[CatLib] Tiga Wisata, Tiga Nuansa

Alam, lokalitas, belanja…

Tiga kata kunci itulah yang menggambarkan petualangan kami – saya, Paman Maman, Dinar, Mitha, Angga, Andi, Zul, dan Rifqi – pada hari Minggu (25/07). Semenjak pagi masih perunggu hingga siang panas kemilau kami berada di luar rumah. Menginjakkan kaki pada tiga tempat yang atmosfernya berbeda-beda. Menghirup udara laut yang pekat, mengobservasi dan berinteraksi di sebuah kampung adat, dan mengakhirinya dengan belanja tenun ikat. Apatah kau hendak menyimak ceritaku ini, kawan? Mari mendekat.


Labuhan Haji Pagi Hari

Sedianya, kami telah rencakan sejak malam buta untuk menyaksikan matahari terbit di pantai ini. Namun, rupanya kelelahan menyergap secara tidak merata bagi setiap orang. Bagi para budget backpackers cowok, tidaklah masalah untuk bangun pagi. Tak penat-penat amat badan mereka. Siap menjelajah sudut lain Pulau Lombok di hari keempat. Sedikit berbeda bagi Dinar dan Mitha yang agak berjuang keras mengumpulkan nyawa disebabkan kedatangan yang lebih larut dan langsung jalan-jalan kaki pada malam sebelumnya.

Tak apa. Manusia hanya bisa merencakan, namun Tuhanlah pemilik skenario adiluhung. Mana saat itu, pagi tidak beranjak dari warna perunggu menuju warna tembaga. Mendung. Matahari kesusahan mencabut selang oksigennya sehingga memilih istirahat di balik selimut awan.


Sewajarnya, pukul enam kami sudah berada di Labuhan Haji. Setengah jam berikutnya, takdir menggariskan kami di sana. Empat sepeda motor untuk delapan orang. Tanpa sempat membawa penganan atau makanan ‘besar’ dari rumah. Ransel yang seharusnya menampung ransum itu pun saya jejali dengan sarung, buku, sebotol air minum. Persiapan yang mengkal – setengah matang.


Labuhan Haji pagi itu tetap semarak. Muda-mudi duduk-duduk di tanggul pembatas pantai. Para pedagang kopi dan makanan kecil juga telah membuka tabir rezekinya. Insting untuk menghindari keramaian – mungkin muntab dengan suasana malam sebelumnya di arena Hultah NWDI – memicu kami untuk mengegas motor ke arah utara. Gusi pantai yang telah di-hot mix kami jajaki. Benar-benar tampak keseriusan Pemda Lombok Timur untuk membangun infrastruktur pelabuhan di situ. Area pelabuhan yang lapang dengan fondasi kukuh, jalan beraspal mulus, tanggul beton untuk menghadang abrasi, dan sarana pendukung lainnya telah terbangun sejak Ali Bin Dahlan memerintah. Sayang seribu sayang, kini di bahu H. Sukiman, pembangunannya mangkrak. Sayang!


Pada gusi pantai yang cukup lega, kami berhenti dan memarkir motor. Aroma pantai saya sesap dalam-dalam. Memandang ke timur, pulau Sumbawa terlihat. Langit kompak memejalkan dirinya dengan sedikit berbaik hati memberikan kesempatan pada matahari memamerkan batang-batang sinarnya. Cukup menyejukkan mata. Tak heran jika Dinar dan Andi pun mulai mencari komposisi dan pencahayaan yang pas untuk menangkap momen itu dengan kamera DSLR mereka.


Saya dan Mitha ngobrol tentang pantai ini dan Lombok secara umum. Rifqi, Zul, dan Angga entah mengobrolkan apa. Paman Maman juga ikut serta. Berbagi informasi, sepertinya. Saya mengajak Paman Maman karena akan menjadi pemandu kami menuju Limbungan di Kecamatan Suela. Tak perlu dijelaskan di sini kalau saya sendiri ‘rabun’ jalan ke sana Andi dkk sudah memakluminya.


Aktivitas pagi di Labuhan Haji lebih semarak dengan kehadiran para nelayan yang pulang melaut. Di tepi pantai, telah menanti ibu-ibu yang akan bertransaksi dengan mereka. Saya dan Mitha mendahului teman-teman yang lain untuk melihat aktivitas itu dari dekat.


Perahu merapat lalu ramai-ramai didorong ke pasir. Ibu-ibu yang akan menjual kembali di pasar, berebutan memilah-milah ikan, menaksir berat, dan meletakkannya di ember-ember. Ada pula ibu-ibu, mungkin para istri nelayan, yang menggelar hasil tangkapan suaminya di situ. Pembeli yang entah datang dari mana pun segera bertransaksi. Yang saya perhatikan, ikan tambak – mereka menyebutnya begitu – lah yang paling banyak dipilih oleh sepasang suami istri pembeli.

Selain ikan tambak, ada pula ikan pari (iwak phe); ikan layur yang panjang, pipih, dan keperakan; ikan kembung yang lucu; ikan yang mirip anak hiu (entah apa namanya); dan lain-lain yang saya kurang tahu spesiesnya. Saya main pegang-pegang. Saat ditawari untuk membeli ikannya oleh seorang ibu dengan taksiran harga yang agak mahal, saya menolak. Sebenarnya bisa menjadi sarapan pagi yang cukup tak terlupakan, tapi gelagat kurang bersahabat yang ditunjukkan ibu tersebut membuat saya segan. Kami pun berlalu. Meminta lambung kami untuk sabar dan tabah.


Setelah cukup menemani Mitha berbincang-bincang dengan seorang nelayan yang masih muda, kami meninggalkan tempat. Menaiki motor menuju destinasi berikutnya: Kampung Adat Sasak di Limbungan.



Limbungan yang Tak Limbung
Kampung adat pemukiman warga Sasak ini memang sengaja di’awet’kan pemerintah. Warga yang sudah bersentuhan dengan modernisme dan, katakanlah, ingin membangun rumah baru atau memasang antena parabola, ternyata tidak diperbolehkan di situ. Sebagai alternatifnya, warga dipersilakan membangun ‘peradaban baru’ di lereng bagian bawah. Setelah berbincang dengan kepala dusun Limbungan, barulah kami tahu bahwa antara kampung adat dan ‘kampung baru’ hanya dibatasi jalan selebar lebih kurang 3 meter.

Tak berdusta, perjalanan menuju ke sanalah yang jauh lebih menarik dan menantang. Jalannya bolong-bolong, tak sampai rusak parah, namun cukup menghalangi kenyamanan ‘ngebut’. Menanjak, berkelok-kelok, kerikil masih berteberan sehingga ban motor kadang selip. Jikalau stamina motor kurang fit, janganlah coba diajak bertandang ke sana.
Bisa-bisa si motor tersedak dan gelepar mendadak seperti yang saya alami dengan boncengan sama Mitha. Oke, Anda meragukan skill bermotor saya? Pikirkan seribu kali sebelum men-judge. Selihai-lihainya Rifat Sungkar, belum tentu menguasai medan ke Limbungan. Hahaha…


Limbungan terletak di Desa Gianti, Kecamatan Suela. Posisinya yang berada di betis Rinjani memiliki peluang bagi wisatawan untuk menyaksikan laut di kejauhan. Pemandangan yang segar setelah suntuk setengah jam mencapai kawasan ini. Karena kami sampai sekitar pukul sepuluh lebih, panas pun sayup-sayup mulai terendus. Namun, disebabkan keramahan Amaq blablabla (lupa saya namanya – karena jurnal ini saya tulis tiga minggu kemudian) sebagai kepala dusun, membuat suasana menjadi cair. Amaq (bapak, Sasak red) yang berpostur kecil, tega
p, dan berwibawa itu mengajak kami ngobrol dalam dua bahasa, Sasak dan Indonesia. Saat ia cukup panjang menjelaskan sesuatu dalam bahasa Sasak, saya pun menerjemahkan secara bebas pada teman-teman yang lain. Namun, secara keseluruhan, teman-teman saya bisa menangkap isinya karena kata-kata bahasa Indonesia pun beliau selipkan di sana-sini.


Sang Kepala Dusun bahkan menyilakan kami untuk masuk ke rumahnya. Menawarkan sarapan atau sekadar minum kopi. Saya kira teman-teman akan antusias – dengan asumsi bahwa mereka tertarik melihat kondisi di dalam rumah beratap jerami kering, beralas tanah kering padat (yang katanya dicampuri kotoran kerbau juga sebagai perekat), berdinding anyaman bambu, dan kondisi agak gelap karena ventilasi yang minim (hanya pintu).


Setelah beramah tamah, berfoto-foto dengan sang kadus, memotret rumah-rumah adat yang seragam, dan menangkup local wisdom dari cerita pak kadus, kami pun berpamitan. Mengingat pula matahari semakin tinggi dan perut kami belum terisi.


Perjalanan pulang dari Limbungan pun sedikit lebih moncer karena sepeda motor yang terpacu di jalanan menurun. Meski tetap hati-hati karena bolong yang tak terdeteksi ‘radar’ dari jauh. Pesan sponsor: periksa rem, kondisi ban (masih bergerigi atau sudah mulus), tangki bensin, dan kesiapan fisik Anda.


Di Pringgabaya, kami mampir makan. Menunya standar dengan harga Rp 7 ribu/piring. Sedikit beda karena para tamu dijamu di berugaq (gazebo). Santai sejenak sebelum kembali turun ke jalan menuju spot terakhir: Pringgasela.



Pringgasela: Kampung Tenun Ikat
Menyusuri Pringgabaya, Aikmel, dan di perempatan Rempung belok kanan, tibalah kami di Pringgasela. Di sinilah pusat pembuatan tenun ikat. Saya sengaja mengajak teman-teman ke situ karena: pertama, satu arah dengan rute pulang; kedua, mengenalkan spot budaya juga belanja benda khas Sasak.

Bertanya-tanyi pada orang sementara kami tidak menyadari telah berada di tengah perkampungan tenun itu sendiri! Yihui! Terbukti sekali lagi kalau saya ‘katrok’ sama daerah sendiri. *senyum kecut*


Kami telat merespon kalau hari itu Hultah NWDI, di mana orang-orang berkumpul di Pancor untuk mengikuti pengajian umum. Termasuk warga Pringgasela yang ‘menyepikan’ kampungnya. Hanya terlihat anak-anak mudanya saja. Para tetua, terlebih lagi yang sehari-hari menenun, tidak terlihat di rumahnya. Kami sempatkan diri menyusuri lorong kampung, mencari orang yang sedang beraktivitas menenun. Nihil. Dari pintu yang terbuka, sempat terlihat alat tenun di ruang tamu. Di teras juga. Tetapi, para penenunnya tidak ada. Alasannya kami dapatkan dari penjelasan seorang pemilik galeri tenun, seorang lelaki berusia mendekati 30-an.


Kami masuk ke galerinya. Menikmati warna-warna kain tenun yang disampirkan di dinding. Ada yang pewarna alami, semisal dari daun jati dan daun nanas (CMIIW, pals!) yang terlihat agak pucat. Ada pula yang terbuat dari benang pabrikan dengan warna yang lebih terang. Selain tenun ikat, di situ juga dijual hiasan dinding dari benang tenun kombinasi tangkai buah kelapa. Angga berbelanja, yang lain tidak. Harga satu kain berwarna alami mencapai Rp 60 ribu, sedangkan yang bahan pabrikan Rp 40 ribu. Bisa ditawar.


Kepala sudah agak suntuk, panas pun sudah menggeliat, kami memutuskan pulang ke rumah saya.



N.B. Foto-foto belum bisa saya selipkan karena belum dapat tag-an dari Andi dan Dinar. Semoga teman-teman bisa menikmati catatan ini. Salam backpacking!

Iklan

5 thoughts on “[CatLib] Tiga Wisata, Tiga Nuansa

  1. Waaaah, berarti duluan Mbak ke sana ya? *saya ke mana aja, mengenaskan*Okeh, kalo maen ke Lombok Timur dan kebetulan saya lagi di rumah, kasitahu yaaa… 😀

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s