Lian Gouw: Nenek Baru Saya di Bidang Menulis :))

Mas Wisnu (Surabaya Book Club), Lian Gouw, pembawa acara


Gramedia Expo. Minggu, 24 Oktober 2010.


Bagi saya, bertemu dengan penulis adalah hal yang menyenangkan dan membuat saya merasa, “Saya orang beruntung”. Apapun jenis buku yang ditulisnya. Apapun karya yang ia hasilkan. Termasuk ketika pertama kalinya saya bertemu Lian Gouw. Dia yang belum pernah sekalipun saya dengar karya-karyanya. Tapi, saat Gramedia Pustaka Surabaya mengundang lewat FB acara launching dan bedah novelnya ‘Only A Girl: Menantang Phoenix’ sejak semingguan yang lalu, maka saya memantapkan diri untuk ‘harus datang!’ Apalagi setelah membaca sinopsis singkat novelnya dan mengunjungi situs sang penulis: http://www.liangouw.com, maka saya menaikkan status menjadi ‘wajib hadir!’

Dan, satu hal di luar ketertarikan untuk bertemu dengan sang penulis adalah motivasi untuk mendapatkan ‘buku gratis’. Hidup mahasiswa!!! πŸ™‚

Deva, adik tingkat saya di HI yang sudah janjian untuk hadir bareng di acara ini, sudah mewanti-wanti agar saya segera datang ke Gramedia Expo karena sudah hampir pukul 1 siang. Acara akan dimulai, sementara saya masih berjalan ke warung di belakang kontrakan untuk belikan teman makan siang. Dengan alasan tidak ingin terlambat lebih lama lagi – saya amat lama mengunyah makanan – maka, saya pun merelakan untuk tidak makan siang. Sampai Nino, teman yang saya belikan makan siang, geleng-geleng kepala. *Saya bisa menebak apa yang ada di pikirannya* hahaha…

Tapi, saya telah memasukkan sisa crackers rasa kelapa yang saya beli tadi malam dan sebotol air di ransel saya. Amat membantu, kawan! Membantu saya untuk menegakkan kembali punggung saat talkshow ‘Only A Girl’ selesai. Meski jujur, perasaan senang yang meluap karena bertatap muka dan mendengar Lian Gouw berbicara, sudah cukup mampu memacu adrenalin saya dan melupakan rasa lapar yang menggebuk perut.


Lian Gouw, berusia 70-an menjelang 80 tahun, membuat Deva berbisik pada saya, “Aku jadi percaya kalau menulis bisa bikin awet muda!” Dan, saya mengiyakan. Lian Gouw masih tampak sehat, segar, dan bersemangat di usia yang terbilang senior itu. Hingga seorang bapak yang hadir bertanya, “Apa sih resepnya?” Sepenangkap saya, Lian Gouw mengatakan bahwa aktivitasnyalah yang membuat dia seperti ini. Jadi, saya menyimpulkan: menulis.

Menulis novelnya ini saja, ia membutuhkan waktu 4 tahun. Karena ber-setting masyarakat Cina di Indonesia, khususnya antara tahun 1930-1952, (sepenangkap saya) Lian Gouw sampai perlu membentangkan 4 kamus bahasa di meja kerjanya. Kamus bahasa Indonesia asli, Indonesia – Inggris, Belanda – Inggris, dan Indonesia – Belanda. Beliau mengaku tidak familiar dengan kamus daring (kamus online). Di usia setua ini? *Saya langsung bercermin. Saya masih muda, saya seharusnya bisa melakukan lebih dari Lian Gouw* Deva berbisik lagi pada saya, “Untuk melahirkan masterpiece!” Saya mengangguk setuju.

Di Amerika sendiri, novel perdananya ini disambut meriah. Meski pernah ada orang Belanda yang mengkritik isi ‘Only A Girl’ ini karena mengesankan Belanda itu busuk. Tapi, Lian Gouw membela diri bahwa apa yang ia tuliskan adalah apa adanya. Mungkin, pada zaman penjajahan Belanda ada beberapa gelintir orang yang hidupnya bahagia, tapi lihatlah realita yang ada waktu itu. Lihatlah rakyat! *Pembelaan yang oke, pikir saya*

Lalu, ada seorang ibu hadirin yang bertanya pada Lian Gouw, “Apakah ibu pernah jatuh cinta pada pria Indonesia?” Dia menjawab, “Kalau pada perseorangan, tidak. Tapi, saya cinta pada bangsa Indonesia.”

Kecintaan penulis kelahiran Jakarta ini pada Indonesia terlihat pula pada upaya kerasnya untuk berbicara dalam bahasa Indonesia pada talkshow siang tadi. Meski sedikit patah-patah – karena beliau lama dan hingga saat ini tinggal di Amerika Serikat – namun, tak menyurutkan semangat beliau untuk menggunakan bahasa Indonesia secara aktif. Cerita dia, seseorang di Amerika sana pernah bertanya mengenai bahasa apa yang akan ia pakai selama promosi bukunya di Indonesia? Lian Gouw menjawab, “Tentu, sebisa mungkin saya menggunakan bahasa Indonesia.” Saya ber’tepuk tangan’ kencang-kencang dalam hati. Dan, komentar dari Mas Wisnu, penggiat Surabaya Book Club yang mendampingi Lian Gouw, “Dalam waktu 3 bulan, beliau bisa menggunakan bahasa Indonesia secara lebih aktif. Padahal sebelumnya, bahasa Indonesia beliau pasif.” Sebagai tambahan informasi, dalam proses penerjemahan novelnya ke bahasa Indonesia pun, Lian Gouw banyak terlibat.


Idealisme seorang Lian Gouw juga nampak dari ketidakinginannya menerbitkan novelnya secara indie yang saat ini lagi marak di dunia industri perbukuan. Ia bisa saja menggelontorkan uang agar bukunya terbit. Tapi, ia tidak mau. Di sini nampak bahwa kualitaslah yang ia kedepankan. Tidak heran jika naskahnya tersebut dipinang oleh Publish America, LLLP, Baltimore, USA.

Hal menarik lainnya dari sosok Lian Gouw terungkap saat saya diberikan kesempatan bertanya. Saya mengajukan dua pertanyaan: 1) Ekspektasi paling utama Ibu Lian selama menulis novel ini? 2) Siapa penulis yang karya-karyanya Ibu Lian baca? Beliau pun bercerita bahwa ekspektasi utamanya adalah menyelesaikan novel tersebut. Dan, ia menyebutkan kalau menyukai karya-karya Pearl S. Buck, Toni Morrison, dan beberapa penulis yang tidak familiar di telinga saya. Karya-karya Pearl S. Buck sendiri ia baca saat SMA. Saat ia menjadi juara menulis dan mendapat hadiah buku-buku Pearl S. Buck yang dibungkus dengan kulit. Saat ini, buku-buku itu masih ia simpan de
ngan baik di rumahnya. *Saya sekali lagi kagum*


Ketika pembawa acara bertanya, “Adakah penulis Indonesia yang ibu suka?” Lian Gouw pun bercerita bahwa beberapa waktu lalu bertemu Andrea Hirata di Amerika Serikat. Ia tertarik membaca Laskar Pelangi dan menonton filmnya. Saat di Indonesia, ia bertemu pula dengan Remy Sylado yang baru saja mengeluarkan novel terbarunya “Namaku Mata Hari”. Intinya, “Saya suka membaca karya siapapun tanpa memandang latar belakangnya. Tapi, saya memang paling suka kisah yang ada unsur sejarahnya.”


Saya dan (Nanny) Lian Gouw


Di sesi terakhir, saat hendak membagikan buku bagi para penanya, saya menjagokan Deva untuk dapat. Sebab, pertanyaannya bermutu, menurut saya. Sampai dua kali pula. Tapi, ketika Lian Gouw diberi kesempatan untuk menentukan siapa yang berhak dengan menilik pertanyaan-pertanyaan yang terlontar buat dia, tak sangka saya ditunjuk. Saat Mas Wisnu menyerahkan novel ‘Only A Girl: Menantang Phoenix” terbitan Gramedia Pustaka Utama itu, saya sempat ragu. “Not me! This is for Deva,” elak saya dalam hati, sambil melihat ke arah Deva. Hehehe… Jadi nggak enak, nih! *Tapi, saya sudah janji kok untuk meminjamkan novel ini pada Deva*

Seperti biasa, bisa ditebak akhir acaranya, yakni foto-foto dan book signing. Saat book signing ini pun, saya sempatkan ngobrol dengan Lian Gouw. Dia mengajak saya berbahasa Indonesia dengan aksen Inggris. Parahnya, telinga saya menangkap kata ‘cool’, padahal Lian Gouw berkata ‘kuliah’. Sehingga saya pun langsung kegeeran dan membalasa pakai bahasa Inggris, “heh? why do you say ‘cool’?’ Lian Gouw berkata lagi, “Apakah kamu masih kuliah? Student?” Setelah jelas, muka saya pun jadi sedikit mengepiting rebus dan segera membalas, “Ya, I’m student.” Tetap, pakai bahasa Inggris bo! Duh, nasehat dan tohokan Lian Gouw di tengah-tengah talkshow agar orang Indonesia menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, ternyata belum merasuk sempurna di otak saya. Hihihihi…

Ya, beberapa minggu lagi Lian Gouw akan kembali ke Amerika dan menulis novel keduanya. Jadi, kurang afdol kalau tidak mengabadikan foto bersama dengannya.


Deva, (Nanny) Lian Gouw, dan saya


Akhir kata, Terima kasih, Nanny Lian πŸ™‚
Terima kasih Gramedia Pustaka Surabaya.


Salam buku.

Iklan

20 thoughts on “Lian Gouw: Nenek Baru Saya di Bidang Menulis :))

  1. Ini buku mengenai kisah tiga generasi perempuan China yang bergumul demi identitas mereka di tengah ketidakpastian Revolusi Indonesia, Perang Dunia II, dan dunia yang sedang dilanda depresi ekonomi :)Insya Allah, isinya menarik! πŸ™‚

  2. Bukunya masih fresh from the oven…Silakan digeber sampai dapet ya…Setting-nya di Bandung.Dan, paragraf pembuka novel ini membuat saya langsung jatuh cinta sama deskripsinya πŸ™‚

  3. waw, perempuan yg menarik πŸ™‚ apalagi bagian riset 4 tahun dgn buka 4 kamus . huhuhu…btw nanny lian pernah tinggal di indonesia kurun thn berapa fatah? mgk fatah tahu, hehehe

  4. tinggalbaca said: wah, senangnya ^.^

    Hehehehe…Begitulah… Apalagi Nanny Lian Gouw amat ramah. Berasa tidak ada jarak antara senior dan junior πŸ™‚

  5. nikinput said: waw, perempuan yg menarik πŸ™‚ apalagi bagian riset 4 tahun dgn buka 4 kamus . huhuhu…btw nanny lian pernah tinggal di indonesia kurun thn berapa fatah? mgk fatah tahu, hehehe

    Pada masa kolonialisme Belanda, ia masih di Bandung. Setelah itu, beremigrasi ke Amerika. Kalau saat ini usia beliau sudah hampir 80-an, jadi sekitar masih SMP/SMA beliau pindahnya ke Amrik sampai sekarang πŸ™‚

  6. bruziati said: Wahhh selamat ya Tah. Share nanti bukunya kayak apa…aku masih pikir2 untuk beli nih πŸ˜€

    Oke, Insya Allah ya, Mbak. Saya bisa menyelesaikan membacanya dengan cepat dan membuat resensinya :))

  7. Lian Gouw bilang, murni fiksi. Tapi, bukan berarti tho kalau ada pengalaman dan pengamatan beliau yang juga tersuntikkan ke dalam cerita, secara tidak sadar πŸ™‚

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s