Memanfaatkan Status Mahasiswa

Menyandang status mahasiswa, bagi saya, memiliki sisi keuntungan. Terutama perihal menulis. Selain memiliki waktu yang lebih intens untuk mengakses buku-buku alias membaca, dengan status mahasiswa, saya juga berkesempatan untuk belajar menulis lebih banyak. Bagaimana tidak? Dalam seminggu untuk semester ini, tercatat empat jurnal untuk empat mata kuliah yang harus saya kerjakan. Jurnal, isitlah pengganti untuk paper atau makalah. Rekor paling banyak adalah semester empat. Rutin mengerjakan lima jurnal dalam seminggu dalam satu semester. Yes!

Prestasi? Karena sesama mahasiswa HI mengalaminya, bagi saya, itu bukanlah prestasi yang mesti dibanggakan. Justru, keluhan demi keluhan sering kali terlontar. Utang dan tunggakan jurnal adalah hal yang lazim kami bicarakan. Tagihan dari asisten dosen juga sudah jadi tradisi. Peringatan dari dosen bahwa jurnal bisa menyelamatkan nilai UTS dan UAS – seandaianya jeblok – telah berulang kali disampaikan di awal semester. Bahkan, sampai kami negosiasikan pula skor nilainya. Biasanya 25% dari total UTS, UAS, presentasi, dan diskusi kelas.

Terbiasa menulis jurnal, melatih berpikir logis dan sistematis. Selain itu, terbiasa pula untuk menghargai penulis lain dengan mencantumkan sumber jika dikutip dari tulisan mereka. Meski terkadang, yang saya temui di lapangan juga saya lakukan sendiri, jika sumbernya berbahasa Inggris, maka kami lebih suka menerjemahkannya. Ada yang menerjemahkan dengan patuh pada teks, ada pula yang bebas, ada yang memparafrasekan pokok-pokok pemikiran si penulis, dan yang lebih ‘canggih’ lagi meng-google translate. Herannya, meski sudah tahu hasil terjemahan mesin pencari nan pintar itu tidaklah memuaskan, namun kami – para mahasiswa – tetap saja menggunakannya dan tetap saja…mencelanya! :))

Pinteran aku ketimbang Google Translate. Padahal lho, bahasa Inggrisku gak apik-apik amat!”

Untung saja si Google Translate tidak dikaruniai perasaan dan tidak perlu marah di-kata-in begitu.

Lepas dari itu, saya ingin mengetengahkan satu hal bahwa status mahasiswa yang saat ini masih bercokol pada diri saya, sungguh amat membantu dalam dunia kepenulisan. Anda tentu sudah mengetahui jika banyak lomba menulis yang sasaran pesertanya adalah mahasiswa. Lomba-lomba menulis itu, bisa jadi cerpen, puisi, esai, artikel, dan paling banyak karya tulis ilmiah. Institusi atau lembaga yang mengadakan, mulai dari lingkungan kampus hingga departemen, kementerian, hingga organisasi internasional. Hadiahnya, mulai dari sekadar piagam penghargaan, uang tunai, trofi, barang elektronik, hingga jalan-jalan ke luar negeri.

Well, dari sekian lomba yang pernah saya ikuti, saya selalu antusias jika persyaratan pesertanya adalah mahasiswa. Setidaknya, saingan berkurang karena umum tidak disertakan. Meskipun tidak menampik kemungkinan banyaknya mahasiswa yang akan berpartisipasi dalam lomba bersangkutan. Tapi, setidaknya, para pelajar SMA, para wartawan, dan masyarakat umum tidak dilibatkan sebagai peserta. Bagi saya, itu sudah menjadi pemicu semangat berlomba menulis.

Sering menang karena saingan yang kurang? Tidak juga! Bahkan, beberapa teman saya yang sudah mulai keranjingan lomba menulis – hasil dari saling meng’infeksi’ satu sama lain – pun bisa menjadi saingan yang patut diperhitungkan. Contohnya, Maria Elysabet. Teman saya yang pada bulan Juni lalu ke Amerika Serikat karena mendapat beasiswa IELSP, pada tanggal 30 November kemarin menjadi pemenang lomba esai bertema Musik yang diadakan oleh MJE (lembaga konsultan migrasi dan pendidikan ke Australia). Saya yang juga mengikuti lomba tersebut, harus mengakui keluwesan dan kedalaman esainya.

Itu satu contoh kecil bahwa lomba-lomba menulis yang cukup rajin saya ikuti, tidak selalu keluar sebagai pemenang. Namun, saya tidak mau patah semangat. Saya anggap saja lomba-lomba menulis ini sebagai medan untuk menempa kemampuan menulis, mengasah ketajaman inderawi, serta mengamplas otak untuk berusaha berbeda dan lebih potensi untuk jadi pemenang. Kenapa harus menang? Karena menulis itu tidak mudah dan jangan sampai kata-kata yang telah kita peras keluar dari pikiran berujung pada ‘hanya memenuhi semangat menggebu ikutan lomba’.

Think strategic! kata yang sering kali ditekankan oleh dosen saya, Mas Joko Susanto. Kalau kita hanya melakukan sesuatu karena mengikuti pakem yang ada tanpa berusaha untuk berpikir strategis, maka kita akan tertinggal jauh. Berpikir strategis dalam mengikuti lomba menulis, beberapa di antaranya adalah memikirkan dan memilih ide yang kita anggap paling cemelang, berusaha menulis dengan gaya berbeda, dan yang paling penting adalah hanya mengikuti lomba yang Anda merasa paling capable di bidang itu! Trik yang agak curang, mungkin, tidak berkoar-koar banyak atas info lomba menulis – katakanlah, hanya Anda yang tahu info lomba menulis tersebut – sehingga saingan pun berkurang. Hehehe…

Sabtu, 12.13 am.

Iklan

22 thoughts on “Memanfaatkan Status Mahasiswa

  1. lafatah said: saingan berkurang karena umum tidak disertakan

    ahahaha .. aku lho sekarang kalau ikut lomba masuk kategori umum dan memang iya .. (awal-awal) rasanya berat, tapi lama-kelamaan biasa kok, Tah(faktor umur juga sih–hahaha, apa sih)

  2. lafatah said: Think strategic! kata yang sering kali ditekankan oleh dosen saya, Mas Joko Susanto. Kalau kita hanya melakukan sesuatu karena mengikuti pakem yang ada tanpa berusaha untuk berpikir strategis, maka kita akan tertinggal jauh. Berpikir strategis dalam mengikuti lomba menulis, beberapa di antaranya adalah memikirkan dan memilih ide yang kita anggap paling cemelang, berusaha menulis dengan gaya berbeda, dan yang paling penting adalah hanya mengikuti lomba yang Anda merasa paling capable di bidang itu!

    salam buat dosenmu. kok pemikiran kita sama sih? dosenmu itu mesti ganteng .. soalnya aku cantikeh, memesona

  3. malambulanbiru said: ahahaha .. aku lho sekarang kalau ikut lomba masuk kategori umum dan memang iya .. (awal-awal) rasanya berat, tapi lama-kelamaan biasa kok, Tah(faktor umur juga sih–hahaha, apa sih)

    so that’s why, aku berusaha mendadar diri di level mahasiswa ini dengan sering ikutan lomba, mbak. ntar kalo udah masuk kategori umum, setidaknya bisa mengerem keterkagetan dan keterberatan karena saingan yang banyak :Deh, mbak desi sudah berumur ya? *tepok jidat dan kabooooooooorrr*

  4. malambulanbiru said: salam buat dosenmu. kok pemikiran kita sama sih? dosenmu itu mesti ganteng .. soalnya aku cantikeh, memesona

    mas joko, dosen yang paling menawan dengan kecerdasannya. peraih beasiswa ke London Economic School. Ditawari masuk Deplu, tapi beliau menolak. idealis untuk menjadi dosen. dosen muda yang selalu membuat terpukau kami – mahasiswanya – dengan retorikanya yang… menawan.mbak desi kan memesona, nah beliau…menawan! 😀

  5. #Mbak Diyah: Heheh… Makasih, Mbak atas doanya. Semoga demikian pula yang terjadi pada Mbak :)#Mbak Tutuq: Lanjutkaaaaaaaaaaan… yuk, sama-sama! 🙂

  6. lafatah said: Think strategic! kata yang sering kali ditekankan oleh dosen saya, Mas Joko Susanto.

    AKu wingi kok gak mbok kenalno seh? Curang iki, aku dikenalno neng arek2 hedon ae.

  7. hahahaha…karena momen yang digariskan untuk sampeyan temui, kebetulan itu. :DCoba pas beliau ada kuliah umum Tjokroaminoto, sampeyan masih di Surabaya. Tak ajak untuk hadir. Karena beliaulah yang jadi pemangku kuliah umum yang amat sangat keren ini 😀

  8. Insha Allah next time duehhh.. Itupun kalau dirimu sik ndek Suroboyo.Baru juga 5 bulan, kok wis kangen Suroboyo yo? Klesetan di mesjid ngenteni awakmu sampe ngantuk2, ngombe teh botol lali mbayar. qaqaqaqaq…Dan yang tak terlupakan, dibawah gerimis andok angsle beralaskan ransel. Jiahhhh…Ini jauh lebih berkesan daripada nongkrong di cafe Gramed

  9. Kalo pertengahan tahun depan, Insya Allah akan masih di Surabaya…Tapi kan kalopun saya udah di kota lain, kita masih tetap bisa janjian kopdar :))wkwkwkw….masih diingat juga teh botol lali mbayar iku 😀 emang pengalaman-pengalaman ‘kecil’ itu jauh lebih berkesan daripada hal-hal yang berbau ‘hedon’ :Dsssssssssshhhhh… jadi kangen saya. makan martabak di taman bungkul, mbonceng sampeyan, buku ttg journalism yang…semoga someday bisa aku miliki :))

  10. hoalahhhh reply kok dobel dobel ngene.Taun depan Insha Allah ra muleh, waktunya menjelajah negeri keduaku ini. 2 tahun lagi rek. Kemaren Jawa Sumatra, ntar Nusa Tenggara ya Tah?Okelah janjian kopdar, tahun depan mungkin dirimu yang mengunjungi aku, di negeri keduaku ini Amin Ya Robbal Alamin.Buku jurnalism nya, belum dikirim kemari sama adikku. Huaaaa. Semester depan sudah mulai kuliah. Dirimu pengen toh? Kebetulan kalau gitu aku nyari sekennya, nanti kan awakmu bisa ngelungsuri. Dan aku bisa tetep punya (yang belum juga dikirim kemari itu).

  11. Dua tahun lagi?Okay… *memahami negeri Paman Sam yang jauhnya ribuan kilo*Iya, ditunggu banget trip Nusa Tenggara-nya. Dan terus ke Indonesia bagian timur…Amin ya Robbal ‘Alamin atas doanya, Mbak. Berkunjung ke AS? *I’ll keep it tightly in my dream and pray*Hehehehe… Kira-kira di Eropa ada nggak ya dijual buku Journalism itu, mbak? Biar aku nitip sama temen yang lagi kuliah di Belanda. Desember atau Januari ini dia bakal pulang ke kampus 😀 Judul lengkap dan penerbitnya dong, Mbak… Lemme know it.

  12. wingi moro2 matek Tah, tiwas ngecepret sing dijak caturan wis minggat :PInsha Allah ke Nusa Tenggara Tah. Aku nggak ngerti di Eropa ada apa enggak. Judul textbooknya “Inside Reporting”, penulisnya Tim Harrower. Punyaku 2nd edition. Kebetulan aku baru dari kampus sekalian ngecek textbook dimaksud. Belum ada yang seken. Mudah2an abis ujian ada yang seken. Biasanya lungsuran dari para mahasiswa. Tapi gak asik ah, harganya masih lebih mahal dibanding harga di luar. Di internet banyak yang jual, baru maupun seken. Harganya jauh lebih murah daripada di kampus. Yang baru malah lebih murah, $38.46 belum termasuk ongkos kirim. Aku sudah gugel beberapa situs, sepertinya di Barnes & Noble yang paling murah. Cek di situsnya Barnes & Noble ya.Mau lebih murah lagi, ada 1st edition. Aku liat isinya sekilas, Insha Allah sama. Cover depannya beda. Mau tau harganya?? Bikin melotot mbokk. Cuma $4.42 saja. Lagi lagi di situs Barnes & Noble. Cekidot disini yah.

  13. Iyo, Mbak. Tiba-tiba komputer hang dan koneksi melambat. Eh, kuota habis ternyata. Jegleg! 😀 Sorry banget, mbak. Mau log in maneh, gak kuat koneksi ne. Hehehe…cuma 0,something kbps :DOalah…mendingan tak tanya dulu temenku, si Jamal. Mudahan ada di toko buku di Venlo, Netherland, sana. Padahal kan isi bukunya bagus banget. Kayaknya masih belum berani penerbit di Indonesia menerbitkannya. Apalagi dengan full color illustrations kayak gitu. Jatuhnya mahal :)) Oya, Mbak. Kalo kita membelanjakan sekadar $50 gitu di luar negeri (tanpa kita harus mengonversikannya ke rupiah), rasanya murah, nggak? hehehe…Btw, yang 1st edition juga bikin mupeng euy sama harganya. Deuh, kapan ya..kapan ya…buku ini berjodoh sama saya? 😀

  14. lafatah said: Iyo, Mbak. Tiba-tiba komputer hang dan koneksi melambat. Eh, kuota habis ternyata. Jegleg! 😀 Sorry banget, mbak. Mau log in maneh, gak kuat koneksi ne. Hehehe…cuma 0,something kbps 😀

    Ora opo opo. Toh obrolan bisa dilanjut di kamar sebelah, cuman moodnya aja yang berubah. Tadinya mau tak lanjut kirim email, ndilalah salah pencet malah kehapus. Oalaaaaa….Ngkok ngkok ae dilanjut, Insya Allah kalau kang momod masih menampakkan diri.

  15. lafatah said: Oya, Mbak. Kalo kita membelanjakan sekadar $50 gitu di luar negeri (tanpa kita harus mengonversikannya ke rupiah), rasanya murah, nggak? hehehe…

    Sebelum njawab tak nyengenges dulu. hehehehehhe….Tergantung apa yang mau dibeli. Beli buku harga segitu, yo larang jeh. Wong beli online dengan harga segitu bisa dapat segambreng buku. Bukunya resmi lho, bukan bajakan. Disini gak ada barang bajakan. Sejak kuliah sudah diwanti wanti masalah plagiat. Ketahuan plagiat hukumannya pecat tanpa ampun, meskipun plagiatnya cuma sebaris kalimat. Ngisi pulsa hape $50 termasuk murah. Aku pake yang prabayar, dengan harga segitu kadang baru habis dua bulan. Makan diluar $10 sekali makan itungannya murah, meskipun masih lebih murah kalau masak sendiri. Bayangin aja kalau makan diluar sehari, bisa habis $30. Belanja makanan rutin $50 seminggu termasuk standard diluar daging. Soalnya aku belanja dagingnya khusus di halal butchery, dua minggu sekali. Jadi ya tergantung sikon dan gaya hidup seseorang. Ini ada gambaran yang mungkin Fatah bisa menarik kesimpulan sendiri. Tahun 2009, aku berdua anakku backpacking keliling Amerika. Bergantung sepenuhnya dengan kendaraan umum kecuali di segment Flagstaff – Sedona pulang pergi, aku terpaksa sewa mobil. Soalnya kalau pake angkutan wisata lebih mahal dibanding sewa mobil.Pass kereta api untuk orang dewasa $749 dan itu berlaku untuk 45 hari. Bisa naik turun dimana saja sak karepe selama memenuhi syarat gak lebih dari 18 segments. Untuk ukuran sini, amat sangat murah. Dengan uang segitu kita bisa menjelajah seantero Amerika dari Utara ke Selatan, dari Timur ke Barat asal pinter pinternya mengatur rute. Nilainya jangan dikonversi ke rupiah, bikin mumet emang.

  16. Penjelasan yang runtut dan mudah dicerna.Matur nuwun sanget, Mbak.Aku paham sekarang. Kalo terus dikomparasikan, jadinya gak beli apa-apa nanti. Hehehe…Karena semuanya sudah disesuaikan dengan tingkat daya ekonomi suatu negara.Jadi, hal yang sama akan terjadi, tatkala bule maen2 ke dunia ketiga. Mereka pasti bakal sering takjub, “Kok murah banget siiiih???” Bener, kan, Mbak? 🙂

  17. lafatah said: Aku paham sekarang. Kalo terus dikomparasikan, jadinya gak beli apa-apa nanti. Hehehe…Karena semuanya sudah disesuaikan dengan tingkat daya ekonomi suatu negara.

    Maturn nuwun sama sama.Iya jangan dibandingin, bikin cenut cenut malah gak beli apa apa. Tetapi ada pengecualiannya. Contohnya buku, murahnya minta ampun seperti yang sudah aku jelaskan sebelumnya di jurnal sebelah.Perlu diingat juga, pendapatan dalam dolar pengeluaran dalam dolar juga bukan?

  18. lafatah said: Jadi, hal yang sama akan terjadi, tatkala bule maen2 ke dunia ketiga. Mereka pasti bakal sering takjub, “Kok murah banget siiiih???” Bener, kan, Mbak? 🙂

    Betul sekali. Murah sak sembarange termasuk tenaga kerjanya, Karena tenaga kerja murah, memiliki asisten rumah tangga adalah hal biasa. Keluarga kelas menengah di Indonesia rata rata punya asisten. Jenisnya juga beragam. Ada yang tinggal di rumah majikan, ada yang datang sesekali, ada yang datang hari pulang sore alias nggak nginep dan macam macam lagi. Aku bilang rata rata dan itu artinya ada yang gak punya. Pekerjaan sektor informal juga banyak karena alasan tenaga kerja yang murah tadi. Contohnya jasa tambal ban, ojek sepeda motor, ojek payung kalau musim hujan, tukang ledeng, tukang listrik, tukang betulin bangunan dan lain lain. Coba bandingkan dengan situasi di US. Tenaga kerja sangat dihargai (baca: mahal). Keluarga yang kuayaaaaaaa yang punya asisten di rumah. Jasa potong rumput untuk satu musim (musim panas dari Juni sampe Agustus) $300. Dikerjakan seminggu sekali atau sepuluh hari sekali, terserah yang nggarap asal jangan sampe rumputnya terlalu gondrong.Benerin listrik, pipa air dan betulin bangunan yang bocel kalau bisa dilakukan sendiri. Ongkosnya sangat mahal untuk manggil tukang. Beberapa hari lalu pemanas di rumahku gak jalan, temperaturnya gak bergerak ke suhu yang diinginkan. Suamiku lagi tugas ke luar negeri untuk waktu yang cukup lama. Biasanya beliau yang turun tangan sendiri. Berhubung aku nggak mudeng urusan teknik kayak gitu, terpaksa manggil orang. Dan ternyata masalahnya sangat sederhana. Tombol pengatur alat pemanas pusatnya di ruang basement belum disesuaikan, masih tetap seperti musim gugur dimana udaranya masih tergolong anget dan nggak butuh pemanas. Tentu saja berimbas ke alat pengontrol di ruang atas. Masalahnya sepele bukan? Cuma menekan tombol, tapi ongkosnya hampir $100. Tukang tambal ban disini gak ada. Ban bocor ya dibuang. Beli baru lebih murah. Tukang pompa ban juga gak ada, tapi banyak gas station (pom bensin) menyediakan air pump gratis. Self service tentunya. Sebagian besar rumah tangga disini peralatan pertukangannya lumayan lengkap kalau untuk perbaikan kecil kecilan. Seperti misalnya pasang pintu rumah, reparasi mobil kecil kecilan, mesin pemotong rumput, mesin pengeruk salju dsb. Enggak sedikit bule2 yang menjadi manja sewaktu tinggal di Indonesia. Punya asisten di rumah, mulai dari tukang masak, tukang bersih bersih, tukang kebun, sopir. Lagi lagi karena alasan yang kau tulis tadi “kok murah banget???” Meskipun ada juga yang disediakan oleh kantornya. Tapi ada juga yang nggak kepengaruh. Semuanya dikerjakan sendiri karena sudah terbiasa mandiri. Waktu kami tinggal di Indonesia, nggak ada pembantu. Semuanya dikerjakan sendiri. Kemana mana naik motor bahkan sepeda onthel. Sepertinya hanya kami satu satunya keluarga yang menggunakan motor bebek sebagai transportasi sehari hari di kompleks pemukiman yang kami tinggali saat itu. Pemukimannya orang asing. Kalau butuh mobil, panggil taxi aja. Dibilang kere, pelit bodo amat.

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s