Paman yang Baik Membuatkan Puisi “Matahari” untuk Keponakannya yang Masih Berusia 6 Tahun

MATAHARI

Aku punya matahari.
Tak pernah telat bangun pagi.
Bersinar tanpa henti.
Pulang ke rumahnya senja hari.

Aku punya matahari.
Bersinar dengan senang hati.
Kadang-kadang sinarnya menyengat.
Tapi, tubuhku dibuat sehat.

Aku punya matahari.
Bentuknya seperti telur dadar.
Aku jadi ingin makan matahari.
Siapa tahu aku bisa pintar.

Aku punya matahari.
Andai ia bisa kubagi-bagi.
Aku ingin memotongnya seperti pizza.
Lalu, aku memberi sepotong pada ayah,
sepotong pada bunda,
dan sepotong lagi pada adik Pramana.
Buat ibu guru, nanti saja.

Tadi malam, kakak perempuan kedua saya meminta agar membuatkan anaknya, Ridho, sebuah puisi. Tentang matahari. Ridho, saat ini masih duduk di kelas 1 MIN Karang Baru, Mataram. Dia diminta oleh gurunya untuk membuat puisi yang akan dipajang di majalah dinding.

Well, sebagai paman yang baik (uhuk!), saya pun bersedia saja. Sudah barang tentu, saya mencoba untuk memakai kata-kata yang ‘anak-anak banget’. Ketika saya mengetikkan kata-kata tersebut langsung via ponsel, saya berusaha untuk menyederhanakan bahasanya. I thought it was catchy for children. Gurunya juga bisa menangkap maksudnya.

But, puisi yang masih saya simpan di sent items ini saya baca ulang. Hmmm… Kok terlalu imajinatif, ya, buat anak kelas satu SD? Saya sepertinya juga telah salah dalam mempersepsikan maksud sms kakak saya itu. Saya pikir puisi tersebut hanya untuk memenuhi tugas pengumpulan saja, tanpa perlu dipajang-pajang di mading. Terus, gimana ya kalau teman-teman Ridho membaca puisi tersebut? Pahamkah mereka?

Oke. Saya tidak perlu meremehkan kemampuan anak SD. Mereka cerdas!

Iklan

19 thoughts on “Paman yang Baik Membuatkan Puisi “Matahari” untuk Keponakannya yang Masih Berusia 6 Tahun

  1. ivoniezahra said: Gak berat kok, bhasanya komunikatif.Bagus!^^

    Makasih banyak, Mbak Ivon…Hmmm… Saya jadi penasaran pendapat anak kecil tentang puisi saya ini. Well, kapan2 saya kasih ke mereka, entah anak-anak tetangga di kontrakan.:)

  2. sisapibelang said: Lucu…Suka bait ke tiga karna aku pecinta telur dadar.:D

    Telur dadar. Enak. Bergizi. Proteinnya itu lho. Murah pula. Layak di kantong anak kos.TOSS dong! :))

  3. lovusa said: asiknya punya paman yang baik dan pintar berpuisi 🙂

    *mempertimbangkan untuk beli helm baru atau tidak*Hehehehe…*merona* tuing…tuing…

  4. nitacandra said: berarti nanti nama penulisnya: Paman Fatah ya? :))btw, bagus kok puisinya 🙂 (tapi bu Guru ngga kebagian kue matahari, kasian dong Tah, hehe)

    Hehehe…Itu pun kalo Ido (panggilan buat Ridho) mau mencantumkan nama saya.Saya jadi pengin tahu juga reaksi ibu gurunya. Hmmm… nanti deh saya tanya ke ibunya Ridho 🙂

  5. meylafarid said: lucu puisinya..coba saya juga diberi telor dadar..mmm nyam nyam^_^

    Berkreasi sendiri dengan bentuk yang nggak matahari… 😀

  6. lafatah said: Terima kasih banyak, ya…Sebenarnya yang bikin saya ngakak justru kalimat terakhir…Apa ibu gurunya Ridho juga akan bilang hal yang sama dengan Mbak Uwie??? Nantikan! Hahah…Puisi tentang hujan? Sudah pernah saya bikin. Coba cek di http://lafatah.multiply.com/journal/item/750/Tulisan_Hujan

    iyaaas ih.. yg pling kocak itu emang klimat t’akhirnyaa.. eqeqeqzzz..pamaaaann laluuu… aq maunya yg luccu kaya yg bwat idoo ginii.. *requesst.. seorg kponakan lagi…* V^^..

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s