[CatLib] Napak Tilas Pancor


Rabu sore (21/07)

Baterai kamera saya sudah habis nyawanya. Sedikit menyesal tidak membeli baterai isi ulang di Surabaya. Sebab yang paling masuk akal adalah duit yang tidak mencukupi. Hasil mengumpulkan informasi dari Paman Maman, baterai isi ulang di Pancor dipatok mahal. Kisaran Rp 65 ribu/dua buah baterai AA. Belum charger-nya yang harganya pun tak jauh berbeda. Arrrgh… Biar lebih yakin, saya memutuskan untuk langsung ke tokonya.

Mengambil rute belakang menuju Pasar Pancor, saya bersapa ria dan berbasuh mata dengan sawah-sawah yang menghijau. Sore yang terang, lebih kurang pukul empat, menguarkan hijau pepadian yang masih belum berbadan dua. Tentu saja, indah.

Setelah melewati lorong-lorong pasar dengan bau yang akrab di hidung, tibalah saya di gerbang pertokoan. Saya masuk melalui gerbang sebelah selatan. Terpatri di kejauhan pada arah berlawanan, rumah saya yang lama. Yang sejak pertengahan 2007 tidak kami tempati lagi disebabkan kepemilikan yang telah berpindah pada saudara-saudara ibu. 18 tahun saya di situ. Lahir dan bertumbuh. Melihat perubahan yang signifikan pada rumah lama dan lingkungan sekitarnya, saya pun pelan-pelan menjauh. Beberapa saat sebelumnya, dua buah baterai Alkaline terbeli di Papilon. Bukan baterai isi ulang. Ah, yang penting ada saya pakai jepret-jepret sepanjang jalan kaki nanti. Sementara itu, tak terbetik sedikit jua niatan memotret rumah lama. Hanya membangkitkan kenangan-kenangan beraroma kopi. Oh,
daripada… mendingan…

Kaki saya menuntun ke arah timur. Saya seberangi perempatan terminal Pancor. Menyusuri trotoar. Memandang sebentar pada Gantaran, lahan luas kosong milik orang Cina yang dulu saya sering bermain di situ. Sekarang terlihat makin tak terawat. Semak dan belukar dan rerimbunan gulma tumbuh panjang-panjang. Tak ada lagi anak-anak kecil saya lihat bermain di situ. Di kepala saya hanya terbayang jejak sorak dan rekah kaki yang berlarian bermain sembunyi-sembunyian atau perang-perangan. Juga pepohonan yang terpanjat oleh kaki-kaki mungil warna tanah dan lumpur kering. Bayangan saya dan teman-teman masa kecil.

Tiba di pom bensin depan SDN 4 Pancor, saya berhenti sejenak. Memindai situasi. Terlihat antrean kendaraan yang mengisi BBM. Di seberang utara, pas di depan trotoar SDN 4 Pancor, terpancang cemara-cemara. Bias sinar matahari sore menciumnya. Pemandangan yang cukup bagus. Hanya saja teknik fotografi saya yang masih lemah, tidak bisa menangkap momen tersebut dengan bagus juga. Benar, memang. Mata kamera sebagus apapun, takkan bisa mengalahkan mata yang dianugerahkan Tuhan pada manusia.

Tak ada lagi yang bisa di‘kunyah’ di situ, saya pun beranjak ke timur. Terlintas di benak untuk mendatangi Grand Hero buku. Saya kangen pada toko buku itu. Saya ingin melihat koleksi buku-bukunya. Tak layak, tentunya, saya membandingkan kelengkapan koleksinya dengan toko buku idola saya di Surabaya, Togamas dan Gramedia. Namun, setidaknya, toko buku yang dimiliki oleh orang tua teman saya itu mampu menjadi oase ilmu pengetahuan di kota kecil saya.

Tak membeli sebuah pun buku, saya keluar. Setidaknya, saya telah berhasil menggembirakan paru-paru saya dengan wangi buku-buku. Ada semangat tertancap di sanubari untuk mewujudkan salah satu cita-cita besar saya dalam hidup. Oleh karena itu, saya harus menyempurnakannya dengan jalan-jalan, observasi, latihan menulis, dan membaca banyak rujukan. Semoga tahun ini bisa terujud. Amin.

Di perempatan masjid Besar At-Taqwa, saya kembali menghentikan langkah. Mengedarkan pandangan. Menajamkan mata untuk mencari celah-celah unik dan menarik untuk dibidik kamera. Aktivitas masyarakat di pinggir jalan, para polisi lalu lintas yang sedang mengatur di perempatan, para pedagang yang menggelar dagangannya di tepi jalan, sekelompok anak Madrasah Tsanawiyah yang baru pulang kompetisi gerak jalan. Eh, ternyata Arif, adik bungsu saya, terbidik juga di situ, bersama dua kawannya. Mereka usai shalat Ashar di Masjid Besar alias Masjid Beleq At-Taqwa.

Sore makin putih susu. Lama-lama akan jadi susu cokelat. Lalu, kopi susu. Lantas, azan pun bergema. Menelisik jajaran toko, pusat perniagaan Pancor. Memanggil orang agar segera bergegas mengambil wudlu dan menunaikan shalat maghrib. Saya pun berpolah sama. Segera menyeberang jalan dan memasuki pelataran masjid yang tidak begitu luas karena agak mepet dengan badan jalan.

Usai maghriban, saya keluar. Antara soto atau bakso. Pilihan terakhir pun saya jajaki. Bakso Pak Joyo yang mantap dan sudah terkenal enaknya. Nasi gorengnya, sebenarnya, lebih maknyus. Namun, saya pikir, makan nasi kan bisa di rumah nanti.
Petualangan jalan kaki saya di keramaian Pancor berakhir dengan dijemputnya saya pulang oleh seorang sepupu. Oya, mati lampu waktu itu. Sempurna!

N.B. Insya Allah, episode selanjutnya lebih ‘oh-my-God’ lagi.

Iklan

8 thoughts on “[CatLib] Napak Tilas Pancor

  1. lafatah said: Insya Allah sampai 18 September :))Waaah, sayang sekali yaaa… Kemarin di Indonesia berapa lama? Sempat ke Bali juga ya?

    Iya, mas, sayang kita nggak bisa ketemuan. Diriku beneran nggak punya banyak waktu buat ketemu temen-temen, kecuali 2 sahabat dekat yang wktunya juga kejar-kejaran, maklum kami hanya 27 hari di Ind, dipotong ke Bali ama Jogja, hiks.Mudahan lain kali kita bisa ketemuan ya….!!

  2. nonragil said: Iya, mas, sayang kita nggak bisa ketemuan. Diriku beneran nggak punya banyak waktu buat ketemu temen-temen, kecuali 2 sahabat dekat yang wktunya juga kejar-kejaran, maklum kami hanya 27 hari di Ind, dipotong ke Bali ama Jogja, hiks.Mudahan lain kali kita bisa ketemuan ya….!!

    Hehehe… Nggak apa-apa, Mbak. Semoga pada kesempatan berikutnya, jadwal mbak lebih longgar. Mbak pulang ke Surabaya atau Jakarta? Anyway, teman MP yang main ke Lombok aja nggak sempat saling ketemuan. Jadwal padat, alasan masing2 kami :))

  3. bambangpriantono said: Sama nasibnyaSayapun kameranya batere drop..padahal pas kopdar dg Mbak Evia (Enkoos)..meski cuma lima jam di Semarang, tapi keinginannya untuk makan pecel 17 sayur sudah keturutan

    Alhamdulillah…bisa kopdaran sama Mbak Evia…pecel 17 sayur? saya belum pernah. moga pas bernasib ke Semarang nanti. amin :))

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s