Confessions of A Broken Heart

“Apa yang sedang kamu pikirkan?”
”Kematianku yang semakin dekat.”
”Kamu tahu?”
”Perasaanku mengatakan.”
”Just your feeling, huh? Why do you believe it?”
“Apalagi yang bisa aku percayai selain kata hatiku. Semua orang terlihat sama di mataku. Mereka lahir untuk mengkhianatiku. Aku muak. Muak!”
“Kamu masih percaya, kan, padaku?”
”Aku tak pernah tahu seberapa lama kau betah menjadi sahabat yang jujur padaku.”
”Pada Tuhan, mungkin?”
”Hahaha… Jangan sebut Dia lagi.”
”Separah inikah patah hatimu?”
”Kamu sudah tahu jawabannya.”
Dia memelankan Confession of A Broken Heart yang diputar dari netbook-nya. Lalu, mulai menatap serius padaku. Kursinya didekatkan hingga berderit jelas di telingaku.
“Lagu ini mewakili perasaanmu…”
Tawaku ingin meledak. Mengapa Amanda baru mengatakannya sekarang?
Aku hanya menyuguhkan sebaris senyum sambil melengoskan wajah ke samping. Aku merasa tolol kalau harus menembus matanya.
”Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?”
”Menunggu malaikat jernih itu datang padaku dan memberikan ciuman hangatnya di keningku.”
”Kamu bukan Langit yang aku kenal selama ini…” ujarnya dengan nada meninggi. ”Kamu tak pernah sepatah hati… ini…”
”Tujuh orang telah melakukannya padaku. Dia orang yang kedelapan…”
Aku melanjutkan. ”Kamu baru sekali jatuh cinta. Tentu saja tak paham perasaanku.”
”Haruskah mengalami dahulu untuk memahami sesuatu? Aku perempuan. Aku peka.”
”Tapi… Tetap saja…”
”Kau terlalu perasa sebagai laki-laki.” Serakan Lindsay Lohan di tengah reffrain langsung dia pause.
Hening memantul dari dinding-dinding di sekeliling kami.
”Kau payah! Delapan wanita saja telah membuatmu menyerah. Payah!” Amanda memamerkan senyum sinisnya yang membuatku gemas dan ingin menamparnya. Terkadang dia lupa posisinya sebagai sahabat bagiku.
”Oke. Aku minta maaf. Ucapanku mungkin keterlaluan. Aku seharusnya menghiburmu. Bukan mengata-ngataimu seperti ini.” Dia seakan-akan bisa membaca pikiranku. ”Now, I just want you to wake up! Kau terlalu meremehkan Tuhan kalau berhenti sampai di sini. Mana Langit yang selalu menularkan energi positif bagi orang-orang di sekitarnya? Mana Langit yang takkan berhenti berlari sebelum menggapai apa yang dia inginkan?”
”Mungkin aku kena karma…”
”Atas apa?”
”Ucapanku selama ini.”
”Aku masih belum mengerti.”
Sebelum melanjutkan omonganku, Amanda memainkan kembali Confession of A Broken Heart. Kepiluan semakin menikamku. Meski kutahu begitu, tak juga kuperintahkan Amanda untuk berhenti memutar lagu itu.
“Dia sedang mengujiku…”
”Dia Yang di Atas kan, maksudmu?”
”Siapa lagi?”
”Baik. Teruskan…”
”Aku sepenuhnya percaya pada hukum kekekalan energi. Apa yang aku ucapkan, itu pula yang akan kudapatkan. Dia mengubah energi kata-kataku dan mengembalikannya dalam bentuk lain. Ujian ini, misalnya… Tapi, hukum itu membuatku merasa payah kali ini.”
Amanda tersenyum. Matanya berbinar. Tanda yang sangat kukenali: dia telah menemukan ide brilian.
”Lalu, buat apa kamu membiarkan dirimu lumat dalam ujian ini?”
Shit! Pertanyaan bodoh itu lagi!
”Tidakkah kau lihat Tuhan sedang bekerja padamu dengan cara berbeda? Tuhan tak selalu menyiapkan hidangan kebahagiaan dengan hal-hal manis seperti yang kau harapkan. Dia menitipkan pesan bahagia lewat sebatang cokelat yang agak pahit, misalnya. Itu agar hidupmu komplit.”
”Kamu tidak sedang berceramah, kan?”
Amanda tergelak. Aku suka caranya tertawa. Lepas. Tanpa beban. Perlahan-lahan himpitan baja di hatiku melumer.
”Baik. Sekarang aku harus bagaimana?”
”Langit, aku tahu kamu cerdas. Kamu pasti tahu jalan mana yang hendak kamu tempuh.”
Aku mengangguk. Tepat saat itu juga lagu Confession of A Broken Heart berhenti. Entah disengaja atau tidak oleh Amanda, lagu berikutnya yang mengalun adalah Lucky-nya Jason Mraz feat Colbie Caillat.

Do you hear me
I’m talking to you
Across the water across the deep blue ocean
Under the open sky, oh my baby I’m trying


I’m lucky I’m in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again
Ooooh ooooh ooooh oooooh ooooh

Iklan

6 thoughts on “Confessions of A Broken Heart

  1. sukmakutersenyum said: “God, do You hear me?”hehehe, kadang2 nek doaku gak dijawab aku sering nanya gtu (manusiawi bgt yak?) hehe

    Hehehe… Manusiawi dong, Mbak.Manusia butuh untuk diperhatikan, didengarkan, dan dikabulkan permintaannya…Wajar sekali :))

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s