Jogja Series#1: Pak Ayub dalam Cerita

ki-ka: Surotul, Renitha, Mega, Hariyono, Kiki, Aynur, dan Saya


Kubentangkan kembali peta kota Jogja yang berwarna kuning itu. Serasa dicambuk hatiku karena belum jua menuntaskan catatan <i>backpacking</i> ke Jogja dua minggu yang lalu. Pengalaman selama empat hari di sana (4-7 Februari), sungguh sayang jika tidak dituangkan, direkam dalam format tulisan. Sekadar foto, ada. Namun, foto tidaklah bisa menggambarkan detil perjalanan. Rekaman di kepala pun, ada. Apalah artinya ‘badai pikiran’ jika tidak dimanifestasikan dalam bentuk tulisan. Jika memang ingin dinikmati sendiri, tidak perlu aku tuliskan. Tapi, ada dorongan dalam diri ini yang terus-menerus, ingin menyeruak. <i>Keluarkan! Keluarkan badai pikiran. Jangan sampai berjamur di dalam batok kepalamu!</i>

Aku akan bercerita. Terima kasih sebelumnya karena telah bersedia menyimak. Semoga kau tak bosan. Anggap saja tulisanku ini es krim yang kau idam-idamkan. Tak berhenti kau jilat hingga tandas – masuk semua ke dalam ‘mulut jiwa’mu.

Kamis pagi (4/2) menjelang pukul sepuluh. Aku tiba di Stasiun Gubeng dengan ransel yang cukup penuh. Penuh oleh pakaian, peralatan mandi, makanan, uang, dan beberapa novel. Hariyono, Aynur, Mega, Renitha, dan Surotul telah menunggu. Aku sendiri diantar Praja dengan motornya. Ternyata, Jamal juga telah di situ. Sehari sebelumnya dia memang sudah bilang untuk ikut mengantarkan kami. Dia yang telah berada di Belanda, sekarang.

Mega menunjukkan wajah kusut. Aku tahu. Aku tahu penyebabnya. Itu gara-gara pesan pendek yang kukirimkan ke seluruh pasukan pada malam harinya, menjelang jam 11. “Kalau misalnya batal ke Jogja, gimana ya?” Langsung heboh jagad persilatan. ‘Pimpinan’ mereka mendadak undur diri. Hahaha…

Aku memang tidak main-main, sebab malam itu baru saja menerima surat undangan dari Majalah Matan untuk acara penyerahan hadiah menulis di Dome UMM. Harus berada di Malang pada hari Sabtu? Sementara rencanaku dan teman-teman, Kamis hingga Minggu berada di Jogja. Malang atau Jogja? Dilema. Acara di Malang kan bergengsi. Berdiri di panggung, memamerkan hadiah, difoto, diwawancarai, kan enak!

Setelah menimbang-nimbang hingga bangun keesokan paginya pada pukul setengah delapan, aku pun segera menyebarkan sms. Intinya: JADI BERANGKAT KE JOGJA! *Hmmm… Sepertinya Mega langsung sujud syukur deh* Hahaha…


Lihatlah bekpek kami! Hehehe

Setelah membeli tiket kereta ekonomi Logawa seharga Rp 21.500, kami pun masuk ke dalam peron. Berikutnya, Kiki datang. Dia ikut mengantarkan kami sekaligus menitipkan pesan damai *halah* berupa makanan ringan dan duit 50 ribu untuk kami belikan oleh-oleh khas Jogja plus bakpia pathuk. Dia memang tidak bisa ikut karena beberapa hari lagi akan menjadi Nyonya Meneer alias berdiri berjam-jam sebagai MC acara wisuda.


Berbaris menunggu jatah kursi ekonomi

Perjalanan 7 jam dari Surabaya ke Jogjakarta kami siasati dengan mengobrol, makan, dan terkadang tidur. Ocehan seorang bapak yang duduk di depanku, ‘kusapu’ dengan sengaja tidur. Oh, alangkah tidak sopannya. Aku baru sadar kalau bapak itu memang masa mudanya tergila-gila juga dengan petualangan. Beliau bercakap-cakap dengan aku, Hariyono, dan Aynur sebagai bentuk refleksi romantisme masa lalunya. Kadang aku menyela, mengomentari, dan bertanya. Begitu pula dengan Aynur yang terlihat antusias. Tak tahu dengan Hariyono. Mungkin telah memasang radar kecurigaan. Hahaha…

Seharusnya aku bersyukur karena bapak itu ada menemani kegaringan kami dalam kereta. Bahkan, yang membuat kami agak sungkan adalah kebaikan hatinya. Pak Ayub, demikian nama beliau, sampai rela menjadi <i>tour guide</i> meski tidak maksimal (hahaha) karena kami merasa beliau ikut campur dengan perjalanan mandiri kami.

Ya, bagaimana tidak?

Beliau, dengan kejujuran yang terpancar di matanya, menawarkan kami untuk menginap di kantornya yang dekat Terminal Umbulharjo atau rumah temannya yang ada di kawasan Kaliurang. Itu untuk menyiasati malam pertama kami di Jogja yang belum pasti akan menginap di mana. (Belakangan baru aku tahu kalau Renitha dengan cerdasnya mem-<i>booking</i> via sms sebuah penginapan di dekat alun-alun selatan).

Aku sendiri sudah pasang tameng di dalam hati untuk tidak menerima tawaran bapak itu dengan alasan para cewek tentu tidak mau. Kecuali jika aku sendiri atau hanya bersama teman laki-laki saja yang <i>backpacking</i> ke Jogja.

Kebaikan hati bapak tersebut berlanjut ketika kami benar-benar dipandu begitu turun dari Logawa, sampai di Stasiun Lempuyangan pada sekitar pukul 5 sore lebih sedikit. Kami diajak mencari musholla di luar stasiun. Shalat ashar jamak zuhur.

Sebelum benar-benar keluar dari kereta, aku berseru dengan sedikit keras, “Yeah! Jogja!” Seperti orang udik! Aku memang membayangkan perjalanan <i>backpacking</i> yang hebat. Apalagi komitmen di antara kami telah terpancang! HARUS JALAN KAKI SELAMA DI JOGJA. (Meski, tentu saja, tidak sedikit dari kami yang melanggar pakta tersebut. Untung tidak ada sanksi dari PBB: Persatuan <i>Backpackers</i> Bonek ! Haha)

Kami blusukan di gang-gang mencari musholla. Ketemu. Setelah menyelesaikan kewajiban pada Sang Pemberi Kesehatan Pada Kaum <i>Backpackers</i>, kami pun menelusuri gang lagi hingga bertemu Jalan Dr. Soetomo. Merepet di trotoar dengan kendaraan yang berlalu-lalang, menyelinap diam-diam rasa banggaku sebagai penyandang ransel di punggung. Anda perlu tahu bahwa ransel yang kukenakan sebenarnya adalah tas laptop terbitan MARS Unair 2008 – Ya, ini tas pinjaman dari mbak sepupuku. Bentuknya yang kotak, khas tas laptop, tidak menyurutkan sedikitpun kebangganku sebagai seorang pengukur jalanan. Dibilang tidak <i>matching</i>, juga aku tidak ambil pusing. Aku ke Jogja untuk mengukur kekuatan betis, bukan untuk pamer tas gede! Hahaha… *pledoi yang ambisius sekali*

Pak Ayub tetap berada di garda terdepan. Mega terseok-seok paling belakang. Semangat bajanya dalam berjalan, bolehlah aku acungi jempol di hari pertama itu. Namun, tidak untuk hari-hari berikutnya. Hahaha…

Kami terus berjalan ke timur menyusuri Jalan Su
ryopranoto dan belok kanan (ke arah barat) di sebuah jalanan yang agak sepi dan sepertinya bukan jalur angkot. Ternyata, Istana Paku Alam ada di situ. Alun-alunnya tidak begitu luas. Ingin masuk sebentar saja, namun kaki-kaki kami malah meminta untuk terus berjalan dan bertemu Jalan Sultan Agung yang ramai.

Perjalanan sore hari yang cukup menyenangkan sebenarnya andai sambil tidak menghirup gas-gas karbondioksida yang dikentutkan oleh hilir-mudik kendaraan.

Sepanjang jalan Sultan Agung, sekalian kami mengedarkan pandangan kiri kanan, mencari penginapan yang bersahabat di kantong dan nyaman. Aku belum tahu sebenarnya saat itu, apakah Renitha telah benar-benar <i>deal</i> dengan Hotel Puspita. Lalu, dengan santainya kami mengikuti titah Pak Ayub untuk sekadar <i>ask and check</i> penginapan yang kami temui selama berjalan kaki – yang sesungguhnya kami lebih sreg jika lepas dan berpisah dengan Pak Ayub. Sebab, kebebasan ini rasanya sedikit terpasung. Hahaha…

Jembatan di atas Kali Code pun kami lintasi. Aku teringat pada cerita yang aku baca pas SD mengenai suasana peperangan di Jogjakarta. Kali Code juga disebut-sebut. Kini… Kini aku menyaksikan sungai itu dengan mata kepala sendiri. Oh, aku tak bisa menyembunyikan rasa syukurku pada Sang Pencipta Konspirasi. Hal-hal yang terjadi, kutemui, kubaca, kudengar, dan dicecap oleh inderawiku pada masa kecil, aku jumpai pula pada akhirnya sedikit demi sedikit. Inilah yang disebut Mozaik sebagaimana digunakan untuk menyebut bab-bab dalam novelnya Andrea Hirata.

Tiba di perempatan jalan besar, kami pun belok kiri menuju arah timur. Untung Hariyono membawa peta Jogja yang dia unduh dari internet. Kami cukup terbantu sembari mengikuti arus Jl. Brigjen Katamso.

Senja mulai turun. Gelap perlahan bertahta di atas langit Jogja. Kami pun ke arah Keraton, ingin masuk ke sana, sekalian shalat maghrib. Ternyata ada pasar malam yang diadakan selama hampir satu bulan sebelum berpuncak pada perayaan Maulid Nabi tanggal 25-26 Februari.

Sambil melemaskan otot punggung sembari menanti azan Isya turun dari kaki langit, kami pun berbincang-bincang di selasar musholla di luar kawasan Keraton. Ketika hendak keluar, melanjutkan perjalanan menuju Hotel Puspita, langit yang kelam mulai menangis. Entah bahagia atau justru sedih dengan kedatangan kami di Kota Budaya.

Oya, Pak Ayub masih bersama kami. Hahaha…

Kami berdiskusi panel, antara saya, Pak Ayub, dan Aynur untuk menentuka langkah kami selanjutnya. Disebabkan oleh teman-teman cewek yang lebih sreg ke Hotel Puspita, kami pun bulat untuk berkata “TERIMA KASIH, LAIN KALI SAJA” pada tawaran beliau.

Dengan berpayung di bawah guyuran romantis sang penyegar, kami menyusuri Jl. Wijilan hingga Jl. P. Mangkurat. Berhenti kami sebentar di sebuah warung nasi goreng. Ya ampun, ujung-ujungnya nasi goreng. Tapi, demi menghemat pengeluaran, kami pun tidak memasang target harus mencicipi makanan khas Jogja yang manis itu, apalagi kalau bukan gudeg Jogja. Kata Pak Ayub, “Lidah orang Surabaya tidak akan cocok dengan gudeg Jogja.” Sebenarnya, di Kampus FISIP pun, ada kantin yang menjual gudeg. Jadi, gudeg Jogja, benar-benar tidak kami cicipi selama 4 hari di sana.

Malam melarut. Setelah mengarungi jalanan yang agak sepi, melewati gerbang selatan alun-alun, dan kembali belok kiri, kami pun akhirnya menemukan Hotel Puspita. Lega rasanya. Penat sudah meronta-ronta ingin kami patahkan.

Dua kamar untuk masing-masing 3 cowok dan 3 cewek pun kami pesan. Bayarannya 85 ribu per kamar per malam. Jadi, kami masing-masing membayar Rp 26.500,00 / malam. Tersedia 3 <i>single bed</i>, kamar mandi dalam, meja, kursi, kipas angin, dan lemari. Ada sarapan nasi gorengnya juga. Gratis. Lumayan murah sih hitungannya. Bahkan, ketika Renitha mengatakan sudah mem-<i>booking</i> kamar untuk kami tinggali selama 3 malam, kami semua langsung menganggukkan kepala.

Akan tetapi, sebuah insiden terjadi pada keesokan harinya. Apakah itu? Bagaimana perjalanan kami di hari kedua? Mengapa aku merasa seperti terbagi-bagi di hari Jumat tersebut? Ada pula insiden warung makan babi! Oh… Sepertinya seru ya? Nantikan saja di jurnal berikutnya.

Salam <i>backpackers!</i>


here we are (halah)
Iklan

10 thoughts on “Jogja Series#1: Pak Ayub dalam Cerita

  1. selisih 500rupiah, waktu aku ke yogya naik Logawa tiketnya 22.000 hehe.*jadi inget perjalananku ke yogya…di Puspita ya? wew, ternyata emg lbh murah kalo dibandingin sama daerah sosrowijayan :Dkalo boleh tau menang lomba menulis apa di UMM? ^^.

  2. Setelah membeli tiket kereta ekonomi Logawa seharga Rp 21.500,Pulau Jawa itu seperti dataran Eropa, mau ke kota-kota besar lain tinggal naik kereta. Beruntungnya….

  3. #Endah: Temen2ku sih bayarnya 21.500. Tapi, pas aku yang terakhir beli, harganya 22.000. hahaha….Emang lebih murah, Endah. Soalnya kan jauh dari Malioboro. Nah, ntar di jurnal berikutnya, akan aku ceritakan pengalamanku ‘usung2’ ke daerah Sosrowijayan… Beuuuh… Lumayan capek euy cari2 hotel lagi. Di UMM itu, cuma lokasi penyerahan hadiah aja. Lomba Menulis Biografi Ibu. Yang ngadain Majalah Matan, punya Muhammadiyah Jatim.#Cek Yan: Hehehe… Betul sekali. Kendaraan paling murah di antara yang laennya 🙂

  4. Iya tuh.Kebetulan saya copas dari note FB, eh tak kirain bakal ilang/otomatis ke-italic kalo di-rekat ke jurnal…Hmmm… saya biarin aja deh.Jadi bukti 😀

  5. awalnya aku sama temen2 juga mau nginep yg deket sama hotel puspita itu tp ga jadi soalnya temen2 pada maunya yang deket2 sama malioboro jadinya nginep di daerah sosrowijayan wes, meski ada insiden pindah penginapan gara-gara tikus :Dbtw, foto profile fb-nya kok sama ma punyaku…hehe (background yg sama), foto bareng sama pak habibie…^^

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s