[CatLib] The Gili Trawangan’s Explorers


Kamis (22/07)

“Welcome to Mataram!”

Wajah-wajah capek berpadu dengan binar mata segar terkuak dari penampilan mereka. Begitu bertemu pandang, saya sedikit terenyuh sembari melemparkan senyum lebar. Akhirnya, para bugdet backpackers menginjakkan kaki juga di Mataram – Ibukota Propinsi NTB yang pada pukul dua siang itu lumayan adem dengan siraman seember angin. Kendati demikian, matahari dengan riang dan bersahabat menyambut keempat mereka di teras langit.

Adalah Andi, Angga, Rifki, dan Zul. Meski cukup untuk membentuk grup band, namun sepertinya tak semua berminat. Karena pada kenyataannya, lebih gampang menyabet status budget backpackers. Hehehe…

Dari Stasiun Gubeng Surabaya hingga turun di Lapangan Umum Mataram, mereka hanya menghabiskan biaya bersih Rp 106.500,- Kalau dulu, saya hanya Rp 96.500,-. Mengenai hal ini pernah saya posting di jurnal sini.

Mereka berempat pun sebenarnya bisa diantar sampai depan rumah oleh sopir carteran dari Lembar. Namun, dengan beberapa alasan tertentu yang tidak bisa saya ungkap di sini *halah* saya, kakak, dan kakak ipar pergi menjemput mereka dengan sepeda motor di Lapangan Umum.

Bercermin pada kondisi dan situasi, saya sudah berniat menginapkan mereka di rumah kakak pertama saya, Kak Iyah. Mereka tentu saja capek menempuh hampir 24 jam perjalanan. Estafet dari satu moda tranportasi ke moda lainnya. Padahal, saya sudah menyiapkan satu skenario untuk mereka mainkan di hari pertama: berburu matahari terbenam di Senggigi. Namun, setelah makan ashar, mereka meminta tambahan istirahat. Saya persilakan. Musholla dalam rumah telah kami sulap sebagai tempat mereka berkemul. Hehe…

Sepanjang sore hingga Isya, mereka pulas. Saya bangunkan untuk mengajak makan malam di luar. Saya baru tahu pas di perjalanan kalau kakak (yang lagi ke luar) sudah membelikan lauk-pauk. Namun, kami tetap meneruskan jurit malam dengan bersepeda motor. Ofah, adik saya, juga ikut menemani sekaligus penunjuk arah ke sebuah tempat makan. Andi, Zul, Angga, dan Rifki membeli kudapan berkuah: bakso dan jus ini itu. Saya sendiri memesan jus apel (kalo pesanan sendiri, ingat dong!)

Pulang, mampir sebentar di sebuah toko kelontong (maaf, Alfamart, Indomaret, Circle-K, belum berekspansi luas di Mataram). Kami membeli beberapa item untuk dibawa ke Gili Trawangan keesokan harinya, semisal: air mineral ukuran 1 liter sebanyak 3 botol, snack, dan beberapa buah roti.


Monyet Pusuk

Setengah tujuh, kami sudah siap meninggalkan rumah Kak Iyah, kakak pertama saya. Diantar dengan sepeda motor ke rumah Kak Atun, kakak saya yang kedua. Kami akan ikut menumpang Kijang Kak Tuan Bain, suami Kak Atun. Kebetulan beliau berkantor di Tanjung, Ibukota Kabupaten Lombok Utara. Rute ke kantornya akan melewati Pemenang, dan menjorok masuk ke Bangsal. Di Pantai Bangsal inilah menjadi titik awal penyeberangan ke Tiga Gili: Air, Meno, dan atau Trawangan.

Oleh Kak Atun, kami dibekali nasi bungkus. Karena masih terlalu pagi, perut kami belum minta diisi. Lebih kurang setengah jam kami menunggu karena ada teman Kak Tuan Bain yang ikut.

Sebenarnya, menuju Gili Trawangan, bisa melalui dua jalur: pinggir laut (termasuk lewat Senggigi) atau sisi hutan (lewat Pusuk). Namun, pagi itu kami menempuh rute pinggir hutan. Selain alasan berkantor Kak Tuan Bain, rute itu lebih cepat dengan medan yang – sebenarnya sama-sama menantang dengan rute pinggir laut. Jalanan mulus beraspal dengan kelokan dan tanjakan yang cukup meneguhkan iman (hahaha). Di Pusuk, terutama. Itulah kawasan hutan yang saya maksudkan. Banyak monyet di situ. Biasanya, para wisatawan akan turun dari kendaraan mereka dan memberi kacang, pisang, dan makanan kecil lainnya pada monyet-monyet yang berkeliaran di pinggir jalan. Kadang, monyet-monyet itu sembari menggendong anak-anak mereka. Akan tetapi, pagi itu hanya beberapa saja monyet yang kami jumpai nongkrong. Mungkin masih bobok karena kecapekan begadang tadi malamnya. Hehehe…

Di kiri kanan jalan, mata kami bisa menangkap segarnya pepohonan, diselingi tanah lapang dan sawah-sawah milik para petani. Di kejauhan, tampak bukit-bukit yang jarang ditumbuhi pohon tinggi. Bahkan, pada beberapa titik kelokan terhidang pemandangan laut dengan gili nun di sana. Itulah yang kami tuju. Sementara ini, kami masih berada di ketinggian perbukitan hutan, ratusan meter di atas permukaan laut.

Di pertigaan Pemenang, Kijang pun dibelokkan ke kiri. Menuju Bangsal. Nah, di pertigaan inilah titik temu antara rute sisi hutan dengan rute pinggir laut. Jika ke arah utara terus akan menuju Tanjung. Dari titik pertigaan ini, kami bisa turun. Berjalan kaki seratus meter. Namun, Kak Tuan Bain mengantarkan kami hingga ke pinggir Pantai Bangsal. Terlihat cidomo-cidomo, beberapa buah mobil, kapal-kapal motor yang ditambatkan, serta orang-orang lokal dan para wisatawan yang berlalu lalang namun ada juga yang duduk.

Sebelum menyeberang dengan kapal, kami membeli tiket dulu di sebuah loket. Tiket untuk lima orang dengan menumpang public boat menuju Gili Trawangan seharga @Rp 10.000,-. Kalau ke Gili Air @Rp 8.000,- sementara itu ke Gili Meno @Rp 9.000,-. Tarif kembali juga sama. Perbedaan yang hanya seribu Rupiah itu bisa dimaklumi karena posisi terdekat hingga terjauh dari Bangsal adalah: Gili Air, Gili Meno, lalu Gili Trawangan. Selain public boat, jenis layanan boat yang tersedia adalah chartered boat, shuttle, dan island hopping. Tentu saja tarifnya lebih mahal.

Kami sempatkan dulu memotret keadaan sekitar Bangsal dan
view di kejauhan. Tak sabar rasanya menaiki kapal dan memberi kesempatan pada ombak menggoyang kapal dan menyengajakan tangan menyentuh dingin air laut. Jujur, ini kali pertama saya ke Gili Trawangan. Andai saja kawan-kawan dari Surabaya ini tak datang, entah kapan saya akan ke sana. Sebab, biasanya acara pantai saya tidak jauh-jauh dari Senggigi, Pantai Kute di Lombok Tengah, atau Labuhan Haji yang paling dekat dari rumah saya di Lombok Timur. Ya, bersyukur saja. My adventure for holiday began there!




Kampung Lokal Rasa Bule

Memakan waktu sekitar setengah jam, tibalah kami di Gili Trawangan. Dari jarak lima puluh meter saja, pasir putihnya sudah bikin tangan ini gatal-gatal ingin memainkannya. Semakin mendekati tempat berlabuh, airnya berubah dari biru tua menjadi hijau toska. Lalu, bening. Andai pergi dengan kapal pribadi, bisa-bisa saya langsung nyebur. Well, tahan… Tahan! Aroma laut memang menggoda.

Mata saya bersirobok dengan sosok-sosok bule. Entah berjemur, berkeliaran, mengantre tiket, nongkrong di bar, bersepeda, menaiki cidomo, santai-santai sambil baca. Ada yang baru datang, berpakaian lengkap, bahkan ada yang membopong kopor-kopor segala. Namun, mereka yang di pinggir pantai, sudah meng-ikan asin dengan kulit gosong berbalut sun block dan bikini yang bikin mata jadi…seger alias berbuih! Saya merasa diri ini ibarat gentong tequila yang diperam sembilan bulan lalu tiba-tiba dibuka tutupnya dan mendesis keluar. Yang membukanya, para bule itu, tentu saja. Hahaha…

Sedikit merasa asing di tengah seliweran bula-bule, kami terus melaju ke arah utara. Kiri kami banyak berdiri cottage, pub, bar, resto, stan informasi, toko kecil, tempat penyewaan alat selam, buku, sepeda, dan alat snorkling. Sementara, kanan kami pemandangan laut, pasir, bule berjemur, konter es krim, penyewaan sepeda, dan kursi-meja nongkrong.

Dan, sekian puluh meter berjalan, tibalah kami di sebuah penangkaran penyu. Kami tertarik mampir sekalian untuk mengendorkan otot kaki dan berteduh. Saat penyu-penyu itu diberikan makan oleh penangkarnya, salah satu di antara kami bertanya-tanya. Ketika mengutarakan keinginan untuk snorkling, bapak itu menawarkan peralatan dan jasanya untuk kami pakai. Ternyata, stannya berada di depan kami berdiri saat itu. Penawaran snorkle dan sepatu renang pipih (apa sih, namanya? Waving shoes?) untuk kami: @Rp 35.000,- untuk dipakai sepuasnya. Sampai mabok. Sampai jadi tontonan ikan. Hehehe…

Kami mencoba menawar. Tapi, sebagai anak bau kunyit (halah), kami tidak bisa menaklukkan bapak ‘bau lengkuas’ tua itu (haduh, maaf). Setuju tercapai sudah.

Beranjaklah kami ke stan miliknya. Beruntung bertemu bapak baik itu. Kami bisa menggunakan beberapa fasilitas di situ, semisal kamar mandi untuk bersih-bersih dan berugak (gazebo, red) untuk istirahat. Tas, pakaian, dan sendal yang kami tinggalkan di stan beliau pun dijagakan. Aman.

Bapak yang bertubuh khas orang pantai itu mengajari kami terlebih dahulu cara memasang google, alat bantu pernapasan, dan waving shoes-nya dengan benar. Menyelam dengan rileks, tidak banyak mengaduk-aduk air laut, dan tidak panik adalah kunci dalam snorkling. Menggunakan napas perut dengan mengambil udara dari mulut adalah teknik dasarnya. Sempat menjadi kendala bagi saya karena tidak menggigit karet pada alat napasnya yang berakibat masuknya air. Melatih pernapasan melalui mulut juga sedikit berat bagi saya. Dan satu lagi, saat merasa arus menyeret saya agak ke tengah, kepanikan tiba-tiba menyerbu. Merasa sendiri di tengah sepinya laut. Makanya, saya berulang kali mencoba ke pinggir meski sedikit capek karena memotong arus. Asal selamat. Hosh! Hosh!

Snorkling kami bagi ke dalam dua sesi karena harus jumatan. Sebelum berangkat ke masjid yang letaknya tidak jauh dari situ, kami sarapan sekalian makan siang. Mandi bersih dan jalan-jalan ke selatan. Cuci mata sembari meniti bianglala mengejar pahala shalat Jumat.

Ada bule beli nanas segar, saya ngiler. Ada wisdom beli es krim, saya menghalau peluh (halah). Ada pasangan bule serasi lewat, hanya bisa ber-oh my God. Cewek Jepang berfoto dengan takut-takut bersama kuda cidomo, hanya bisa menertawakan. Tanya-tanya sewa sepeda yang katanya Rp 15 ribu / jam. Seharian cuma Rp 50 ribu. Ya, sekadar tanya-tanya. Belum berniat keliling Gili Trawangan. Siang-siang apalagi. Lumayan nanaaas.


Jumatan kelar. Kembali ke markas. Dan, ber-snorkling. Kali ini dengan rute yang lebih jauh. Tetap di bibir pantai sebelah timur. Saya telat dapat informasi kalau justru terumbu karang yang bagus ada di bagian utara Gili Trawangan. Saat itu, kami berpuas diri di pantai timur yang terumbu karangnya kebanyakan putih dan agak hancur karena sering terbentur jangkar kapal yang berlabuh. Memang ikan-ikannya yang berwarna-warni dan beraneka bentuk itu lucu-lucu dan menarik di mata. Tetapi, kuran
g spektakuler saja rasanya. Duh, kudu balik lagi nih ke Gili dan mencoba spot yang berbeda. Habis lebaran, mungkin.


Capek. Setengah tiga sore kami memutuskan berhenti. Bersih badan. Dan untung saja, di pos pembelian tiket, sebuah kapal motor siap-siap berangkat. Tinggal menunggu satu dua penumpang. Kami ditawari, ayo saja. Tersisa space yang agak dicukup-cukupin.

Ombak lumayan besar sore itu. Kapal kami di-Keong Racun-i. Ajeb-ajeb bikin jantung anjleb. Berkali-kali air laut mencelat masuk. Mengecat wajah penumpang dengan liur dewa laut (opo aeeee?). Rifki paling basah. Dia senyam-senyum saja. Menikmati sensasi itu bersama mbak dan bapak yang mengapitnya. Kami tertawa-tawa.

Sampai di Bangsal, kami naik cidomo ke pertigaan Pemenang. Bayar Rp 10.000,- untuk lima orang. Lalu, kami melanjutkan perjalanan pulang ke Midang, Gunung Sari, dengan menumpang engkel – sejenis bison. Bayar @Rp 10.000,. Kembali kami melewati rute Pusuk. Saya tidak sempat menengok monyet-monyet di pinggir jalan. Karena… tiduuur… Hehehe…

Sampai jumpa di jurnal berikutnya. Insya Allah akan bertajuk: Ekspedisi Lombok Timur.

Iklan

12 thoughts on “[CatLib] The Gili Trawangan’s Explorers

  1. Cakepnyaaa :). Bener juga lho Tah, kadang kedatangan tamu dari jauh malah bikin kita jadi menjelajahi lebih dalam daerah yang padahal sudah ditinggali begitu lama, hehehe.

  2. WOW! kebayang deh rasanya waktu nahan diri untuk gak segera ngaduk-ngaduk pasir putih dan nyemplung ke laut kek gitu. Pengalamannya seru, Fatah. Makasih udah sharing. Semoga dimudahkan perjalanan ke bagian utara Gili Trawangan untuk liat terumbu karangnya yang lebih bagus. 🙂

  3. dansapar said: insyaallah akhir bulan 10 saya ke lombok selama 6 hari termasuk ke gili iniamiiiinnnmudah2n lancar

    Amin…Masih musim kemarau, semoga perjalanan Bang Dan menyenangkan yak 🙂

  4. lhiels said: pengen sih ksana sblm pulang k jkt bulan ini,tp pmandangan nya ganggu puasa ga seh? *pmandangan bule-pakle nya*

    Saran saya sih, mendingan jangan ke Gili pas bulan puasa. Kecuali kalau Mbak Lili mau menikmati Gili dengan cara berbeda, you catch the new nuance :))

  5. niwanda said: Cakepnyaaa :). Bener juga lho Tah, kadang kedatangan tamu dari jauh malah bikin kita jadi menjelajahi lebih dalam daerah yang padahal sudah ditinggali begitu lama, hehehe.

    Heheheh.. Iya, Mbak. Justru saya bersyukur dengan kehadiran kawan-kawan itu. Jadi ikutan menjelajah deh.. Ayo, siapa lagi yang mau datang ke Lombok? Kabar-kabari saja :))

  6. tyainside said: WOW! kebayang deh rasanya waktu nahan diri untuk gak segera ngaduk-ngaduk pasir putih dan nyemplung ke laut kek gitu. Pengalamannya seru, Fatah. Makasih udah sharing. Semoga dimudahkan perjalanan ke bagian utara Gili Trawangan untuk liat terumbu karangnya yang lebih bagus. 🙂

    Hehehe… Amin. Mudahan bisa ke sana sekali lagi :)Suka pantai juga, Mbak?

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s