Sebatang Lilin di Musola

Saya lupa, waktu itu umur berapa. Yang jelas, masih di bawah 12 tahun. Yep, kemungkinan sih sudah masuk Madrasah. Dari kesemuanya, satu hal yang masih saya ingat hingga detik ini adalah perayaan ulang tahun saya. Ups, perayaan?

Keluarga saya bukan tipe yang suka merayakan ulang tahun. Dari kakak hingga adik saya terkecil. Sekadar mensyukuri sih, iya. Hanya lewat pemberian ucapan selamat dan… sudah. Makan di luar? Saling memberi kado? Kue tar? Balon warna-warni? Nyanyi-nyanyi happy birth day? Tidak ada! Palingan, malam sebelum ultah, sama orang tua disuruh mengaji.

Namun, saya masih ingat sangat. Saat siangnya saya mengerubungi kakak-kakak sepupu saya. Mereka membungkus kado dengan kertas warna-warni. Kalo tidak khilaf, ada yang isinya buku tulis, ada juga sebungkus crackers. Saya dengan mata berbinar, menyaksikan tangan-tangan terampil kakak-kakak saya membungkusnya. Nanti sore, kata mereka, ulang tahun saya akan di’raya’kan. Di mana? Musola!

Musola itu kebetulan sekali dinamai Al-Fatah. Karena memang dibangun saat saya dilahirkan. Hei, di Musola Al-Fatah itulah ulang tahun saya di’raya’kan!!! Horeee!!!

Dan, saya memakai baju bagus. Bagus, menurut saya waktu itu. Kakak-kakak kandung juga sepupu berkumpul di musola. Menyalakan sebatang lilin putih. Lilin putih yang tak utuh, tak baru. Bukan lilin warna-warni berbentuk angka yang sering dipakai anak-anak masa kini. Lalu, dinyalakan dengan korek api yang mungkin ‘diculik’ dari dapur… Ces!

Lagu selamat ulang tahun pun berkumandang. Sekali lagi, tak ada tar. Hanya sebatang lilin putih yang dipegang sendiri oleh salah satu kakak saya. Saya tiup dengan berbinar. Kami beriang-riang sebentar…

Lalu, pudar…

Cracker-nya menjadi terasa begitu mu’jizat. Saya kunyah pelan-pelan, tak mau dihabiskan cepat-cepat.

Lamat-lamat, tinggallah kenangan. Paling membekas. Mungkin saat kangen nanti saya bisa meminta foto ulang tahun saya itu pada malaikat. Siapa tahu ia diam-diam menjepret momen itu untuk saya.

Nanti…

salah satu foto jadoel saya bersama bibi dan kakak-kakak (bisa tebak, saya yang mana?)

NB: Tulisan ini diikutkan pada lomba bertema ulang tahun yang diadakan oleh Mas Ihwan di sini.

Iklan

11 thoughts on “Sebatang Lilin di Musola

  1. #Mas Tofan: Seru dan paling membekas. With all of its simplicity :))#Mas Iqbal: Matur nuwun. Barusan liat info lombanya, dan segera menulis ini. I don’t know, my mood is currently good 🙂 heehe#Mbak Winny: Terima kasih… Hope you enjoy it 🙂

  2. hehehe… terima kasih, Mas Ihwan, telah menyelenggarakan lomba ini.I really appreciate your work karena bisa memacu saya menghadirkan kembali memori lama.

  3. #Dilla: hahaha… dikirim via pos langit 😀 Thanks, ya, Dil. Hayo, kamu ngga ikutan? Anggap saja sebagai latihan menulis :)#Mbak Eka: Alhamdulillah… seruuu menderu debu. hehehe… Wah, kalo Mbak udah nyetor, yang lain pada minggiiiiiiiiiiirrrr… :DD

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s