Perang Dunia I untuk Maulana

Saya sadar. Saya memberikan buku itu karena tahu bahwa sebuah buku bisa memberikan perubahan. Setidaknya pada pola pikir seseorang. Jadi, saya relakan saja buku itu berpindah tangan. Pada seorang bocah kelas 4 madrasah ibtidaiyah – setingkat SD di sebuah desa yang menjadi sentra kerajinan anyaman bambu. Maulana Firdaus, begitulah nama bocah itu.

Bukan. Bukan lantaran ingin memeroleh kompensasi atau tepatnya, gratisan atas rujak yang saya beli, dari jualan ibunya. Tidak, sama sekali. Bocah itu mengingatkan saya pada masa kecil saya. Bocah itu mengingatkan saya pada diri saya sewaktu duduk di madrasah ibtidaiyah. Sama-sama di bawah naungan Nahdatul Wathan. Saya di Pancor. Dia di Loyok.

Dia, dituturkan oleh sang ibu, memiliki minat baca yang tinggi. Perpustakaan menjelma ruangan pribadinya tiap jam istirahat. Dia amat kritis. Ranking 1 selalu digenggamnya sejak kelas 1. Usai sekolah, bukannya keluyuran bermain. Ia pulang dengan diekori teman-temannya. Belajar bersama. Mengerjakan PR bareng.

Tuhan sedang menghibur saya. Bocah itu adalah cerminan saya. Meski hingga kelas empat MI, ranking saya tidak melulu 1. Namun, saya tidak pernah melompat dari lima besar di sekolah. Ranking saya baru perlahan-lahan meningkat setelah saingan terberat saya, Khidir, pindah sekolah.

Si Maulana gemar baca, saya juga. Meski perpustakaan sekolahnya terbayangkan lebih menyenangkan. Sebab, di MI saya dulu, perpustakaan satu lokasi dengan ruang guru. Amat tidak sopan membuat keributan kecil di ruang guru yang mana guru-guru akan berkumpul di situ seusai mengajar. Larangan untuk tidak meminjam buku pun diberlakukan. Siswa hanya boleh baca di tempat. Saya pikir, itu sebuah hal yang buruk. Manakala sekolah tidak memberikan waktu yang cukup lega bagi para siswanya untuk membaca. Belum lagi mereka yang ritme bacanya lambat. Seperti saya. Waktu istirahat takkan cukup untuk menghabiskan satu buku cerita.

Untung saya tidak mendapatkan cerita kalau si Maulana mengambil buku-buku perpustakaan untuk dibawa pulang. Ibunya tidak sampai membeberkan itu karena memang – mungkin anaknya tidak melakukan tindakan tidak terpuji itu. Masih mending Maulana. Tidak dengan saya. Menyelipkan buku perpustakaan di pinggang, terjepit oleh celana seragam sekolah, dan membawanya pulang. Lalu, sembari makan siang, saya melahapnya pelan-pelan. Sampai ibu saya sudah hapal kebiasaan itu. Makan siang dengan buku terbentang. Setengah sampai satu jam. Sebuah kebiasaan yang berlanjut hingga kini. Meski sejak SMP, medianya mulai diselingi Lombok Post yang dibawa bapak saya dari kantor.

Rujak buah saya sudah habis. Kopi hitam yang dihidangkan oleh sang ibu – bukan atas permintaan saya – juga telah tandas. Siang itu angin berembus semilir. Lagu Soleram terdengar dinyanyikan serentak oleh anak-anak SDN 1 Loyok di seberang jalan. Saya cukup terhibur. Apalagi tidak ada MP3 Player menemani saya selama perjalanan. Saya memang tidak punya. Hiburan dari ponsel juga tidak bisa saya andalkan. Saya lebih sibuk mencatat, memotret, serta memindai dengan segenap indera selama perjalanan. Sehingga, musik saya adalah embusan angin, detak jantung, seretan kaki di tanah, dan bauran obrolan orang-orang. Lukisan saya adalah pemandangan-pemandangan dari segala level – indah, biasa, buruk. Hiburan saya adalah semua yang tertangkap oleh, sekali lagi, inderawi saya.

Lantas, Maulana pulang dari sekolah dalam balutan seragam pramukanya. Saya sudah cukup pada keputusan akan nasib benda yang ada di dalam ransel saya. Sebuah buku yang dipenuhi foto-foto dan ilustrasi. Sejumlah 44 halaman. Terbitan Elex Media Komputindo. Judulnya, Perang Dunia I: Kisah yang Terlewatkan.

Saya hanya merasa yakin bahwa pada Maulana-lah buku ini paling tepat berada. Saya tidak bilang, saya tidak membutuhkannya. Apalagi saya tiap membuat keputusan atas sebuah buku, kerapkali melakukan perbandingan. Ya, sejarah Perang Dunia I bisa saya pelajari melalui e-book yang bertebaran di internet. Lewat wikipedia juga bisa. Jadi, baiklah. Buku ini sekiranya bakal lebih bermanfaat jika Maulana yang baca. Apalagi adanya dukungan ilustrasi. Ia pasti suka. Sesuka saya dulu pada buku bacaan atau majalah kaya ilustrasi.

Buku itu pun berpindah. Saya memberikannya dengan perasaan lega dan puas. Berharap suatu saat nanti bisa melakukan sesuatu yang lebih. Membangun perpustakaan, mungkin.

Saya bisikkan harapan pada langit. Biar ia menyimpannya. Hingga menjelma nyata, nanti.

Maulana Firdaus dan dua temannya

*Catatan ini terinspirasi oleh Greg Mortenson dan John Wood, dua penulis yang akan dan tengah saya baca bukunya*

Iklan

8 thoughts on “Perang Dunia I untuk Maulana

  1. #Mas Iqbal: Harapan saya cuma satu, akan ada Mortenson dan Wood yang lain bermunculan. setidaknya dengan langkah ‘kecil’ yang bisa kita lakukan… 🙂 no more.#Mas Tofan: Terima kasih, Mas. Saya jadi ingat sebuah kutipan, “seseorang hanya akan memberikan apa yang ia punya.” Saya pikir, untuk saat itu, saya punya buku untuk diberikan.

  2. Terharu bacanya, mas, suka sedih, pd saat saya ngasih buku-bukunya Yves atau Hugo di lembaga sosial di sini, mas. Karena, saya tahu bhw banyak anak Indonesia yg masih lebih membutuhkan.

  3. Iya, Mbak. Di satu sisi, ada sekolah yang punya perpustakaan lengkap, tapi minat baca anak-anaknya tidak disuburkan oleh guru-gurunya. Di sisi lain, ada anak-anak yang punya minat baca tingi, tapi tidak didukung oleh ketersediaan buku2 yang bergizi…Pengin melakukan sesuatu untuk mereka. Semoga kita bisa berjibaku di bidang ini ya, Mbak 🙂

  4. lafatah said: Catatan ini terinspirasi oleh Greg Mortenson dan John Wood, dua penulis yang akan dan tengah saya baca bukunya*

    Bukunya Greg yang mana nih? Pertama atau kedua?Yang pertama “Thee Cups of Tea” kolaborasi sama David. David bertindak lebih ke penulis sedangkan Greg sebagai pelakunya. Cerita serasa menjiwai karena David mengekor kemana Greg pergi.Sedangkan buku kedua ditulis oleh Greg sendiri. Judulnya “Stones into Schools.” Versi bhs Inggris dikasih foreword loh sama Khaled Hosseini, penulis buku “Kite Runner” dan “A Thousand Splendid Suns.” Hosseini, adalah satu satunya penulis yang sanggup membuatku merasuk ke dalam cerita yang ditulisnya. Fatah, buku disini murah murah. Kamu bisa kalap deh. Aku beli A Thousand Splendid Suns $5 isih ono susuke. Hardcover illustrated. Buku bekas tapi kondisinya masih kinclong, gak beda sama buku baru. Barusan ini aku dipinjemi adik ipar bukunya Barbara Savage, kisahnya dia sendiri keliling dunia naik sepeda, judulnya Miles from Nowhere. Sayang sekali, Barbara meninggal pada saat pulang kembali ke negaranya, Amerika Serikat.Ah, ngomong buku karo kowe ancen ra iso mandeg. smsmu tentang buku “The Nicotine War” jik tak simpen. Mau nyari disini aja, sapa tau dapet murah.

  5. Yang ‘Stones Into Schools’, Mbak.Kebetulan saya habis maen sama temen dan rekomendasiin buku ini buat dibeli. Alhamdulillah, kebeli. Ntar bisa minjem! *pancet ae* hehehe…Temen yang sama juga saya sarankan beli buku anaknya si Mortensen, “Amira and Three Cups of Three”. So far, belum bisa saya pinjam. Kepentok sama buku-buku lainnya yang kudu saya baca :))Anyway, saya senang banget sama buku-buku true story macam begini, mbak. So pasti yang inspiring. Mungkin sejak Andrea Hirata menyengat saya dengan karya-karya bertema pencapaian mimpinya. Makanya, jadi gandrung memburu buku-buku semacam itu 🙂 Juga semakin gandrung bergaul sama para bekpeker. Heheh…Astaga! Mbak bikin saya mupeng sama harga2 buku di luar. Ckcckckc… harga $5? oh, my! gak rugi deh Maria, temen yang dapet beasiswa ke Tucson itu, bisa nyampe sana. Tapi, alhamdulillah…saya yang nitip buku sama dia, akhirnya dibelikan buku seken yang kondisinya masih bagus gus gus. senangnya!BTW, bukunya Barbara itu sepertinya belum diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Mau saya cek di Goodreads, ah…Ngomongin buku memang topik paling mengasyikkan! :))

  6. Bukunya Khaled bukan true story tapi inspired from his experiences. Secara dia kan imigran dari Afghanistan. Pengalaman hidupnya dan juga kehidupan di sekitarnya banyak yang sama dengan apa yang diceritakan di bukunya. Inspiring banget. Mengenai bukunya Barbara, mbuh yo diterjemahno neng Indonesia opo durung. Gregetnya beda antara membaca buku aslinya dengan terjemahannya. Tergantung yang terjemahin juga sih. Aku lebih demen baca buku aslinya. Karena biar pengetahuan vocabnya lebih banyak. Itu pertama. Kedua gregetnya lebih terasa, ketiga harganya lebih murah dibanding beli di Indonesia. Mahal di ongkos mbok. Keempat, karena kepaksa. hehehehehhee…Lha wong tinggal disini banyak pilihan buku. Kalau nunggu terjemahan Indonesianya, kapan bacanya.Aku belum pernah ngecek Goodreads. Panduanku, kalau dikasih label Best Seller sama New York Times biasanya bukunya bagus tapi nggak selalu. Contohnya seperti Eat Pray and Love. Baca sinopsisnya bikin mules. Gak asik ceritanya. Kapan hari nonton DVDnya sama anakku, gara2 ada setting Bali. Kalau nggak ada setting tanah air, gak bakal nonton.

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s