[Esai] Social Entrepreneurship Sebagai Sarana Implementasi PIJAR bagi Kaum Muda di NTB

*Tulisan di bawah ini mengantarkan saya menjadi finalis Lomba Menulis Esai Nasional 2010. Kompetisi ini diadakan oleh Indonesian Future Leaders dan UN World Food Programme sehubungan dengan Hari Pangan Dunia yang diperingati pada hari Sabtu, 16 Oktober 2010 dengan tema United Against Hunger.


Saya berasal dari Lombok Timur, sebuah kabupaten di Propinsi NTB yang beberapa waktu lalu terekspos luas di media karena jumlah penderita busung lapar yang tinggi untuk level nasional. Meskipun tidak tinggal di desa-desa yang terdata memiliki penduduk malnutrisi tersebut, tapi kedekatan geografis dan emosional membuat saya tersentak juga. Padahal di desa saya, Pancor, yang merupakan salah satu desa yang berdekatan dengan ibukota kabupaten, saya belum pernah sekalipun menjumpai penderita malnutrisi. Sehingga dalam menyikapi pemberitaan itu ada sedikit kesangsian akan muatan politis di dalamnya. Sekaligus kecurigaan pada media untuk merebut perhatian dan mendongkrak penjualan berita dengan mengangkat isu sosial yang seringkali menggugah rasa kemanusiaan pembaca.

Akan tetapi, tulisan ini tidak sedang berusaha menganalisis hal-hal politis dalam kasus malnutrisi ini. Tulisan ini mencoba untuk mengetengahkan satu hal yang lebih penting lagi mengenai strategi dan peran macam apa yang bisa dilakukan, khususnya kaum muda, untuk mengentaskan kelaparan dan malnutrisi di Indonesia. Dalam paparan di bawah ini, saya akan lebih banyak mengambil contoh kasus di daerah saya sendiri. Setidaknya, ini bisa memberikan gambaran bagi daerah-daerah lain, terutama yang mengalami kasus malnutrisi serius, juga bagi pemerintah pusat untuk kemudian memprogramkan secara nasional upaya-upaya pengentasan kelaparan dan malnutrisi.


Pada 17 September 2010 saya sempat menghadiri Pameran Foto Refleksi 2 Tahun Kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur NTB yang diadakan di Mal Mataram. Dari sekian foto yang tersaji, salah satu yang terekam kuat di kepala saya adalah foto petani yang sedang menyunggi nyiru berisi biji-biji jagung yang nyaris tumpah. Lalu, ada foto seorang wanita bule yang sedang berada di tengah-tengah kawanan sapi peternakan. Ada pula foto orang yang sedang membersihkan rumput lautnya. Selain itu, masih banyak pula foto yang mencerminkan proses pembangunan di wilayah NTB. Belum lagi ditambah dengan poster-poster menggugah bernada imbauan, semisal: Manfaatkan Pangan Lokal; Membumikan Jagung, Merebut Pasar; dan Wujudkan Generasi Sehat dengan Mengonsumsi Pangan yang Beragam, Bergizi Seimbang, & Aman.

Pameran foto tersebut seakan-akan menjabarkan dan mendetilkan pada saya atas baliho besar yang terpancang di Jalan Udayana yang bertuliskan: Sukseskan Program PIJAR Sebagai Program Unggulan NTB Bersaing. PIJAR sendiri singkatan dari sapi, jagung, dan rumput laut. Jadi, pemerintah NTB berharap agar NTB pada tahun-tahun mendatang bisa menjadi “Bumi Sejuta Sapi – Jagung – Rumput Laut”.


Perlu dicatat, program PIJAR ini dicetuskan karena memang sesuai dengan komoditi potensial yang dimiliki NTB, yakni sapi, jagung, dan rumput laut. Di sini terlihat upaya pemerintah NTB untuk perlahan-lahan mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap beras. Sebab, konsumsi masyarakat terhadap bahan pangan, yang umumnya adalah beras, menjadi salah satu indikator tingkat kelaparan dan malnutrisi. Dan, NTB yang pernah dijuluki Bumi Gora (Gogo Rancah, nama jenis padi) karena keberhasilan swasembada berasnya di era Soeharto, untuk saat ini masih belum mampu mengembalikan ‘taji’nya tersebut.

Program PIJAR ini pun dicanangkan sebagai salah satu ikhtiar pemerintah Propinsi NTB untuk mengentaskan kelaparan dan malnutrisi. Tentu saja program ini hanya akan menjadi program kosong belaka jika tidak dibarengi dengan tindakan nyata. Untuk itu, dibutuhkan tenaga-tenaga penggerak dan pelaksana. Pada lokus inilah, kaum muda bisa memainkan peran aktifnya.

Kaum muda, misalnya, bisa membentuk social entrepreneurship. Ini semacam wadah yang seyogiyanya digerakkan oleh kaum muda sendiri untuk melatih kemampuan berwirausaha. Pendanaan bisa diperoleh secara swadaya (misalnya: iuran anggota, menjual hasil seni atau cinderamata buatan sendiri, street art performance, bahkan ngamen) ataupun dengan mengajukan proposal ke pemerintah propinsi atau daerah. Modal ini kemudian dipakai untuk merintis usaha sekaligus memberikan pelatihan pada kaum muda dan orang tua di daerah yang rawan malnutrisi. Usaha ini tentunya dititikberatkan pada pengolahan komoditi pangan lokal untuk dijadikan bahan makanan yang siap santap, aman, dan bergizi. Jika memungkinkan bahkan diolah menjadi sumber pangan yang bernilai ekonomis alias berdaya jual.

Kaum muda yang masih tergabung dalam civitas akademika juga dapat mengembangkan social entrepreneurship bidang pangan lokal ini dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Peserta KKN yang terdiri atas mahasiswa dari berbagai jurusan tersebut bisa mengolaborasikan disiplin ilmunya. Misalnya, mahasiswa jurusan Pertanian yang mengembangkan teknologi dan pengolahan pangan berkolaborasi dengan mahasiswa jurusan Farmasi yang telah memelajari kandungan kimia dalam bahan organik. Kolaborasi dua mahasiswa ini saja diharapkan mampu menciptakan satu jenis pangan yang murah, lezat, bergizi, dan aman dikonsumsi. Artinya, melalui program ini, kaum muda tidak semata-mata memediasi antara kalangan terdidik dengan masyarakat, namun juga bisa menerapkan pengetahuan, menempa keterampilan, juga mengasah naluri sosial secara cerdas, kreatif, dan ikhlas.




*Dewan Juri Babak Final:

1. Mispan Indarjo, Senior Programme Assistant World Food Programme
2. Yuri Alfrin Aladdin, Senior Editor Antara News
3. Ignatius Ismanto, Dosen Tetap FISIP Hubungan Internasional, Universitas Pelita Harapan

Dikutip dari http://indonesianfutureleaders.org/?p=949

Iklan

17 thoughts on “[Esai] Social Entrepreneurship Sebagai Sarana Implementasi PIJAR bagi Kaum Muda di NTB

  1. Ah….,salah satu duta untuk program ini adalah Anggun. Mudah-mudahan banyak anak muda NTB, yang bisa memajukan daerahnya dengan program ini. Dan tulisan mas Fatah ini bisa jadi salah satu pemenangnya.

  2. nonragil said: Ah….,salah satu duta untuk program ini adalah Anggun. Mudah-mudahan banyak anak muda NTB, yang bisa memajukan daerahnya dengan program ini. Dan tulisan mas Fatah ini bisa jadi salah satu pemenangnya.

    Wow, Anggun ya? She’s the singer who I love her songs, really talented and inspiring. Insya Allah, semoga demikian ya, Mbak. Anak-anak muda NTB bisa menjalankan program ini. Dan, Pemprov bisa membaca tulisan ini untuk kemudian diancang-ancang pelaksanaannya secara nyata 🙂 Oya, ini sudah termasuk salah satu dari tujuh finalis kok, Mbak. Juara 1, 2, dan 3-nya sudah ada. Just click the link below the essay for further info 🙂

  3. wow keren fatah 🙂 semoga kau pun termasuk salah satu kaum muda yang mampu mengimplementasikan gagasan2 brilianmu ya 🙂 *asumsi: kaum muda bukanlah orang yg berumur muda, namun lebih pada kemampuan melakukan hal2 yg progresif

  4. nitacandra said: subhanallah Tah, bagus banget tulisanmu :))Banyak yg mb dapat dari isi esaimu ini…temanya bagus ya: United Against Hunger.Good luck ya Tah….

    Alhamdulillah, ada sesuatu yang bisa Mbak peroleh. I’m so blushing and thanking for it :)Temanya memang oke. Dan, karena ada sisi kedekatan tema dengan realita di daerah saya, maka saya tertarik ikut kompetisi ini…Sekali lagi, matur nuwun. Good luck juga buat Mbak 🙂

  5. malambulanbiru said: ini yaaaa .. yang lolos jadi finalis itu?ahai, sip Ataaah! semoga menang! aamiin ..

    Hu’um, Mbak :)Ini sudah boleh dikatakan menang belum ya? Finalis… xixixixi…

  6. nikinput said: wow keren fatah 🙂 semoga kau pun termasuk salah satu kaum muda yang mampu mengimplementasikan gagasan2 brilianmu ya 🙂 *asumsi: kaum muda bukanlah orang yg berumur muda, namun lebih pada kemampuan melakukan hal2 yg progresif

    I do hope so, Mbak.So that’s why begitu lulus kuliah nanti, pengin gabung sama teman-teman di Indonesia Mengajar.I’m so interested on that program. Menimba ilmu di pedesaan dan melakukan kontribusi nyata, pengeeeen banget. Ini sebagai langkah awal menuju ke sana :)Betul sekali, kaum muda bukanlah dilihat dari umur, tapi seperti yang Mbak bilang di atas 🙂

  7. Makasih, Mbak Leila :)Pembatasan jumlah kata juga mau tidak mau membuat saya kudu bikin esai yang ‘concise’. Alhamdulillah… ada kesempatan pulang kampung liburan semester kemarin. Memungut ide, sekalian 🙂

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s