Perahu Kertas, Naskah Lomba, dan Jurnal Glostra

Setidaknya, tiga kegiatan itulah yang saya lakukan seharian ini.
Bahkan, jurnal Globalisasi dan Strategi baru bisa saya rampungkan
pukul 3 pagi. Sebuah kerja yang cukup menyenangkan. Saya pun jadi
punya alasan untuk menambah jam tidur nanti.

Perahu Kertas mulai saya lahap sejak kemarin. Tinggal separo lagi.
Sehari sebelumnya berkutat dalam acara bincang buku “Rectoverso”, buah
kreativitas Dee yang berikutnya itu pun mampu membetot saya. Karakter
Kugy dan Keenan seakan-akan ‘memaksa’ saya agar terus ‘menyaksikan’
aksi mereka. Kelincahan Dee membawakan plot demi plot juga menjaga
kenikmatan membaca saya. I love Dee’s books!

Sambil mengistirahatkan mata, saya pun beralih ke layar laptop.
Menilik deadline jadwal lomba-lomba menulis. Kebanyakan akan ditutup
31 Maret. Saya bergegas. Harus ikut. Mumpung weekend. Mumpung bohlam
ide di kepala berpijar terang. 2000 kata pun tertorehkan, sejak sore
hingga lewat Isya. Lega. Simpan di flashdisk sebagai back-up data.
Begitulah cara saya menghargai tulisan-tulisan yang saya ikutkan
kompetisi. Biar kalau terjadi apa-apa pada laptop, saya tidak terlalu
panik.

Naskah selesai, saya hendak kembali bercumbu dengan Perahu Kertas.
Untung teman-teman kontrakan sesekali menjenguk saya di kamar dan
mengingatkan tugas-tugas jurnal yang belum selesai. Saya keluarkan
artikel Globalisasi dan Strategi dari dalam tas. Pula sekotak pensil
warna. Saya mulai membaca dan menggarisbawahi. Biar pemahaman tidak
menguap, langsung saya rakitkan di halaman word.

Sementara itu, jurnal Kosmopolitanisme, Nasionalisme, dan
Fundamentalisme (ini satu paket mata kuliah) belum saya kerjakan.
Padahal besok harus dikumpulkan. Demikian pula dua jurnal Geopolitik
dan Geostrategi yang masih saya utang. Ah, mulai menimbun nih! At
least, nggak separah semester lima lalu.

Well, now the time to sleep tightly.

Good night, MPers. For you who read this in the morning, I just could
say: “Good morning!” :))

Iklan

10 thoughts on “Perahu Kertas, Naskah Lomba, dan Jurnal Glostra

  1. #Mbak Leila: Good afternooon *kentara banget bangunnya siang* hehehe… Makasih ya doanya. Amiiin :)#Mbak Desi: Siaaaaaaaaaaaaang, Mbak :))#Mbak Wiwiek: Iya, nih. Bentar lagi saya mencapai dermaga :)#Mbak Vina: Hahahaha… Begitukah endingnya? Kok, gantung? 😀 Wuiiiih… harta karun yang berharga ya, Mbak. Saya suka bahasanya. Lancaaaaaaaar…. Mbak ngoleksi buku-buku Dee yang lain? :D#Mbak Tutuq: Begitulah, Mbak. Makanan sehari-hari 😀

  2. lafatah said: Kudu beli deh :)Termasuk harta berharga euy.Asyik dibaca kapan pun. Apalagi sambil baca musiknya :))

    Pastiiii …Kalo dalam kasusku, yang terjadi adalah memang belom rejekinya untuk dapet buku tersebut, Tah. Yang pertama taun lalu, waktu mo nitip m’Agus yang kebetulan lagi dinas ke Denpasar. Berhubung ternyata jadwal conferencenya sangat hectic, akhirnya m’Agus cuma bisa mampir ke Periplus di bandara Ngurah Rai. Dan dengan sangat menyesal, Rectoverso enggak tersedia disana.Yang kedua, pas kami mudik kemaren ini.Karena beli buku2nya nyicil (enggak dalam satu kali belanja), akhirnya Rectoverso malah kelupaan enggak dibeli! hehe, garing banget, kan? Ntar lah, nitip ama temen yang kebetulan mo kesini.Karya-karya Dee memang termasuk yang layak dikoleksi.Apalagi buat tipe-tipe kayak kita yang menganggap bahwa harta berharga itu ya buku, Tah! *_*

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s