[Cerpen] Akad

*Cerpen ini pernah saya ikutkan dalam Lomba Cerpen Tempo Doeloe yang diadakan oleh Arsitektur Indis, setahun yang lalu. Tidak menang, tapi saya sendiri suka jalan ceritanya. Mengingatkan pada cerpen tema lokal yang saya buat sewaktu SMA berjudul Pepadu dan menjadi juara. Hohoho… Ini sih namanya romantisme masa lalu. Ya sudah, monggo dibaca. Kalau ada saran, sangat saya harapkan


Desa Bayan, Lombok, awal 1976.


Pagi mulai mengelupas. Di ujung timur, matahari menyapukan warna wortelnya. Embun perlahan-lahan melayang di udara, meniti kahyangan. Beburung bertingkah di dahan, berceloteh riang, laksana hendak berbagi kabar gembira pada alam sekitar. Rengekan bocah-bocah yang terguyur dinginnya air sungai berkelip-kelindan di antara gesekan rimbunan aur. Begitu pula suara tangis dua bocah dari sebuah gedeng beratap rumbia, berlantai tanah liat, dan berbilik bambu.

Sedari kokokan pertama ayam jantan terdengar, Sahnim telah memulai aktivitasnya sebagai sulung pengganti inaq-nya. Beranjak ke dapur, membersihkan abu sisa kayu bakar untuk memasak tadi malam yang masih menumpuk di tungku tanah liat. Lalu, dia ambil beberapa bilah kayu bakar hasil kampakan amaq-nya. Disusun, dinyalakan sebatang korek api, dan dijentikkan pada sabut kelapa tua di atas susunan kayu bakar. Menyala. Sembari menunggu api mengobar, Sahnim ke belakang rumah. Menimba air sumur, menuangkannya ke dalam tempayan, lalu membawanya kembali ke dapur, meletakkannya di atas tungku. Beres. Kegiatan berikutnya, membangunkan amaq dan kedua adiknya, Anah dan Hadeniah.

Hampir dua tahun sudah ia menjelma menjadi sosok inaq bagi kedua adiknya yang masing-masing berumur enam dan empat tahun itu. Inaq-nya, seperti dituturkan oleh amaq-nya, meninggal karena disantet oleh orang yang tidak suka pada keluarganya. Waktu itu, Sahnim sedang menikmati masa kanak-kanaknya sebagai murid kelas 3 madrasah ibtidaiyah. Dia tidak begitu mengerti pernak-pernik masalah yang melanda keluarga kecilnya. Yang dia tahu, inaq-nya rajin ke kebon mereka yang tidak seberapa luas. Berangkat pagi saat kabut masih tebal melayang dan pulang sore ketika kabut kembali turun membayang. Berbeda dengan amaq-nya yang sepanjang hari hanya bermain judi dan mabuk-mabukan. Tidak jarang Sahnim menjadi sasaran amukan amaq-nya saat nasi dan lauk tak ia temukan terhidang di pelangkan.

Sahnim sebenarnya tak tahan dengan perilaku amaq-nya yang kasar dan brutal. Dia juga tak habis pikir dengan inaq-nya yang seolah-olah tak berkutik di hadapan suaminya sendiri. Inaq-nya akan diam membatu meski tahu anak sulungnya menangis dengan pelipis memar. Anah dan Hadeniah pun tak urung ikut meraung-raung seakan-akan ingin membela kakaknya. Meski dengan cara itu membuat amaq mereka makin kalap.


Inaq, kembeq de tedoq? Kembeq ndeq side uwah bela tiyang? Ndeq side kangen keh leq tiyang?” Sahnim pernah bertanya suatu malam usai pulang dari Masjid Bayan yang berlentera remang.


Ibunya menerawang, tidak kuasa menyembunyikan air mukanya yang berubah suram. Andai ia tahu ibunya teramat lelah dengan penderitaan fisik dan batin yang didapatkan dari suaminya, Sahnim tentu tidak perlu bertanya. Sebab, pertanyaannya justru akan membuat hati ibunya berkarat-karat. Namun, sebagai bocah yang masih polos, tanda tanya di kepalanya tak pernah padam. Bahkan, ketika akhirnya ibunya meninggal dengan dugaan disantet, Sahnim tidak percaya. Untuk alasan apa ibunya kena guna-guna orang jahat? Mengapa bukan amaq-nya saja yang pelot? Mengapa ada orang yang tega melihat dirinya dan kedua adiknya menjadi piatu?


Dalam hati kecilnya, Sahnim tidak terima. Ia yakin ada sesuatu yang tidak beres. Apalagi beberapa hari setelah ibunya tiada, amaq-nya berani-beraninya berbuat tidak senonoh dengan perempuan lain di depan mata Sahnim. Ia sangat tidak terima. Panas hatinya bukan main. Andai ia tidak beradik Anah dan Hadeniah, ingin rasanya ia meninggalkan rumah. Pergi sejauh-jauhnya. Bila perlu ke kota dan tak perlu kembali. Namun, dia sayang pada kedua adiknya. Dia takut nasib mereka bakal lebih buruk lagi jika diasuh oleh amaq-nya atau…jangan-jangan amaq mereka akan merariq lagi? Itulah yang paling merisaukan hati Sahnim. Ia sangat enggan beribu tiri.


Hatinya makin rawan saat ia mengendus gelagat aneh pada diri amaq-nya belakangan ini. Ia akui, ayahnya itu cukup tampan. Kumisnya melintang dengan dada yang bidang. Meski rambutnya selalu acak-acakan jika pulang mabuk, namun dia termasuk telaten menjaga penampilan. Dulu, ibunya pernah bercerita, ayahnya digandrungi banyak gadis desa. Sahnim yakin, setelah ibunya tak lagi di sisinya, ayahnya akan kembali menebarkan pikatannya pada gadis-gadis desa yang masih banyak ranum itu. Dan, beberapa hari belakangan ini, ayahnya selalu tampak linglung di ruang tengah rumah mereka.


Sahnim menggoyangkan kaki kedua adiknya yang masih bergelung dalam hangatnya kain tenun khas Sasak yang bercorak garis-garis putih, cokelat tua, dan merah marun. Anahlah yang pertama kali membuka kelopak matanya meski bibirnya manyun, pertanda tidak ingin dibangunkan. Sementara Hadeniah sedikit berbeda dengan kakaknya. Satu goyangan pada kakinya saja, ia terbangun. Ia memang lebih gampang bangun pagi. Entahlah, apakah ada hubungannya dengan waktu kelahirannya yang menjelang fajar itu.


“Ayo, kalian shalat subuh dulu,” perintahnya setelah kedua adiknya duduk sempurna. “Kakak mau membangunkan amaq.”


Sahnim berjingkat-jingkat menuju kamar ayahnya. Sampai saat ini ia masih takut dengan ayahnya. Meskipun sikapnya agak melunak, agak welas asih setelah ibunya tiada, namun beberapa sifat buruk ayahnya masih bercokol, seperti berjudi dan mabuk-mabukan. Termasuk tidak suka dibangunkan terlalu pagi.


Sahnim menunduk, memicingkan mata melalui lubang kecil pada daun pintu berbahan anyaman bambu. Kamar ayahnya gelap. Lampu teplok memang selalu dimatikan ayahnya saat tidur. Ada yang ganjil. Suara ngorok ayah tidak kedengaran? Tak biasanya.


Ia dorong sedikit pintu kamar ayahnya tersebut. Keremangan lampu teplok yang tersorot dari ruang tengah telah jelas memperlihatkan, tidak ada sosok ayahnya di ranjang.


Di mana amaq tidur? Apakah amaq masih di tempat bebotoh? Atau dia masih teler di tempat minum-minum? Tapi, dalam kondisi mabuk sekalipun, amaq selalu pulang. Mengapa dia…


“Kak! Kak Sahnim… Orang-orang datang! Orang-orang ke rumah kita!”


Sahnim mendengar teriakan Anah dari arah depan, seperti ketakutan. “Kak, ada apa orang-orang kemari…” parau Hadeniah meningkahi.


Secepat kilat Sahnim ke depan. Membuka pintu yang belum tertutup sempurna. Sahnim tercekat. Suara orang-orang ramai di depan rumahnya seperti dengungan lebah. Obor berkilat-kilat menyilaukan mata.


“Joooh… Cepat kembalikan anakku! Kalau tidak, kucincang kamu hidup-hidup!” Seorang lelaki berteriak garang. Seperti suara Amaq Wali, ayahnya Fitriyah, teman sepermainan Sahnim.


Dan, Joh itu adalah panggilan orang-orang pada ayahnya sendiri.


“Ada apa? Kenapa dengan amaq tiyang?”


Suara Sahnim kalah telak oleh dengungan lebah yang sedang dikobar amarah itu. Ia dengan jelas melihat kilatan api di mata orang-orang yang dia kenal sebagai tetangganya juga.


“Minggir Sahnim! Aku mau periksa rumahmu!”


Diperintah oleh Amaq Wali, empat orang berhamburan ke dalam rumahnya yang tidak seberapa luas itu. Sementara orang-orang lainnya memeriksa sekeliling luar.


Sahnim dilanda bingung. Pikirannya kacau. Instingnya mengatakan ia harus ke dalam. Melindungi adik-adiknya yang saat ini sedang ketakutan di dalam kamar. Isak Anah dan Hadeniah pecah. Sementara ia tidak sempat memedulikan dua orang yang sedang mengobrak-abrik kamar ayahnya. Dua orang lagi bergerilya dari sudut ke sudut rumahnya.


“Amaq Joh tidak ada. Fitriyah juga tidak kami temukan. Bagaimana ini, Amaq Wali?”


Lamat-lamat dari dalam kamar Sahnim mendengar laporan orang-orang pada Amaq Wali. Sekian lama Sahnim memeluk dan berusaha menenangkan kedua adiknya. Namun, tak juga mereka berdua tenang. Ia pun tak kalah tegang. Amaq-nya tidak pulang. Fitriyah, temannya yang bertubuh sintal dan tampak lebih dewasa dari usia sebenarnya itu, juga raib. Ayahnya yang dituduh telah menculik gadis itu. Apakah ayahnya hendak merariq lagi?


Sahnim tak kuasa menahan gelombang sesak di dadanya. Ia ikut larut dalam badai kesedihan yang melanda Anah dan Hadeniah yang tidak tahu apa-apa. Sementara tangis kedua adiknya membuncahi langit-langit rumah, Sahnim terisak dalam diam.


Orang-orang telah bubar seiring matahari yang hendak menabur panasnya di seluruh penjuru bumi.


Tiga hari kemudian, di pagi yang masih berkabut, ayah mereka pulang. Sahnim dan kedua adiknya disuruh membereskan pakaian dan alat-alat kebutuhan mereka, membungkusnya dalam sarung.


“Sekarang kita ke rumah Amaq Wali!” ujar ayahnya tegas dan singkat. Bahkan, pertanyaan Sahnim mengenai ke mana saja ayahnya menghilang tiga hari ini, tidak digubris. Kedua adiknya hanya manut. Mereka belum tahu duduk persoalannya. Ia sendiri masih samar, hanya bisa bermain duga.


Sahnim semakin merasa tidak enak begitu memasuki halaman rumah Fitriyah. Gerbang rumahnya didandani janur kuning dengan dua umbul-umbul menjulang tinggi di sisi kanan dan kiri. Halaman depan diteduhi terop tradisional dari anyaman daun kelapa kering. Dan…persis di teras rumah, sebuah kuade cantik terpasang. Kedua adiknya gembira, melompat-lompat di sisi ayahnya, sebab begawe akan selalu menyenangkan. Tidak demikian halnya dengan Sahnim. Bayangan Fitriyah timbul-tenggelam di kepalanya. Ia masih belum rela. Teman sebayanya akan ia panggil dengan sebutan…


Hatinya makin tertusuk saat orang-orang di rumah itu memandangnya dingin. Terutama dari saudara-saudaranya Fitriyah yang sedang duduk berkumpul di samping rumah.


“Silakan masuk!” ucap Inaq Karmah, ibunya Fitriyah, dengan senyum yang dipaksakan. Dia mengenakan baju kurung dan kain tenun ikat bercorak cerah.


“Bagaimana Amaq Joh? Hatimu pasti sedang berbunga-bunga bisa mempersunting buah hatiku. Kau tidak akan mungkir kan dari perjanjian kita?” kata Inaq Karmah sambil mengerling ke arah ayah mereka. Dan tak lupa melempar seulas senyum culas pada Sahnim dan kedua adiknya.


Amaq Wali keluar dari kamar. Ia tampak gagah dalam setelan baju adat Sasak. Sebilah keris terselip di pinggang kirinya.


“Mudah-mudahan ketiga anakmu betah menjadi pembantu di rumah ini!” sambar Amaq Wali.


“Amaq?!?!?!”


Sahnim meradang. Langit seakan runtuh menimpa tubuhnya.






Keterangan:
Gedeng : rumah

Inaq
: ibu (bahasa Sasak)


Amaq
: ayah (bahasa Sasak)


Pelangkan
: balai-balai dari bambu


Inaq, kembeq de tedoq? Kembeq ndeq side uwah bela tiyang? Ndeq side kangen keh leq tiyang?
: Ibu, kenapa kau diam? Kenapa kau tidak pernah membelaku? Apa kau tidak sayang padaku?


Pelot : mati (ungkapan yang kasar).


Merariq
: Adat masyarakat Sasak yang melarikan gadis pujaan hatinya, agar orang tua si gadis luluh dan mau menikahkan anaknya dengan lelaki ‘penculik’ itu. Sang gadi
s selama beberapa malam di’sembunyi’kan di rumah salah seorang sanak keluarga si laki-laki.


Bebotoh : berjudi


Kuade : pelaminan


Begawe : pesta perkawinan



Iklan

14 thoughts on “[Cerpen] Akad

  1. @Mbak Desi: yang langit runtuh? hahaha… nanti sih, pas kiamat :DOya, saya belum baca Ronggeng DUkuh Paruk. Tertarik sangat sih! Katanya bagus banget yaaa…Mudahan berjodoh di perpus, nanti.@Mbak Antung: endingnya kurang nendang ya?

  2. Thanks a lot.Anyway, setting-nya membuat saya berpikir sekali lagi untuk mengirimkan cerpen ini ke media di Lombok.Soalnya, waktu saya benar-benar mengunjungi Desa Bayan, September lalu, sepertinya imajinasi saya meleset mengenai kondisi di sana :))

  3. Karena ingin menekankan aspek tempo doelo-nya, makanya kepikiran pasang tahun 76. hehehe…Padahal tanpa itu pun kalau kita emang benar-benar piawai mengemas ceritanya, pasti bisa mengesankan tempo doeloe.Saya sih hanya membayangkan bahwa pada masa itu, sistem keluarga yang hirarkis menyebabkan adanya marjinalisasi pada kaum perempuan. itu 🙂

  4. lafatah said: Soalnya, waktu saya benar-benar mengunjungi Desa Bayan, September lalu, sepertinya imajinasi saya meleset mengenai kondisi di sana

    meleset yok opo Tah? lama nggak baca2 jurnalmu. piye kabarmu?

  5. Pemakaian nama tokoh-tokohnya.Kalo di cerpen ini, nama-nama memperlihatkan dari kasta bawah –>anyway, saya berat pake istilah kasta, tapi emang kenyataannya begitu.Soalnya, masyarakat Bayan, konon adalah keturunan bangsawan dari Jawa. Makanya, di sana itu rata-rata pake Raden (laki-laki), Dende (perempuan) yang menunjukkan kebangsawanannya.Kalo kondisi alam dan lingkungannya, masih relevan sama cerpen ini 🙂

  6. Alhamdulillah baik juga. Ketimpungan sama udara kota Duluth yang sudah mulai memasuki musim dingin. Aku juga among anaknya orang nih kira kira selama setahun. Exchange student, setingkat SMA gitu.

  7. Oh, yang kapan hari Mbak ceritain itu? Anak Bogor yah?Hohoo… Semoga menyenangkan ya jadi host parent.Oya, bentar lagi kan Natal. Makanya musim dingin…Berapa derajat, Mbak?

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s