Cincang “Rectoverso”

Mencincang, tidak cuma urusan masak-memasak. Buku juga bisa dicincang. Dengan mulut. Lewat suara. Diskusi, tepatnya.

Itulah yang dihadirkan oleh Media Club, Sub-Divisi Ilmiah HI Unair. Bertempat di Ruang Cakra Lama, acara cincang buku itu berlangsung Jumat pagi (26/3) pukul 09.30 WIB hingga 11.30 WIB. Dalam kesempatan pertama tersebut, buku yang mendapat kehormatan untuk dicincang adalah Rectoverso-nya Dewi ‘Dee’ Lestari.

Kenapa Rectoverso? Media Club sengaja memilih buku bersampul dominasi hijau itu karena mengusung konsep yang berbeda dengan buku kebanyakan yang beredar di pasaran. Hibridasi 11 kisah dan 11 lagu. Maka, ketika selesai satu pembacaan cerpen, kami pun menyetel lagunya. Lalu, membicarakannya. “Menurutku begini… menurutmu begitu”.


Oki, sebagai pembaca ‘fanatik’ Rectoverso, sangat bersemangat mencincang Hanya Isyarat. Deva memberikan tanggapannya. Dibantah sama Oki. Saya memperhatikan. Panas!

Malaikat Juga Tahu, atas usul Reni, juga mendapat porsi percincangan yang cukup banyak. Kendati beberapa peserta belum membaca tuntas karya Dee, bahkan baru membacanya di lokasi cincang, juga tidak menyurutkan minat untuk berargumen. Misalnya, Mega, Surotul, Ririn, Renitha, juga Fafa. Salah satu cerpen yang difotokopi, Malaikat Juga Tahu, kami baca dalam diam. Serentak. Setelah itu, penyegaran dilakukan sambil mendengarkan lagunya. Setelah itu, pembedahan dimulai.

Acara yang berlangsung selama hampir dua jam, terpotong setengah jam untuk meng’hargai’ jam karet Indonesia itu, terbilang sukses. Meski tanpa cemilan, namun peserta menikmati. Sesekali obrolan beralih pada buku-buku dan film-film, apalagi jika punya kaitan dengan cerita-cerita dalam Rectoverso. Seorang jurnalis dari Retorika, majalah di FISIP, juga meliput acara tersebut. Mantaplah!

Praja, anak HI ’07, pada last minutes, datang memberikan tambahan pencerahan. Teori Roland Barthes dia kemukakan mengenai gaya menulis Dee. Bahwa, Dee bukanlah penulis yang determinatif, yang menentukan ini baik, itu buruk. Namun, dia adalah penulis yang menawarkan menu ‘netral’ dan memberikan keleluasaan pada pembacanya untuk menginterpretasikan karya-karyanya. In short, penulis yang tidak me’remeh’kan kecerdasan pembaca.

Sebelum hidangan penutup saya sajikan dengan kata “Assalamu’alaikum”, masing-masing peserta cincang Rectoverso membeberkan kritik mereka terhadap karya Dee yang unik itu. Ada yang bilang, cerpen-cerpen Dee termasuk ‘agak’ berat. Banyak metapornya. Agak susah dimengerti. Harga bukunya mahal *ini nih*. Rectoverso tidak hemat kertas. Ada juga yang bilang, “PAS” alias belum bisa memberikan komentar.

Saya dan Reni yang menangani Media Club mendapatkan cukup banyak masukan dari para peserta. Maklum, karena ini acara perdana yang kami lansir, masalah publikasi, konsumsi, persiapan acara, masih perlu kami benahi. Ada juga saran mengemuka, “Kalau acara seperti ini diadakan, undang langsung penulisnya.” Insya Allah, jika HIMA mau membiayai, penulisnya langsung didatangkan. Beruntung, salah satu anak HI 2008, Mira, beberapa waktu lalu menggelontorkan novelnya. “Target cincang selanjutnya!”

Overall, mencincang Rectoverso mengasyikkan. Oki bahkan sempat-sempatnyanya men-tweet Dewi Lestari yang langsung mendapat respons positif dari penulis yang juga penyanyi itu. What a great honor!

Iklan

2 thoughts on “Cincang “Rectoverso”

  1. Aku kok kurang suka/bisa menikmati baca “Rectoverso” yg menurut temen-temenku bagus, pada akhrinya di tengah-tengah, aku tutup aka nggak dilanjut’in lagi, hehehehehehe

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s