Euforia

Kebahagiaan yang terlalu besar sungguh menakutkan (Khaled Hosseini).

Kalau saya boleh menamakannya sebagai euforia. Kegembiraan yang meluap-luap. Kebahagiaan yang menenggelamkan. Lupa bagaimana cara berenang. Lupa kalau dasar danau tidaklah sedangkal yang dipikirkan. Saat kaki perlahan mencari pijakan dan tidak ditemukan, maka konsekuensi berikutnya adalah tenggelam, lalu mati perlahan. Jikalau pun sempat teriak minta pertolongan, itu hal lain lagi.

Kita tahu itu euforia. Kita tahu konsekuensinya. Namun, kita lebih memilih lalai. Pura-pura tidak tahu. Akibatnya, kita terbumerangi oleh kepura-puraan itu.

Atau, saking besarnya kegembiraan itu, hati yang menampungnya pun jadi mati rasa. Pikiran pun jadi terkunci. Terkungkung. Sehingga, kegembiraan yang seharusnya bermakna terang, justru menghadirkan gelap.

Tak berlebih kiranya di kala senang, kita diminta untuk bersyukur dan tak lupa. Tak berlebih juga kiranya di kala susah, kita diminta untuk sabar dan tak khilaf. Dan, pada kedua kondisi itu, kita diminta untuk beristighfar.

Hanya kepada-Nya segala urusan kita serahkan.




Senin pagi, akhir Februari

Iklan

7 thoughts on “Euforia

  1. Saat menulis ini tadi pagi yang terpikirkan adalah: euforia grup KKN saya di FB, Libya yang sedang bergolak, euforia reformasi 1998, dan tak pelak lagi merambat pada euforia buku TL… Jadi, ya… Apa yang dipikirkan Mas Iqbal juga sepertinya sudah terjawab 😀

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s