Tempe Goreng dan Perkedel Jagung

Terima kasih saya ucapkan pada ibu warung yang telah memberikan tempe goreng dan perkedel jagungnya. Saya terharu. Sebagai anak kos (eh, kontrakan), saya justru tak pernah menyangka akan mendapatkan rezeki melalui ibu.

Ibu warung itu, jika ditilik sekilas dari penampilannya, seusia dengan kakak perempuan saya yang kedua. Wajah dan postur badannya pun benar-benar mengingatkan saya pada kakak perempuan saya.


Sebelum-sebelumnya, tiap kali saya makan di warungnya, ibu muda itu selalu memanggil saya “Bli”. Saya dikira dari Bali. Namun, dalam kesempatan beberapa waktu yang lalu, saya menjelaskan kalau saya bukan dari Pulau Dewata.


Tadi malam, saya ke warung beliau. Memesan nascam alias nasi campur dan segelas es teh yang pahitnya cukup terasa di pangkal tenggorokan. Seperti biasa, kecepatan makan saya bisa disamakan dengan siput jogging. Hehehe… Nggak lambat-lambat amat kayak siput, tapi cukup lambat. Sangat jauh dari kecepatan mobil F-1, pastinya. Mengenai kecepatan makan ini, sudah saya singgung di banyak jurnal.


Pembeli yang bersamaan makan dengan saya, justru telah menyelesaikan makannya di saat saya masih setengah makan. Terus, ada lagi bapak yang datang dan mengambil duduk di samping saya. Pesan makan. Bapak kedua ini selesai, saya pun selesai. Ibaratnya, waktu makan saya sepadan dengan waktu makan dua orang berturut-turut. Sungguh!


Lalu, ketika saya duduk-duduk takzim memandangi piring dan gelas saya yang telah kosong, ibu warung yang sedang berkemas-kemas, tiba-tiba menyerahkan sebuah bungkusan plastik hitam.


“Buat Bli untuk di kosan!” katanya begitu.


Saya tidak sempat menanyakan isinya apa, tapi saya sudah nge-feeling kalau itu makanan. Spontan saya berujar, “Terima kasih, Bu!”


Lalu, saya kembali tepekur. Memikirkan kebaikan ibu itu. Saya ingin mengucapkan sesuatu yang lebih dari sekadar terima kasih, tapi saya tidak tahu harus menyusun kata apa. “Ah, tak perlu basa-basi!” Saya hanya berdoa di dalam hati agar rezeki ibu itu dilancarkan dan diberkahi. Benar, saya teringat sekali sama kakak perempuan kedua saya. Ya Allah… Terima kasih atas rezeki-Mu malam ini.


Ketika saya hendak membayar, saya tak lupa mengucapkan terima kasih kembali. Ibu muda itu pun tersenyum. Sekeluar dari warung, wajah saya sumringah.


Surabaya, 5 Mei 2010

Iklan

7 thoughts on “Tempe Goreng dan Perkedel Jagung

  1. lafatah said: “Ah, tak perlu basa-basi!” Saya hanya berdoa di dalam hati agar rezeki ibu itu dilancarkan dan diberkahi.

    setuju. beginilah sifat orang jawa timur yang menyenangkan. iya kan, Bli?

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s