[Esai] Sepeda Motor: Dari Solusi Menjadi Masalah

* Esai di bawah ini saya ikutkan pada Lomba Essay OHSE 2010 yang diadakan Fakultas Kesehatan Masyarakat UI. Berhubung saya kalah, hahaha… makanya saya posting di sini saja Padahal saya mengincar hadiah modem-nya. Lumayan kan bisa membantu saya browsing mencari ide tulisan



Sepeda motor merupakan salah satu moda tranportasi yang paling banyak digunakan di Indonesia. Dalam enam tahun terakhir ini jumlahnya sangat mencengangkan. Sebagaimana dilansir Jawa Pos edisi Selasa (10/03) 2009, pada 2005 jumlah sepeda motor mencapai 33,193 juta unit. Pada 2006, diestimasikan jumlahnya mencapai 35 juta unit atau sekitar 70 persen dari total jumlah kendaraan bermesin, termasuk roda empat dan angkutan umum. Dua tahun berikutnya, yakni 2007 dan 2008, jumlahnya diestimasikan sekitar 40 juta unit alias 75 persen dari total kendaraan.

Ditelusuri ke belakang, ada beberapa alasan kuat yang melatarbelakangi jumlah sepeda motor yang merangkak fantastis ini. Pertama, faktor globalisasi. Globalisasi yang telah bergulir selama dua dekade terakhir ini, memberikan efek berantai di berbagai bidang, salah satunya mobilisasi penduduk. Tuntutan profesionalitas dan produktivitas kerja menyebabkan orang harus sering berpindah. Sayangnya, hal ini belum ditunjang sepenuhnya oleh pemerintah kita dengan penyediaan layanan angkutan umum yang terjangkau, aman, dan nyaman. Orang pun beralih pada kepemilikan kendaraan pribadi, salah satunya adalah sepeda motor.


Kedua, faktor fungsionalitas. Sepeda motor dengan body-nya yang ramping mampu menjangkau daerah-daerah yang terkadang sulit atau bahkan tidak mungkin dilalui oleh kendaraan besar yang lain. Gang-gang dan jalan sempit di tengah perkotaan atau jalan setapak di pedesaan atau jalan berliku dan terjal di pegunungan bisa dilalui oleh sepeda motor. Di kota-kota besar, sepeda motor bisa menjadi alternatif menghindari kemacetan. Di pedesaan atau daerah terpencil, justru menjadi alternatif atas ketersediaan moda transportasi yang belum begitu ‘mapan’.


Ketiga, faktor harga. Jika dikomparasikan dengan mobil pribadi, misalnya, jelas harga sepeda motor lebih murah. Kalangan menengah ke bawah bisa menjangkaunya. Hal ini didukung dengan kemudahan pembayaran yang diberikan oleh perusahaan dealer sepeda motor kepada konsumen, misalnya melalui kredit ringan. Konsumsi bensin yang lebih irit juga jadi pertimbangan. Selain itu, tarif pajak yang rendah, membuat para produsen motor membidik pasar potensial di negara-negara berkembang. Upaya mencapai profit, iklan banyak menampilkan produk-produk yang inovatif. Masyarakat pun terpicu untuk membeli.


Keempat, faktor gaya hidup. Faktor inilah yang makin menguat eksistensinya serta menyebabkan shifting dalam pemakaian sepeda motor. Dua dekade lalu, bisa dikatakan sepeda motor termasuk kebutuhan mewah. Namun, saat ini sepeda motor telah menjadi kebutuhan sekunder bahkan primer, tidak hanya bagi masyarakat urban tapi juga suburban. Bahkan, dalam satu keluarga, terkadang masing-masing anggota memiliki kendaraan sendiri dengan merek dan jenis yang berbeda. Kepemilikan tersebut bukan semata-mata alasan mobilitas, tapi lebih kepada pola reward dari orang tua ke anak yang telah berubah.
Maksudnya, seringkali orang tua menghadiahkan sepeda motor pada anaknya jika berprestasi di sekolah atau meningkat jenjang pendidikannya. Alasan semacam ini cukup mudah saya temukan buktinya di daerah saya, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Perubahan gaya hidup ini pun didukung oleh kemudahan modifikasi sepeda motor yang memicu tren dan munculnya kelompok hobiis otomotif.


Keempat faktor di atas, menurut penulis, telah ikut berpartisipasi dalam peningkatan jumlah sepeda motor di Indonesia. Awalnya, keberadaan sepeda motor bisa menjadi alternatif solusi bagi layanan transportasi umum yang belum memadai. Namun, jumlahnya yang tidak proporsional – seharusnya 20 persen saja dari total moda kendaraan bermotor – justru menimbulkan masalah. Berikut analisis penulis.


Di kota-kota besar, sepeda motor bisa digunakan untuk menyiasati kondisi jalan raya yang seringkali macet. Namun, hal ini akan menjadi bumerang saat orang-orang berpikiran sama. Artinya, untuk menghindari macet, orang pun ramai-ramai membeli sepeda motor. Mulanya, sepeda motor menjadi solusi, namun ketika jumlahnya bertambah yang tidak dibarengi dengan peningkatan daya tampung jalan, maka kemacetan pun semakin parah.


Jumlah sepeda motor yang makin banyak berbanding lurus dengan jumlah konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM). Di daerah asal saya, Lombok Timur, seringkali terjadi kelangkaan BBM. Selain karena permasalah teknis berupa keterlambatan suplai, salah satu alasan terkuat adalah membludaknya jumlah sepeda motor harus dilayani. Jadi, persediaan premium seringkali tidak mampu memenuhi permintaan.


Sementara itu, budaya konsumtif terhadap bahan bakar fosil pun meningkat. Sepeda motor turut berpartisipasi aktif dalam hal itu. Kemacetan, polusi udara, dan kebisingan di jalan raya juga daerah-daerah wisata adalah beberapa dampak negatifnya.


Padahal bahaya pemanasan global akibat emisi karbon yang meningkat di atmosfer kian menjadi isu penting dewasa ini. Bagi penduduk kota, hal itu telah mulai disadari. Bentuk kesadaran itu salah satunya diwujudkan melalui aktivitas bike to work. Kendati demikian, fenomena sebaliknya terjadi di desa-desa dan daerah pedalaman. Anggapan bahwa desa mereka masih mampu menyediakan oksigen melimpah alias belum merasakan dampak global warming, sehingga sepeda motor pun makin ramai dipakai. Padahal, lambat atau cepat, seiring dengan pertumbuhan dan pembangunan, kondisinya akan berubah menjadi perkotaan.


Mudahnya kepemilikan dan pengendaraan sepeda motor, memunculkan tidak sedikitnya pengendara muda. Mereka dituntut untuk bisa berkendara, bahkan sejak masih SD. Alasan gengsi yang menjadi bagian dari gaya hidup, ikut berperan di dalamnya. Efeknya, anak-anak usia sekolah, SMP hingga SMA, menjadi pengendara motor yang aktif.

Disayangkan, seringkali hal tersebut tidak dibarengi dengan pengetahuan berkendara yang baik. Pemahaman mengenai aturan lalu lintas yang minim serta keterampilan bermotor yang kurang dari cukup mengakibatkan sering terjadinya pelanggaran lalu lintas. Bahkan, tidak sedikit yang berujung pada kecelakaan hingga kematian.

Kondisi ini diperparah dengan budaya kebut-kebutan yang marak hingga ke desa-desa. Di daerah asal saya, Lombok Timur, misalnya. Anggapan bahwa banyak ruas jalanan yang sepi seh
ingga kebut-kebutan pun dipermisikan. Kasus-kasus semisal menabrak trotoar, pohon, bahkan hewan ternak seperti kerbau atau kuda yang melintas di jalanan desa pun cukup sering terekspos media lokal.


Fakta di lapangan ini turut diperkuat oleh catatan statistik yang dikeluarkan oleh Departemen Perhubungan RI pada tahun 2004 bahwa sepeda motor merupakan penyumbang terbesar kecelakaan di jalan raya. Dari 17.732 kecelakaan di seluruh Indonesia, 14.223 di antaranya melibatkan sepeda motor. Menariknya, pertumbuhan sepeda motor justru meninggi (Sadmiko, 2006).


Pengguna motor yang meningkat berdampak pula pada menurunnya pengguna jasa transportasi umum. Program pemerintah mengurangi kemacetan dengan penyediaan transportasi umum, bisa dikatakan belum berhasil. Ini berbanding lurus dengan tarif yang masih mahal dan faktor kenyamanan dan keamanan yang belum bisa dijamin oleh alat tranportasi publik tersebut. Jelas, ini menjadi PR besar bagi pemerintah.


Lalu, apa alternatif yang bisa ditawarkan atas masalah ini? Menurut penulis, salah satu cara efektif mengendalikan jumlah sepeda motor di Indonesia adalah melalui kebijakan fiskal, misalnya menaikkan pajak kendaraan. Dikutip dari Jawa Pos, jumlah pajak dari sepeda motor senilai Rp 10 triliun/tahun. Jumlah ini sebelas kali lebih kecil dibanding kerugian akibat kecelakaan di jalan raya yang dialami pengendara motor yang nilainya mencapai Rp 110 triliun/tahun. Jika kebijakan ini diterapkan, masyarakat akan berpikir lebih kreatif dan terpacu menerapkan konsep go green dalam mobilitas mereka.


Selain masyarakat yang diharapkan bertindak aktif, tentu saja langkah-langkah kongkrit dan solutif dari pemerintah juga sangat diharapkan. Penyediaan sarana tranportasi publik yang terjangkau dan dengan fasilitas memadai, misalnya, bisa menjadi langkah awal bagi pemecahan masalah ini.


Kesimpulannya, sepeda motor yang awalnya menjadi solusi lalu menimbulkan masalah, perlu pula dicarikan solusinya. Anda mau berpartisipasi?


*gambar diambil dari http://www.primaironline.com*

Iklan

2 thoughts on “[Esai] Sepeda Motor: Dari Solusi Menjadi Masalah

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s