Bincang dengan Sanie B. Kuncoro dan Ida Ahdiah

May Day, Togamas Petra Surabaya.

Beruntung saya punya kenalan Mbak Alfa. Seorang scriptwriter, penerjemah, penulis, juga pengajar privat lulusan Sastra Inggris Unair. Saya tak sengaja bertemu dengannya dalam acara bedah buku Negeri van Oranje (NVO) setahun lalu. Setelah itu, kami masih sering kontak dan kopi darat di Togamas, ngobrolin buku dan hal-hal yang berkaitan dengan dunia literasi.

Nah, penggiat buku ini yang sebelumnya bergabung dalam Surabaya Readers Club ini pula yang mengundang saya di acara peluncuran Surabaya Women Book Club. Acara ini digandeng dengan workshop singkat kepenulisan yang menghadirkan Sanie B. Kuncoro (penulis novel laris Ma Yan dan Garis Perempuan) serta Ida Ahdiah (penulis Teman Empat Musim). Sebagai penggemar acara seperti ini, tentu saja saya tidak mau melewatkan kesempatan berharga tersebut.

Sepulang dari RSI Jemur Sari – membantu Mbak sepupu saya survei, mampir di DTC membeli seprai untuk tetangganya yang habis nikah, serta makan bakso dan es teler lezat di Pacar Keling, saya pun bergegas memacu motor ke Togamas. Sudah lewat setengah jam dari acara dimulaikan, yaitu pukul 13.00 WIB. Namun, berangkat dari pengalaman sebelumnya (bedah buku NVO), acaranya saya prediksikan bakal molor. Memang benar! Aula Togamas belum penuh. Orang-orang masih wara-wiri, termasuk panitianya. Kebetulan saya kenal beberapa orang panitia yang memang juga suka nongkrong di Togamas, seperti Pak Rosdiansyah dan istrinya. Saya lihat pula Mas Imam Risdiyanto (suami Mbak Tria Ayu, penulis, sekaligus editor di Penerbit Bentang Pustaka). Well, sudah saya bayangkan menyenangkan dan bermanfaatnya acara ini. Apalagi doorprize berupa buku-buku yang nggak mungkin nggak ada. Itulah salah satu motivasi saya, sebenarnya. Hahaha…

Acara dimulai pukul 14.10 WIB. Menanti pengunjung yang tak kunjung memenuhi aula. Saya tidak terlalu kaget mengenai kondisi ini sebab saya sendiri pernah mengalami sebagai panitia bedah buku di acara Divisi Ilmiah HIMA HI. Buku yang kami bedah adalah Rectoverso-nya Dewi Lestari. Biar lebih antusias, saya sampai mengiming-imingi teman-teman saya bahwa Dewi Lestari akan datang.


Kembali ke acara bedah buku. Sebelum dimulai, saya sempat berbincang singkat dengan Ibu Zaiduna, ‘pengacara’ yang juga istri Dekan FH Unair. Beliau tampak semangat dan antusias menghadiri acara ini. Dan, memang terbukti ketika selama acara berlangsung, beliau memberikan masukan-masukan yang konstruktif bagi Surabaya Women Book Club. Beliau sempat mengatakan secara langsung pada saya, “Selamatkan anak bangsa kita, ya?” yang saya jawab dengan semangat pula, “Iya, Bu. Melalui tulisan!”


Sanie B. Kuncoro dan Ida Ahdiah pun didaulat ke depan. Acara dibagi menjadi beberapa sesi: sambutan dari ketua panitia, sambutan dari Ibu Zaiduna, workshop kepenulisan sekaligus bedah buku, dan tanya jawab. Awal acara kurang semarak karena karena kurang luwesnya dan agak kalemnya pembawa acara yang sekaligus menjadi moderator. Tapi, semakin ke tengah, terutama ketika Mbak Sanie dan Mbak Ida memaparkan pengalaman, proses kreatif, tips-tips menulis, dan sebagainya, saya makin antusias. Menarik!!!

Bahkan, sebelum sesi tanya jawab dibuka, saya sudah berulangkali melirik 10 bingkisan buku yang ada di depan kedua penulis. Well, saya tidak boleh pulang dengan tangan hampa. Harus dapat buku gratis!!! Hahaha…

Saya pun mencoret-coret di agenda hitam saya. Ada empat pertanyaan yang saya ajukan: 1) Anda berdua kan lebih dahulu dikenal sebagai penulis cerpen. Mbak Sanie saya ketahui adalah anggota Penulis Anita Cemerlang. Ada yang mengatakan kalau penulis cerpen dikenal ‘bernapas pendek’, nah bagaimana cara Mbak berdua memanjangkan napas dalam menulis novel dan buku ini? (well, setelah membeli dan membaca, barulah saya tahu kalau Teman Empat Musim adalah kumpulan cerpen); 2) Mana yang lebih prestisius, dikenal sebagai penulis cerpen ataukah penulis novel?; 3) Apakah Mbak berdua memiliki ritual khusus dalam menulis?; 4) Dari paparan Mbak Ida mengenai bukunya, saya jadi teringat pada buku The Interpreter of Maladies yang ditulis oleh Jhumpa Lahiri. Saya memiliki ekspektasi tinggi jika buku Mbak Ida ini dialihbahasakan, misalnya, dan diserahkan ke Panitia Pulitzer Prize, akan mendapatkan penghargaan serupa seperti yang diraih Lahiri.

Oya, sebelum bertanya, saya menyatakan rasa senang saya bisa bertemu dengan mereka berdua. Saya juga bilang kalau sudah menjadi kontak mereka di facebook. Mbak Sanie dan Mbak Ida langsung bertanya, “Oya? Namanya siapa, ya?” Saya pun menyebutkan nama lengkap saya dan mereka berdua langsung sumringah. Mbak Sanie bilang, “Oalah, Lalu Abdul Fatah??? Kok namanya ada ‘Lalu’-nya?” Dalam hati saya berpikir: jangan sampai deh nama saya dikira alay! Dan saya pun menyebutkan daerah asal saya.

Berikut jawaban mereka terhadap pertanyaan saya.

1) Memang, tidak semua ide bisa dituliskan menjadi novel atau cerpen. Ada ide yang ‘sudah cukup’ dijadikan cerpen. Tak perlu penggambaran yang berbusa-busa menjadi novel. Begitu pula sebaliknya. Mbak Ida Ahdiah bahkan mencontohkan salah satu penulis Rusia, saya tidak mencatat namanya, yang tidak mau menulis novel. Dia hanya ingin dikenal dengan cerpen-cerpennya. Saya, tentu saja kagum sekaligus mengiyakan dalam hati. Kalau memang esensi sebuah masalah telah bisa tersampaikan lewat cerpen, ya… ngapain harus dipanjang-panjangkan dalam novel?

2) Bagi mereka, prestisius antara menulis cerpen dengan menulis novel, sama saja. Tidak ada yang lebih membanggakan antara satu dengan lainnya. Jawaban inilah yang membuat saya senyum bangga pada mereka juga pada diri saya. Bagaimana tidak? Saya seringkali belum yakin dan pede disebut penulis kalau belum menulis novel atau buku yang jumlah halamannya agak ‘gemuk’.


3) Mbak Sanie punya ritual khusus sebelum menulis, yakni mandi, berdandan, dan wangi. Dia biasanya menulis di pagi hari. Lain lagi dengan Mbak Ida. Sebelum menulis, terlebih dahulu dia memutar tiga lagu wajibnya: Stasiun Balapan-nya Didi Kempot, Kalalang (lagu Sunda gitu, saya kurang tahu nama tepatnya), dan Four Seasons-nya Vivaldi. Begitu menyebut judul terakhir inilah, saya teringat sama judul buku beliau.

4) Mbak Ida mengakui belum pernah membaca The Interpreter of Maladies-nya Jhumpa Lahiri.

Akhir kata, saya bersyukur sekali bisa hadir di acara launching SWBC, bedah buku, sekaligus mengikuti workshop singkat kepenulisan tersebut. Saya meraup banyak ilmu tentang menulis. Juga mendapat asupan pengetahuan mengenai Montreal, Quebec, Kanada, yang selama 8 tahun menjadi tempat bermukim Mbak Ida. Pengalaman intensif bergaul dengan para imigran di kota itulah yang menjadi nyawa dan insipirasi cerita-cerita Mbak Ida. Saya membeli bukunya, meminta tanda tangan dan bubuhan kata penyemangat, serta telah menuntaskannya dalam waktu dua hari. Apa yang saya perkirakan memang tidak meleset. Spiritnya tidak jauh berbeda dengan cerpen-cerpen Lahiri. Sebagai mantan wartawan Republika, cerpen-cerpennya teramu dengan ciamik antara fakta dan sastra.

Saya menjagokannya mendapat Pulitzer Prize!!!

Iklan

12 thoughts on “Bincang dengan Sanie B. Kuncoro dan Ida Ahdiah

  1. #Mas Tofan: Alhamdulillah… Sangat asyik, Mas. Seperti mendapat suntikan semangat bertemu orang-orang yang saya kagumi sepak-terjangnya :)#Mega: Amin…ya Robbal ‘Alamiiin… Doa yang sama untukmu juga 🙂

  2. fefabiola said: Oh…Sanie B. Kuncoro itu Mbak?

    Betul, Mbak.Banyak kok orang yang kecele dengan nama beliau… Termasuk saya dulu 😀

  3. niwanda said: Waaah, keren yaaa…

    Heheheh… Kalo acara2 semacam ini, saya akuin emang keren kok, Mbak. Wkwkwkw… Terutama buat saya pribadi 😀

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s