Mendadak Kondang(an)

Beginilah hidup sebagai single.

Bisa digandeng sama siapa saja.

Ups…

Mbak Alfa, kenalan ketika bedah novel Negeri Van Oranje.

Lulusan Sastra Inggris Unair.

Penyuka buku juga. Profesinya sebagai penulis, penerjemah, copy writer, freelancer.

Bukan isapan jempol lagi kalau dia sering mengajak saya nongkrong di De Sava, Togamas.

Ngobrol seputar dunia literasi, curcol, dan yang lebih penting lagi…

Saya diajak ke Togamas biar ada yang bisa dititipkan tas kalau dia ke kamar mandi atau musholla!

What a…

Kemarin siang hingga petang, kami nongkrong di sana.

Pulang. Saya mengantarkan dia ke rumah anak yang di-les-privat-i-nya.

Saya makan nasi penyet dulu. Pulang ke kontrakan. Mandi.

Selesai.

Ponsel saya berdering kembali.

“Alfa Gigit Ular”

Nama itu yang muncul berkedip-kedip.

Dua kata terakhir adalah judul cerpennya yang dimuat di majalah remaja ibukota: Aneka atau KaWanku? Hmmm… Saya lupa.

“Ada apa?”

“Tah, bisa nggak ikut Tante ke acara resepsi?”

“Hah? Ujan lho, Mbak.” Saya sudah nyaman dengan posisi duduk sambil baca The Boy in The Striped Pyjamas.

“Ayo, Tah. Sepupuku ternyata mendadak nggak bisa nganterin. Sekarang kamu siap-siap, ya? Aku pakai krem”

Krem, maksudnya, kostumnya. Biar saya bisa menyesuaikan juga.

“Pakai sepatu, ya?”

“Mbak, aku nggak punya sepatu.”

“Lho?”

“Aku pakai crocs aja, ya?”

“Nanti deh aku pinjemin sepatu masku.”

“Tapi…”

“Ayolah…”

Oke. Saya menerima dengan tiga alasan: 1) kasihan. 2) saya kepikiran blog ini – ada yang bisa diceritakan, sepertinya seru. 3) bisa makan gratis di acara kondangan.

Saya shalat isya dulu.

Saya makan satu Richeese Rolls.

Saya buka lemari, ketemu batik corak biru.

Saya baru ingat kalau kancing atasnya copot satu.

God!”

Saya kenakan kaos putih saya. Selungkupkan batik. Kancingnya?

Gimana ya biar kaos putih saya nggak kelihatan gini. Atau justru terkesan kasual kalau kaos dalam saya kelihatan? Ah! Nggak sopan.

Aha!!

Ide cemerlang! Saya ambil pengokot alias stappler yang tersimpan di tas.

Coba saya kokot batik saya, di bagian yang kancingnya copot itu.

Tidak berhasil. Kain batiknya agak ketebelan.

Damn!

“Haduh! Nggak punya batik lain!”

Nggak apa-apa deh.

Pakai jins biru. Crocs biru. Batik biru. Biru ketemu krem? Terserah apa kata dunia!

Buru-buru saya turun ke bawah.

Gerimis berderai di luar.

Saya keluarkan motor Praja. Pinjam.

Namun, mata saya tertumbuk pada pantofel Domi. Pantofel yang saya pinjam waktu ke Jakarta.

Bagus. Pinjam, ah! Menghindari resiko kebesaran atau kekecilan sepatu Masnya Mbak Alfa.

Saya menembus malam dengan guyuran gerimis.

Untung saya berinisiatif mengenakan jaket.

Bagus.

Mbak Alfa ternyata sudah menanti.

Dia sudah ber-helm. Berjaket hitam pula. Setelan jilbab dan kostum. Benar-benar warna krem.

Let’s go!

Tempat kondangannya di Convention Hall, menuju arah ITS.

Bermotor. Menembus gerimis. Berkali-kali ber-OH…GOD… Lancarkanlah perjalanan hamba-Mu.

Sampai di lokasi acara. Buru-buru menuju ke gedung. Waktu sudah menunjukkan pukul lebih dari setengah 9.

Beberapa orang tampak duduk-duduk di depan gedung. Mereka sepertinya mau pulang.

Kelihatan sepi. Tiada gaungan musik.

“Telat!”

Sangat.

Mbak Alfa bela-belain datang karena itu acara mantenan anak tetangga.

Nggak enak kalau nggak datang.

Nanti jadi bahan omongan.

Saya paham.

Mantenannya sudah turun dari pelaminan.

Sedang ngobrol dengan anggota keluarganya.

Mbak Alfa salaman. Saya ikut-ikutan.

“Ini saudara saya.”

Itu kata Mbak Alfa pada mempelai, merujuk pada saya.

Prasmanan masih ada.

Kami berdua dipersilakan makan.

Alhamdulillah… Nggak sia-sia perjuangan kondangan mendadak ini.

We’re the latest guests who came.

Orang-orang sudah membereskan pelaminan.

Kru katering bersiap-siap.

Saya makan dengan perasaan kagok, campur-baur. Berusaha untuk tetap tenang.

Saya tidak begitu pede dengan tatanan rambut saya yang agak acakadut, kostum saya yang ‘keren’ sekali, dan sepatu yang bunyinya menyiksa telinga. Berusaha untuk tenang dan terlihat percaya diri.

Basa-basi dengan ibunya si mantenan, sebentar.

Kami pun pulang.

Kondangan lima belas menit yang… *silakan Anda deskripsikan dalam satu kata*

Iklan

9 thoughts on “Mendadak Kondang(an)

  1. Kondangan tercepat….!! eh mas, Togamas di Surabaya di mana? Di sana juga ada buku berbhs Inggris-kah? Abis kalo pulkam misua suka ngomel di Gramedia koleksi buku bhs Inggrisnya dikit, biasanya aku suka bawa ke Periplus, bingung nyari toko buku di Surabaya yg berbhs Inggris.

  2. #Mbak Helene: Hehe.. iya, the fastest I’ve experienced. Togamas di Surabaya itu, setahu saya ada di tiga lokasi. Tapi, yang paling sering saya kunjungi karena faktor jarak dan kenyamanan adalah Togamas Petra di Jalan Pucang. Ada cafe-nya di situ. Tapi, mengenai koleksi buku bahasa Inggris, masih kurang, deh. Justru buku-buku impor ditaruh di meja diskon. Itu pun buku-buku yang agak ‘lawas’. Kalo yang baru, berburunya di Periplus saja :))#Mbak Fe: Iya, Insya Allah seperti itu :)#Mbak Diyah: lil’ bit. Tapi, saya cukup menikmatinya sebagai pengalaman baru :))#Mbak Gita: Oya? Waaah… nggak nyangka. Kemarin lagi ngerasa ‘cemerlang’, makanya tulisan model gini yang keluar. Hehe… Makasih, Mbak 🙂 *blushing*

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s