Menebus Impian

Buku yang diadaptasi oleh Abidah el-Khalieqy dari film arahan Hanung Bramantyo itulah yang didiskusikan oleh Book Club Deteksi Jawa Pos. Saya bersama Dani (mahasiswa PENS-ITS), Utari (siswi SMA 7 Surabaya), Desty (siswi SMA Stella Marice), dan satu lagi siswi kelas dua SMA 21 Surabaya *lupa namanya, dooooh* diundang ke Excelso, PTC (Pakuwon Trade Center) untuk men’cabik-cabik’ isi novel itu pada Rabu (31/3).

Semalam sebelumnya, saya ke Graha Pena mengambil novel tersebut dan dalam waktu kurang dari sehari, saya bisa menamatkan 99% isinya. Tumben saya seniat itu membaca novel. Hehehe… Alasan profesionalisme, tentu saja. At least, karena itu pemberian dan ada kewajiban untuk membahasnya, setidaknya saya tahu isinya biar enak dan tidak bengong ketika mendiskusikannya dengan bookaholic yang lain.

Bahkan, saya merelakan novel yang akan diputar filmnya pada tanggal 15 April itu untuk saya coret-coret dengan pensil warna. Menandai paragraf berbau feminis khas Abidah (saya menyimpulkan feminis, bercermin dari Perempuan Berkalung Surban), menggarisbawahi kutipan-kutipan menarik, membuat catatan pinggir atas poin-poin penting, serta berkomentar ‘gembira’ pada kemelencengan riset tentang ikan arwana.

Kuliah MBP Afrika terpaksa tidak bisa saya ikuti karena bertabrakan dengan jadwal diskusi buku itu. Anyway, sebagai orang katrok, itulah pertama kalinya saya masuk Excelso, ‘warung kopi’ elit. Pertama kali juga ke PTC. Hanya bermodalkan petunjuk minim dari teman, saya pun berangkat sendiri dengan motor. Gerimis menaburi laju saya saat berada di sekitar Surabaya Town Square.

Hampir 45 menit saya bermotor. Sempat takut kalau saya salah jalan. Lokasinya yang jauh, kata teman saya, terbukti.

Petunjuk dari Zaki, kru Deteksi, mengantarkan saya di Excelso lantai pertama. Tak ada wajah-wajah seusia saya. Hampir jam 4 padahal. Saya setia menunggu. Mungkin dalam perjalanan.

Hampir setengah jam tak ada wajah yang saya kenali dan menjurus ke bookaholic, saya pun akhirnya mendapat pesan pendek. Pindah lokasi. Sama-sama Excelso, namun di SPI alias Supermal Pakuwon Indah. Lokasi di lantai teratas. Saya pun bergegas. Ketemu!

Perkenalan dan basa-basi, diskusi pun dimulai. Dari kelima bookaholic, hanya saya dan siswi-SMA-21-Surabaya itu saja yang hampir dan sudah menamatkan ‘Menebus Impian’. Dani, Utari, dan Desty pun mendaulat saya untuk menceritakan secara singkat isi novel itu. Atas pinta Mbak Fikri, kru Deteksi, juga.

Sambil berbincang, masing-masing kami disodori secarik kertas untuk kami isi dengan nama, asal kuliah, buku favorit, nama penulisnya, kasih bintang berapa untuk ‘Menebus Impian’, serta pendapat kami mengenai novel berhalaman 300 itu.

Diskusi selesai, fotografer mengambil foto Dani dan Utari. Pesanan makanan dan minuman pun datang. “Ini nih yang saya tunggu-tunggu”, celetuk saya dalam hati. Hahaha… Akhirnya, menu Excelso yang terasa elit bagi kantong saya itu pun bisa saya nikmati. Gratis. Senangnya…

Dani dan Utari selesai dijepret-jepret, giliran saya, Desty, dan siswi-SMA-21-Surabaya itu yang diambil gambarnya. Kami diarahkan agar bergaya ini-itu. Biar kesannya hidup, kami pun mengobrol-obrol. Gerak tangan, gesture, mimik muka, semuanya kami mainkan. Susah juga ternyata *kebayang deh profesi model yang disuruh bergaya ini itu* Hingga saya merasa gigi saya kering saking berusahanya tampil cute

Gambar yang didapat sudah banyak, kami bertiga kembali ke meja. Meneruskan santap petang yang lezat itu. Saya memang nggak hapal nama-nama menunya. Anyway, saya datang untuk menikmati, bukan menghapal. Hahaha…

Novel gratis. Makanan dan minuman yang dibayarin. Kru Deteksi yang ramah-ramah. Teman yang bertambah.

Alhamdulillah… Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang hendak kau dustakan?

*menanti edisi cetak Senin depan, bisa diakses pula secara online di jawapos.com*

Iklan

4 thoughts on “Menebus Impian

  1. lafatah said: coret-coret dengan pensil warna. Menandai paragraf berbau feminis khas Abidah (saya menyimpulkan feminis, bercermin dari Perempuan Berkalung Surban), menggarisbawahi kutipan-kutipan menarik, membuat catatan pinggir atas poin-poin penting, serta berkomentar

    Harusnya saya begini juga kalau mau buat review ya? jadi lebih mantap ‘mengkritisinya’btw, ini pengalaman yang menyenangkan sekali 🙂

  2. #teh febi: sy biassnya bgtu biar gampang mngambil intisari bcaan. Teh febi biassnya gmna?#mbak tutuq: diskusi buku, mbak. Jawa pos yg ngadain.#mbak leila: tiap hr senin penayangannya, ini ksmptan pertama sy.

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s