[Bromo] Hadiah Ultah dan Mimpi yang Tercapai

“Hei, kamu lagi di mana?”

“Perpustakaan! Ada apa?”

“Ke Bromo, yuk!”

“Hah, jam segini? Mmm… Bentar, ya?”

“Aku lagi di kontrakanmu ini. Cepetan balik!”

Itu Firman yang menelepon.

Masih ragu-ragu. “Okelah! Aku beres-beres dulu.”

Waktu menunjukkan pukul 00 lewat. Hari Sabtu (26/06) dini hari. Selesai internetan sekalian nonton Piala Dunia di perpustakaan Kampus B. Sebelumnya, dari Togamas dan Uranus. Beli buku, tentu saja. Novel terbarunya Andrea Hirata – Padang Bulan dan Cinta dalam Gelas – terpanggul pula akhirnya.

Pulang ke kontrakan. Firman dan Nino rupanya baru datang. Bukan seperti apa yang dia gegaskan di telepon.

“Ayo, cepetan! Ganti! Bawa jaket. Pake sepatu.”

“Aku nggak punya sepatu.”

Aku bergegas ke lantai dua. Menuju kamar. Buang air. Ngeluarin laptop dan mengurangi isi ransel. Buka lemari, tak menemukan jaket. Sepatu? Pinjam saja? Ah! Tak usah.

“Jaketku kotor. Belum dicuci.”

“Ini tak pinjemin.” Nino menawarkan. Aku masih ragu untuk meminjam sepatu teman kontrakan, dan waktu memutuskan untuk pakai crocs kesayangan, duluan mendapat omelan, “Ayo, buruan, boy! Kita kejar sunrise nih!”

“Iya! Iya!”

Manusia-manusia yang bergegas, memang.

Kami bertiga segera cabut dari kontrakan, menuju mobil Firman, “Kita ke kos Ami dulu.”

Sebenarnya, Wendy yang ngajak namun dia membatalkan secara tiba-tiba. Itu yang membuat Nino mangkel. Makanya, aku pun diajak. Sebagai pengisi bangku cadangan. Hahah…

Ami terjemput, kami pun segera berangkat. Tujuan: Bromo. Waktu menunjukkan pukul satu pagi. Kami menempuh rute Surabaya – Porong – Bangil – Pasuruan – Probolinggo. Aku tidur-tidur ayam di dalam mobil. Begitu juga Ami. Nino dan Firman terus ngobrol. Biar sang supir, Nino, tidak mengantuk. Apalagi perjalanan lumayan lama. Sekitar 3 jam, tebakan kami saat masih di Surabaya. Ada benarnya juga. Sebab, perjalanan kami mulus. Jalanan sepi. Apalagi saat memasuki jalanan desa yang menuju Bromo.

Ini perjalanan kedua kalinya buat Nino setelah belasan tahun. Sedangkan, bagi Ami, aku, dan Firman, ini pertama kali. Nino tak hapal jalannya. Apalagi kami. Namun, berbekal membaca petunjuk lalu lintas dan arah serta bertanya pada warga desa yang bahkan sudah mulai beraktivitas pada pukul 4 pagi, kami pun bisa berlega ria.

Bromo tak lagi impian! Setidaknya bagiku.

Beberapa di antara kami memang penakut. Setidaknya Nino, sang supir (hahaha). Apalagi memasuki jalanan desa yang sepi. Ada yang aneh di tengah jalan, bulu kuduk berdiri. Bahkan, saat tiba-tiba ada mobil pick-up yang ‘kelihatan’ mengejar di belakang, kami pun sempat waspada. Nino memberikan jalan bagi mobil itu. Kami pun mencoba mengikuti. Tapi, kebutnya memang gila tuh mobil! Di tengah gulita malam dan jalanan desa yang sempit dan terkadang kelokannya tidak terprediksi, pick up tersebut jauh meninggalkan kami. Damn crazy car!


Dari jauh dalam temaram malam terlihat gegunungan. Aku hanya bisa ber-wow! Tak lagi mata ini mengantuk. Terus awas melihat kanan jalan. Saat memasuki jalanan yang berkelok-kelok dengan jurang di samping kanan atau kiri, aku tak bisa menyembunyikan kagum. Apalagi saat lewat di depan rumah penduduk yang tak berpagar. Pagarnya adalah bunga-bunga krisan khas pegunungan yang warna-warni namun sedikit pucat jadinya di tengah gulita dan sorotan lemah lampu depan rumah.

Gunung Bromo yang kami tuju masih jauh!

Kelokan masih panjang. Sawah ada di kiri kanan jalan. Ditanami kubis, bawang prei, wortel, tomat. Rumah penduduk terkadang kami jumpai berdiri kecil di miring lereng. Kami lumayan terbantu oleh rembulan yang masih bersiul-siul di langit timur sebelum matahari mengunyah-ngunyahnya.

Setengah lima, tibalah kami di area pemberhentian. Gapura selamat datang terpapar di situ. Para lelaki ramai
berkumpul di pos. Beberapa motor terparkir juga.


Mereka turun tiba-tiba menyetop kendaraan kami. Ada pedagang asongan pula. Menjajakan kerpus dan sarung tangan berbahan kain.

Kami turun. Ditawari jasa untuk menuju Bromo. Masih lebih 5 kilometer lagi. Pilihannya: naik hard top, motor, atau jalan kaki. Kami sungguh belum tahu kalau sebenarnya mobil kami bisa masuk sampai areal parkir terdekat dengan Bromo. Tapi, namanya saja pengalaman pertama, kami pun mengangguk saja pas ditawari hard top.

“Bayar Rp 200 ribu berempat.”

“Masnya mau ngejer sunrise tho?” Kami mengangguk.

Tadinya aku pengin jalan kaki. Gatalnya kaki ini untuk ber-walkpacking. Tapi, kasihan juga pada Ami. Mana udara dingin mengendus-endus tubuh kami yang meski terbalut jaket tapi tak begitu mempan.

“Oke.” Kami pun deal. Tapi, nggak dinyana, jejaring telah tertebar rupanya. Salah seorang dari mereka yang dari awal sudah menyetop dan mengajak kami bicara – sepertinya ketua mereka – justru beralasan kalau hard top-nya sudah di-book oleh banyak pengunjung lainnya. Lalu, kami ditawari naik motor.

Kami berpandang-pandangan. “Gimana? Gimana?”

Sepertinya di kepala kami terbayang hal yang sama: indahnya matahari terbit dari balik bukit dan kami memandangnya dari atas kawah Bromo. Oh, great!

Ami mengangguk. Firman, yes. Nino, iya. Aku, oke.

Bayarannya sama. Rp 50 ribu per orang.


Empat motor ditiupkan nyawanya. Dipanaskan. Bayangan hard top yang hangat kami coba pendam. Sebenarnya, perasaan khawatir dan pikiran jelek sempat terlintas. Dan itu yang membuat kami agak lama berunding dalam diam sebelum mengatakan ‘iya’. Melihat tampang mereka yang seram laiknya preman. Dan, mungkin suasananya terbangun karena gelap yang masih berpendar di sekeliling kami. Sudah subuh, sepertinya. Namun, tak ada azan terdengar. Maklum, Desa Ngadisari, tempat kami sedang berpijak saat itu, kebanyakan dihuni oleh pemeluk Hindu. Setahuku, begitu. Mungkin Islam Kejawen juga ada.

Membelah pagi dengan raungan knalpot motor yang memekakkan telinga. Untung aku dipinjami kerpus oleh Firman. Tak lupa pakai jaket pinjamannya juga. Jadi, pakai baju, plus jaket rangkap dua. Ransel menghangatkan punggung. Crocs tak cukup membantu karena dinginnya pegunungan menusuk kakiku. Mending pakai sepatu dan kaos kaki tebal pas ke sana.

Di pos kedua, kami diturunkan untuk membeli tiket masuk. Totalnya Rp 25 ribu untuk empat orang. Lanjuuuuuuuut…


Hingga akhirnya kami tiba di areal parkiran yang luaaaaaas. Padang pasir hitam. Masih agak sepi. Beberapa ojek motor sudah ada di situ. Mengantarkan pengunjung lainnya. Para ojek kuda juga menanti. Kami ditawari untuk naik kuda. Tapi, kami menolak. Memilih jalan kaki.

Bromo sudah di depan mata. Gunung Batok di sisi kanan. Sisi kiri ada bebukitan entah. Belakang kami, Penanjakan yang merupakan dataran tertinggi di situ. Katanya, dari datarannya bisa melihat Semeru juga. Intinya, kami dikelilingi oleh pegunungan. Kami sendiri sedang berada di hamparan luas pepasiran.

Dan, menuju Bromo masih harus mengarungi pepasiran. Menjelajahi bebukitan dan ceruk kecil. Naik 252 buah anak tangga. Dan…

Kawah Bromo!!!

Iklan

37 thoughts on “[Bromo] Hadiah Ultah dan Mimpi yang Tercapai

  1. Subhanallah… Indah banget…Baca ini, sambil ngambek2. fotonya kurang banyak. Mana sunrisenya…??? katanya mau ngejar sunrise…???Pulang ah, takutnya nangis lama2 di sini :(( Pengen ke sanaaa…. :(( *nah lho, nangis beneran*

  2. aku baru sekali ke Bromo, begitu nyampe di atas hidungku penuh dengan debu coklat. mana pas naik harus bersaing dengan bau kotoran kuda hooeks.tapi tetep berkesna walopun fotonya ga tau dimana sekarang 😦

  3. Pertama kali ke Bromo bulan Januari kemaren (dapet ajakan mendadak dengan persiapan yang juga sama mendadaknya), hehe lumayan bisa nginep dan naik jeep gratis sampe Penanjakan (karena temennya temenku anak asli Ngadisari sana, katanya juga dia termasuk suku Tengger & dia muslim). Duh, pengen ke sana lagiii… XDUdah ngeliat bukit Teletubies juga kah?

  4. topenkkeren said: lha? foto sunrise mana? malah ndak ada.

    Ada di album FB teman saya. Saya di-tag kok. Tapi, dari sekian jepretan sunrise-nya, gak ada yang bagus 🙂

  5. anazkia said: Subhanallah… Indah banget…Baca ini, sambil ngambek2. fotonya kurang banyak. Mana sunrisenya…??? katanya mau ngejar sunrise…???Pulang ah, takutnya nangis lama2 di sini :(( Pengen ke sanaaa…. :(( *nah lho, nangis beneran*

    Betul, Mbak.Subhanallah… Keren sekali!Jadi makin kencang semangat jalan-jalan saya nih. Hehehe… Abis UAS, baru deh dipuasin :))Fotonya ada di FB :))

  6. srisariningdiyah said: wah asyiknyaaaaa kalo punya rumah di lokasi dimana cuma 3 jam dah nyampe Bromo huhuhuuu… aku pengen ke madakaripura lagiiii kangeeennnn… euhhhhh

    Hehehhe…Ini pertama kali saya naek gunung sampai kawah. Dulu pernah ke Rinjani, tapi cuma sampai punggungnya. Itu pun pas kelas 4 MI. Udah lamaaaaaaaaa banget… Jadi suka deh ke gunung. Selain ke pantai, tentu saja.Mbak Ari, kapan ke Bromo lagi? Kabar-kabar yaaa… Siapa tahu bisa barengan. Hehhe

  7. meylafarid said: wow…perjalanannya seru! btw lbh seru di jalannya drpd di Bromonya ya,coz crta ttg saat di Bromonya cm dg satu tanda seru^^

    Hehehehe…Pengen bikin sekuelnya.Tapi, masih kebentur sama ujian semester :))

  8. tantodikdik said: gile.. dah mupeng sejak lama ke sini. eh sekarang malah makin menjauh. duh duuuh

    Ke Sumatera ya, Mas?Perjalanannya bisa dimulai di situ kan, ntar makin ke timur Indonesia…hingga Papua dan Puncak Jayawijaya :))

  9. siasetia said: wahhhhhhh kado yang indah…but menuju bromo udah indah meski berkelok kelok…gimana mas Bromo? apa masih banyak ee kuda? beli edelweis?

    Hehehe… Nggak nyangka juga sih bakal dihadiahin ini sama teman-teman :))Bromo masih banyak eek kudanya. Kan wara-wiri tuh. Ditawari beli edelweiss sama seorang mbok-mbok, tapi kami nggak beli. Hehhee… Belum ada someone special untuk dikasih 😀

  10. nawhi said: aku baru sekali ke Bromo, begitu nyampe di atas hidungku penuh dengan debu coklat. mana pas naik harus bersaing dengan bau kotoran kuda hooeks.tapi tetep berkesna walopun fotonya ga tau dimana sekarang 😦

    Ke sananya siang-siang ya, Mas?Pas saya kemarin, kebetulan lagi gerimis keciiiil… Jadi, pepasirannya basah dan nggak terbang-terbang. Bau eek kudanya memang menusuk kolaborasi sama bau belerangnya. Hehehe…

  11. tinggalbaca said: Pertama kali ke Bromo bulan Januari kemaren (dapet ajakan mendadak dengan persiapan yang juga sama mendadaknya), hehe lumayan bisa nginep dan naik jeep gratis sampe Penanjakan (karena temennya temenku anak asli Ngadisari sana, katanya juga dia termasuk suku Tengger & dia muslim). Duh, pengen ke sana lagiii… XDUdah ngeliat bukit Teletubies juga kah?

    Wow, asyiknya, Endah… Dapet tumpangan gratis. Hehehe…Saya pengin tahu proporsi masyarakat Muslim sama Hindu di sana :)Bukit Teletubies itu di mana? Dekat Penanjakan atau deket Bromo-nya??

  12. sisapibelang said: wuahhh…Bromoooaku ngiri sm km fatah bisa liburan ksana…Aq yg libur na 1mggu malah hampa di jogja…:(

    Kenapa nggak bekpek aja ke luar Jogja???Kalo aku justru penginnya ke luar Surabaya dan alhamdulillah…bisa kesampaian dengan cara nggak terduga. Hehhee…Padahal Senin kemarin mulai ujian semester, tapi puas-puasin dulu mainnya :))

  13. aranolein said: Tah, perjalanan ke Bromo memang berkesan ya…sayangnya pas aku ke sana waktu itu lagi berkabut.

    Sangat berkesan, Mbak.Apalagi sepuluh tahun yang lalu hanya mengenal Bromo melalui buku bacaan. Makanya, mata saya nggak mau melepaskan detil sedikit pun selama di perjalanan dan selama di sana :))*paling semangat pegang kamera biar dapatin banyak kepingan kenangan*

  14. lafatah said: Wow, asyiknya, Endah… Dapet tumpangan gratis. Hehehe…Saya pengin tahu proporsi masyarakat Muslim sama Hindu di sana :)Bukit Teletubies itu di mana? Dekat Penanjakan atau deket Bromo-nya??

    deket Bromonya, pokoknya ngelewati Pasir Berbisik. Cantik banget wes bukitnya, rasanya damai banget di sana…hehe.

  15. sisapibelang said: mau na siii gitu tp apa daya temenku pada pulkam…mw bekpek sendiri susah dpt acc dr org rumahhehehhehehe…

    Tirulah Trinity: modal nekat!Heheheh

  16. #Dinar: Hehehe… kamu pencinta gunung juga tho? Waaduh, sorry aku gak bisa kontak kamu…sebenarnya sih, nggak inget :D#Shanto: Buruuuuuuuuuuaaaaaaaaaaaannn!!!

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s