[CatLib] Lombok yang Berbenah





Dua belas hari di Lombok.

Apa saja yang saya lakukan?

Jujur, lumayan banyak santai dan nganggurnya. Meskipun tabiat saya, seperti baca buku dan menulis, sebagaimana getol saya lakukan di Surabaya, tidak bisa saya anggap nganggur. Bahkan, untuk mengantisipasi pengangguran, saya bawa sekardus buku dari Surabaya. Biar otak nggak menciut, saya pompa juga dengan mengikuti lomba menulis.


Bagi kebanyakan orang, esensi liburan adalah bersenang-senang dan menghibur diri. Namun, karena saya tidak semata liburan, tapi juga pulang kampung alias mudik, maka dua hal tersebut di atas tidaklah cukup. Harus ada kegiatan yang lebih bermanfaat, setidaknya bagi orang rumah yang hampir sembilan bulan tidak saya kunjungi. Membantu mengerjakan pekerjaan rumah, semisal menyapu dan menyuci, saya lakukan. Mengojeki bapak ke kantor, juga. Membantu adik-adik mengerjakan PR. Dan beberapa hal yang bagi saya cukup menyenangkan karena tidak segaris lurus dengan aktivitas saya di Surabaya. Hehehe…


Jalan-jalan termasuk agenda yang tidak boleh dilewatkan!


Karena saya mendarat di Lombok pada Senin malam (19/07), maka saya hanya berkesempatan menyapu pemandangan sepanjang Jalan Udayana. Keluar dari Bandara Selaparang, belok kiri. Di bundaran Udayana, mengambil arah ke kanan. Itu sudah masuk Udayana yang terkenal sebagai jalur hijau dengan kedua sisi jalannya dipenuhi oleh para pedagang makanan, minuman, hiburan, dan orang-orang yang sekadar nongkrong atau cangkrukan – istilah Jawa Timuran. Letaknya di taman-taman yang memang disediakan oleh pemerintah Kota Mataram. Jadi tidak sampai memakan badan trotoar.


Saya tidak sempat turun. Ada kardus berisi buku, tas kain berisi jeans titipan dan buku, serta ransel yang harus segera saya ‘istirahat’kan. Apalagi waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam lebih. Jalan Udayana terlihat agak sepi. Beberapa pedagang siap berkemas. Meski, ada yang masih berjualan hingga menjelang subuh.

Malam itu, saya tidur hampir pada pukul setengah tiga pagi. Layaknya orang jauh, tentu saja sambutan dengan makan malam dan obrolan panjang menyertainya. Adik saya, Ofah, masih bangun. Dua kakak saya, Kak Iyah dan Enong, juga. Adik laki-laki saya, Oki, tidur di PKM Fokus di kampusnya – Universitas Mataram. Kakak ipar saya, Kak Amat, dan dua bocah keponakan saya, Asri dan Yasin, sudah lelap. Ya, saya memang sengaja menginap dulu di rumah kakak saya. Esok sorenya, saya rencakan pulang ke Pancor, rumah orang tua saya.

Sembilan bulan meninggalkan kampung halaman, tidak ada perubahan signifikan pada wajah Lombok. Selain tentu saja bangunan fisik yang mulai bersembulan di tanah-tanah kosong. Itulah yang saya amati sepanjang 54 kilometer dari Mataram ke Pancor, Lombok Timur. Saya menaiki engkel, sebutan warga Lombok pada jenis bison. Oke, bison itu bukan hewan yang perawakannya mirip kerbau. Itu nama jenis kendaraan umum yang mampu menampung kurang lebih 20 penumpang dewasa.


Saya duduk di deretan bangku belakang sopir, dekat jendela. Itulah mengapa saya leluasa memindai keadaan sepanjang jalan. Deretan pertokoan, hamparan padi yang menguning, dan pedagang buah di pinggir jalan menanjak di Narmada, cukup mengail memori saya. Memasuki Lombok Tengah yang lebih variatif lagi pemandangannya: rumah semi permanen, tanah-tanah yang agak tandus sebagian, pepohonan yang berbaris, juga ladang-ladang. Hamparan ladang tembakau yang mulai terlahap petang masih bisa saya raba rupanya. Itu saya jumpai di hampir sebagian besar Lombok Timur. Untung saja, jalan raya propinsi yang dilalui engkel, beraspal bagus. Meski di Batukliang, Lombok Tengah, sedang ada perbaikan jalan. Dimuluskan biar ban-ban fuso dan truk berat lainnya tersenyum senang.


Tersebab engkel yang saya tumpangi menuju Labuhan Lombok, bukan Pancor, jadi saya harus turun di perempatan Masbagik. Saya harus belok kanan, sementara engkelnya harus melaju lurus. Jadi, setelah memasuki Sikur, wilayah sebelum Masbagik, saya mengirimkan sms pada Paman Maman agar dijemput dengan sepeda motor. Maghrib menjelang pukul 7, saya pun menginjakkan kaki di rumah tercinta. Bersua dengan bapak, ibu, adik, kakak, paman dan bibi muda saya. Bahagia kedua setelah bahagia tiba di Mataram.

Malamnya, saya dimanjakan dengan hidangan-hidangan ‘gila’. Gila, menurut anak kos (kontrakan) yang telah lama berjibaku dengan makanan standar. Hahaha…



P.S. Episode yang lebih bernuansa jalan-jalan akan hadir pada catatan berikutnya. Keep it wait, yeah!

Iklan

10 thoughts on “[CatLib] Lombok yang Berbenah

  1. Sebenarnya, baca ‘Lombok’ itu kayak baca kata ‘soto’. Lombok = Lurus. Jadi, filosofi namanya adalah agar orang-orang Lombok memiliki budi pekerti yang lurus.Jadi, Lombok bukan cabe :))Someday, you can step your feet there :))

  2. fefabiola said: berharap bisa ke negeri para Lalu suatu hari nanti..

    silakan lho, liat abum foto saya,Feb :D. anyway…kemaren ke Singapur ngga berhasil ketemuan sama Febi, 3 minggu kemudian ke Lombok ngga berhasil juga kopdar sama Lalu…oh nasib….:))

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s