Travelers’ Tale Reader

Seharian!
Bener2 nggak keluar kontrakan. Pun buat cari makan. Sejak pagi cuma
bertahan dengan air minum dan… dua biji permen Golia! Menyiksa diri?
Kurang tahu!

Beginilah jika malas itu menyerang. Merasa lebih baik karena ada buku
sebagai peneman. Kenyang makan buku? Tidak juga! Buku itu ampuh sekali
mengalihkan sinyal lapar. Meskipun beberapa bagian dalam Travelers’
Tale yang sedang saya baca mendeskripsikan makanan dan bikin liur
ngempet, itu cukup membuat kenyang. “Bukannya bertambah lapar? Fatah,
kamu aneh! Jangan siksa diri begitu!”

Ya, saya bagai ular melungker di kamar. Tiduran di atas sajadah.
Kadang pindah ke bed. Di siang yang panasnya menggelombang, terdengar
jingle penjual susu kedelai. Yang seharga seribuan. Saya bergegas
keluar dari kamar. Cuma mematung di balkon lantai dua. Memandang
penjual susu kedelai yang menjauh. Huuuh…

Lalu, teringatlah saya pada rumah. Saya pasti takkan dibiarkan begini:
melaparkan diri. Kecuali kalo lagi puasa, tentu saja. Yang pasti,
hidangan-hidangan lezat masakan orang rumah membuat liur saya menetes.

Balik lagi ke Travelers’ Tale. Satu kata: lezat! Tak cuma gaya tutur
yang berbeda (karena ditulis oleh 4 orang), juga alur ceritanya yang
cepat kadang melambat. Saya bisa menebak bab ini ditulis oleh Adhitya
Mulya. Bab itu oleh istrinya, Ninit Yunita. Yang ino oleh Alaya Setya.
Dan iti oleh Iman Hidajat. Seru! Sejarahnya dapet. Gambaran
geografisnya masuk. Deskripsi kuliner nyangkut. Narasi romansanya
apalagi. Yang pasti menambah nilai gizi buku ini adalah tips traveling
a la backpackers-nya.

Afrika yang eksotis dan menarik. Itu bagian Adhitya. Cerita sekitar
negara Eropa (agak jemu sih bagi saya – mungkin karena udah pernah
baca novel dan buku traveling bersetting Europe) itu bagian Alaya.
Eropa Timurnya lumayan oke, itu garapannya Yunita. Terus, The Land of
Hope alias the US dengan segala kompleksitasannya diolah ringan oleh
Iman.

Bolehlah saya kasih 4 bintang. Lho, ini review, bukan sih?

It’s up to you name it!

Iklan

33 thoughts on “Travelers’ Tale Reader

  1. Setuju dng bintang 4, mas. Endingnya sih bisa ketebak, tp gaya penulisan dan penggambaran negara yg berbeda emang menarik. Aku juga suka di bagian Afrikanya.

  2. rinurbad said: Hehehe…*melirik bukunya yang baru dirapikan dalam lemari*

    *bukunya ngelirik balik dan memelas minta dibaca*Si Ucup gila udah tereak-tereak minta perhatian. HHeheh

  3. topenkkeren said: bukaan. nunggu review yang asli aja. :p

    Iya, sih. Ini memang bukan review. Mudahan lengkapnya nanti bisa saya tuliskan. Ditunggu saja, Mas Topan 🙂

  4. salimdarmadi said: Kok saya baru tahu buku itu ya? Ckckck, ketinggalan banget… 😦

    Hehehe… Mungkin karena orientasi bacaan beda-beda, Mas Salim. Tapi, itulah enaknya berteman di MP ini. Info bukunya membanjir. Terlebih lagi kalo Mas gabung di goodreads.com 🙂

  5. malambulanbiru said: Iya. Apa-apa tentang travelling di Eropa itu sudah banyak yang bahas. Jadi membosankan

    Betul, Mbak.Mulai dari TNT, NVO, Keliling Eropa 6 Bulan 1.000 Dolar, Travellous, Ciao! Italia, hmmm… opo maneh? Jurnal-jurnal teman di MP? Haha…

  6. nonragil said: Setuju dng bintang 4, mas. Endingnya sih bisa ketebak, tp gaya penulisan dan penggambaran negara yg berbeda emang menarik. Aku juga suka di bagian Afrikanya.

    Iya, dari awal cerita hingga ke tengah pun, masih membahas tentang ‘itu’. Yang menarik memang kisah perjalanan mereka di masing-masing tempat yang dikunjungi. Saya jadi menarik kesimpulan, serumit apapun kisah dalam sebuah film atau buku, sebisa mungkin tema cinta-cintaan dimasukin. Biar nggak garing gitu. Ini asumsi saya pribadi lho ya. Pengamatan selama ini sih :))Afrika? Belum banyak yang mengulas. Hayo, mungkin Mbak Helene. Hehe

  7. malambulanbiru said: Tah, ke India yook!

    Wah, ini bukan keinginan impulsif kan? Juga bukan karena pujian bapak penjaga perpus unair, kan? hahah…kapan ya? gampang nggak urusan ke sananya? 🙂

  8. nonragil said: Masih diangan-angan nih, mas. Pingin…..banget ke Ethiophia.

    saya sengaja ngambil mata kuliah MBP Afrika semester ini karena pengen tau banyak tentang negara2 di sana. tapi, saya langsung mual-mual karena tugasnya tidak seperti yang saya harapkan… hiks 😦

  9. Hahaha. Kok tau kalau aku impulsip?Gampang si. Lewat Batam-Singapura-Bangkok-India kalau ga salah. Hehe. Dulu pernah bikin. Sekarang agak-agak lupaBtw, jurnalin kuliah Afrika-mu, Tah. Sounds seru

  10. malambulanbiru said: Hahaha. Kok tau kalau aku impulsip?Gampang si. Lewat Batam-Singapura-Bangkok-India kalau ga salah. Hehe. Dulu pernah bikin. Sekarang agak-agak lupaBtw, jurnalin kuliah Afrika-mu, Tah. Sounds seru

    apa mbak???ngejurnal afrika????jangan ah, mbak…gila itu jurnal2nya…wkwkwkwkwk…

  11. malambulanbiru said: Hahaha. Kok tau kalau aku impulsip?Gampang si. Lewat Batam-Singapura-Bangkok-India kalau ga salah. Hehe. Dulu pernah bikin. Sekarang agak-agak lupaBtw, jurnalin kuliah Afrika-mu, Tah. Sounds seru

    Tau donk! Bukannya, mbak sendiri yang ngomong gtu di MP? hehehe…Wiiii…. itinerary-nya oke juga tuh. Butuh berapa dana ya? Hmm… *ngulik2 celengan dulu*Insya Allah kalo ada jurnal tertulis, akan saya aplod. Tapi, kebanyakan sih tentang politiknya nanti. Huaaaammm…bikin ngantuk itu 😀

  12. niyrachma said: apa mbak???ngejurnal afrika????jangan ah, mbak…gila itu jurnal2nya…wkwkwkwkwk…

    Apalagi kalo kamu yang ngerjakan.Pembaca pasti jadi jauh lebih gila! haaha…

  13. asri17 said: wah, keknya bukunya bagus, harganya berapa, kak fatah? hehe…

    Bagus, Dek.Ini terbitan 2007. Dalam tahun yang sama udah naek cetak 4 kali.Harganya 40 ribu :)Nggak tau masih dijual apa nggak 🙂

  14. lafatah said: Wiiii…. itinerary-nya oke juga tuh. Butuh berapa dana ya? Hmm… *ngulik2 celengan dulu*Insya Allah kalo ada jurnal tertulis, akan saya aplod. Tapi, kebanyakan sih tentang politiknya nanti. Huaaaammm…bikin ngantuk itu 😀

    Indonesia-Thailand sih 3-5 juta. Tau de kalau sampe nyebrang ke India. Mungkin kalau Indo-Thailand cuma nunut lewat doang biayanya bisa ditekan lagi. err.. politik? yang lain ada nggaaaak? ahaha

  15. malambulanbiru said: Indonesia-Thailand sih 3-5 juta. Tau de kalau sampe nyebrang ke India. Mungkin kalau Indo-Thailand cuma nunut lewat doang biayanya bisa ditekan lagi. err.. politik? yang lain ada nggaaaak? ahaha

    Wow, 5 juta ya? Nunggu duitnya jatuh dari langit! :DAtau gini aja, Mbak yang ngerencanain semuanya, ntar saya tinggal jalan aja? Wkwkwkw… Anyway, MBP itu sendiri kan singkatan dari Masyarakat, Budaya, dan Politik. Nah, tapi kebanyakan itu yang dibahas politiknya. Nggak asyik! Beda dengan MBP Eropa semester lalu 🙂

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s