SGA Saksi Mata

Cerpen-cerpennya kubaca dari belakang merangsek ke depan. ‘Sebotong Pohon di Luar Desa’ menyentakku di penutup cerita. Pilu. Kisah kasih yang bertaut antara anak dan ayah yang…suram. Tapi…. Ah, mending kau baca sendiri.

Lalu, suasana teror langsung mencekam bukan sejak kalimat pertama, tapi bahkan sejak judul kubaca: ‘Kepala di Pagar da Silva’. Kau hadir bagai saksi mata di situ. Melihat langsung kepala seorang gadis yang tertancap di pagar. Sang ayah pun belum tahu kalau itu anak gadisnya. Darah, hujan, gelap malam, kilat menyambar. Benar. Itu racikan cerpen thriller yang lezat. SGA memang koki yang handal.

Dalam ‘Junior’, kau akan menemukan barisan kalimat dalam surat berbunyi begini.
“Anakku sayang, engkau diberi nama Junior karena kamu memang yunior bagi kami. Nama ayahmu juga Junior karena ayahmu memang yunior bagi ayahnya. Ayahmu meninggal dalam perjuangan ketika kamu masih di dalam kandungan. Aku adalah ibumu. Jika kita tidak bisa saling bertemu di bumi, semoga kita bisa bertemu di surga. Kalau kau bisa hidup lebih lama, namakanlah anakmu Junior, supaya selalu ada yunior dalam perjuangan kita.” (hlm. 114-115). Di cerpen ini pula kau akan berkenalan dengan Suster Tania. Mungkin kau akan teringat dengan Mother Theresa karena dia.

Bagaimana dengan ‘Salazar’? Berformat surat dari seorang saudara pada saudaranya: Salazar. Terpisah negara. Namun, punya satu kesamaan: lari menyelamatkan diri dari daerah konflik. Demi martabat dan harga diri? Demi penghidupan yang lebih baik? Demi kemerdekaan yang harganya teramat mahal itu? Ya, bukankah jika kau tak setuju pada sistem atau menjadi korban sistem, kau berhak untuk keluar darinya? Bacalah!

Terus melaju ke depan, aku langsung dihadapkan pada narasi panjang – tepatnya, satu paragraf panjang hanya berisi satu kalimat. Kau berlatih menahan napas di cerpen ‘Seruling Kesunyian’ ini. Tapi, jangan khawatir. Kau akan betah. Kau tak perlu terburu-buru. Cerpen ini menghidangkan lembah indah yang membuatmu benar-benar menahan napas! Aku pun menemukan kalimat yang membuat paru-paruku sedikit lupa untuk mengempiskan dirinya. Berikut ini.
“…meski tak sejauh dirimu, kekasihku, buat siapa telah kuciptakan hujan bunga mawar dan seekor kuda terbang untuk menculikmu dalam impian.” (hlm. 98)

Hingga lamunan indahku sedikit terkoyak begitu menyibak halaman demi halaman ‘Darah Itu Merah, Jenderal’. Sebuah potret sosok yang mengalami ‘post-power syndrome’. Tentu disulam dengan benang surealis yang berdarah.

Oya, di ‘Klandestin’, ada dua kalimat yang aku petik dan pajang di status Facebook.
“…tapi keangkuhannya itu, Bung, keangkuhan merasa diri paling benar itulah penghinaan besar kepada kemanusiaan. Itu yang harus dibantai!” (hlm. 84) dan “Aku tidak perlu menghancurkan sebuah kota, aku hanya perlu membebaskan pikiranku – dari ideologi yang paling sempurna” (hlm. 86). Aku belum tahu arti Klandestin, tapi aku menangkap bau perlawanan, pembebasan dari kepicikan dan kenafatisan berkeyakinan. Dan, aku teringat Khadafi di Libya! Padahal cerpen ini ditulis 18 tahun yang lalu. Artinya, masih relevan!

‘Misteri Kota Ningi’ dan ‘Pelajaran Sejarah’… Dua cerpen terakhir yang aku kudap sebelum Jumatan. Ah, mending kau baca sendiri saja.

Masih ada tersisa sekitar 7 ‘kudapan siang’ yang begitu mencekam ‘lidah’ hati.

Iklan

13 thoughts on “SGA Saksi Mata

  1. Aku mau jambak rambut ‘frustasi’ tiap” baca cerpen”nya di tiap” bab-nya. Aish, keren sungguh! Apalagi bagian Jazz dan Parfum. Pengetahuannya keren. Dan kerennya lagi, u/ bgn insiden, blm pernah ke Timor Leste pas nulis cerita. Dan besoknya pas dia akhirnya bisa berkunjung ke sana, ternyata keadaan di sana tidak jauh beda dengan apa yang dbayang, dirasa, dan ditulis. Udah baca bagian yang ini, Brader?

  2. @Sister: itukah yang namanya God’s hand? Iyakah? Yang sempat kita bahas di twitter itu? Tuhan sendiri yang memegang tangannya ketika menulis? Nah. Nah. Memang bikin saya geleng-geleng kepala. Inilah sihir seorang SGA. Aku belum baca Insiden. Setelah Saksi Mata kelar, pasti :)@Mas Iqbal: SGA jaminan mutu 🙂 *layaknya iklan obat nyamuk sahaja* hehehe… Kalo di Bontang nggak ada Gramedia, mampirlah ke Surabaya. 😀

  3. Saya baca Trilogi Insiden, Mbak. Edisi repackage. Saat ini, baru selesai yang Saksi Mata. Novel dan esai belum kelar :DPasti bergidik ya bacanya pas awal-awal penerbitan. Masih kental bau reformasi 🙂

  4. Misteri Kota Ningi keren.Aku petugas sensus. Dan orang-orang menghilang satu per satu. Tapi aku mendengar dengusan orang, darah berceceran di sepanjang jalan, sendok dan garpu yang berdenting di piring. Dan aku tidak melihat ada orang di sana.Kurang lebih gitu. Pokoknya keren.

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s