(Memburu Fatamorgana) Sampai Mana Perburuanmu, Chloe?

Judul : Memburu Fatamorgana
Penulis : Helene Koloway & Wuwun Wiati S
Penerbit : Imania
Cetakan : I, Januari 2011
Tebal : 326 hlm.
ISBN : 978-602-97648-1-9

Kisah pilu TKI yang bekerja di luar negeri sudah bukan berita eksklusif lagi. Media cetak dan elektronik terbilang sering mengekspos kasus-kasus kekerasan yang menimpa para pahlawan devisa. Bahkan, beberapa buku bergenre fiksi, seperti novel, juga menjadikan pernak-pernik kehidupan TKI ini sebagai latar belakang cerita. Tak jarang malah menjadikannya sebagai kisah utama.

Adalah Helene Koloway dan Wuwun Wiati S. yang dengan serius menggarap tema ini dalam sajian novel yang renyah tapi berisi. Istimewanya, novel bertajuk Memburu Fatamorgana ini diilhami dari kisah nyata tiga TKW Indonesia di Abu Dhabi. Negara yang dikelilingi oleh Yaman, Oman, dan Arab Saudi ini menjadi latar menarik yang sepengamatan saya belum pernah digarap oleh para penulis di Tanah Air.

Cerita dalam novel ini berpusar pada petualangan Chloe menjalani hidup di negeri fatamorgana – sebutan untuk Abu Dhabi. Kendati memiliki watak asli yang manja dan hedonis, namun satu peristiwa ‘kecil’ telah menyentaknya dan memutar haluannya. Ia menantang diri, keluar dari comfort zone-nya sebagai manajer keuangan di sebuah bank di Jakarta, dengan menjadi TKW di Abu Dhabi. Tentu saja bukan sebagai tenaga kerja kasar yang selama ini distereotipekan terhadap TKW. Sebab, pekerjaan yang ditawarkan oleh Entin, sahabatnya yang telah lebih dulu bekerja di Abu Dhabi, adalah sebagai Assistant Accountant.

Minggu-minggu pertama, Chloe merasakan beratnya adaptasi. Entah itu dengan cuaca panas Abu Dhabi, pencarian apartemen, hingga atmosfer di perusahaan konsultan kontraktor minyak tempatnya bekerja. Untung ada Entin yang selalu ringan tangan dan menjelaskan segala hal di Abu Dhabi yang asing bagi Chloe. Entin juga membantunya melepaskan stres dengan lontaran jokes-nya yang segar.

Perubahan ritme hidup yang tidak mampu disiasati Chloe dengan sigap membuat kondisi apartemen barunya berantakan. Mau tak mau ia butuh pembantu. Ia pun mempekerjakan Siti, TKW Indonesia yang merangkap sebagai office girl di kantornya.

Entin, Chloe, dan Siti. Tiga wanita inilah yang menjadi penggerak arus cerita dalam novel ini. Berada di daerah orang, tak bisa dipungkiri telah mempererat solidaritas di antara mereka. Masing-masing juga memiliki permasalahan yang terkait satu sama lain. Entin dengan hubungan tanpa nikahnya bersama Dennis. Meski tahu risiko yang bakal dihadapi di negara yang menerapkan hukum syariat ini, yaitu dipenjara, dicambuk, hingga dideportasi, namun Entin keukeuh dengan konsep hidup bersama. Sementara itu, Chloe dengan gegar budaya dan pengalaman baru dan unik yang ia temukan tiap hari, termasuk selama ia bekerja paruh waktu di keluarga seorang Syaikh. Tak jauh berbeda dengan Siti yang hidupnya dijerat oleh lintah darat, termasuk mengalami pelecehan seksual yang pelakunya sungguh di luar dugaan.

Bagaimana ketiga wanita perantau ini menaklukkan bukit-bukit masalah yang mereka hadapi, dipaparkan dengan menarik melalui penceritaan yang cair. Dibumbui kisah romansa antara Chloe dan Benoit, membuat otak pembaca tidak cepat lelah.

Dialog-dialog yang terjalin antartokoh dengan selipan humor segar membuat saya melahap novel ini dengan cepat. Hal ini didukung pula oleh bab-bab yang padat, tidak berpanjang lebar. Adanya bonus pembatas buku juga makin menyamankan pembaca yang ingin rehat di tengah cerita.

Kondisi Abu Dhabi juga tereksplorasi dengan baik dalam novel ini. Tidak hanya geografisnya tapi juga budaya yang melekat dalam keseharian masyarakatnya. Sehingga saya seakan-akan dipandu menelusuri lekuk eksotis (namun rapuh) negeri ini. Tidak mengherankan memang. Sebab, penulisnya sendiri telah hampir enam tahun tinggal di negeri yang terkenal dengan Burj Al Dubai-nya tersebut.

Meski demikian, tidak dinafikan pada bagian-bagian tertentu, deskripsi latar tempat-tempat indah di Abu Dhabi tidak terekat kuat lemnya dengan jalinan cerita. Sehingga, kesan tempelan itu ada dan membuat saya merasa ini seperti novel perjalanan. Bisa jadi karena penulisnya dua orang sehingga belum benar-benar padu gaya berceritanya. Heaven knows!

Keterplesetan kecil saya jumpai di halaman 71 yang mana muncul kata ‘saya’ yang tidak konsisten dengan penggunaan ‘aku’ yang dipakai penulis sepanjang cerita.

Kulit buku yang didominasi warna cokelat betul-betul mencerminkan legitnya perjuangan para tokoh utama serta eksotisnya Abu Dhabi. Kendati demikian, saat di-display di toko buku, novel ini akan kurang eye-catching, karena akan ‘tenggelam’ oleh warna rak yang rata-rata berbahan kayu itu.

Secara keseluruhan, saya mengapresiasi baik debut Mbak Helene dan Mbak Wuwun ini. Lika-liku ‘perburuan’ Chloe di negeri fatamorgana ini sungguh layak diikuti. Bintang tiga setengah untuk novel setebal tiga ratus dua puluh enam ini.

Mengenai pertanyaan, “Dengan cara apakah Entin memutuskan untuk bekerja di Abu Dhabi?” saya termukan jawabannya di halaman 142. Entin menjatuhkan pilihannya pada Abu Dhabi melalui permainan semacam jelangkung.

“…Terus gue ambil kertas dan jangka, seperti main jelangkung tuh. Terus di kertas itu gue bikin lingkaran abjad dari A sampai Z. Itu mewakili pilihan awal negara atau kota besar dunia yang diawali dengan abjad itu. Jangka gue putar random, ter
us jatuh deh ke huruf A.”


“… Gue bikin list deh tuh. A: Amerika – kegedean. Amsterdam – gue nggak bisa bahasa Belanda… gitu seterusnya. Akhirnya sampai ke Abu Dhabi.”


N.B. Resensi ini diikutkan lomba yang diadakan oleh Mbak Helene di sini.

Iklan

14 thoughts on “(Memburu Fatamorgana) Sampai Mana Perburuanmu, Chloe?

  1. Sama-sama, Mbak Helene :)Saya nantikan novel berikutnya lahir. Mungkin karya solo? :)Oya, pertanyaan Mbak membuat saya mau nggak mau harus membaca lagi dengan teliti dari awal (tapi dengan kecepatan tinggi). Hahaha…Saya pikir jawabannya bakal saya temukan di akhir. Pas baca pertanyaannya sekali lagi, baru deh saya ngeh maksudnya apa 😀

  2. nonragil said: Fatah, makasih ya buat kritiknya, semua itu akan menjadi lecutan untuk ke depannya. Juga buat partisipasinya ikutan lomba yg aku ada’in.

    Aku kok selalu gak bisa buka MPnya Mbak Helena yah? Bahkan info lomba ini pun nggak bisa dibuka. Hmmm… apa ini yang namanya block yah? Tapi kan saya sama sekali belum berteman dengan Mbak Helena. Anehhh…Fatahhh.. bisa bantu Mbak kenapa gak bisa masuk MPnya Mbak helena?

  3. anazkia said: Hmmm… yang susah kalau hidup di LN, ini kalau urusan buku 😦

    Mau belinya jauh… kalau beli dari Indonesia, ongkirnya lebih mahal dari harga buku.

  4. anazkia said: Aku kok selalu gak bisa buka MPnya Mbak Helena yah?

    Kok gitu ya, Mbak?Pernah nyoba lewat peramban lain? Opera atau Google Chrome, mungkin? Semoga Mbak Helene mengetahui hal ini dan bersedia meng-add Mbak terlebih dulu:)

  5. anazkia said: Hmmm… yang susah kalau hidup di LN, ini kalau urusan buku 😦

    Ya, nih. Repot ya, Mbak. Buku-buku terbaru jarang dibahasamelayukan.Tapi, bukannya ada ya buku-buku Indonesia yang dijual tanpa dialihbahasakan di Malaysia?Semangaat ya, Mbak :)*Ssssst…dinantikan novel Mbak* 🙂

  6. anazkia said: Mau belinya jauh… kalau beli dari Indonesia, ongkirnya lebih mahal dari harga buku.

    Dilema ya, Mbak…Satu-satunya cara yang murah dengan nitip teman yang akan bertolak dari Indonesia ke Malaysia yak… Itu pun kalau kita ada pesanan. Atau kebetulan dianya yang akan ke Malay. Kalo dua syarat nggak terpenuhi? mbooook….

  7. Ayo, Cek Yan!Saya ingin tahu juga hasil pembacaan sampeyan :)Bisa dimaklumi juga kan sekarang sibuk sama pekerjaan. Malam buat istirahat. Hehehe

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s