Polarisasi di Dunia Maya

Manusia, di tengah bandang teknologi dan informasi, cenderung membentuk polar atau kutub-kutub. Suatu hal yang wajar karena meskipun otak manusia mampu merekam jutaan informasi, namun semua akan kembali pada preferensi. Pilihan. Tidak semua informasi akan dicerna, sebab banyak juga yang sifatnya ‘sampah’. Tidak semua netizen (sebutan untuk warga internet) akan bergaul dalam banyak forum – untuk menunjukkan eksistensi.

Saya ingin menekankan bahwa fokus, cenderung niche, dan membentuk pengutubanlah yang saat ini terjadi di ruang maya. Saya menulis ini berdasarkan pendapat dan pengalaman pribadi. Dulu, saat awal mengenal dunia blog, saya mencoba bikin blog di semua penyedia layanan blog gratis. Saya punya blog di wordpress, blogspot, blogdetik, dan multiply. Namun, blog yang terakhirlah yang paling rajin saya perbarui hingga saat ini. Mengapa? Karena teman-teman (netizens) saya lebih banyak di sana. Kami juga pernah kopdar (bertemu secara off air) sehingga ikatan emosional itu lebih terasa. Berbeda dengan blog saya lainnya. Pengunjungnya agak sepi, jarang meninggalkan komentar, yang mana membuat saya jarang juga memperbarui kontennya. Masalah ‘neeed of appreciation or recognizition’ berlaku juga di ruang maya, tidak semata-mata di ruang publik.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, adanya penetrasi Facebook dan Twitter, aktivitas dan ‘keintiman’ yang terbangun di blog pun mulai melonggar. Tidak bisa disangkal jika dua situs jejaring sosial itu mampu mengubah pola komunikasi dan saling memberi komentar sebagaimana yang telah menjadi khas di dunia perblogan. Di blog, diskusi bisa lebih fokus (terlepas dari OOT) karena adanya tulisan yang lebih panjang ketimbang status. Ada bagian-bagian yang bisa dikonfirmasi, disangkal, dipertanyakan – sebagaimana yang akan dialami pula oleh tulisan ini. Sementara di Facebook atau Twitter; dengan fitur utamanya berupa perbaruan status, maka kalimat-kalimat ekspresi pun terlihat lebih dominan ketimbang kalimat informasi.

Namun, lebih jauh lagi, pengkutuban terjadi. Para netizen akan lebih intens ‘bergaul di dunia maya’ dengan netizen lain yang memiliki kesamaan ketertarikan. Misalnya, netizen hobiis buku akan lebih intens berkomunikasi dengan netizen hobiis buku juga. Awalnya begitu. Namun, semakin mengerucut dan tema yang diusung makin kompleks, maka pengutuban pun makin lebih nampak lagi. Misalnya, saya yang pernah intens bergaul dengan hobiis buku dengan keragaman buku yang diminatinya, lama-lama hanya mengunjungi tulisannya jika berkesesuaian dengan tema buku yang saya minati. Sekalipun, misalnya, ia banyak menulis tentang buku-buku fiksi fantasi, tapi karena saya tidak terlalu tertarik, maka saya pun tidak membaca tulisannya tersebut.

Namun, harus diakui pula bahwa internet menyebabkan pengutuban ini bersifat temporer. Sebab, orang bisa ‘keluar dan masuk’ dengan gampangnya di internet. Tidak ada aturan ketat dan sanksi sosial sebagaiman terjadi di ruang publik, jika Anda hendak bergaul dengan sesiapa pun di ruang maya. Bulan ini intens dengan netizens di ruang atau forum A, bulan berikutnya bisa saja Anda meninggalkan forum tersebut dan bergabung di forum yang lebih menarik bagi Anda. Kecuali jika komunikasi dan hubungan yang terjalin di ruang maya dibarengi juga dengan komunikasi dan hubungan di dunia nyata. Maka, ikatan kutub itu akan makin erat dan bisa bertahan lebih lama.



Surabaya, 31 Januari 2011

Iklan

7 thoughts on “Polarisasi di Dunia Maya

  1. Dunia maya dengan dunia nyata sebenernya hampir sama. Orang orang bisa memilih komunitas mana yang akan dimasukinya. Bisa memilih akan bergaul dengan siapa. Tapi bukan berarti kita membatasi pergaulan. Bergaul dengan siapa aja akan menambah wawasan kita.

  2. Selingkuh itu kadang enak…Dan memang diakui internet ini cair, orang bisa pergi dan datang, pindah atau menetap dimanapun mereka mau.Satu kata saja untuk itu (dan diri sendiri) : TERSERAH

  3. @mbak Di: hehehehe…asyik memang. Teman jadi banyak dari berbagai kalangan. Memperkaya jiwa dan ‘saudara’.@mas Ferry: hehehe…iya nih, Mas. Kalo ada acara sastra/bedah buku yang melibatkan Mbak Lan Fang atau Diana AV Sasa, kadang saya hadir. Kapan ya, Mas, kopdaran? :)@Mbak Evia: setuju, Mbak. Sebenarnya, tulisan di atas pun punya counter. Jika saya melihatnya cenderung polaristik, maka keberadaan internet juga membuka peluang ke arah pembauran. @Pak Nono: terserah dan melakukannya dengan kesadaran etiket 🙂

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s