buat. Hahaha… *kalimat apa pula ini*

Itu pula pertama kalinya kami berjumpa dengan papanya Jamal. Sementara dengan mamanya, saya pribadi, pernah berjumpa. Itu pun 2,5 tahun yang lalu, saat masa daftar ulang mahasiswa baru di Kampus C Unair. Sosok mama yang sangat berarti sekali buat Jamal. Sebab, dari cerita dan penuturan Jamal sendiri, beliaulah yang selama ini menjadi pendukung utamanya. Untuk beliaulah Jamal mempersembahkan segala prestasinya yang luar biasa itu.

Di bandara, saya jadi memahami sesuatu tentang keluarga Jamal. I can’t tell ya here…

Hampir satu jam di bandara, ngobrol sana-sini, dengan rasa bangga dan haru yang terselip, kami pun berfoto-foto dahulu dengan kawan kami yang beruntung melanjutkan studinya di Fontyss, Belanda itu.

Ya, sepeninggal dia, takkan ada lagi suara melengking tinggi yang meriuhkan galeri HI. Tak ada lagi nyanyian ‘Dancing Queen’. Tak ada lagi teriakan, “Hai, Harry!” Tak ada lagi debater yang seringkali menjadi juru kunci jawaban atas kebuntuan di dalam kelas. Untungnya, kami yang ditinggalkan, sepertinya akan semakin lebih berani bersuara di dalam kelas. Ya, karena sebelumnya, kami takut argumen kami akan di’lurus’kan atau di’bantaihalus’ oleh si Panjul Krewak itu…

Well, selamat jalan Jamal! Selamat menuntut ilmu di Negeri van Oranje. Semoga kau menjadi orang sukses dunia akhirat. Amiiiin…


P.S. Pulang dari Belanda, kamu harus bikin buku, Mal! hahaha

Iklan

13 thoughts on “Sebelum Berangkat ke Belanda…

  1. Belum pernah nonton. Tahu judulnya juga nggak. Hehehe…Anyway, makasih udah merekomendasikan film itu.Semoga bisa saya temukan dalam waktu dekat :)Sementara ini, cari resensinya dulu aaaah…

  2. lafatah said: Amiiin… Semoga ya bisa mendapatkannya, Enndah…Udah nyoba beasiswa apa aja ni???BTW, NVO juga salah satu novel kesukaanku. Hehe

    sementara ini ada beasiswa dr diknas^^amin…moga2 dapet kesempatan buat going abroad someday…

  3. aku baru baca.. hahaha.. sure gonna miss his “Hi, Harry!!” salutation..eniwei, kamu kudu liat Spanish Apartment. It’s great!!It’s kinda hard to find though.. but seriously, you gotta see it

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s