[CatLib] Merasakan Degup Pancor dan Hultah NWDI

Sabtu (24/07)

Nawafin Sawah

Kurang afdol rasanya kalau teman-teman saya hanya mengenal Mataram dan sekitarnya. Agar liburan mereka lebih berwarna, maka saya ajak mereka ke Lombok Timur. Selain karena di sana tinggal kedua orang tua dan beberapa saudara saya yang lain juga alasan penginapan. Rumah kami di Pancor, Lombok Timur lebih lega untuk menampung empat orang kawan laki-laki. Apalagi pada hari itu pula, dua kawan perempuan dari Surabaya akan tiba: Dinar dan Mitha. Lebih seru beramai-ramai di rumah Pancor.

Sabtu pagi, kami mempersiapkan diri untuk berangkat. Beruntung, keesokan harinya, yakni minggu, ada hultah NWDI yang ke-75. Sebagai informasi, NWDI (Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah) merupakan organisasi Islam terbesar di Pulau Lombok. Organisasi ini lahir di Pancor yang didirikan oleh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid (Tuan Guru). Hultah NWDI kali ini lebih monumental karena menandai bersatunya dua kubu NW yang terpisah sejak meninggalnya Tuan Guru.

Anyway, setidaknya ada satu keramaian yang bisa saya datangi bersama kawan-kawan tersebut. Mungkin bukan menghadiri pengajiannya yang terselenggara pada hari Minggu pagi. Namun, seremonial atau kegiatan yang melibatkan masyarakat, seperti pasar malam. Biar tidak nganggur di kamar pada sabtu malamnya.

Saya boncengan dengan Andi. Enong (kakak saya) dengan Angga. Zul bersama Rifqi. Setelah berkonvoi dari Mataram ke Pancor sepanjang lebih kurang 54 km, kami berenam pun tiba di Pancor. Siang, sekitar pukul satu. Orang tua saya menyambut kami dengan sukacita. Tentu saja, senang mendapat kunjungan tamu dari jauh. Sementara itu, kamar Oki di sisi utara yang tidak ditempati, disediakan sebagai basecamp kawan-kawan saya. Kamar yang bersih, rapi, dan wangi. Satu kamar mandi terdapat di dalamnya. Beres.

Makan siang tersaji. Kembali menu pelecing kangkung yang jadi andalan kami. Syukur, kawan-kawan saya suka makanan pedas itu. Apalagi ada krupuk berbahan dasar singkong yang bentuknya kecil dan rasanya manis pedas. Itu menjadi salah satu penambah selera makan. Si Angga suka sekali hingga ingin menjadikannya sebagai oleh-oleh untuk keluarganya di Surabaya.

Sehabis makan, kami istirahat. Zul, Rifqi, Angga, dan Andi mengisi waktu luang tersebut
dengan main capsa. Kesukaan mereka. Saya sendiri tidak begitu tertarik main kartu-kartu itu. Mereka main, saya membaca sampai ketiduran.

Sore hari, saudara-saudara saya ramai berdatangan dari Mataram. Ya, untuk merayakan hultah NWDI. Kami memang keluarga NW. Bapak dan ibu saya jebolan pendidikan NW. Paman dan bibi saya juga. Saya dan tujuh saudara pun bersekolah dasar di madrasah milik yayasan NW. Jadi, tidak heran kalau hultah NW ibarat hari raya idul fitri atau idul adha. Sebab, keluarga saya pasti akan ramai berdatangan. Meski tidak semuanya pergi ikut pengajian akbar, namun pada malam sebelum hari-H kami biasanya keluar jalan-jalan melihat keramaian.

Saya dan keempat kawan menghabiskan sore itu dengan ‘tawaf’ –berkeliling sawah. Awalnya, Angga ingin melihat-lihat sungai. Saya terbetik mengajaknya ke Kokoq Tojang. Kokoq dalam bahasa Sasak berarti sungai. Tojang berarti talas. Namun, karena kami tidak mengomando secara ketat langkah kaki kami, jadilah kami ‘tersesat’ hingga ke Pancor Manis. Blusukan di sawah orang dan berkali-kali batal menyeberang sungai. Berasa Lima Sekawan. Entah siapa yang bersedia jadi si anjing. Hehehe…

Zul tak lupa membawa handycam-nya. Sawah pun jadi lokasi pembuatan video a la realigi dengan tokoh utama si Rifqi yang kehilangan anaknya. Wkwkwk… Ada-ada saja. Sore itu pun sedikit terwarnai banyolan khas anak-anak Surabaya. Saya dengan senang hati menjadi tour guide.

Sempat pula blusukan di kampung antah-berantah. Namun, saya tersadar kalau itu sudah masuk wilayah Pancor Manis – Sambang. Tak disangka saya bertemu dengan Kak Am, salah seorang keluarga jauh yang juga teman kakak laki-laki saya. Ternyata, ia dan suaminya tinggal di Sambang. Padahal, anak perempuannya yang masih sekitar 4 tahun sempat kami goda dan klaim sebagai anak hilangnya Rifqi. Oleh suaminya, kami ditawari untuk datang kembali keesokan harinya untuk dipetikkan kelapa muda. Begitu pula Kak Am yang menyilakan kami mampir ke dalam rumahnya. Namun, saya menolak dengan halus dengan alasan ingin melanjutkan perjalanan.

Ya, lagi-lagi, kalau bukan kedatangan kawan-kawan itu, saya mungkin tidak akan mengeksplorasi sejauh itu. Ada baiknya, ternyata. Mereka ingin melihat ini itu, namun seringkali saya tidak tahu. Namun, bermodal gengsi sebagai tuan rumah, maka saya mengiyakan saja. Toh, nanti di jalan bisa tanya sama orang-orang. Atau tersesat rame-rame, itu baru seru! Haha…

‘Mabit’ di Arena Hultah

Lagi-lagi ini judul yang lebay. Mabit kan artinya bermalam. Padahal kami hanya berjalan-jalan malam di sekitar arena hultah NWDI. Kali ini pasukan bertambah, yakni Dinar dan Mitha yang tiba saat maghrib. Alhamdulillah… mereka selamat juga menempuh perjalanan estafet Surabaya hingga Lombok Timur. Patut saya acungi nyali kedua adik kelas saya itu. Dinar memang sudah tidak diragukan lagi ketangguhannya dalam backpacking. Sementara Mitha, itu pertama kali dia keluar pulau Jawa dan tujuannya nggak main-main: Lombok.

Setelah makan malam berjamaah dengan seluruh keluarga besar saya dan shalat isya, plus bumbu kabar buruk yang menimpa Rifqi, kami pun ke pusat keramaian di Pancor. Jalan kaki dari rumah sekitar dua kilometer. Dan, kembali saya menjelaskan ini itu. Tentu saja cerita yang lebih personal. Yang menyangkut masa kecil dan kenangan saya akan tempat ini itu di sepanjang jalan. Semisal, kenangan saya mandi di reban (sungai kecil, red) yang mengalir di belakang rumah yang lama. Dan, bumbu tragis (tapi ini beneran) yang menimpa batita tetangga saya, yakni tewas terseret arus reban tersebut.

Mulai memasuki perempatan Masjid Besar At-Taqwa, keramaian mulai lebih nyata. Sepanjang jalan itu yang berujung di Taman Kota Selong, para pedagang menggelar barang-barangnya di kedua sisi jalan. Pedagang baju, makanan, aksesoris, mainan anak-anak, vcd, buku, dan lain-lain tumpah ruah di situ. Khas pasar malam, minus permainan odong-odong dan sejenisnya karena ini arenanya adalah jalanan. Sembari menikmati malam minggu, orang pun berbelanja ini itu.

Kami serentak menghentikan langkah saat berada persis di depan STKIP Hamzanwadi. Di situlah NW lahir dan bertumbuh hingga pesat saat ini. Sebenarnya, saya hendak mengajak mereka sampai Taman Kota, namun Angga serta-merta bilang, “Kalau cuma begini doang yang kita lihat, mending balik aja.” Saya memahami. Apalagi Dinar dan Mitha, saya yakin, masih capek.

Sembari berjalan pulang, kami sempatkan masuk ke sebuah pameran buku. Saya menemukan ‘Ronya’-nya Astrid Lindgren. Mitha beli semacam buku motivasi. Yang lain hanya lihat-lihat saja.

Hampir keluar dari perempatan Masjid Beleq, Dinar sempat jepret-jepret sebelum kami benar-benar melangkah menjauhi keramaian. Hampir pukul 12 malam, kami pun sampai di rumah dengan kaki pegal-pegal.

Iklan

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s