Judul Buku yang Bombastis

Seorang kawan sering ngedumel saat kami ngobrolin buku. Kali ini setting-nya di sebuah toko buku yang berdiskon seumur hidup.

“Aku paling nggak suka buku yang judulnya wah, tapi ternyata isinya geje alias nggak jelas gitu!”

Saya tertawa. Tepatnya sih, senyum terkembang. (Ingat novelnya STA deh!).

“Coba baca judulnya! Bombastis. Aku nggak yakin isinya sebombastis itu.” Dia mencomot sebuah buku dan menunjukkannya pada saya.

Lagi-lagi saya senyum.

Kawan saya ini memang tipikal orang yang skeptis. Dia tidak akan percaya pada sesuatu sebelum membuktikannya sendiri. Tak hanya berlaku pada suatu benda, tapi juga pada orang lain.

Dengan hati-hati, saya mencoba menjelaskan.

“Bro, kalau buku judulnya nggak menarik, mana ada pembaca yang mau baca. So that’s why, salah satu cara untuk meraih perhatian calon pembaca adalah dengan membuat judul yang heboh!”

Well, salah satu cara saja…

“Iya juga sih!” Akhirnya dia bergumam.

Pembicaraan terhenti sampai di sini karena dia mulai sibuk menggerayangi rak sosial politik. Saya beralih ke buku-buku bertema Asma’ul Husna. Mencoba membandingkan judul-judul buku sejenis. Sekadar riset ringan untuk keperluan resensi.

Dan, saat mengetik tulisan ini, terlintas juga ide-ide lain terkait judul yang ‘wow’ sementara isinya kurang representatif. Sekiranya, ini salah satu strategi bisnis juga. Ketika perusahaan-perusahaan berupaya keras melalui penciptaan merk dan kurang memerhatikan kualitas produk, maka hal itu juga berlaku di bisnis penerbitan buku.

Sependek pengamatan saya, buku-buku yang berjudul bombastis biasanya dari penerbitan menengah ke bawah. Mungkin ini trik untuk memompa tingkat penjualan. Hal ini pun tidak bisa digeneralisasi. Sebab, penerbit besar pun kadang berbuat sama. Dan, kalau memang judul hebohnya sesuai dengan isi bukunya, kan tidak masalah tho? Sah-sah saja.

Satu hal lagi. Kadar ke-bombastis-an, ke-tendensius-an, atau ke-heboh-an judul sebuah buku bagi setiap orang juga berbeda-beda. Bisa saja kawan saya itu menganggap judul buku ‘A’ sangat hiperbolis, tapi bagi saya biasa saja. Ini terkait masalah kepekaan rasa bahasa tiap individu juga.

So, skeptis boleh saja asalkan dengan kadar yang wajar. Buku yang berjudul bombastis pun tidak perlu di-judge buruk. Bijak kiranya jika bukunya dilahap terlebih dahulu baru diperbandingkan kekonsistenan judul dengan isi.

Pada kawan itu pun, saya berikan komentar.

“Kalau bisa, dibaca dulu bukunya. Kalau kamu kurang sreg, kan bisa ditulis resensinya. Poskan di blog. Kalau ada calon pembaca buku itu yang melirik resensimu, kan bisa jadi bahan pertimbangan dia untuk beli atau tidak. Gimana?”

Iklan

28 thoughts on “Judul Buku yang Bombastis

  1. kl judul bombastis msh wajar, tp kl endor yg bombastis smp buat ekspektasi selangit n buru2 bayar itu buku trs dibaca mak byuuur kok garing, ini yg rasanya dongkoooool banget…:)*apa kbr mas fatah?

  2. hihi, lama-lama yang nyari nafkahnya dari nulis bisa gerah kalo digerpol ama pembaca-pembaca macam temenmu dan aku kali ya, Tah? *jadi inget obrolan kita tentang buku mbak (atau mas?) IT yang kurang riset itu :p

  3. pandangan org kan relatif.. seru atw ga seru..tgantung org yg baca pan..bwat penulis maah.. teruuss ajah berkarya, ga usah dengerin omongan2 org yg skeptis en negatif.. bwat pembaca, ga usah ngejelek2in krya org lain *wlaupun bpendapat boleh2 sja..*wallahu ‘alam …

  4. srisariningdiyah said: iya, banyak buku2 seperti itu hehe… judulnya WOW

    Begitulah.Tinggal pembaca saja untuk cerdas menimbang ‘rasa’ judulnya 😀

  5. adearin said: tp kl endor yg bombastis smp buat ekspektasi selangit

    Ini juga menjebak. makanya, daripada beli karena meninjau endorsement, mendingan saya cari dulu resensi orang2 atau tanggapan para Goodreaders :))

  6. revinaoctavianitadr said: hihi, lama-lama yang nyari nafkahnya dari nulis bisa gerah kalo digerpol ama pembaca-pembaca macam temenmu dan aku kali ya, Tah? *jadi inget obrolan

    Hohoho…Tenang, kok. Mungkin bisa dihitung dengan jari pembaca yang sekritis itu… :))Penulis tetap saja menulis. Masih banyak pangsa pasar yang bisa dibidik. Bukan berarti menganggap bahwa pembaca bisa ditipu, tapi… hmmm… apa yang penulis niatkan, Insya Allah akan kembali padanya…BTW, itu novel metropop yang sampai sekarang nganggur. Saya ogah melanjutkannya 😀

  7. mylathief said: judul bukuku bombastis juga g??(*pertanyaan impian)

    Hahahha…Nanti saya juga bakal mengajukan pertanyaan yang sama.Amiiiiiiiiiin… :)Mari kita menulis kembali, Mas Iqbal 🙂

  8. dweedjo said: bwat pembaca, ga usah ngejelek2in krya org lain *wlaupun bpendapat boleh2 sja..*

    Betul sekali.Kurang bijak kiranya pembaca menjelek-jelekkan karya seorang penulis. Sebab, tulisannya pun jika dilihat behind the scene-nya akan penuh dengan lika-liku yang menguras energi dan banyak hal.So, bersikap bijak ataupun kalau tidak mau menyebarkan kedongkolan, mending dipendam saja :))

  9. lllsemeleketelll said: Bombastis itu perlu,Karena bisa menjadi value,Walaupun tak selamanya begitu,Minimal membuat buku cepat laku,.*serasa sajak berima AaAa*

    Hahahha…Kayak berpuisi saja, Bang Ale…Ini pasti refleks dan nggak dikarang-karang :)Terima kasih ya atas pendapatnya 🙂

  10. aranolein said: Sebenarnya judul buku itu kayak pakai baju. Masalahnya masih banyak yang suka salah kostum atau korban mode. Hihi..

    Cerdas!Saya suka analoginya, Mbak Anne :)Jadi, pembaca juga dituntut untuk semakin maju dan tidak gegabah dalam memilih ‘kostum’nya. Kan, nggak enak diketawain sama ‘tamu’ yang lain 😀

  11. Wah kalo untuk itu yang sabar ya. Aku sih rencananya mau kuserahkan ke peserta siapa pemenangnya? he3 habis kalo aku yang nentuin ntar jadi kurang obyektif.

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s