Lumut Ijang

“Lumut tidak akan berkumpul pada batu yang menggelinding”

Kalimat ini distatuskan oleh sahabat saya, Ijang. Saya langsung menyukainya. Itu pertanda, saya setuju dengan metaforanya.

Namun, setelah saya search di Google, saya menemukan beberapa fakta terkait lumut. Berikut di antaranya.

  1. Tumbuhan lumut memiliki peran dalam ekosistem sebagai penyedia oksigen, penyimpan air (karena sifat selna yang menyerupai spons), dan sebagai penyerap polutan.
  2. Tumbuhan ini juga dikenal sebagai tumbuhan perintis, mampu hidup di lingkungan yang kurang disukai tumbuhan pada umumnya.
  3. Beberapa tumbuhan lumut dimanfaatkan sebagai ornamen tata ruang. Beberapa spesies Sphagnum dapat digunakan sebagai obat kulit dan mata.
  4. Tumbuhan lumut yang tumbuh di lantai hutan hujan membantu menahan erosi, mengurangi bahaya banjir, dan mampu menyerap air pada musim kemarau.

Keempat fakta di atas membuat saya berpikir ulang atas status sahabat saya tersebut.

Ini klarifikasinya.

Terhadap status “Lumut tidak akan berkumpul pada batu yang menggelinding”, saya menginterpretasikan begini. Bahwa orang yang berdiam diri, statis, dan malas berpikir lebih cenderung dihinggapi oleh hal-hal negatif. Ia yang berdiam diri dan tidak aktif bergerak, lebih rentan terhadap penyakit. Ia yang statis akan mengalami kehidupan yang membosankan. Ia yang malas berpikir, otaknya akan dipenuhi oleh kerak-kerak kebodohan.

Sebaliknya, mereka yang aktif bergerak, beraktivitas positif, berolahraga, dan berolahjiwa akan cenderung untuk tidak dihinggapi ‘lumut’ dalam hidup dan kehidupannya.

Jadi, lumut lebih mewakili suatu kondisi borok. Yang membuat kehidupan ‘batu’ – mewakili manusia – menjadi bobrok. Jadi, seolah-olah lumut sebagai pihak yang negatif.

Namun, setelah saya mencari tahu apa dan bagaimana tanaman lumut itu, saya menjadi tidak sepenuhnya setuju pada status Ijang di atas.

Justru, lumut dan batu bisa saling melengkapi satu sama lain. Lumut memang bisa membuat batu perlahan-lahan hancur dan lumat, tapi bukankah setelah itu akan muncul kehidupan berikutnya yang lebih indah. Inilah mengapa lumut dijuluki tumbuhan perintis. Ia perintis kehidupan. Mungkin saja, batu tersebut tidak bisa bertahan karena strukturnya yang memang tidak kuat. Lalu, lumut pun menginvasinya. Sekian lama waktu berjalan, batu itu akan di-make up-i oleh lumut yang hijau. Hijau menyegarkan.

Itu, kalau si batu – manusia – mau berkorban untuk ditumbuhi lumut, yang pada akhirnya nanti akan melahirkan sesuatu yang lebih bermanfaat bagi organisme lainnya. Jadi, ditumbuhi lumut, bukanlah suatu hal yang perlu diresahkan. Bukan aib. Bukan hal yang negatif. Justru, dengan menjadi batu yang diam, tak bergerak, tidak terus-terusan menggelinding, si batu telah menyediakan dirinya (menjadi medium) untuk ditumbuhi sesuatu yang lebih bermanfaat, yaitu lumut.

Saya hanya ingin menekankan, batu yang diam di tempat yang lembab pun, bisa bermanfaat bagi lumut yang kemudian lumut bermanfaat bagi semesta (lihat 4 fakta manfaat lumut di atas). Jika Anda memilih menjadi batu yang menggelinding, terus bergerak alias dinamis, maka Anda juga akan menghadapi konsekuensi-konsekuensi yang tidak sedikit. Bisa saja Anda bermanfaat bagi semesta, bisa pula tidak.

Ujung-ujungnya nanti, batu yang diam dan ditumbuhi lumut akan pula hancur pelan-pelan.

Ujung-ujungnya nanti, batu yang terus menggelinding akan aus dan habis.

Nah, selama perjalananan menuju ketiadaan itu, peran seperti apa yang akan Anda mainkan. Menurut saya, itu pertanyaan pentingnya.

Iklan

3 thoughts on “Lumut Ijang

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s