Tumbuh dan Meninggi!

Segala sesuatu yang negatif dan menyebabkan stres lenyap saat pesawat semakin tinggi dan terbang ke timur. Untuk pertama kalinya selama berbulan-bulan, saya merasa santai, bahagia, dan menatap ke depan. Kami lolos dari gravitasi. Buku harian saya sedang diisi dengan pikiran-pikiran yang positif dan ringan. Ke depan dan ke atas! (John Wood, hal. 100)

Saya sudah lama mengincar buku “Leaving Microsoft to Change The World” ini. Yang saya baca sekarang ini adalah cetakan pertama, Agustus 2007. Padahal cetakan terbaru dengan cover terbaru dan isi yang lebih gemuk telah beredar di toko-toko buku. Berkali-kali ia memancing perhatian saya tiap kali ke toko buku. Tapi, saya selalu menangguhkan untuk membeli buku ini.

Sewaktu magang di Lombok Post pada pertengaha Agustus hingga awal September, seorang wartawan di sana saya lihat membaca buku ini. Tapi, edisi yang lama, sama seperti yang saya baca sekarang. Bergantian waktu itu, wartawan sama seorang layouter. Sebenarnya, bisa saja saya meminjam, tapi rasa malu saya lebih besar. Saya bukan tipe orang yang suka basa-basi, SKSD. Jadi ya…melayanglah kesempatan untuk membaca buku John Wood ini lebih awal.

Hingga pada hari Minggu yang lalu (28 Nopember), sehabis mengantarkan adik-adik SMA yang akan menuju Djuanda untuk seterusnya terbang ke Lombok, saya pun memacu sepeda motor ke Uranus. Ini toko buku diskon, sama seperti Togamas. Yang saya senangi dari toko buku ini adalah konsistensinya untuk menyediakan buku-buku obral. Dan, bukan buku-buku ‘kacangan’ yang mereka obral, lazimnya toko buku yang lain. Justru buku-buku tebal, lezat, dan bergizi dari segi isi, cover, dan harga. Dari mana saya tahu kalau buku-buku memang berkualitas? Goodreads, resensi teman, dan tentu saja hasil membaca dan ‘menimbang’ langsung dengan membaca sinopsis di belakang buku. Apalagi kebanyakan novel terjemahan dengan endorsment dan pujian dari media luar yang tertera di sampul depan atau belakang buku. Ya, mereka teronggok di rak obralan karena besar kemungkinan tidak laku. Tidak laku, bukan berarti buku tersebut tidak bagus. Ini masalah selera pembaca dan kurang promosi saja, saya kira.

Harganya pun tidak main-main. Buku-buku itu, taksiran saya, dibanting dari 50% – 70%. Yang mana membuat saya makin ngiler dan berlama-lama di situ. Meski tangan menjadi sedikit berdebu karena ini stok buku yang lama di gudang dan kebanyakan edisi pertama, tapi saya tidak peduli. Yang penting isinya. Bahkan, beberapa di antaranya dengan kualitas kertas yang masih prima. Bahkan, masih bersampul plastik. Hanya sedikit kusam oleh debu. Itu tidak seberapa.

Nah, ujung punya ujung, di sinilah saya menemukan buku John Wood ini. Seorang eksekutif perusahaan software raksasa Microsoft yang akhirnya memutuskan keluar dari jabatannya dan menjadi founder yayasan nirlaba “Room to Read”. Sejak halaman pertama hingga 106 ini telah membuat saya bersemangat. Benar-benar bersemangat! Sebuah buku yang menginspirasi saya untuk menulis catatan sebelumnya (lihat catatan saya berjudul “Perang Dunia I untuk Maulana”). Tiap baris yang dituliskan oleh John Wood terasa membakar hasrat. Hasrat untuk melakukan sesuatu bagi orang lain melalui medium buku dan derivatnya: perpustakaan dan sekolah. Juga hasrat jalan-jalan yang makin membungah. Apalagi John Wood terilhami untuk mendirikan proyek nirlabanya ini selama berada di Nepal, mendaki Himalaya.

Hingga sampailah saya di halaman 100, yang kalimatnya sebagaimana saya kutip di awal catatan ini. Saya sekonyong-konyong disergap energi “saya harus melakukan sesuatu”. Memang, saya belum tahu apa, tapi saya harus melakukan sesuatu. Mungkin menunggu terlebih dahulu buku saya diterbitkan lalu memulai segalanya. Atau memulai dari program KKN saya bulan depan. Sesuatu yang saya sukai dan bisa bermanfaat untuk orang lain. Apa itu? Sedang saya pikirkan dan petakan realisasinya.

Untuk mengakhiri catatan ini, saya kutipkan sebuah sms dari teman saya, Mbak Evia, orang Surabaya yang kini menetap di Duluth, Minnessota, Amerika Serikat.

“Keep up your dream, Fatah. Karena aku percaya mimpi adalah sebagian dari doa. Jalan hidupku hingga sampai berada di titik yang sekarang sebagian besar karena mimpi yang terus aku pelihara meskipun banyak orang menganggap mustahil. Tak ada yang mustahil bagi Allah selama manusia terus berusaha” (06:57:24 pm, 29 Juli 2010)

Iklan

12 thoughts on “Tumbuh dan Meninggi!

  1. #Mbak Vina: Suatu kehormatan dikangenin oleh seorang penulis dan pelawak (?) Hehehe… apa ya istilahnya, Mbak? Penulis joke? :))#Pak Nono: Hehehehe… ketahuan :D#Mbak Meyla: Hahahahha… tambahan deh 😀

  2. lafatah said: Keep up your dream, Fatah. Karena aku percaya mimpi adalah sebagian dari doa. Jalan hidupku hingga sampai berada di titik yang sekarang sebagian besar karena mimpi yang terus aku pelihara meskipun banyak orang menganggap mustahil. Tak ada yang mustahil bagi Allah selama manusia terus berusaha” (06:57:24 pm, 29 Juli 2010)

    Huaaaaaa, detil rek waktu ngerekam smsnya. Dari tahun bulan tanggal sampe ke detik. Wonge sing ngirim sms ae wis lali kapan ngirime. Jadi kangen ngeronde Tah, neng ngisor wit koyok gembel golek yup yup’an. Selain bermimpi dan berusaha, yang gak kalah penting adalah berdoa. Tetap semangat !!

  3. Iyo, tak simpen sms sampeyan. Biar pas lagi down, bisa iseng2 dibaca dan semangat kembali :))kapan ya bisa ngeronde bareng, mbak? atau nyetarbuck di Minnessota? Aiyeeeee… *mimpi dulu, ah*dan, tentu saja dalam kostum dan ransel bekpek, lecek, kumel. hahahah…semangat! semangat! semangaaaaaaaat!!! Thank you, Mbak. You inspires me! 🙂

  4. lafatah said: Iyo, tak simpen sms sampeyan. Biar pas lagi down, bisa iseng2 dibaca dan semangat kembali :))kapan ya bisa ngeronde bareng, mbak? atau nyetarbuck di Minnessota? Aiyeeeee… *mimpi dulu, ah*dan, tentu saja dalam kostum dan ransel bekpek, lecek, kumel. hahahah…semangat! semangat! semangaaaaaaaat!!! Thank you, Mbak. You inspires me! 🙂

    gak usah nyetarbak. Disini yang lebih terkenal Caribou coffee.lebih asik lagi warung kopi distro yang memberdayakan ekonomi lokal. Rasa kopinya lebih personal karena gak seragam. Eh, tapi aku bukan peminum kopi lho. *Mimpi nyeruput teh anget di depan kemah pinggir danau Superior. Pengen ngerasain winter camping*

  5. Oh, Oke!Caribou coffee aja deh!Pesen satu, mbak. Gak pake lama yo. wkwkwkw…keren ono kopi distro? padahal, tau gak mbak? si Maria yang kopimania itu sampai bawa kopi sachet yang banyak dari Indonesia. emang, enakan kopi Indonesia yo?*eh, salah nanya. kan mbak bukan peminum kopi*baris terakhir komen sampeyan bikin…mupeng.

  6. Disini banyak kedai kopi distro, kebanyakan milik orang orang lokal. Jajanan pendampingnya juga makjos dan kebanyakan homemade. Rugi bawa kopi adoh adoh soko Indonesia, ngebot boti gawan. Mending bawa sesuatu yang disini nggak ada. Seperti kopi Lampung, kopi Gayo Aceh. Disini banyak kopi, dari berbagai negara. Kopi dari Indonesia juga ada seperti Sumatra, Toraja. Mengenai enak enggaknya, wah itu urusan selera deh. Bojoku yang peminum kopi, favoritnya adalah kopi Venezuela. Tetapi waktu ke Malang kapan hari, jatuh cinta sama kopi gorengannya sodaraku di desa. Beli biji kopi, digoreng sendiri, wanginya menguar kemana mana. Wuihhh pengen rasanya bawa pulang ke US. Kata bojoku lho, bukan kataku. Aku kan bukan peminum kopi. Aku seneng ngeteh. Apalagi teh kampung yang gak pake kantong, dicelup pake saringan teh. Wanginya piyeeee ngono. Baunya mengingatkan aku akan aroma sejuk pedesaan. Cara minumnya disruput pelan pelan sambil merem, wuihhhh serasa berada di tengah kebun teh gunung Kerinci. Begitu melek, gubraksssss lha kok salju thok sekelilingku.

  7. Hahahahah…Deskripsi sampeyan bener-bener deh khas Srimulat Amerika *LOL*Oh, jadi gitu ya… Mendingan bawa yang khas dan sekiranya gak bakal ditemui di Amerika Serikat :))Contohnya: nasi kriwul, sambel pencit, pelecing, sate bulayak, opo meneh? 😀

  8. lafatah said: nasi kriwul, sambel pencit, pelecing, sate bulayak, opo meneh? 😀

    lha itu dia. Asal jangan yang mengandung daging, Insha Allah lolos. sambel pencit bawa dari Indonesia nyampe sini jadi sambel mangga set, soalnya pencitnya mateng sampe keluarnya setnya kelamaan di jalan. Nasi kriwul koyok opo kuwi? Mkanan mana? Sate bulayak dari mana? Makanan lombok ya?

  9. Nasi kriwul itu mirip kayak krengsengan bumbu merah. Isinya ya ayam suwir, sayur sawi. Sederhana sekali kok, Mbak. Biasanya tak beli di kantin Fakultas Ilmu Budaya. Sate bulayak itu makanan khas e Lombok. Satenya sih sate ayam atau sapi. Tapi, ada bulayaknya, isinya kayak isi lontong, tapi pembungkusnya itu bukan dari daun pisang, tapi dari daun kelapa yang diplintir kayak spiral. Bukan ketupat juga. Hehhee… Isinya sih sama-sama beras. Enak kok!

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s