Masuk Pengadilan Gara-Gara Lampu Mati

Bagaimana rasanya masuk pengadilan? Sebagai saksi? Bukan. Lalu? Terdakwa!

Jumat (18/02) lalu, saya mengalaminya. Hanya gara-gara tidak menyalakan lampu depan motor, STNK ditahan. Tidak bisa main tebus di tempat. Harus ikut sidang. Dengan muka butek dan hati misuh-misuh, saya yang terjaring razia Kamis pagi (10/02) itu pun akhirnya merelakan STNK motor teman saya itu berpindah tangan ke polisi.

Ya, itu motor teman kontrakan saya, Nino. Itu pertama kalinya saya di pagi hari membawa motornya. Berangkat dari kontrakan KKN di Singopadu menuju Surabaya untuk registrasi. Eh, nasib tragis saya terjadi di bundaran dekat McD Sidoarjo. Helm, spion, STNK, dan SIM komplet. Saat kebingungan saya dihentikan gara-gara apa, eh…si polisi nemuuu aja kesalahan orang. Lampu tidak dinyalakan!!! Hello, ini kan pagi setengah tujuh. Kenapa harus menyalakan lampu? Saya baru tersadarkan beberapa jam berikutnya bahwa saya telah melanggar aturan safety riding yang telah berlaku secara nasional. Dan, dari penjelasan Jamal, teman kuliah saya, aturan ini diadopsi dari Malaysia yang mana ketika kabut asap sering terjadi (kiriman dari Indonesia), para pengendara motor di sana diharuskan menyalakan lampu motornya, meskipun itu pagi ataupun siang hari. Tujuannya, untuk menghindari kecelakaan lalu lintas.

Tapi, Sidoarjo kan tidak sedang dalam kondisi berkabut atau hujan deras yang mana menjadi alasan yang masuk akal untuk menyalakan lampu?

Ya, mau tidak mau, dengan bertameng Undang-Undang no 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan Raya (LLAJ) pasal 107 ayat 2, polisi itu pun meminta saya untuk datang ke Pengadilan Negeri Sidoarjo seminggu kemudian. Damn!

Sebagai warga negara yang baik dan teman yang bertanggung jawab, sidang itu pun saya hadiri. Jumat subuh saya berangkat ke Terminal Bungurasih. Menyerahkan motor pada Nino yang baru tiba dari Denpasar. Saya serahkan fotokopian Surat Tilang padanya, sementara saya membawa yang asli.

Nino pulang ke kontrakan, saya berangkat ke pengadilan. Nino memberitahu saya agar menghindari calo yang banyak berkeliaran di pengadilan. Kata-katanya terbukti. Mendekati gedung PN Sidoarjo, mata awas saya sudah mendeteksi keberadaan mereka. Sudah bisa ditebak, calo mendatangi saya. Berbasa-basi alias abang-abang lambe, istilah orang Jawa, pun dilakoni si calo. Dengan muka datar saya menjawab, “Terima kasih, Pak! Saya pengin merasakan suasana sidang kayak gimana.”


Sidang itu ternyata… menjemukan, melelahkan, bikin bad mood, dan membuat hati jadi rusuh. Bayangkan! Saya benar-benar bisa hengkang dari pengadilan setelah menunggu 4 jam. Lama di ruang sidang yang gerah dan tumpah-ruah oleh para terdakwa. Birokrasinya pun benar-benar mencerminkan INDONESIA!

Begini detilnya.

Para terdakwa alias pelanggar lalu lintas datang pagi-pagi. Di Surat Tilang tidak dicantumkan jam berapa sidang dimulai. Ujung-ujungnya, menunggu. Tidak ada woro-woro melalui pengeras suara agar segera mengambil nomor antre yang ternyata hanya berjumlah 100 itu. Sementara, yang tidak kebagian jauh lebih banyak lagi. Saya sendiri baru tahu hal tersebut setelah masuk dan ikut berjubel di ruang sidang.

Sidang dimulai pukul 9 WIB. Yang tidak kebagian nomor antre, akan dibacakan empat digit terakhir dari nomor tilangnya. Sehingga, bisa ditebak, ada ratusan kepala yang menunduk dan berulang kali memelototi digit Surat Tilang mereka. Takut lengah sehingga ada kemungkinan akan disalip oleh terdakwa berikutnya.

Dan, ruang sidang yang sesak itu tidak diantisipasi oleh ‘panitia’ dengan keberadaan AC atau kipas. Terpaksa, saya memilih berdiri di pinggir dekat jendela, biar terkena angin sepoi-sepoi. Sialnya, ada yang merokok dari luar. Asapnya bikin suasana tambah gerah.



Sidang berjalan cuma seuprit. Beberapa nomor disebutkan sekaligus. Para terdakwa maju bergerombol ke depan hakim. Dua bangku panjang dari kayu disediakan. Panitia menyerahkan bundelan Surat Tilang ke hakim. Hakim memanggil satu per satu para terdakwa. Hakim cuma menyebutkan jumlah denda yang harus dibayar. Pelanggaran 1 pasal dikenai denda Rp41.000,00. Dari Hakim, Surat Tilang berpindah ke Panitera yang duduk di sebelah kanannya. Dan…para terdakwa pun dipersilakan mengantre kembali. Berbelit!!! Hakim ngomong seuprit, kadang senyam-senyum. Sidang macam apa ini? Duit bisa terkumpul jutaan dalam hitungan jam.


Di loket pembayaran, orang-orang mengantre. Tepatnya, berjubel. Berkerumun. Saya menyenderkan punggung di dekat tiang. Sekalian menarik napas dan menikmati angin sepoi. Bundelan Surat Tilang telah diserahkan oleh seseorang dari Panitera ke bagian pembayaran. Ya, karena saya hanya melanggar 1 pasal saja, jadi Rp41.000,00 pun melayang.

Tidak mau berlama-lama, begitu nama saya dipanggil, uang saya serahkan, dan STNK dikembalikan, saya langsung keluar dari halaman pengadilan.

Namun, setidaknya melalui pengalaman ini, saya bisa melihat dan merasakan langsung atmosfer hukum Indonesia yang katanya dipenuhi mafia dan pasal-pasal hukum yang diada-adakan.

Menyebalkan? Silakan Anda simpulkan sendiri.


Iklan

20 thoughts on “Masuk Pengadilan Gara-Gara Lampu Mati

  1. hehehehe…selamat datang Indonesia. Ojo misuh2, dinikmati saja. Kalau nggak gitu kapan bisa cerita toh?Temenku ada yg kena tilang juga. Ceritanya diupload di MP, lupa pake foto apa ndak. Makin banyak yg cerita, sering diupload, biar ada malu orang2 di Pengadilan.Tapiya entah kalau udah pada muka badak alias gak punya kemaluan lagi.

  2. enkoos said: hehehehe…selamat datang Indonesia. Ojo misuh2, dinikmati saja. Kalau nggak gitu kapan bisa cerita toh?Temenku ada yg kena tilang juga. Ceritanya diupload di MP, lupa pake foto apa ndak. Makin banyak yg cerita, sering diupload, biar ada malu orang2 di Pengadilan.Tapiya entah kalau udah pada muka badak alias gak punya kemaluan lagi.

    Lek iku wis repot maneh MbakBangsa kita malah bisa-bisa skg dikenal sebagai bangsa yang tak bertatakrama, munafik, sok agamis, pelanggar peraturan, senang lihat orang lain menderita dan tak senang melihat orang bahagia. Bagaimana coba?

  3. bambangpriantono said: Lek iku wis repot maneh MbakBangsa kita malah bisa-bisa skg dikenal sebagai bangsa yang tak bertatakrama, munafik, sok agamis, pelanggar peraturan, senang lihat orang lain menderita dan tak senang melihat orang bahagia. Bagaimana coba?

    miris yo kang nek wis ngono iku. Sependek pengalamanku, nek neng ndeso2 ra ono sing ngono iku. Opo mungkin aku ming sediluk yo, ra ngrasakno suwe. Mbuh maneh.

  4. enkoos said: hehehehe…selamat datang Indonesia. Ojo misuh2, dinikmati saja. Kalau nggak gitu kapan bisa cerita toh?Temenku ada yg kena tilang juga. Ceritanya diupload di MP, lupa pake foto apa ndak. Makin banyak yg cerita, sering diupload, biar ada malu orang2 di Pengadilan.Tapiya entah kalau udah pada muka badak alias gak punya kemaluan lagi.

    Betul, Mbak. Ini pembelajaran banget buat saya pribadi dan semoga juga buat yang lainnya. Meski tetap mempertanyakan sejauh mana kerasnya urat malu mereka. Dan, misuh-misuh mungkin reaksi pertama sebagai bentuk efek kejut. Setelahnya, saya mulai menganalisis apa dan kenapa saya bisa ditilang. Apakah ada kaitannya dengan karma atau justru pembelajaran yang saya dapatkan sesudahnya.Overall, saya merasa sedikit ‘beruntung’ mengalami hal ini 🙂

  5. bambangpriantono said: Lek iku wis repot maneh MbakBangsa kita malah bisa-bisa skg dikenal sebagai bangsa yang tak bertatakrama, munafik, sok agamis, pelanggar peraturan, senang lihat orang lain menderita dan tak senang melihat orang bahagia. Bagaimana coba?

    Kalau sudah begini, susah jadinya, Pak. Sistem yang bobrok akan susah mengobatinya. Berlapis-lapis jaringan yang harus diurai dan dibersihkan.Tapi, gimana ya? Mental sudah seperti itu. Mau pembersihan etnis (cara yang paling radikal) sehingga terlahir generasi yang benar-benar baru, akankah efektif untuk membentuk sistem baru? Heheheh… just a wild thougt 😀

  6. dianmardi said: Padahal katanya ada slip tilang biru yang bayar dendanya ke bank itu, Mas… Jadi nggak perlu di sidang… Tapi apa bener ada ya?

    Kalo beneran ada, kok saya tidak mendapatkannya ya, Mbak? Dan dari ratusan terdakwa itu, kok tidak ada yang harus transfer denda ke bank? Waktu itu polisinya cuma bilang: HARUS SIDANG. Padahal mental nyogok saya sudah keluar. Tapi, beruntunglah saya tidak jadi nyogok. Kalau nyogok, tulisan ini nggak akan ada 🙂

  7. malambulanbiru said: aku bayanginnya kamu kelepek-kelepek kurang oksigen di dalam jaring nelayan

    Hahaha… atau terjaring operasi malam? Kayak para kupu-kupu malam. :D:D:D

  8. nawhi said: wah jangan sampe deh mgalaminya, aku bacanya aja dah sebel apalagi kamu Tah yg ngalamin.

    I hope so, Mas.Semoga lebih berhati-hati dalam berkendaraan dan taat aturan lalu lintas 😀

  9. lafatah said: I hope so, Mas.Semoga lebih berhati-hati dalam berkendaraan dan taat aturan lalu lintas 😀

    sudah berusaha mentaati, tapi polisine malinge luwih pinter. mosok gak ono pentil ban iso ditilang.

  10. enkoos said: sudah berusaha mentaati, tapi polisine malinge luwih pinter. mosok gak ono pentil ban iso ditilang.

    Yo iku, Mbak. Cari perkoro. Cari goro-goro. Onoooo ae sing diliat. Ya, ini nih pas mereka lagi butuh duit…

  11. mmamir38 said: Nah, begitulah Indonesia!

    Dan semoga lebih baik ke depannya… Meskipun perkataan dari George Aditjondro cukup menyentil:”hanya ada tiga orang polisi yg tak bisa disogok di republik ini, patung polisi, polisi tidur, dan jendral hoegeng”

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s